فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ
Namanya kembar, sekilas mirip sekali, namun begitu jika kita dekati lebih detail, akan nampak perbedanannya :
Pertama, ada penambahan kata minhum (مِنْهُمْ) di Al-A’raf 162 yang tidak ditemukan dalam Al-Baqarah 59. Al-Khatib Al-Iskafi menjelaskan bahwa penyisipan ini berkaitan dengan keadilan redaksi Al-Qur'an. Pada surat Al-A'raf ayat 159, Allah SWT baru saja memuji bahwa ada sekelompok Bani Israil yang tetap lurus pada kebenaran. Oleh karena itu, kata minhum (sebagian dari mereka) ditambahkan untuk mengecualikan kelompok yang baik tersebut dari azab. Sebaliknya, konteks surat Al-Baqarah sedang menyoroti daftar dosa Bani Israil secara umum, sehingga pengecualian tersebut tidak diperlukan di sana.
Kedua, dalam surat Al-Baqarah Allah SWT menggunakan kata fa-anzalna (فَأَنْزَلْنَا) yang berarti kami turunkan, sedangkan pada surat Al-A’raf Allah SWT menggunakan kata fa arsalna (فَأَرْسَلْنَا) yang berarti : Kami kirimkan.
Perbedaan ini dijabarkan oleh Ibnu Asyur sebagai bentuk keserasian irama kata dalam satu surat (munasabah). Pada surat Al-A'raf, kata yang dominan digunakan untuk menggambarkan turunnya azab adalah irsal (mengirimkan), seperti ketika Allah "mengirimkan" topan dan belalang kepada pengikut Firaun di ayat 133. Penggunaan fa arsalna menjaga kesatuan tema tersebut. Sementara di surat Al-Baqarah, kata fa anzalna (menurunkan) sangat pas untuk memberikan kesan azab yang jatuh menimpa secara mendadak dari langit.
Ketiga, dalam Al-Baqarah, Allah SWT menggunakan kata ’alalladzina zhalamu (عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا) yang berarti : atas orang-orang zhalim, sedangkan dalam Al-A’raf Allah SWT hanya menggunakan kata ’alaihim (عَلَيْهِمْ) yang berarti : atas mereka.
Fakhruddin Ar-Razi menyoroti bahwa pengulangan kata "orang-orang yang zhalim" di surat Al-Baqarah berfungsi sebagai teguran keras (tawbikh) dan penegasan bahwa azab itu turun murni karena kezhaliman mereka. Namun pada surat Al-A'raf, kalimat sebelumnya sudah cukup panjang dengan adanya tambahan kata minhum. Jika frasa aslinya diulang lagi, kalimat tersebut akan terasa berat dan kaku diucapkan. Maka, digunakannya kata ganti 'alaihim adalah demi menjaga keringkasan dan kelancaran irama bacaan.
Keempat, pada bagian akhir ayat, dalam Al-Baqarah Allah SWT hanya menggunakan kata yafsuqun (يَفْسُقُونَ) yang berarti : berlaku fasik. Sedangkan dalam surat Al-A’raf Allah SWT menggunakan kata yazhlimun (يَظْلِمُونَ) yang berarti : berlaku zhalim.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib[1] juga menuliskan perbandingan antara kedua surat ini yang kemudian Penulis buatkan saja ringkasannya dalam bentuk tabel berikut :
No
Al-Baqarah
Al-A'raf
Titik Perbedaan
1
﴿وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ﴾
﴿وَإِذْ قِيلَ لَهُمُ اسْكُنُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ﴾
Dalam Al-Baqarah digunakan kata ادخلوا (masuklah), sedangkan di Al-A’raf digunakan kata اسكنوا (tinggallah/diamilah).
2
﴿فَكُلُوا﴾
﴿وَكُلُوا﴾
Al-Baqarah memakai huruf fa (فَ), sedangkan Al-A’raf memakai huruf wawu (وَ).
3
﴿رَغَدًا﴾
Tidak disebutkan
Kata رَغَدًا (dengan nikmat/kelapangan) ada di Al-Baqarah, tetapi tidak disebut dalam Al-A’raf.
4
﴿وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ﴾
Dalam Al-A’raf urutannya dibalik
Di Al-Baqarah perintah masuk pintu lebih dahulu lalu berkata حِطَّةٌ, sedangkan di Al-A’raf susunannya didahulukan ucapan lalu masuk pintu sambil sujud.
5
﴿نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ﴾
﴿نَغْفِرْ لَكُمْ خَطِيئَاتِكُمْ﴾
Al-Baqarah memakai bentuk خَطَايَاكُمْ, sedangkan Al-A’raf memakai خَطِيئَاتِكُمْ.
6
﴿وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ﴾
﴿سَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ﴾
Huruf wawu pada awal kalimat ada di Al-Baqarah, tetapi dihapus dalam Al-A’raf.
7
﴿فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا﴾
﴿فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ﴾
Al-Baqarah memakai kata أَنْزَلْنَا (Kami turunkan), sedangkan Al-A’raf memakai أَرْسَلْنَا (Kami kirimkan).
Kata inzal (الإنزال) menurunkan tidak memberi kesan banyaknya jumlah, sedangkan kata irsal (الإرسال) mengirimkan memberi kesan banyak dan terus-menerus. Allah mulai dengan azab yang sedikit terlebih dahulu, kemudian menjadikannya semakin banyak.
8
﴿بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ﴾
﴿بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ﴾
Al-Baqarah menyebut sebabnya karena mereka berbuat fasik, sedangkan Al-A’raf menyebut karena mereka berbuat zalim.
