Kemenag RI 2019:(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad), maka janganlah engkau sesak dada karenanya supaya dengan (kitab itu) engkau memberi peringatan, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Prof. Quraish Shihab:(Ini adalah) Kitab (al-Qur’an) yang diturunkan (oleh Allah swt.) kepadamu (Nabi Muhammad saw.), maka janganlah dalam dadamu ada kesempitan karenanya (yakni karena penolakan sementara orang terhadap al-Qur’an), supaya engkau memberi peringatan (kepada orang kafir) dengannya dan menjadi pengajaran bagi orang-orang mukmin. Prof. HAMKA:Suatu kitab yang telah diturunkan kepada engkau maka janganlah ada dalam dada engkau rasa sesak daripadanya supaya engkau ancamkan dengan dia dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
Secara langsung tanpa banyak basi-basi ayat ini bicara dengan konsekusensi logis dari tugas sebagai nabi yang diberi beban Al-Quranm yaitu harus berhadapan dengan kaumnya sendiri yang tidak mau percaya, durhaka, membangkang dan bahkan bereaksi negatif dengan jalan bikin konfrontasi dan permusuhan secara terbuka.
Hal semacam ini memang resiko yang harus ditanggung. Maka Allah SWT sejak sudah memberi pesan agar janganlah merasa sesak dada. Memang sudah tugas seorang penerima kitab suci samawi untuk memberi peringatan kepada kaumnya.
Namun begitu ayat ini juga mengisyaratkan bahwa ada juga dari kaumnya yang mau beriman dan menjadikan Al-Quiran sebagai pelajaran.
كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ
Kata kitabun (كِتَابٌ) artinya kitab, namun para ulama kebanyakan mengatakan sebelum kata kita ini secara logika bahasa, ada kata tunjuk alias ismul-isyarah (اسم الإشارة) yang ditaqdirkan atau disenyapkan, tidak disebutkan secara tertulis atau terbaca, namun akal kita memahaminya bahwa ada kata tunjuk sebelumnya.
Taqdirnya adalah hadza (هذا) : yaitu hadza kitabun (هَذَا كِتَابٌ) yang artinya : Ini adalah kitab, atau dzalika (ذلك) : yaitu dzalika kitabun (ذَلِكَ كِتَابٌ) yang artinya : Itu adalah kitab.
Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) dalam Mafatuh al-Ghaib menjelaskan bahwa penghilangan kata tunjuk ini adalah uslub balaghah untuk menunjukkan keagungan Al-Qur’an, karena sesuatu yang sangat jelas dan agung tidak lagi memerlukan penunjuk secara eksplisit.
Kata unzila (أُنْزِلَ) artinya : telah diturunkan, maksudnya bahwa Allah SWT telah menurunkan Al-Quran. Kata ilaika (إِلَيْكَ) artinya : kepada kamu, yaitu maksudnya Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Penggalan ini seringkali kita baca dan kita dengar, meskipun seringkali kita lupa, mungkin saking semangat kecintaan kita kepada Al-Quran, seolah-olah kita mengatakan bahwa AlQuran itu turun kepada kita. Padahal itu salah dan keliru. Allah SWT sama sekali tidak pernah menurunkan Al-Quran kepada kita, meski pun kita muslim dan mengaku sebagai pengikut Nabi SAW.
Jangankan kepada kita, bahkan kepada para shahabat yang hidup bersama Beliau pun, Al-Quran tidak diturunkan kepada mereka.
Al-Qur’an hanya diturunkan kepada satu orang, yaitu Nabi Muhammad SAW. Itu pun baru terjadi setelah Beliau SAW menginjak usia 40 tahun. Dan begitu Beliau SAW wafat diusia 63 tahun, maka Al-Quran pun berhenti turun. Dan terputuslah interaksi wahyu langit dengan bumi.
