Kemenag RI 2019:Ketika azab (yang telah diterangkan itu) menimpa mereka, mereka pun berkata, “Wahai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau dapat menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan pasti akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu.” Prof. Quraish Shihab:Dan ketika siksa (itu) menimpa mereka, mereka berkata: “Wahai Musa! Mohonkanlah untuk kami kepada Tuhan Pemeliharamu dengan apa (yakni perkenan-Nya mengabulkan doamu, atau kenabianmu atau rahasia Ilahi yang engkau peroleh) yang dianugerahkan padamu. Sesungguhnya jika engkau (dengan doamu berhasil) melenyapkan siksa (itu) dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan pasti kami akan membiarkan Bani Israil pergi bersamamu.” Prof. HAMKA:Dan, tatkala telah menimpa kepada mereka bencana itu, mereka berkata, “Wahai Musa! Doakanlah untuk kami kepada Tuhan engkau dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepada engkau. Sesungguhnya jika telah engkau lepaskan kami dari bencana itu, sungguh kami akan percaya kepada engkau dan akan kami serahkan bersama engkau Bani Israil itu.”
Ayat ke-134 dari surat Al-A’raf ini rasanya agak bertentangan dengan ayat sebelumnya terkait reaksi Firaun dan kaumnya. Di ayat sebelumnya Allah SWT menceritakan bahwa meski telah digempur dengan berbagai macam siksaan seperti banjir besar, belalang, kutu, katak dan darah, ternyata mereka tetap saja berlaku sombong.
Sementara di ayat ini justru ceritanya terbalik. Mereka digambarkan tidak kuat menghadapi semua siksaan itu, sehingga meminta agar Musa berdoa kepada Tuhannya agar menghentikan semua bencana itu.
Bahkan sampai berjanji akan beriman kepada Musa jika memang benar-benar terwujud. Dan lebih dari itu, mereka juga berjanji akan melepaskan Bani Israil dari belenggu selama ini.
Fakhruddin Arrazi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib [1] menjelaskan kontradiksi ini. Ternyata Allah SWT sedangkan menceritakan kekonyolan jiwa dan perilaku mereka. Begitu suatu jenis bencana menimpa mereka dan mereka tidak kuat dengan resikonya, terpaksalah mereka minta tolong kepada Musa agar berdoa kepada Allah SWT untuk menghentikan bencana, sambil menyatakan bahwa mereka mengakui kenabian Musa dan mengimaninya. Bahkan berjanji akan membebaskan Bani Israil.
Maka Musa pun berdoa agar Allah SWT mengentikan bencana yang menimpa mereka. Lantas mereka pun terbebas dari bencana itu. Ternyata mereka tidak kunjung beriman juga dan tetap ingkar kepada Musa. Ternyata setelah kesulitan itu hilang, mereka kembali lagi mendustakannya dan mencela dirinya, bahkan menganggap bahwa apa yang Beliau lakukan hanyalah sihir.
Maka datanglah kemudian bencana berikutnya. Lalu mereka minta Musa berdoa untuk menghentikan, dengan janji mau beriman. Begitu bencana berhenti, ternyata mereka ingkar lagi. Dan begitulah kejadiannya berkali-kali.
وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ
Kata wa-lamma (وَلَمَّا) artinya : dan ketika. Kata waqa’a ‘alaihim (وَقَعَ عَلَيْهِمُ) artinya : telah menimpa kepada mereka. Kata ar-rijzu (الرِّجْزُ) diterjemahkan oleh Kemenag RI menjadi : azab, sedangkan oleh Quraish Shihab menjadi : siksa. Sedangkan terjemahan HAMKA adalah : bencana.
Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-‘Uyun[2] menuliskan pandangan ulama klasik yang berbeda terkait kata ini. Al-Hasan, Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid mengatakan yang dimaksud ar-rijzu (الرِّجْزُ) adalah azab yang lima yaitu banjir besar, belalang, kutu, katak dan darah.
Namun Sa‘id bin Jubair mengatakan maksudnya adalah wabah tha‘un yang menimpa mereka, sehingga dari kalangan Qibthi Mesir tercatat yang meninggal sebanyak tujuh puluh ribu orang dalam satu hari. Sampai mayat-mayat mereka bergelimpangan tanpa sempat dikuburkan. Pendapat Sa‘id bin Jubair didasarkan hadits marfu‘ dari Usamah bin Zaid radhiyallahuanhu :
tha‘un itu adalah suatu azab yang diutus kepada sekelompok dari Bani Israil atau kepada orang-orang sebelum kalian. Maka apabila kalian mendengarnya terjadi di suatu negeri, janganlah kalian memasukinya. Dan apabila terjadi di negeri tempat kalian berada, maka janganlah kalian keluar darinya untuk melarikan diri.
Sedangkan Al-Alusy dalam tafsirnya Ruhul Ma’ani[3] meriwayatkan dari Abu ‘Abdillah bahwa mereka ditimpa salju berwarna merah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, sehingga banyak dari mereka yang binasa karenanya.
قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ
Kata qalu (قَالُوا) artinya mereka berkata. Ungkapan ya musa (يَا مُوسَى) artinya : Wahai Musa. Kata ud’u lana (ادْعُ لَنَا) artinya : mohonkanlah untuk kami atau doakanlah untuk kami. Kata rabbaka (رَبَّكَ) artinya : kepada Tuhanmu.
Disini terjadi keunikan dan kelucuan perilaku Fir’aun dan kaumnya. Ketika bencana dari Allah SWT datang menimpa mereka dan memakan korban kematian begitu banyak, ternyata mereka ketakutan juga. Alam seolah-olah mengamuk dan siap melumat mereka dengan tanpa ampun.
Tiba-tiba saja Fir’aun minta tolong kepada Musa agar berdoa kepada Allah SWT dan minta segera dihentikan bencana ini. Padahal Fir’aun sejak awal sudah menyatakan sikap dan tekat tidak mau percaya kepada kekuatan Allah SWT.
Tapi akhirnya terpaksalah dia minta tolong kepada Musa agar Allah SWT segera hentikan. Mereka tidak kuat dengan bencana alam sedahsyat itu. Jelas Fir’aun mendapat tekanan dari banyak pihak agar segera mengambil tindakan.
Dan ketika semua upaya untuk bertahan dari bencana sudah buntu, satu-satunya jalan hanya menyerah kepada Musa. Akhirnya Fir’aun pun ’menyerah’. Dia mengemis-ngemis kepada Musa, minta ampun dan minta tolong, dilengkapi dengan segala janji manis.
بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ
Ungkapan bima ‘ahida (بِمَا عَهِدَ) diterjemahkan secara berbeda. Versi Kemenag RI adalah : sesuai dengan janji-Nya, sedangkan versi Quraish Shihab adalah : dengan apa yang dianugerahkan. Lain lagi versi HAMKA, yaitu : dengan apa yang telah dijanjikan-Nya. Kata indaka (عِنْدَكَ) artinya : kepadamu.
Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[4] menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ’apa yang Allah janjikan di sisimu’ adalah kenabian Musa itu sendiri. Seolah mereka berkata: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan kedudukan kenabian yang Allah berikan kepadamu.”.
Dalam hal ini kenabian disebut sebagai ’ahdun (عهد) yaitu janji atau perjanjian, karena Allah menjanjikan kemuliaan bagi para nabi, dan para nabi pun memikul amanah besar dari-Nya.
Al-Alusy juga menyebutkan kemungkinan makna lain yang masih satu arah, yaitu bahwa yang dimaksud adalah apa yang Allah janjikan kepadamu bahwa doa-doamu akan dikabulkan, sebagaimana sebelumnya Musa berdoa lalu Allah mengabulkannya dalam berbagai tanda dan mukjizat.
Selain itu, ungkapan ini juga bisa dipahami sebagai bentuk permohonan yang disertai sumpah atau rayuan. Seolah mereka bilang : “Demi sesuatu yang mulia bagimu, lakukanlah…”. Jadi mereka seakan-akan merayu Musa agar berdoa dengan menyebut sesuatu yang agung di sisinya.
Kesimpulannya, mereka meminta Musa berdoa kepada Allah dengan bertumpu pada kedudukan dan hubungan khususnya dengan Allah yaitu kenabian atau pun doa yang mustajab, agar azab itu diangkat dari mereka.
لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ
Ungkapan la-in (لَئِنْ) artinya : sungguh jika. Kata kasyafta (كَشَفْتَ) diartikan oleh Kemenag RI menjadi : engkau menghilangkan, sedangkan Qurasih Shihah menerjemakannya menjadi : engkau melenyapkan. Adapun HAMKA menerjemahkannya : telah engkau lepaskan.
Makna ‘anna (عَنَّا) : kami dari. Kata ar-rijza (الرِّجْزَ) diterjemahkan oleh Kemenag RI menjadi : azab, sedangkan oleh Quraish Shihab menjadi : siksa. Sedangkan terjemahan HAMKA adalah : bencana.
Ucapan lain kasyafta ‘annar-rijza (لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ) disini menjadi syarat yang mereka ajukan, yaitu hilangkan dulu bencana mematikan dari negeri mereka. Sebab ternyata setelah berembug berkepanjangan tanpa henti, disepakati bahwa bencana ini di luar kemampuan mereka untuk mengantisipasinya. Mereka sampai pada satu-satunya kesimpulan bahwa tidak satu pun pihak yang mampu untuk menghentikannya, kecuali kembali kepada yang mendatangkannya, yaitu Musa.
Maka jadilah mereka melakukan negosiasi dengan Musa. Syarat yang mereka ajukan adalah : hentikan dulu bencana ini.
لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ
Kata la-nu’minanna (لَنُؤْمِنَنَّ) artinya : pasti kami akan beriman. Makna la-ka (لَكَ) adalah kepadamu, yaitu kepada Nabi Musa dan ajaran yang dibawanya.
Ucapan ini adalah janji yang mereka sampaikan sendiri kepada Musa. Allah SWT membubuhkan dua huruf ta’kid pada kata ini, yaitu huruf lam (لَ) di awal dan huruf nun bertasydid (نّ) di akhir kata nu’minu (نؤمن). Kalau kita terjemahkan menjadi : ”sungguh pastilah kami akan beriman”.
