Kemenag RI 2019:Namun, setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang harus mereka penuhi, ternyata mereka ingkar janji. Prof. Quraish Shihab:Maka, setelah Kami lenyapkan siksa (itu) dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka memungkirinya. Prof. HAMKA:Maka, tatkala telah Kami lepaskan mereka dari bencana itu sehingga suatu masa yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka pun mungkir.
Ayat ke-135 dari surat Al-A’raf ini melanjutkan kejadian pasca sudah dihentikannya bencana, yang ternyata semua yang sudah Fir’aun janjikan di hadapan Musa, semuanya hanya pepesan kosong. Tidak ada satupun janji itu yang terwujud.
Fir’aun tetap saja tidak mau beriman kepada Musa. Dan Bani Israil tetap saja tidak dilepaskan. Janji Fir’aun tinggal janji, isinya jeblok semua. Tidak ada satupun yang jadi kenyataan.
Entah memang itu sudah direncanakan sebelumnya, jadi semua janji itu memang hanya siasat dan taktis saja. Atau bisa juga awalnya ketika berjanji memang serius dari dalam lubuk hati. Namun ketika tekanan dan bencana sudah selesai, naluri kekafirannya muncul lagi sebagaimana semula.
فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ
Kata fa-lamma (فَلَمَّا) artinya : maka, setelah. Kata kasyafna (كَشَفْنَا) artinya : Kami hilangkan atau Kami lenyapkan. Kata ‘anhum (عَنْهُمُ) artinya : dari mereka. Kata ar-rijza (الرِّجْزَ) diterjemahkan oleh Kemenag RI menjadi : azab itu, oleh Quraish Shihab menjadi : siksa itu, dan oleh HAMKA menjadi : bencana itu.
Ketika Fir’aun dengan wajah memelas mengemis-ngemis minta tolong kepada Musa agar berdoa kepada Allah SWT biar bencana ini segera diakhiri, maka Musa pun menerima permohonan itu.
Bagi Musa tidak jadi soal, apakah Fir’aun berjanji mau beriman itu memang dengan niat benar-benar akan melakukannya, atau hanya sekedar pura-pura, yang jelas permintaan itu tidak mungkin ditolak oleh Nabi Musa.
Kalau pun Fir’aun hanya berpura-pura, tetap saja Musa sudah mendapatkan dua point penting, yaitu pernyataan keimanan Fir’aun dan janji untuk membebaskan Bani Israil. Urusan apakah Fir’aun mengatakannya dengan terpaksa atau suka rela, nanti bisa dibicarakan kemudian. Yang pasti, sudah keluar dari mulut Fir’aun sendiri apa yang jadi target utama. Dan itu saja sudah lumayan merupakan sebuah langkah kemenangan, meski baru sebatas janji di lisan yang kapan waktu bisa saja dikhianati.
Maka Musa pun memanjatkan permohonan kepada Allah SWT agar bencana yang telah memporak-porandakan negeri Mesir segera diakhiri. Dan Allah SWT langsung saat itu juga menerima doa Musa. Tiba-tiba saja amukan alam berhenti seketika, seolah tidak terjadi apa-apa.
إِلَىٰ أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ
Huruf ila (إِلَىٰ) artinya : hingga. Kata ajalin (أَجَلٍ) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Quraish Shihab menjadi : batas waktu, sedangkan oleh HAMKA menjadi : suatu masa. Kata hum balighuhu (هُمْ بَالِغُوهُ) artinya : yang mereka capai.
Fakhruddin Arrazi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menjelaskan bahwa Allah tidak menghilangkan azab dari mereka secara mutlak, dan tidak pula menyingkirkan azab itu dari mereka dalam seluruh kejadian. Akan tetapi, Allah SWT hanya mengangkat azab itu sampai batas waktu tertentu. Ketika batas waktu itu tiba, Dia tidak lagi menghilangkan azab dari mereka, bahkan Dia binasakan mereka dengan azab tersebut.
Al-Alusy dalam tafsir Ruh Al-Ma’ani[2] menjelaskan bahwa Allah SWT menyelamatkan mereka dari azab hanya sampai waktu tertentu saja. Waktu tersebut adalah saat tenggelam, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, atau saat kematian, sebagaimana diriwayatkan dari Al-Hasan. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan batas waktu itu adalah waktu yang mereka tentukan sendiri untuk beriman.
