Kata qala (قَالَ) artinya : dia berkata, yaitu Allah SWT berfirman dalam rangka menjawab permohonan dari Iblis. Kata innaka (إِنَّكَ) artinya : sesungguhnya kamu. Kata minal munzharin (مِنَ الْمُنْظَرِينَ) artinya : termasuk dari mereka yang ditangguhkan.
Jawaban dari Allah SWT atas permintaan Iblis ini sangat unik. Bukankah posisi Iblis sedang berada pada garis off-side. Baru saja dia jadi makhluk paling durhaka sekaligus paling durjana. Gara-gara tidak mau taat, tunduk dan menurut kepada perintah Allah SWT. Diperintah sujud kepada Adam, tapi dia merasa lebih besar, istikbar, sombong, sok, belagu dan mengalami post power syndrome.
Maka Allah SWT hukum dia dengan cara diusir keluar dari surga. Surga bukan tempat bagi makhluk yang sombong. Tapi kenapa ketika Iblis memohon kepada-Nya agar dipanjangkan usianya sampai hari berbangkit, tiba-tiba saja Allah SWT kabulkan begitu saja dengan entengnya? Bukankah seharusnya tidak diterima. Sebab orang yang melakukan kemaksiatan itu seharusnya memang tidak diterima doanya.
Bukankah Nabi SAW sendiri yang menceritakan bagaimana seseorang tidak diterima doanya gara-gara makanan dan minumannya haram?
ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّىٰ يُسْتَجَابُ لَهُ
Kemudian Nabi SAW menyebutkan tentang seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu, ia mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku,” namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia tumbuh dari yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan? (HR. Muslim)
Kenapa ada semacam anomali dalam kasus iblis yang durhaka ternyata doanya dikabulkan? Bukankah ini kontradiksi sekali? Lalu bagaimana kita menjawab dan mendudukkan perkara ini?
Pertama, bahwa Allah SWT sendiri pada dasarnya Tuhan Yang Maha Pemurah. Pantang bagi Diri-Nya ketika ada hamba-Nya berdoa dan meminta untuk tidak mengabulkannya. Nabi SAW bersabda :
إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu terhadap hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya (untuk berdoa), lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong. (HR. Abi Dawud dan at-Tirmidzi)
Al-Quran sendiri juga mendukung hal ini. Bukankah Allah SWT dalam surat Al-Baqarah juga berfirman :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah : 186)
Kedua, benar bahwa Iblis itu durhaka tidak mau taat. Namun sebagaimana kita tahu Iblis pun langsung diusir keluar dari surga dan sudah dipastikan nantinya akan masuk neraka.
Maka ibaratnya, atas dosa-dosanya itu, Iblis sudah langsung mendapatkan hukuman yang instan dan setimpal. Anggaplah cukup dapat hukuman itu. Maka kalau iblis di sisi lain masih punya sisa amal baik, yaitu reputasinya selama ini menjadi makhluk yang paling tinggi derajatnya dalam urusan ibadah kepada Allah SWT, secara logika seharusnya semua itu tidak sia-sia. Bayangkan tabungan pahala Iblis ini masih banyak, sedangkan dosa karena tidak mau taat itu tidak lantas menggugurkan semua pahala.
Ini berbeda dengan kemusyrikan yang menduakan Allah SWT. Allah SWT tidak mau diduakan. Maka orang yang musyrik itu hilang semua pahalanya. Sedangkan orang yang maksiat, dia dapat hukuman yang setimpal, tapi tidak menghilangkan semua amalnya begitu saja.
Makhluk Abadi
Allah SWT menyebut istilah al-munzharin (الْمُنْظَرِينَ). Kata ini berasal dari kata kerja (أَنْظَرَ – يُنْظِرُ – إِنْظَارًا) yang makna dasarnya adalah menunda, menangguhkan, memberi tempo, memberi waktu. Kata munzhar (مُنْظَر) itu bentuk isim maf‘ul, yaitu orang yang diberi penangguhan atau diberi penundaan waktu.
Dalam bahasa kita sering kita sebut : makhluk abadi. Itu benar dalam konteks tidak mati cepat sebagaimana umumnya makhluk hidup biologis manusia, hewan dan tumbuhan. Allah SWT menunda kematiannya, setidaknya hingga hari kiamat. Jika mau disebut abadi atau immortal, memang tidak terlalu keliru.
Namun begitu keliru jika keabadian itu tanpa batas, sebab pada dasarnya semua yang bernyawa itu pasti akan merasakan kematian, sebagaimana firman Allah SWT :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. (QS. Ali Imran : 185)
Siapa Saja Makhluk-makhluk Abadi?
Allah tidak berfirman “innaka al-munzhar” yaitu : “engkau satu-satunya yang ditangguhkan”, tetapi “innaka mina al-munzharin” yaitu : “engkau termasuk golongan yang ditangguhkan”. Pertanyaannya : kalau iblis itu termasuk di kalangan mereka yang ditangguhkan, lalu siapa saja yang ditangguhkan selain iblis?
Jawabannya diantara mereka yang Allah SWT tangguhkan usianya hingga hari kiamat tidak lain adalah para malaikat. Mereka memang ditangguhkan ajalnya sampai waktu yang Allah tentukan, khususnya hingga mendekati kiamat, sesuai tugas masing-masing. Mereka tidak mati sekarang, bukan karena permintaan, tetapi karena ketetapan fungsi.
Malaikat adalah makhluk yang tidak mengalami kematian normal seperti manusia, karena mereka tidak terikat dengan siklus biologis. Umur mereka ditangguhkan oleh Allah sesuai tugas masing-masing, dan mayoritas malaikat tetap hidup sampai peristiwa besar akhir zaman, khususnya hingga tiupan sangkakala pertama.
Dasarnya adalah firman Allah SWT di beberapa ayat ke depan, ketika Iblis menipu Adam dalam kasus buah yang terlarang untuk dimakan. Tersirat ada informasi disitu bahwa malaikat itu makhluk abadi, setidaknya tidak mengalami kematian hingga hari kiamat.
وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ
Dia berkata, “Tuhan kalian tidak melarang kalian berdua dari pohon ini melainkan agar kalian tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi termasuk makhluk yang kekal.” (QS. Al-A‘raf : 20)