Kemenag RI 2019:Musa berkata, “Wahai Fir‘aun, sesungguhnya aku adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam. Prof. Quraish Shihab:Dan Musa berkata: “Hai Firaun! Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan Pemelihara seluruh alam Prof. HAMKA:Dan, berkata Musa, “Wahai Fir’aun! Sesungguhnya aku ini adalah utusan dari Tuhan Pemelihara seluruh alam.
Ayat ke-104 dari surat Al-A’raf ini merupakan kelanjutan langsung dari ayat sebelumnya yang memperkenalkan Nabi Musa sebagai utusan Allah yang dihadapkan kepada Fir’aun dan para pembesarnya. Jika pada ayat ke-103 fokusnya masih pada pengutusan dan sikap penolakan dari pihak Fir’aun, maka pada ayat ini Al-Qur’an mulai menghadirkan dialog secara langsung.
Di sinilah gaya khas Al-Qur’an semakin terasa: setelah memberikan gambaran umum, narasi langsung masuk ke percakapan. Pembaca tidak hanya diberi tahu bahwa Musa diutus, tetapi diajak “mendengar” langsung bagaimana Nabi Musa menyampaikan risalahnya di hadapan penguasa paling sombong pada zamannya.
Menariknya, kalimat pertama yang disampaikan Nabi Musa bukanlah ancaman, bukan pula langsung memaparkan mukjizat, tetapi sebuah pernyataan identitas: siapa dirinya dan dari mana ia datang. Ini menunjukkan bahwa dakwah selalu dimulai dari penegasan otoritas: bahwa yang berbicara ini bukan atas nama pribadi, tetapi membawa misi dari Allah SWT.
Selain itu, ayat ini juga menandai dimulainya konfrontasi terbuka antara kebenaran dan kekuasaan. Fir’aun bukan sekadar individu, tetapi simbol dari kekuasaan absolut yang merasa dirinya paling tinggi. Maka ketika Nabi Musa berkata “aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”, itu bukan sekadar kalimat biasa, tetapi sebuah pernyataan yang langsung menantang klaim ketuhanan Fir’aun.
وَقَالَ مُوسَىٰ يَا فِرْعَوْنُ
Kata wa qaala (وَقَالَ) berarti “dan berkata”. Penggunaan kata ini langsung membawa kita masuk ke suasana dialog. Tidak ada pengantar panjang, tidak ada deskripsi situasi secara rinci, tiba-tiba kita sudah berada di dalam percakapan.
Inilah salah satu ciri khas Al-Qur’an dalam berkisah: langsung masuk ke inti. Seakan-akan pembaca diajak hadir langsung di tempat kejadian, menyaksikan bagaimana Nabi Musa berdiri di hadapan Fir’aun dan mulai berbicara.
Kata Musa (مُوسَىٰ) disebut secara langsung tanpa tambahan gelar. Ini menunjukkan kesederhanaan penyebutan, tetapi justru di balik kesederhanaan itu ada kekuatan besar: seorang nabi berdiri menghadapi penguasa paling tiran.
Menariknya, Al-Qur’an tidak menjelaskan bagaimana suasana istana, bagaimana ekspresi Fir’aun, atau bagaimana reaksi para pembesar. Semua itu tidak disebutkan, karena fokusnya bukan pada detail visual, tetapi pada isi pesan yang disampaikan.
Seruan yaa (يَا) adalah panggilan langsung. Ini menunjukkan bahwa Nabi Musa berbicara secara terbuka, tanpa perantara, tanpa rasa takut.
Kata Fir’aun (فِرْعَوْنُ) di sini digunakan sebagai bentuk panggilan langsung kepada penguasa Mesir saat itu. Ini menarik, karena Nabi Musa tidak menggunakan gelar yang memuliakan atau merendahkan, tetapi menyebutnya sebagaimana adanya.
Di sini terlihat keberanian seorang nabi. Berhadapan dengan seorang raja yang mengklaim dirinya sebagai tuhan, Musa tetap menyapanya secara langsung, tanpa basa-basi, tanpa diplomasi berlebihan.
Seruan ini juga menunjukkan bahwa dakwah dimulai dengan komunikasi langsung. Tidak berputar-putar, tidak melalui jalur belakang, tetapi disampaikan secara terang-terangan.
إِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Kata inni (إِنِّي) mengandung penegasan: “sesungguhnya aku”. Ini bukan sekadar pernyataan biasa, tetapi deklarasi yang tegas tentang identitas diri.
Kata rasuul (رَسُولٌ) berasal dari akar kata (ر س ل) yang berarti utusan yang membawa pesan. Artinya, Nabi Musa tidak berbicara atas nama dirinya sendiri, tetapi membawa amanah dari pihak yang mengutusnya.
Kata min rabbil ‘aalamiin (مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ) berarti “dari Tuhan seluruh alam”. Ini adalah bagian yang paling tajam dari ayat ini.
Mengapa? Karena Fir’aun dikenal dengan klaim ketuhanannya. Dalam ayat lain ia berkata: “Aku adalah tuhan kalian yang paling tinggi.” Maka ketika Nabi Musa menyatakan bahwa dirinya adalah utusan dari Rabb al-‘aalamiin, itu secara langsung membatalkan klaim Fir’aun.
Rabb bukan hanya berarti Tuhan, tetapi juga pemelihara, pengatur, dan penguasa seluruh alam. Dan penggunaan kata al-‘aalamiin menunjukkan bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas pada satu wilayah, satu bangsa, atau satu kerajaan, tetapi mencakup seluruh alam semesta.
Dengan satu kalimat ini, Nabi Musa telah meletakkan dasar dakwahnya: bahwa otoritas tertinggi bukan pada Fir’aun, tetapi pada Allah SWT.
Ini bukan sekadar pernyataan teologis, tetapi juga pernyataan yang mengguncang struktur kekuasaan. Karena jika yang berkuasa adalah Rabb al-‘aalamiin, maka klaim ketuhanan Fir’aun runtuh seketika.