Kemenag RI 2019:Kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka, tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka. Prof. Quraish Shihab:Dan telah Kami wahyukan kepada Musa: “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka, tiba-tiba ia menelan apa yang mereka bohongkan (yakni sihir dan sulap yang mereka lakukan). Prof. HAMKA:Dan, Kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu itu!” Tiba-tiba ditelannya apa yang mereka pertunjukkan itu.
Ayat ke-117 dari surat Al-A'raf ini melanjutkan kisah pertarungan Musa dan para penyihir Fri’aun. Setelah mereka berhasil bikin takut para hadirin lewat trik sihir mengubah tali temali seolah-olah jadi ular, maka Allah SWT melalui wahyu memerintahkan Nabi Nabi Musa untuk bertindak.
Perintahnya sederhana sekali, yaitu lemparkan tongkatmu itu. Nabi Musa sama sekali tidak melakukan trik apapun, apalagi sulap atau sihir. Tidak merapal mantera, juga tidak bawa-bawa dupa dan asapnya sebagaimana umumnya tukang sihir ketika berpraktek.
Begitu tongkat dilempar, maka Allah SWT yang ambil alih semuanya. Seketika itu juga tongkat tersebut berubah menjadi ular yang nyata, bukan ular-ularan yang mempermainkan ilusi pemirsa seperti yang ditampilkan para penyihir.
Sebagai bukti bahwa ular itu sungguhan, atraksi yang tidak terduga adalah kemudian ular mencaplok alias menelan apa saja yang mereka lemparkan, sehingga seluruh pertunjukan sihir itu runtuh dalam sekejap.
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ
Huruf wa (وَ) berarti dan, sebagai kelanjutan dari peristiwa sebelumnya. Kata auhainaa (أَوْحَيْنَا) berarti mewahyukan atau menurunkan wahyu. Dalam hal ini pelakunya adalah kata ganti atau dhamir Kami, yaitu Allah SWT sendiri. Kata auhainaa (أَوْحَيْنَا) ini juga memberi kesan cepat dan tersembunyi, yaitu penyampaian ilahi yang tidak melalui proses biasa.
Kata ilaamuusaa (إِلَىٰ مُوسَىٰ) artinya : kepada Nabi Musa. Meski ayat ini seolah mengesankan bahwa Allah SWT bicara langsung kepada Nabi Musa, namun kebanyakan para ulama mengatakan secara teknis tetap lewat malaikat Jibril ’alaihissalam.
Satu lagi yang juga penting untuk dicatat, bahwa meski Allah SWT menyebut kata auhainaa (أَوْحَيْنَا) berarti mewahyukan atau menurunkan wahyu, namun ini bukan bagian dari kitab suci samawi. Maka yang bisa kita pahami bahwa wahyu samawi itu ada berbagai macam jenisnya, salah satunya memang menjadi kitab suci seperti Taurat.
Namun dalam konteks ayat ini, wahyu yang Allah SWT turunkan bukan Taurat. Taurat belum turun pada masa itu dalam alur waktu mereka. Taurat baru turun nanti setelah Musa dan kaumnya Bani Israil sudah meninggalkan negeri Mesir, setelah berada di gurun Sinai.
Ini juga yang membedakan antara konsep wahyu kenabian Musa dan Muhammad SAW. Buat Nabi Muhammad SAW, wahyu pertama yang turun langsung Al-Quran, yaitu lima ayat pertama dalam Al-Quran yang diawali dengan perintah : iqra’ .
أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ
Huruf an (أَنْ) berfungsi sebagai penghubung kepada perintah setelahnya. Kata alqi (أَلْقِ) maknanya: lemparkanlah. Kata ‘ashaaka (عَصَاكَ) berarti tongkatmu atau tongkat milikmu.
Setelah para penyihir menampilkan sihir mereka dengan skala besar yang menipu pandangan, menimbulkan rasa takut, dan tampak begitu dahsyat, datanglah perintah ini sebagai jawaban ilahi yang sederhana namun menentukan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan bahwa mukjizat tidak membutuhkan kerumitan seperti sihir. Mukjizat bisa terjadi cukup dengan satu lemparan tongkat, kebenaran akan mengalahkan kebatilan.
