Kata ittabi’u (اتَّبِعُوا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il amri, yang artinya : ikutilah. Ini perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, setelah di ayat sebelumnya diminta untuk tidak usah merasa terbebani dengan tugas berat menyampaikan Al-Quran kepada kaum musyrikin.
Kata maa unzila ilaikum (مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ) artinya : apa yang telah diturunkan kepada kamu. Maksudnya adalah Al-Quran Al-Karim, yaitu ayat-ayat yang telah Allah SWT turunkan, berisi pesan dan intisari aqidah yang benar dan lurus, serta mengoreksi berbagai macam penyimpangan bangsa Arab selama ini.
Kata min rabbikum (مِنْ رَبِّكُمْ) artinya : dari Tuhamu, yaitu Allah SWT. Seolah bagian ini ikut memberikan penguat bahwa apa yang harus disampaikan itu bukan hal yang main-main dan bukan perkara yang suka atau tidak suka, tetapi sesuatu yang jadi pesan penting dari Allah SWT.
Kata wa-laa tattabi’u (وَلَا تَتَّبِعُوا) artinya : dan janganlah kamu mengikuti. Ini adalah larangan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, agar jangan mau dibujuk rayu dan atau pun dipaksa untuk ikut alur logika dan cara pandang kaum musyrikin Arab.
Kata min dunihi (مِنْ دُونِهِ) artinya : dari selain Dia. Kata auliya’ (أَوْلِيَاءَ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu wali (ولي). Sedangkan makna kata wali sendiri sudah sering dijelaskan, sangat banyak maknanya, tergantung konteksnya. Lafazh ini tersebar di banyak ayat Al-Quran dengan berbagai macam makna yang boleh jadi masing-masing saling berbeda.
1. Raja Atau Pemimpin
Dalam beberapa ayat bisa bermakna pemimpin dalam arti raja atau pemimpin negara, sebagaimana disebutkan dalam ayat ini :
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). (QS. Al-Araf : 3)
2. Teman
Terkadang lafaz wali di dalam Al-Quran bisa juga bermakna teman, sebagaimana yang bisa kita baca di ayat berikut :
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kawan-kawannya (QS. Ali Imran : 175)
Terjemahan Kemenag ini tegas menyebutkan bahwa ‘auliya’ di ayat ini maknanya bukan pemimpin, tetapi teman-teman. Logikanya, setan itu menakuti manusia dan bukan menakuti sesama setan, apalagi menakuti pemimpin setan. Yang dibikin takut itu pastinya manusia, yang posisinya sebagai teman setan dan bukan sebagai pemimpin dari setan.
3. Orang Yang Dekat Hubungan
Kadang ‘wali’ itu bermakna sebagai pihak yang punya kedekatan khusus, seperti sebutan waliyullah atau auliya’ullah pada ayat berikut :
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus : 62)
Sangat tidak mungkin kalau lafazh ‘wali’ di ayat ini kita paksa terjemahkan menjadi : pemimpin Allah. Jelas terlalu kasar dan tidak logis, masak manusia memimpin Allah? Tentu yang dimaksud dengan istilah ‘wali’ disini pastinya bukan pemimpin, tetapi orang-orang yang kedudukannya sangat dekat kepada Allah, yaitu para wali.
4. Bertindak Sebagai Orang Tua
Dan terkadang makna wali dalam Al-Quran juga bisa bermakna sebagai wakil atau yang bertindak sebagai orang tua dari seorang anak kecil yang belum mencapai usia dewasa. Perhatikan ayat berikut ini yang juga merupakan ayat yang paling panjang dalam Al-Quran :
فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ
Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. (QS. Al-Baqarah : 282)
Lafazh wali dalam ayat ini tidak mungkin diterjemahkan sebagai wali dalam arti raja atau pemimpin, apalagi sebagai pemimpin atau kepala negara. Tapi wali disini sebagaimana kita mengenal istilah ‘wali’ murid, yaitu seperti layaknya orang tua sendiri.
Untuk bisa membedakan kapan lafazh wali itu maknanya sebagai pemimpin, teman, yang dekat hubungannya ataupun layaknya orang tua, setidaknya perlu dibaca ulang tafsir dan asbabun-nuzul dari masing-masing ayatnya. Sebab meski satu kata yang sama, begitu posisinya ada di ayat yang berbeda, seringkali maknanya ikut jadi berbeda.
Dengan berbagai macam variasi makna di atas, kalau kita kaitkan dengan ayat ini, maka yang paling sesuai terkait dengan makna wali di ayat ini adalah wali dalam arti sebagai penguasa. Karena kurang pas kalau dikatan bahwa mereka itu teman Allah, atau orang terdekat dengan Allah, apalagi Allah SWT berperan seperti orang tua mereka.
Apalagi kalau dikaitkan dengan lafazh sesudahnya yaitu Allah SWT sebagai penolong, maka akan jauh lebih tepat kalau makna wali sebagai pemimpin.
Kata qalilan (قَلِيلًا) artinya: sedikit. Huruf ma (مَا) artinya : apa, di sini berfungsi sebagai penguat. Sedangkan kata tadzakkarun (تَذَكَّرُونَ) artinya: kalian mengambil pelajaran atau mengingat. Yang diamksud dengan kalian pada penggalan ini tentu saja bukan Nabi Muhammad SAW, bukan pula para sahabat, tetapi ditujukan kepada orang-orang musyrikin yang menjadi mukhatab alias sasaran bicara ayat.
Disinilah terjadi jungkir balik dialog dalam Al-Quran. Padahal sejak awal, ayat-ayat ini seakan berbicara kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT menyebutkan bahwa Belau SAW itu menerima wahyu, menenangkan dada beliau, dan menegaskan tugas dakwah yang berat. Namun di ujung ayat, tiba-tiba arah pembicaraan dibalik. Kata ganti berubah, sasaran bicara bergeser, dan Allah SWT tidak lagi menujukan kalam-Nya kepada Rasul-Nya, melainkan langsung menghadap kepada mereka yang menolak wahyu.
Kalimat “sedikit sekali kalian mau mengambil pelajaran” bukan ditujukan kepada Nabi SAW, juga bukan kepada para sahabat, tetapi kepada orang-orang kafir yang sejak tadi diperingatkan. Mereka yang diminta mengikuti wahyu, mereka yang dilarang menjadikan wali selain Allah, dan merekalah yang ditegur karena enggan mengingat.
Peralihan ini sangat halus, namun tegas. Seakan-akan Allah SWT hendak mengatakan: tugas Rasul sudah jelas dan benar, wahyu sudah sempurna dan terang, maka yang tersisa hanyalah sikap manusia itu sendiri. Kalau setelah semua penjelasan itu mereka masih enggan mengambil pelajaran, maka masalahnya bukan lagi pada wahyu, tetapi pada hati mereka.
Maka penggalan ayat ini dapat dipahami sebagai penegasan dari Allah SWT bahwa amat sangat sedikit sekali manusia yang mau benar-benar mengambil pelajaran.
Bukan karena ayat-ayat Al-Qur’an itu tidak jelas. Bukan pula karena hujjahnya kurang kuat. Tetapi karena manusia seringkali lebih memilih mengikuti wali-wali selain Allah, mengikuti arus kebiasaan, tekanan lingkungan, logika mayoritas, dan kepentingan sesaat.