Di masa turunnya Al-Quran, memang banyak para shahabat yang jadi saksi, bagaimana Nabi SAW menerima wahyu. Makanya banyak cerita yang menggambarkan proses turunnya Al-Quran. Namun begitu, tidak ada satupun ayat yang sifatnya dialog antara Allah SWT dengan para shahabat. Yang ada Al-Quran memerintahkan Nabi SAW untuk menyampaikan ini dan itu. Disini jelas bahwa antara kita atau para shahabat dengan Al-Quran, selalu dihijab dengan Nabi SAW.
Maka harus ditegaskan bahwa kedudukan kita bukan penerima Al-Quran, Al-Quran tidak turun kepada kita tapi turun kepada Nabi Muhammad SAW. Kesalahan memahami hal ini tampak sepele, tetapi sebenarnya penting, karena berkaitan dengan adab kita terhadap wahyu dan pemahaman kita tentang posisi kerasulan Nabi SAW.
Lantas apa gunanya pembahasan ini?
Pertama, jika kita sadar bahwa tidak ada satupun ayat yang turun kecuali hanya kepada Nabi SAW, maka kita jadi tahu bahwa apapun jawaban dan isi pesannya, memang hanya diperuntukkan untuk menjawab semua masalah yang dihadapi oleh Beliau SAW.
Semua ayat yang turun itu tidak pernah lepas dari konteks di masa itu, entah sebagai jawaban atas pertanyaan, atau sebagai perintah untuk mengambil tindakan, atau sebagai larangan agar jangan melakukan sesuatu, bahkan juga termasuk untuk kabar berita. Semuanya untuk Nabi SAW, yang mana bahasa dan cara gaya bahasa serta gesturnya pun sangat Muhammad oriented sekali.
Kedua, maka satu-satunya cara untuk bisa memahami Al-quran adalah bertanya kepada Nabi SAW. Sebab hanya kepada Nabi Muhammad SAW seorang lah suatu ayat diturunkan. Allah SWT tidak pernah menurunkan ayat kepada Abu Bakar, Umar, Ustman atau pun Ali, juga tidak kepada siapapun.
Maka para shahabat sekalipun mereka tahu proses turunnya wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril, tetap saja mereka meurujuk terlebih dahulu kepada Nabi SAW, untuk bertanya tentang segala sesuatunya dari ayat yang turun. Tidak ada seorang pun dari mereka yang sok tahu main tafsir-tafsirkan sendiri firman yang turun dari langit, selama ada penjelasan dari Nabi SAW.
فَلَا يَكُنْ فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِنْهُ
Kata fa-laa yakun (فَلَا يَكُنْ) artinya : maka jangan ada. Kata fi shadrikan () artinya : di dadamu, maksudnya dada Nabi Muhammad SAW. Kata harajun (حَرَجٌ) atinya : sesak atau kesempitan. Kata minhu (مِنْهُ) : artinya : darinya, yaitu dari Al-Quran.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata haraj (الحرج) di sini maknanya bukan sesak dalam arti ragu dan merasa sempit dari kebenaran Al-Qur’an. Tapi maksudnya dampak psikologis yang muncul akibat kepada Nabi SAW dibebankan untuk membawa dan menyampaikan Al-Qur’an. Lebih rinci lagi hal itu mencakup beberapa hal yang saling berkaitan:
Pertama, jangan sampai dada Nabi SAW menjadi sempit karena beratnya amanah Al-Qur’an. Wahyu ini berisi perintah, larangan, ancaman, dan teguran, termasuk kepada orang-orang terdekat. Semua itu berat secara manusiawi.
Kedua, jangan sampai Nabi SAW merasa sempit karena penolakan, ejekan, dan permusuhan manusia akibat Al-Qur’an. Bukan Al-Qur’annya yang menyesakkan, tetapi reaksi manusia terhadapnya.
Ketiga, jangan ada rasa sungkan, takut, atau menahan diri dalam menyampaikan Al-Qur’an secara utuh. Jangan dikurangi, jangan dipilih-pilih, dan jangan disembunyikan karena khawatir reaksi manusia.
