Kemenag RI 2019:Maka, apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, “Kami pantas mendapatkan ini (karena usaha kami).” Jika ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya ketentuan tentang nasib mereka (baik dan buruk) di sisi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Prof. Quraish Shihab:Maka, apabila celah datang kepada mereka (kaum Firaun) kebaikan, mereka berkata: “Bagi kami hal ini (wajar).” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan kesialan kepada Musa dan siapa yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya ketentuan tentang kadar (baik dan buruk) mereka adalah (ketetapan) dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Prof. HAMKA:Maka, apabila datang kepada mereka suatu kebaikan, mereka berkata, “Untuk kitalah ini!” Dan jika menimpa kepada mereka suatu kesukaran, mereka pun mempersalahkan Musa dan orang-orang yang serta dengan dia. Ketahuilah, tidak lain kesialan mereka itu hanyalah dari sisi Allah. Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak mau tahu.
Ayat ke-131 dari surat Al-A’raf ini masih menceritakan sikap perlakukan Fir’aun dan para pengikutnya terhadap hukuman yang sudah Allah turunkan, berupa kemarau panjang dan kekurangan buah-buahan agar mereka mengambil pelajaran.
Alih-alih mereka sadar dan mengambil pelajaran, ternyata tidak ada gunanya. Sikap mereka sama saja. Allah sebutkan mereka bila mendapatkan kebaikan atau kemakmuran, bilangnya memang kami pantas mendapatkan ini. Toh semua karena usaha kami. Namun ketika mereka ditimpa kesusahan, mereka tuduhkan Musa dan orang-orang yang bersamanya sebagai penyebab segala macam kesialan itu.
Allah SWT tegaskan bahwa kesialan mereka di tangan Allah. Itu yang sayangnya mereka tidak paham.
فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ
Kata faidza (فَإِذَا) artinya : maka apabila. Kata jaa’at-hum (جَاءَتْهُمُ) artinya : mendatangi mereka. Kata al-hasanatu (الْحَسَنَةُ) diterjemahkan dengan kebaikan. Namun para ulama tafsir klasik menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah al-khisbu (الْخِصْبُ) : kesuburan, as-sa’ah (السَّعَةُ) : keluasan, dan al-amnu (الأمن) : keamanan.
Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[1] mengutip penjelasan Mujahid bahwa maksudnya adalah kelapangan hidup dan keselamatan, sementara sebagian yang lain memaknainya dengan arti yang lebih umum dari itu.
Pada dasarnya kesuburan negeri Mesir itu adalah anugerah yang tidak ternilai yang jarang-jarang Allah berikan kepada suatu negeri. Mesir sering kali disebut sebagai "Hadiah dari Sungai Nil," sebuah ungkapan yang bukan sekadar kiasan melainkan kenyataan geografis yang sangat kontras.
Jika kita melihat peta satelit, Mesir sebenarnya merupakan hamparan gurun Sahara yang luas dan gersang, di mana curah hujan hampir tidak pernah menyentuh tanahnya. Secara teoretis, wilayah ini seharusnya menjadi zona mati yang mustahil menopang peradaban besar, apalagi menjadi lumbung pangan dunia. Namun, keberadaan Sungai Nil mengubah segalanya dengan membelah padang pasir tersebut dan membawa kehidupan dari ribuan kilometer di selatan.
Fenomena keajaiban ini bermula dari siklus tahunan yang sangat teratur. Setiap tahun, hujan lebat di dataran tinggi Ethiopia menyebabkan Sungai Nil meluap dan mengalir ke utara menuju Mesir. Banjir ini bukan membawa bencana, melainkan berkah berupa endapan lumpur hitam yang kaya akan mineral dan nutrisi organik.
Ketika air surut, lumpur tersebut melapisi lembah di sepanjang aliran sungai, menciptakan lapisan tanah yang sangat subur dan mudah diolah di tengah kepungan pasir yang kering. Tanah inilah yang memungkinkan para petani Mesir kuno hingga modern menanam gandum, jelai, dan berbagai komoditas pangan dalam skala masif.
Keteraturan alam ini kemudian dipadukan dengan kecerdasan manusia dalam mengelola air. Masyarakat Mesir mengembangkan sistem irigasi canggih yang mampu menyalurkan air Nil ke lahan-lahan yang lebih jauh dari bantaran sungai, sehingga area hijau tidak hanya terbatas pada tepian air saja.
Dengan sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun tanpa tertutup awan mendung, proses fotosintesis terjadi secara optimal, menghasilkan panen yang melimpah ruah. Hal inilah yang pada masa lalu menjadikan Mesir sebagai penyokong utama kebutuhan gandum bagi kekaisaran-kekaisaran besar seperti Roma, membuktikan bahwa anugerah Tuhan berupa aliran sungai di tengah gurun mampu mengubah takdir sebuah negeri dari tanah yang mematikan menjadi sumber kehidupan yang paling produktif di muka bumi.
قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ
Kata qaaluu (قَالُوا) artinya : mereka berkata. Kata lana (لَنَا) artinya : milik kami. Kata hadzihi (هَٰذِهِ) artinya : ini. Kemenag RI memaknainya dengan : kami pantas mendapatkan ini. Quraish Shihab sedikit berbeda jadi : bagi kami ini. Sedangkan redaksi HAMKA adalah untuk kitalah ini.
Sayangnya oleh Fir’aun, semua itu diklaim sebagai hasil kerja keras mereka tanpa keterlibatan Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Pemberi rizki. Ada unsur kekufuran dan dalam sikap mereka terhadap anugerah besar itu.
Ibnu Jarir Ath-Thabari menuliskan dalam Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran [2] terkait penggalan ini apabila keluarga Fir‘aun mendapatkan keselamatan, kesuburan, kemakmuran, dan banyaknya buah-buahan, serta mereka melihat apa yang mereka sukai dalam kehidupan dunia mereka, mereka berkata: itu adalah milik kami, kami lebih berhak atasnya.
Rupanya inilah yang menjadikan mereka takabur, ingkar, sombong, lalai dan mereka punya kuasa. Mereka mengira bahwa semua pemberian Allah SWT itu semata-mata hasil pencapaian mereka sendiri. Maka di tengah-tengah kelalaian mereka itulah kemudian Allah uji mereka dengan kelaparan dan kesengsaraan.
وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ
Huruf wa-in (وَإِنْ) artinya : dan jika. Kata tushibhum (تُصِبْهُمْ) artinya : menimpa mereka. Kata sayyiatun (سَيِّئَةٌ) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Quraish Shihab menjadi : kesusahan, sedangkan HAMKA menerjemahkannya menjadi : suatu kesukaran.
Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[3] menuliskan bahwa kata sayyiatun (سَيِّئَةٌ) adalah kesempitan dhayyiqah (ضَيِّقَةٌ), juga kekeringan atau jadb (جَدْبٌ), juga penyakit alias maradh (مُرْضٌ). Bahkan juga hukuman alias uqubah (عُقُوبَةٌ) dan cobaan alias bala’ (بَلاءٌ).
Karena sudah diuji dengan kenikmatan, tapi hasilnya nihil, alih-alih bersyukur malah kufur dan takabbur, maka kali ini giliran Allah menguji mereka dengan kesempitan, kekeringan, penyakit, hukum dan cobaan. Siapa tahu diuji dengan cara seperti itu bisa sadar dan bertaubat.
يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ
Kata yaththayyaruu (يَطَّيَّرُوا) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Quraish Shihab menjadi : mereka lemparkan kesialan, sedangkan HAMKA menerjemahkannya : mereka mempersalahkan.
Diuji dengan keburukan, malah cari kambing hitam. Bukannya mereka sadar dan introspeksi, malah Nabi Musa yang mereka tuduh sebagai biang keladi penyebab kesengsaraan mereka.
Apabila mereka ditimpa keburukan, yaitu kekeringan, paceklik, dan bencana, mereka mengaitkannya dengan Musa dan orang-orang yang bersamanya; yakni mereka merasa sial dan berkata: keberuntungan dan bagian kami dari kemakmuran, kesuburan, dan kesejahteraan telah hilang sejak Musa datang kepada kami.
Mereka yang baru belajar bahasa Arab, jika membaca kata yaththayyaruu (يَطَّيَّرُوا) di ayat ini pastinya akan kebingungan. Sebab jika buka kamus Arab, ditemukan akarnya dari tiga huruf yaitu (ط ي ر) yang makna dasarnya adalah burung. Lalu bagaimana dari burung bisa bergeser makna jadi : melemparkan kesialan? Tentu panjang ceritanya dan perlu diurutkan terlebih dahulu.
Di awali dengan kegiatan mengamati tingkah laku burung, yang dianggap membawa rahasia tersembunyi terkait dengan nasib seseorang. Tindakan ini disebut tathayyur (تطيّر). Memang di banyak peradaban ada saja mereka yang percaya burung sebagai alat membaca nasib.
Secara teknis mereka akan mengusir burung lalu memperhatikan arah terbangnya. Kalau burung itu melintas dengan arah tertentu yang dianggap baik, mereka merasa optimis dan melanjutkan rencana. Sebaliknya, kalau arah terbangnya dianggap buruk, mereka langsung merasa sial dan membatalkan rencana.
Karena kebiasaan itu terus berulang dan menjadi bagian dari budaya, akhirnya kata yang asalnya hanya berarti mengamati burung bergeser maknanya menjadi mengambil pertanda, lalu lebih sempit lagi menjadi merasa sial atau menganggap sesuatu sebagai pembawa kesialan. Akhirnya kata yaththayyaru (يَطَّيَّرُ) maknanya jadi : ”menuduh seseorang sebagai pembawa sial”.
Kata bi-Musa (بِمُوسَىٰ) artinya : kepada Nabi Musa. Sedangkan makna wa man ma’ahu (وَمَنْ مَعَهُ) maksudnya : dan orang-orang yang besertanya.
