Kata qaala (قَالَ) artinya: dia berkata. Maksudnya adalah Nabi Musa ‘alaihissalam, yang kembali menanggapi permintaan kaumnya.
Huruf a (أَ) artinya: apakah. Ini adalah huruf istifham alias kata tanya yang menunjukkan bentuk pertanyaan, namun di sini bukan sekadar bertanya, melainkan bernada pengingkaran. Kata ghayrallah (غَيْرَ اللَّهِ) artinya: selain Allah.
Kata abghiikum (أَبْغِيكُمْ) artinya: aku carikan untuk kalian. Kata ini berasal dari akar kata (ب غ ي) yang maknanya mencari atau menginginkan sesuatu. Maksudnya Nabi Musa mengatakan: apakah aku harus mencarikan sesuatu untuk kalian. Kata ilaahan (إِلَٰهًا) artinya: tuhan atau sesembahan.
Penggalan ini bukan sekadar pertanyaan biasa, tetapi bentuk penolakan yang tegas dari Nabi Musa. Seakan-akan beliau mengatakan: “Apakah pantas aku mencarikan untuk kalian tuhan selain Allah?” Ini menunjukkan bahwa permintaan mereka sangat tidak masuk akal, apalagi setelah mereka menyaksikan langsung kekuasaan Allah.
Tugas seorang nabi itu bukan mencarikan berhala, justru untuk meluruskan jalan yang menyimpang dan mengembalikan lagi agar manusia hanya menyembah Allah SWT semata, tidak menyekutukan apapun dengan Diri-Nya.
Dalam hampir semua kisah para nabi dalam Al-Quran, mereka nampak menghadapi masalah yang sama, yaitu menghadapi kaum yang cenderung bertuhan dengan cara yang salah dan keliru, yaitu menciptakan tuhan-tuhan ciptaan mereka sendiri, yang mereka anggap bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT.
Nabi Ibrahim pun sampai dibakar hidup-hidup gara-gara ingin meluruskan praktek penyembahan berhala di tengah kaumnya. Sejarah peradaban manusia memang mencatat bahwa tidak ada masyarakat sesederhana apapun yang tidak bertuhan, bahkan mereka semua punya konsep yang sama, yaitu ada tuhan paling besar yang mereka yakini paling berkuasa.
Namun bersamaan dengan itu, rata-rata mereka berhalusinasi akut dan meracau sambil mengarang bahwa tuhan yang paling besar itu tetap butuh teman, pendamping, anak, istri, keluarga, teman dan juga lingkungan pergaulan sosial. Maka mereka rekayasa adanya syarik alias sekutu.
Keyakinan mereka adalah jika kita ikutan menyembah sekutunya, maka kita juga telah menyembah dan membesarkan tuhan yang utama. Mirip kita menghormati guru kita, jika kita hormati anak-anaknya, maka kita merasa telah menghormati guru kita.
Masalah mereka yang paling mendasar adalah halusinasi mereka tentang konsep ’ketuhanan’ yang bersifat sangat manusia, butuh teman, pendamping dan juga butuh keluarga. Maka rusaklah sistem aqidah macam itu, namun sayangnya memang itulah yang selalunya melanda setiap peradaban manusia, di mana pun dan kapan pun.
Maka semua nabi dan rasul yang diutus, selalunya akan bertemu dengan borok yang itu-itu juga, karena sudah menjadi semacam wabah yang melanda bangsa manusia. Jika kita baca semua kisah para nabi dan rasul dalam Al-Quran, isu besarnya tidak akan jauh-jauh dari kaum yang menyembah berhala.
Huruf wa (وَ) biasanya diartikan menjadi : dan, namun berdasarkan siyaqnya, Penulis cenderung memaknainya jadi : padahal. Kata huwa (هُوَ) artinya: Dia. Maksudnya adalah Allah, yang sedang dibicarakan dalam kalimat ini. Maka jadinya : “Padahal Allah telah melebihkan kalian . . . “
Kata fadhdhala-kum (فَضَّلَكُمْ) artinya: melebihkan kalian. Kata ini berasal dari akar kata (ف ض ل) yang maknanya memberi kelebihan atau keutamaan. Maksudnya Allah telah memberikan berbagai keistimewaan kepada Bani Israil.
Huruf ‘alaa (عَلَى) artinya: atas. Kata al-‘aalamiin (الْعَالَمِينَ) artinya: seluruh alam atau seluruh manusia.
