Kata qala (قَالَ) artinya : dia berkata, maksudnya adalah Iblis. Dalam hal ini sebenarnya bukan perkataan biasa, melainkan sebuah permintaan yang ditujukan kepada Allah SWT.
Kata anzhir-ni (أَنْظِرْنِي) diterjemahkan oleh tim Kemenag RI 2019 menjadi : “Berilah aku penangguhan waktu”. Adapun Quraish Shihab menerjemahkannya dengan redaksi : “Beri tangguhlah aku sampai”. Beda redaksi lagi dengan Buya HAMKA : “Beri kesempatanlah aku”.
Ada yang unik jika kita perhatikan kejadiannya. Meskipun telah membangkang dan dihukum, tapi Iblis justru masih mengakui kekuasaan Allah. Maka Iblis pun meminta kepada Allah. Perlu dicatat bahwa meski Iblis mengajarkan syirik dengan cara menyesatkan manusia hingga menyembah berhala, tapi justru Iblis sendiri sama sekali tidak melakukannya.
Minta panjang umur itu disampaikan Iblis kepada Allah SWT, bukan kepada berhala. Kenapa? Karena Iblis tahu persis bahwa berhala itu bukan pihak yang punya kekuasaan. Berhala 100% dipahami oleh Iblis hanya seonggok objek yang tidak bisa memberi manfaat atau madharat.
Maka Iblis minta dipanjangkan umur kepada Allah SWT, sebagai Tuhan yang mampu mengabulkan.
Kata ila (إِلَىٰ) artinya : sampai. Kata yaumi (يَوْمِ) artinya : hari, maksudnya zaman atau masa. Kata yub’atsun (يُبْعَثُونَ) artinya secara harfiyah : mereka dibangkitkan. Maksudnya Iblis meminta kepada Allah SWT agar jangan dulu dicabut nyawanya, biarkan tetap hidup terus menerus dan ada kematian menghadang, kecuali jika kiamat terjadi.
Yang menarik untuk dikritisi, kenapa Allah SWT tidak menyebut ila yaumil-qiyamah : sampai kiamat, tetapi malah menyebut yaumi yub’atsun, yaitu hari mereka dibangkitkan. Padahal antara kejadian hari kiamat dengan hari kebangkitan itu dua kejadian yang berbeda.
Hari kiamat itu disepakati bahwa seluruh makhluk yang bernyawa pada mati semua. Ketika sangkakala ditiup pertama kali, semua yang ada di langit dan di bumi mati.
يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَبْقَى مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَىٰ، فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ
Ditiuplah sangkakala, maka matilah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi, kecuali siapa yang Allah kehendaki. Kemudian sangkakala ditiup sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkit berdiri menunggu. (HR. Muslim)
Jawabannya karena kata-kata : ”ditangguhkan sampai hari berbangkit” itu bukan firman Allah SWT, melainkan narasi Iblis ketika minta ditangguhkan. Harapannya tetap hidup ketika kiamat terjadi. Ternyata permintaan itu tidak sepenuhnya dikabulkan. Allah SWT hanya menjawab : ”kamu termasuk yang diberi tangguh”. Tapi tidak menegaskan penangguhannya sampai hari kebangkitan.
Ath-Tabari menegaskan bahwa kalimat ini hanya permintaan Iblis belaka, tidak sepenuhnya Allah kabulkan. Ibn Katsir menjelaskan dengan lebih tegas bahwa penangguhan itu berakhir pada tiupan sangkakala pertama. Setelah itu Iblis mati bersama makhluk lain, lalu dibangkitkan kembali untuk hisab.
Al-Qurtubi menekankan bahwa mustahil ada makhluk hidup saat fase kebangkitan dimulai, sehingga ungkapan itu dipahami sebagai penanda akhir masa dunia, bukan urutan biologis hidup-mati. Ar-Razi mengakui adanya pertanyaan pada lahir ayat, tetapi menolak menjadikannya dasar kronologi akhir zaman.