Kemenag RI 2019:Mereka (kaum Fir‘aun) berkata (kepada Musa), “Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami dengannya, kami tidak akan beriman kepadamu.” Prof. Quraish Shihab:Mereka (kaum Firaun) berkata: “Betapapun engkau mendatangkan tanda kepada kami (berupa mukjizat atau bukti kebenaranmu) untuk menyihir kami dengannya, maka tidaklah kami menjadi orang-orang mukmin padamu.” Prof. HAMKA:Dan, mereka berkata, “Apa jua pun keterangan yang engkau bawakan kepada kami, untuk menyihir kami dengan dia, tetapi kami tidaklah percaya kepada engkau.”
Ayat ke-132 dari surat Al-A’raf ini masih sambungan dari ayat sebelumnya, yaitu masih menceritakan sikap mental Fir’aun dan pengikutnya yang sudah diuji dengan berbagai macam jenis ujian, muai dari yang sifatnya kebaikan hingga yang sifatnya keburukan, ternyata sama saja, tidak mempan dan tidak ada gunanya.
Ayat ini kemudian mempertebal lagi apa yang sudah ada, yaitu mereka secara eksplisit menyatakan diri tidak akan beriman meski dihadapkan dengan berbagai macam jenis alat bukti. Mereka sebut semua tanda-tanda dari Allah SWT itu sebagai sihir. Maka mereka bilang sihir apapun tidak akan bisa mengubah cara pandang kami jadi orang yang beriman.
Ini sudah menjadi titik paling akhir yang menandakan sampai disitu saja batas usaha untuk mendakwahi mereka bagi Nabi Musa.
وَقَالُوا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ
Kata wa qalu (وَقَالُوا) artinya : dan mereka berkata. Kata mahma (مَهْمَا) diterjemahkan secara berbeda. Kemenag RI menerjekannya sebagai : bukti apa pun, sedangkan Quraish Shihab menerjemahkan : betapapun. Yang paling berbeda adalah HAMKA yaitu : apa jua pun.
Kata ta’tina bihi (تَأْتِنَا بِهِ) artinya : kamu bawakan kepada kami. Ungkapan min ayatin (مِنْ آيَةٍ) artinya : dari suatu bukti, atau berupa tanda mukjizat atau bukti. HAMKA menerjemahkannya menjadi : keterangan.
Penggalan ini sebenarnya menggambarkan satu sikap batin yang sudah tertutup rapat. Kalimat mereka bukan sekadar penolakan biasa, tapi sudah sampai pada level pembangkangan yang keras kepala.
Kata mahma (مَهْمَا) di situ memberi nuansa yang sangat kuat, bukan hanya berarti apa pun, tapi lebih ke arah apa saja tanpa batas. Jadi seolah-olah mereka berkata: tidak peduli bukti seperti apa yang kamu bawa, sebesar apa pun, sejelas apa pun, kami tetap tidak akan menerima.
لِتَسْحَرَنَا بِهَا
Kata li-tasharana (لِتَسْحَرَنَا) artinya untuk menyihir kami. Sedangkan huruf biha (بِهَا) artinya : dengannya.
Penggalan ini menunjukkan cara mereka memelintir makna mukjizat yang dibawa Nabi Musa. Secara bahasa kata li-tasharana (لِتَسْحَرَنَا) itu bukan sekadar “kamu menyihir kami”, tapi mereka menuduh bahwa semua tanda yang dibawa Musa itu hanyalah trik untuk mempengaruhi, mengelabui, dan menguasai pikiran mereka. Jadi dari awal mereka sudah menetapkan kesimpulan: ini bukan kebenaran, ini sihir.
Di sinilah letak masalah besarnya. Mukjizat itu pada hakikatnya adalah bukti kebenaran yang datang dari Allah. Tapi karena hati mereka sudah menolak, bukti yang seharusnya menguatkan iman justru ditafsirkan sebagai alat manipulasi. Mereka tidak lagi melihat substansi, tapi langsung memberi label. Begitu diberi label “sihir”, otomatis semua bukti menjadi tidak perlu dipertimbangkan lagi.
فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ
Huruf fa-ma (فَمَا) artinya : maka tidaklah. Kata nahnu (نَحْنُ) artinya : kami. Huruf laka (لَكَ) artinya : kepadamu. Kata bi-mu’minin (بِمُؤْمِنِينَ) artinya : aku beriman atau percaya.
Kalau dirangkai dari awal sampai sini, terlihat jelas alurnya: pertama mereka menyalahkan Musa atas kesialan, lalu mereka menolak semua bukti, kemudian mereka melabelinya sebagai sihir, dan akhirnya mereka mengunci sikap dengan penolakan total. Jadi ayat ini bukan berdiri sendiri, tapi menjadi klimaks dari sikap keras kepala yang sudah dibangun sebelumnya.