Sebenarnya bukan hanya sekali ini saja Allah menyebut kelebihan kepada Bani Israil dibandingkan kaum-kaum lain. Kita menemukan dalam Al-Quran ada beberapa ayat lain yang senada :
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepada kalian, dan bahwa Aku telah melebihkan kalian atas seluruh alam. (QS Al-Baqarah : 47)
Masih ada ayat lain dengan redaksi yang hampir sama:
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepada kalian, dan bahwa Aku telah melebihkan kalian atas seluruh alam.”(QS Al-Baqarah : 122)
Selain itu, makna kelebihan ini juga ditegaskan dalam bentuk yang lebih rinci dalam ayat lain:
وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Bani Israil Kitab, hikmah, dan kenabian, serta Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas seluruh alam.” (QS Al-Jatsiyah : 16)
Juga dalam bentuk pengingat nikmat yang mengarah ke makna yang sama:
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُم مَّا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِّنَ الْعَالَمِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika Dia menjadikan di antara kalian para nabi, menjadikan kalian raja-raja, dan memberikan kepada kalian apa yang tidak diberikan kepada seorang pun di antara manusia.” (QS Al-Ma’idah : 20)
Bani Israil memang menjadi kaum yang sangat diistimewakan, karena dalam waktu yang panjang, banyak nabi diutus dari kalangan mereka. Ini membuat mereka menjadi pusat risalah pada masa itu. Karena seorang manusia sampai bisa terpilih menjadi nabi utusan Allah SWT, pastinya bukan orang sembarangan. Bangsa asal nabi itu sendiri pastinya bangsa yang pilihan juga.
Tahukah anda berapa nama nabi yang eksplisit disebut namanya dalam al-Quran? Dan berapa yang dari mereka yang termasuk Bani Israil?
Jawabannya bikin kita tersedak. Ternyata jika kita cermat membaca semua ayat Al-Qur’an dengan mengerti maknanya, jumlah nabi yang disebutkan secara eksplisit ada 25 orang, di luar dari yang hanya disebut kisahnya.
Dari jumlah itu, jika kita runut profil dan sosok masing-masing nabi itu, ternyata para nabi yang berasal dari Bani Israil tidak kurang 15 orang nabi. Dan ini bukan mengada-ada, mari kita hitung satu per satu. Kita urutkan mulai dari : [1] Nabi Ishaq, [2] Nabi Ya‘qub, [3] Nabi Yusuf, [4] Nabi Musa, [5] Nabi Harun, [6] Nabi Dawud, [7] Nabi Sulaiman, [8] Nabi Ayyub, [9] Nabi Dzulkifli, [10] Nabi Ilyas, [11] Nabi Ilyasa‘, [12] Nabi Yunus, [13] Nabi Zakariya, [14] Nabi Yahya, dan [15] Nabi Isa alaihimusalam.
Bayangkan, dari 25 nabi yang disebut dalam Al-Qur’an, lebih dari separuhnya berasal dari Bani Israil. Ini bukan hasil mengarang bebas, tapi begitulah isi Al-Quran yang datang kepada Nabi Muhammad SAW. Silahkan tidak setuju dengan Al-Quran, kalau berani.
Lalu bagaimana dengan bangsa Arab, berapa nabi yang orang Arab disebutkan dalam Al-Quran?
Jawabannya nabi dari bangsa Arab itu sangat sedikit, hanya 3 orang saja yaitu Nabi Hud, Nabi Shalih dan Nabi Muhammad SAW. Adapun Nabi Ibrahim dan Ismail, mereka bukan orang Arab, hanya kebetulan mereka mampir ke Arab.
Maka ketika Allah SWT menyebutkan bahwa Bani Israil itu memang dilebihkan di atas bangsa yang lain, kita tidak usah rempong apalagi tersinggung. Tidak perlu juga menambahi dengan komentar bahwa kelebihan itu hanya berlaku pada masanya saja. Sebab kelebihan itu sifatnya bukan disebabkan amal atau prestasi mereka, tetapi sifatnya takdir dan garis nasib yang Allah SWT sudah tetapkan. Semua tertulis dalam Al-Quran, bahwa 15 dari 25 nabi yang disebutkan Al-Quran, memang bagian dari Bani Israil.
Bahwa nanti anak keturunannya ada yang nyungseb, dilaknat, kafir dan blangsak, itu lain cerita. Justru ini menjadi keunikan kisah suatu bangsa, begitu mulia para leluhur mereka, tidak jaminan keturunannya semulia itu juga.
Bukankah iblis dulunya pun mulia?