Penggalan ayat itu menjelaskan bahwa ketika Allah mengangkat azab dari mereka, pengangkatan itu bukan berarti azab tersebut hilang untuk selamanya. Azab itu hanya ditunda sampai batas waktu tertentu yang pasti akan mereka capai. Dalam masa penundaan itu, mereka sempat merasakan kelonggaran, tetapi bukan berarti mereka benar-benar selamat. Ketika batas waktu tersebut tiba, azab itu kembali, bahkan menjadi sebab kebinasaan mereka, seperti peristiwa ditenggelamkannya mereka.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa batas waktu tersebut adalah waktu kehancuran mereka yang memang sudah ditentukan sejak awal, sehingga penundaan azab itu hanyalah sementara sebelum datang hukuman yang lebih besar. Sementara itu, ada juga yang memahami bahwa batas waktu tersebut adalah waktu yang mereka sendiri janjikan untuk beriman, ketika mereka meminta agar azab diangkat. Namun pada kenyataannya, setelah azab itu diangkat, mereka justru kembali ingkar. Dengan demikian, makna keseluruhannya menunjukkan bahwa pengangkatan azab itu hanyalah penangguhan, bukan keselamatan yang hakiki.
إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ
Kata idza (إِذَا) artinya : tiba-tiba. Kata hum (هُمْ) artinya : mereka. Ini sebuah kejadian mendadak yang terjadinya sebegitu cepatnya. Baru saja bilang mau beriman dan mau bebaskan Bani Israil, begitu bencana berhenti, tanpa menunggu waktu lagi, secara tiba-tiba Fir’aun sudah balik lagi, mengingkari ucapan lisannya sendiri, langsung membatalkan janji yang belum kering lidahnya mengucapkannya.
Kata yankutsuna (يَنْكُثُونَ) diterjemahkan oleh Kemenag RI menjadi : ingkar janji, oleh Quraish Shihab menjadi : memungkirinya, dan oleh HAMKA menjadi : mungkir.
Kata yankutsuna (يَنْكُثُونَ) di sini asalnya digunakan untuk menggambarkan tindakan mengurai kembali benang wol yang sudah dipintal, lalu dipintal ulang. Dari makna asal ini kemudian dipakai sebagai kiasan untuk orang yang merusak perjanjian setelah sebelumnya disepakati dengan kuat.
Fir’aun itu bukan nabi, juga bukan orang suci. Dia adalah politikus, bisa naik jadi penguasa memang modalnya janji di lisan. Janji yang di pagi hari masih kedelai, namun masuk ke sore hari sudah berubah jadi tempe. Bagi orang macam Fir’aun ini, lisan itu memang digunakan untuk bersilat, semakin pandai dia bersilat lidah, semakin sukses dia dalam berpolitik.
Maka guru besar ilmu politik itu bukan Nabi Muhammad SAW, tapi Fir’aun. Sedangkan Nabi Muhammad SAW bukan politikus, Beliau itu negarawan, guru bangsa, tokoh besar yang punya wibawa dan kharisma tinggi, dipuja oleh lawan.
Sedangkan Fir’aun itu tipe politikus busuk, korup, tukang obral janji palsu dan kebohongan nomor wahid. Hidup dibangun di atas tipu-tipu dan obralan janji khas para politikus. Pokoknya janji dulu, urusan nanti melaksanakannya, sudah ada seribu kata yang bisa bikin selamat secara licik.
Sosok pribadi Fir’aun inilah yang jadi suri tauladan banyak pegiat politik hari ini. Modal dasarnya adalah obral janji palsu sepanjang waktu. Kampanye adalah dakwahnya yang berisi serangkaian janji palsu, seakan sudah menjadi dzikir lisan harian pagi dan petang.
Sikap mencla-mencle jadi andalan dalam kehidupan. Sehari dukung si A, besok si A langsung dijatuhkan karena pindah jadi pendukung B. Kata-katanya tidak bisa dipegang, licin selicinnya, ibarat belut disiram oli, sangat licin tanpa bisa dipegang bagian manapun dari tubuhnya.
Jika kita melihat banyak politikusyang seperti ini, ketahuilah guru besar mereka adalah : Fir’aun.