Dalam hal ini Fir’aun dan kaumnya jika sedang kena musibah, mereka menyalahkan Musa sebagai pembawa sial dalam kehidupan mereka.
أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ
Ungkapan a-laa (أَلَا) artinya : ketahuilah. Huruf innama (إِنَّمَا) artinya : sesungguhnya hanya. Kata thairuhum (طَائِرُهُمْ) diterjemahkan oleh Kemenag RI menjadi : ketentuan nasib mereka. Adapun terjemahan Quriash Shihab adalah : ketentuan (kadar) mereka. Dan HAMKA menerjemahkannya menjadi : kesialan mereka. Ungkapan indallah (عِنْدَ اللَّهِ) artinya : di sisi Allah atau dari Allah.
Penggalan ini bermakna bahwa bukan Nabi Musa yang membawa sial, bukan juga faktor kebetulan atau tanda-tanda aneh seperti yang mereka percayai. Tapi semua berada dalam ketentuan Allah.
Kata thairuhum (طَائِرُهُمْ) di sini memang menarik. Secara bahasa memang masih membawa bayangan makna lama tentang tanda nasib yang pada penggapan sebelumnya dikaitkan dengan burung. Tapi Al-Qur’an menggeser maknanya menjadi ketetapan dari Allah. Jadi istilah lama dipakai, tapi isinya diluruskan.
Dalam Al-Quran istilah tatayyur dipahami sebagai kebiasaan menimpakan kesialan kepada sesuatu di luar diri. Sebab disana burung dijadikan alat membaca nasib. Sedangkan budaya lokal kita meski ada semacam kepercayaan pada burung, tapi tidak selalu berarti kesialan. Memang suara burung dalam beberapa kepercayaan suka dijadikan isyarat. Misalnya suara burung gagak yang dianggap sebagai pertanda akan ada kematian atau kabar buruk. Lalu burung hantu, di sebagian masyarakat Jawa sering dikaitkan dengan suasana angker atau tanda akan terjadi sesuatu yang tidak baik, apalagi jika suaranya terdengar di sekitar rumah pada malam hari.
Tapi ada juga yang sebaliknya, yaitu mengaitkan burung perkutut dengan keberuntungan. Dalam tradisi Jawa, jenis dan suara perkutut tertentu dipercaya membawa hoki bagi pemiliknya, sampai-sampai dulu ada orang yang sangat serius memilih tuah burungnya. Di beberapa tempat lain, suara burung tekukur juga kadang dikaitkan dengan firasat tertentu, tergantung waktu dan situasinya. Bahkan ada kepercayaan bahwa jika burung masuk ke dalam rumah, itu pertanda akan ada tamu atau kabar yang datang.
وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Ungkapan wa-lakinna (وَلَٰكِنَّ) artinya : akan tetapi. Kata aktsaruhum (أَكْثَرَهُمْ) artinya : kebanyakan mereka. Kata laa ya’lamun (لَا يَعْلَمُونَ) artinya : tidak mengetahui, namun HAMKA sedikit beda ketika memaknai, yaitu : tidak mau tahu.
Ketika mereka merasa hidupnya enak, rezeki lancar, aman, nyaman, mereka langsung mengklaim bahwa semua itu memang hak mereka. Seolah-olah keberuntungan itu datang karena mereka layak mendapatkannya.
Namun begitu keadaan berubah, misalnya datang kesulitan, paceklik, atau musibah, mereka tidak mau menyalahkan diri sendiri. Mereka justru mencari kambing hitam, lalu menuduh Nabi Musa dan orang-orang beriman sebagai penyebab kesialan itu.
Di sinilah muncul istilah “merasa sial” yang dalam bahasa Arab disebut tatayyur. Memang di banyak peradaban ada kebiasaan melihat burung untuk mencari pertanda. Mereka akan mengusir burung, lalu memperhatikan arah terbangnya. Kalau burung itu bergerak dengan arah yang dianggap baik, mereka merasa optimis dan melanjutkan rencana. Tapi kalau arah burung dianggap buruk, mereka langsung pesimis dan mengurungkan niat. Jadi hidup mereka seperti ditentukan oleh “isyarat” yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan realitas.
Dari kebiasaan itulah muncul ungkapan-ungkapan tentang pertanda baik dan buruk. Misalnya ada peribahasa yang menggambarkan betapa sulitnya mendapatkan tanda yang baik setelah sebelumnya merasa mendapat tanda buruk. Bahkan para ulama bahasa menjelaskan dengan detail: ada istilah untuk burung yang datang dari arah kanan dan dianggap membawa keberuntungan, dan ada juga yang datang dari arah kiri yang dianggap membawa kesialan.
Firaun dan kaumnya menjadikan Musa sebagai simbol kesialan. Padahal kehadiran Musa adalah membawa kebenaran dan petunjuk, sementara kesulitan yang mereka alami adalah akibat dari kesombongan dan penolakan mereka sendiri. Jadi masalahnya bukan pada Musa, tapi pada cara berpikir mereka yang suka menyalahkan pihak lain dan tidak mau bercermin pada diri sendiri.