Kata fa-baddala (فَبَدَّلَ) artinya : maka mengganti atau menukar. Makna alladzina zhalamu (الَّذِينَ ظَلَمُوا) adalah orang-orang yang berbuat zalim. Makna minhum (مِنْهُمْ) dari mereka, menandakan bahwa yang berbuat zalim itu sebagian saja dari mereka.
Bani Israil yang Allah SWT selamatkan dari kejaran bala tentara Firaun itu jumlahnya mencapai 600 ribu orang, namun setelah melewati Laut Merah ternyata tidak segera tiba di negeri tujuan. Mereka Allah SWT bikin tersesat hingga 40 tahun lamanya. Ada begitu banyak kesalahan dan pelanggaran yang mereka lakukan selama disesatkan itu, namun pada akhirnya mereka pun diperkenankan masuk ke gerbang kota yang dituju.
Sayangnya meski sudah diberikan begitu banyak permaafan dan ampunan, sikap-sikap membandel masih saja dilakukan oleh sebagian mereka. Dan ayat ini menceritakan bahwa sebagian mereka masih ada saja yang melakukan tindakan kezhaliman.
Tindakan sebagian dari mereka merupakan tindakan kezhaliman, oleh karena itu mereka dalam ayat ini disebut sebagai : orang-orang yang zhalim (الذين ظلموا). Sebagian ulama ada yang mengaitkan tindakan zhalim yang mereka lakukan sebagai kebodohan yang dilakukan oleh merka yang kurang akalnya. Hal itu disebut-sebut dalam surat Al-Baqarah ayat 142 :
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا
Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya? (QS. Al-Baqarah : 142)
Lafazh baddala (بدّل) maknanya menukar atau mengganti sesuatu yang lama dengan yang baru, sebagaimana istilah menukar atau mengganti yang Allah SWT lakukan pada kulit orang yang dibakar di neraka. Di dalam Al-Quran dikisahkan nanti kulit manusia yang gosong dan rusak akan ditukar atau diganti dengan kulit yang baru :
كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ
Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. (QS. An-Nisa : 56)
Lafazh qaulan (قولا) merupakan mashdar dari kata kerja : (قال - يقول) yang maknanya adalah ucapan atau perkataan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ucapan atau perkataan adalah hiththah (حطّة) yang merupakan dzikir kepada Allah, khususnya permohonan ampunan.
Ucapan inilah yang seharusnya mereka ucapkan ketika masuk ke pintu kota sebagaimana perintah Allah SWT pada ayat sebelumnya : (وَقُولُوا حِطَّةٌ), maknanya seperti kata Ibnu Abbas adalah : “Ampuni kami”. Ibnu Katsir mengatakan bahwa pada intinya Allah SWT perintahkan kepada mereka ketika masuk ke negeri itu untuk banyak berdzikir, bersyukur sambil meminta ampun.
Sayangnya oleh sebagian mereka yaitu orang-orang yang zhalim, lafazh hiththah diganti dengan lafazh yang lain yang bukan diajarkan kepada mereka.
Ada beberapa riwayat yang berbeda tentang lafazh apakah yang mereka baca sebagai ganti dari lafazh aslinya. Sebagian ulama mengatakan bahwa lafazh pengganti itu adalah : hinthah (حنطة) yang maknanya adalah tepung gandum. Rupanya mereka sengaja berniat melakukan istihza’ alias ejekan dengan memplesetkan dua lafazh yang mirip, dari hitthah (حظّة) menjadi hinthah (جنْزَة).
Shahabat mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahuanhu menceritakan bahwa lafazh atau ucapan yang mereka baca sebagai gantinya adalah lafazh dalam bahasa Ibrani sebagai berikut :
هُطِّي سمعاتا أزبة مزبا
Maknanya dalam bahasa Arab kurang lebih adalah :
حَبَّةُ حِنْطَةٍ حَمْرَاءُ مَثْقُوبَةُ فِيهَا شَعْرَةٌ سَوْدَاءُ
Bulir gandum warna merah yang berlubang di dalamnya ada tepung warna hitam.
Lepas dari apa lafazh yang mereka ganti, namun pada intinya mereka melecehkan dan menghina doa dan peribadatan yang seharusnya mereka lakukan dengan khusyu dan merendahkan diri kepada Allah SWT.
Kata fa arsalna (فَأَرْسَلْنَا) artinya : maka Kami kirimkan. Makna ’alaihim (عَلَيْهِمْ) adalah : atas mereka, atau kepada mereka. Kata rijzan (رِجْزًا) artinya : bencana atau pun siksa.
Lafazh rijzan (رجزا) ditafsirkan bermacam-macam oleh para mufassir sebagi berikut :
§ Adzab : ini merupakan tafsir yang paling populer sebagaimana pendapat jumhur ulama tafsir, antara lain Adh-Dhahhak dari jalur Ibnu Abbas radhiyallahuanhu. Malah Ibnu Abbas mengatakan bahwa dimanapun ayat Allah menyebut kata rijzan, pasti lah maknanya sama yaitu adzab. Pendapat ini juga merupakan pendapat para mufassir lainnya seperti Mujahid, Qatadah, As-Suddi, dan lainnya.
§ Murka : ini merupakan pendapat dari Abu Al-‘Aliyah.
§ Wabah : ini merupakan pendapat Said bin Jubari dan juga Asy-Sya’bi. Asy-Sya’bi mengatakan bahwa ada dua kemungkinan, yaitu bisa bermakna wabah tapi bisa juga bermakna musim dingin yang menusuk.
Makna minassama’ (مِنَ السَّمَاءِ) adalah : dari langit.