Adapun tongkat itu sebelumnya hanyalah benda biasa yang dikenal Musa, namun dengan perintah Allah, tongkat itu berubah menjadi mukjizat yang nyata. Fakhruddin ar-Razi menekankan bahwa penyebutan tongkatmu mengisyaratkan bahwa sesuatu yang biasa di tangan seorang nabi, jika disertai perintah Allah, bisa menjadi luar biasa.
فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ
Ungkapan faidzaahiya (فَإِذَا هِيَ) berarti maka tiba-tiba dia, merujuk kepada tongkat yang telah dilemparkan.
Kata talqafu (تَلْقَفُ) berarti menelan dengan cepat atau menyambar. Kata ini memberi kesan gerakan yang cepat dan kuat, bukan sekadar memakan, tetapi menyapu habis.
Dalam terjemahan Kemenag RI digunakan ungkapan “menelan (habis) segala kepalsuan mereka”, sedangkan Quraish Shihab menegaskan bahwa yang ditelan adalah kebohongan yang mereka tampilkan, sedangkan HAMKA menyebut “apa yang mereka pertunjukkan”.
Dalam bahasa Arab kata talqafu (تَلْقَفُ) bukan sekadar menelan, tapi lebih tepat menyambar lalu menelan dengan cepat. Ada dua unsur di situ, pertama gerakan cepat seperti menyergap, kedua langsung masuk ke dalam mulut tanpa proses mengunyah.
Para mufassir ketika menjelaskan ayat ini memahami bahwa kata tersebut dipilih untuk menggambarkan gerakan yang sangat cepat dan tegas dari ular yang asalnya dari tongkat Nabi Musa, sehingga apa pun yang dilempar para penyihir langsung habis tanpa sisa, seolah-olah disapu bersih dalam sekali gerakan.
Kalau dikaitkan dengan perilaku ular secara nyata, memang cukup sesuai. Ular tidak mengunyah makanan seperti manusia atau hewan lain, tetapi menangkap mangsa dengan cepat menyergap, lalu langsung menelannya utuh. Jadi bisa dibilang, secara umum itu memang cara makan ular.
مَا يَأْفِكُونَ
Kata ma ya’fikuun (مَا يَأْفِكُونَ) berarti apa yang mereka tampilkan sebagai sihir yang hakikatnya adalah kepalsuan. Kata ini maknanya sekilas memiliki kemiripan dengan istilah fake dalam bahasa Inggris atau kata fiktif dalam Bahasa Indonesia. Walaupun tidak sepenuhnya sama.
Kata fiktif hanya menunjukkan sesuatu yang tidak nyata, sedangkan fake menandakan kepalsuan, sedangkan ifk mengandung makna yang lebih dalam, yaitu rekayasa yang memutarbalikkan fakta hingga tampak sebagai kebenaran.
Makna inilah yang kemudian kita temukan dalam istilah haditsul-ifk, yaitu peristiwa fitnah besar yang menimpa ‘Aisyah رضي الله عنها. Disebut ifk karena berita yang disebarkan saat itu bukan sekadar dusta, melainkan kebohongan yang disusun, dipoles, dan disebarkan sedemikian rupa hingga tampak meyakinkan di mata sebagian orang. Ia adalah realitas yang dibalik: yang tidak terjadi dibuat seolah-olah terjadi, dan yang benar ditutup oleh narasi yang menyesatkan.
Dengan demikian, baik dalam kisah para penyihir maupun dalam peristiwa haditsul-ifk, kita melihat satu benang merah yang sama, yaitu adanya upaya memanipulasi persepsi manusia. Pada kisah Nabi Musa, manipulasi itu berbentuk visual—ilusi yang menipu mata. Sedangkan dalam haditsul-ifk, manipulasi itu berbentuk narasi—cerita yang menipu pikiran dan keyakinan. Keduanya sama-sama berangkat dari akar makna ifk: membelokkan kebenaran hingga yang batil tampak seperti haq.
Dan karena itulah, ketika tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular yang nyata lalu menelan apa yang mereka “ya’fikun”, sesungguhnya yang dihancurkan bukan hanya benda-benda yang tampak, tetapi juga seluruh konstruksi kebohongan yang mereka bangun. Sebagaimana dalam haditsul-ifk, pada akhirnya Allah menurunkan wahyu yang membongkar dan menghancurkan rekayasa dusta itu, mengembalikan kebenaran ke tempatnya, dan menyingkap bahwa apa yang tampak meyakinkan itu sejatinya hanyalah ifk belaka.