Sebenarnya bukan turunnya Al-Qur’an yang membuat dada Nabi SAW sesak, tetapi reaksi orang-orang kafir terhadap Al-Qur’an itulah yang secara manusiawi menimbulkan kesempitan di dada beliau. Al-Qur’an sendiri menegaskan hal ini dengan sangat jelas. Allah SWT berfirman:
Sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka katakan.(QS. Al-Hijr : 97)
Jangankan Nabi Muhammad SAW yang hatinya sangat lembut, bahkan sekalas Nabi Musa yang karakternya lebih keras dan tegas, jika mendapat perlakuan kamumnya pun merasa sesak dadanya. Allah SWT berfirman :
Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. (QS. Asy-Syuara : 13)
لِتُنْذِرَ بِهِ
Kata li-tundzira bihi (لِتُنْذِرَ بِهِ) artinya : agar kamu jadikan Al-Quran sebagai peringatan. Disini kemudian terjawab apa yang dari tadi kita pertanyakan, yaitu bagaimana mungkin Nabi SAW menerima wahyu samawi, yaitu Al-Quran, lantas kemudian dadanya menjadi sesak dan sempit?
Bukankah Al-Quran itu sendiri adalah obat dari segala sesuatu? Bukankah dengan membaca Al-Quran jiwa kita jadi tenang?
Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Isra’ : 82)
Ternyata bukan turunnya ayat Al-Quran yang bikin sesak dan sempit di dada, melainkan tugas memperingatkan manusia dengan Al-Qur’an, itulah yang menyesakkan dada dan menyempitkannya.
Maka ayat “jangan ada kesempitan di dadamu” bukan menafikan fungsi Al-Qur’an sebagai obat, tetapi menegaskan misi Al-Qur’an sebagai peringatan, yang konsekuensinya memang berat secara manusiawi.
Kata tundzira (تُنْذِرَ) sebagai harfiyah berarti : memberi peringatan, kesannya sekedar memberi peringatan begitu saja. Namun sebenarnya tidak mudah memberi peringatan. Sebab makna yang terkandung di balik istilah indzar itu adalah peringatan keras tentang bahaya yang akan datang, yang biasanya diikuti ancaman, konsekuensi, dan penolakan.
Bukan apa-apa, kondisi bangsa Arab ini memang unik, mereka selama ribuan tahun tidak pernah merasakan punya nabi dan kitab suci. Nyaris tidak ada kenabian di negeri mereka. Kalau pun mereka mengenal sosok Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sifatnya hanya samar-samar saja. Banyak intisari yang paling esensial dari kenabian Ibrahim dan Ismail yang sudah lama hilang.
Maka bangsa Arab teramat sulit untuk bisa menerima konsep agama samawi. Reaksi mereka bukan sekedar tidak mau beriman, tetapi justru reaksi yang sangat negatif, berbahaya dan bahkan sangat mematikan. Mereka siap berperang angkat senjata dan memutus persaudaraan kepada siapa saja yang menjadi nabi utusan Allah.
وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
Kata wa dzikra (وَذِكْرَىٰ) artinya : dan menjadikan Al-Quran sebagai dzikra. Kata lil-mukminin (لِلْمُؤْمِنِينَ) artinya : bagi orang-orang yang beriman.
Ini adalah anti-tesis dari penggalan sebelumnya, dimana kepada orang kafir Al-Quran itu jadi indzar, sedangkan bagi mereka yang beriman, Al-Quran itu menjadi dzikra. Secara bahasa kata dzikra artinya ingatan, atau kenangan. Maka bagi orang beriman, Al-Qur’an bukan ancaman atau peringatan, melainkan memori indah yang mengingatkan mereka pada kebenaran yang sudah mereka yakini sebelumnya.
Setan itu kalau mendengar Al-Quran akan meronta-ronta ibarat cacing kepanasan, sedang orang beriman, ketika dibacakan Al-Quran justru akan merasa enjoy dan bahagia.
Tentang setan dan orang-orang kafir, Allah berfirman:
Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka. (QS. Al-Anfal : 2)