Ucapan mereka ini pastinya bukan karena mereka benar-benar beriman kepada Allah dan kerasulan Musa. Mereka tetap dalam keadaan musyrik dan meyakini adanya banyak tuhan. Hanya saja karena posisi mereka lagi kepepet dan sudah tidak bisa berpikir lagi dengan tenang, maka mereka terpaksa menyebut apapun yang sekiranya bisa mereka sebutkan.
Dalam perkiraan mereka, jika mereka umbar janji akan beriman, pastilah Nabi Musa berkenan mengabulkan permintaan mereka. Dari pengalaman panjang bersama Musa, mereka sudah tahu bahwa Nabi Musa pasti mengajukan syarat agar mereka beriman terlebih dahulu. Maka naluri bertahan hidup merekalah yang mendorong mereka untuk seolah-olah telah sadar dan mau beriman kepada Musa.
Dalam keadaan terpaksa dan kepepet, orang cenderung melakukan hal-hal yang diluar keyakinannya, tidak terkecuali Fir’aun. Meski dia menyatakan diri sebagai tuhan yang paling tinggi, kali ini dia keok dan tidak berkutik lagi berhadapan dengan kekuatan alam yang sangat dahsyat ini.
Maka benar kata pepatah bahwa lidah tak bertulang. Sekelas Fir’aun sekalipun, kalau sudah mentok dan ketemu jalan buntuh, mau tidak mau bersilat lidah-lah dia. Tiba-tiba mengatakan ingin beriman kepada Musa.
Mungkin kita bertanya-tanya, mana si Fir’aun yang kemarin petantang-petenteng itu, kok sekarang bertekuk lutut di hadapan Musa?
Jawabannya sederhana, bencana yang Allah SWT kirimkan itu memang amat sangat menakutkan, benar-benar menjatuhkan mental, banjir besar yang menenggelamkan sekian banyak negeri Mesir, termasuk area pertanian yang subur itu sudah pasti akan menjadi bencana pangan terbesar sepanjang sejarah Mesir. Dan secara hitungan matematis, bencana ini memang tidak pernah terjadi sebelumnya. Tiba-tiba alam mengamuk tidak terkendali, melumat apa aja yang ada di negeri itu.
Sekelas Fir’aun kemudian tahu secara logika bahwa satu-satunya yang bisa menghentikan bencana ini adalah sumber bencana itu sendiri, yaitu Musa. Fir’aun tahu bahwa Musa memiliki Tuhan yang punya kekuasaan khusus, dan bahwa musibah yang menimpa mereka itu berasal dari Tuhan Musa karena mereka telah menyakiti hamba-hamba-Nya.
Maka disitulah logikanya kenapa Fir’aun menyatakan mau beriman kepada Musa. Jawabannya karena dia lagi melakukan negosiasi kepada Musa. Intinya sedang membujuk Musa agar memohon kepada Tuhannya supaya menghentikan azab itu dari mereka. Sebagai balasannya, pastilah pernyataan mau beriman. Itu konsekuensi logis yang murah harganya, cukup dengan janji manis saja di mulut.
Modalnya hanya mulut, lidah dan kata-kata manis, tebar janji itu mudah, murah, sederhana dan sangat simple. Bagi Fir’aun, tebar janji itu seharusnya tidak dilakukan, tapi kalau sudah kepepet, apa boleh buat. Urusan konsekuensi kan nanti bisa diatur belakangan.
وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ
Ungkapan wa-la-nursilan-na (وَلَنُرْسِلَنَّ) artinya : dan pasti kami akan membiarkan, atau dan akan kami serahkan. Makna ma’a-ka (مَعَكَ) adalah : bersama kamu. Sedangkan bani israil (بَنِي إِسْرَائِيلَ) tidak lain adalah Bani Israil, dalam hal ini kaumnya Nabi Musa.
Pintarnya Fir’aun adalah dia tahu apa yang jadi obsesi Musa selain pernyataan keimanannya kepada agama Musa, yaitu pembebasan Bani Israil. Maka senjata kedua ini pun segera dimainkan. Fir’aun berjanji jika bencana ini benar-benar sudah berhenti, maka dia akan mengizinkan Bani Israil keluar dari Mesir untuk beribadah kepada Tuhan mereka.
Sungguh benar-benar manis sekali dua tawaran Fir’aun ini. Sama sekali tidak bisa ditolak. Lagian dari raut wajahnya, ketika mengatakan seperti itu, nampak sekali keseriusan Fir’aun.
Karena memang boleh jadi, ini sekedar asumsi, bahwa saat itu Fir’aun memang serius dengan janji-janjinya itu. Boleh jadi saat itu Fir’aun sudah sampai ke titik kesadarannya bahkan penyesalan atas sikap ingkarnya selama ini.
Walaupun banyak juga yang menduga bahwa Fir’aun sedang akting saja, manalah mungkin sekelas Fir’aun mau beriman kepada Musa, apalagi sampai mau melepaskan Bani Israil dari Mesir. Rasanya tidak masuk akal kalau sampai sejauh itu.