Kemenag RI 2019:Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, (di surga) mengalir di bawah mereka sungai-sungai. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sungguh, rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran.” Diserukan kepada mereka, “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang selalu kamu kerjakan.” Prof. Quraish Shihab:Dan Kami telah mencabut apa yang berada dalam dada-dada mereka dari semua kedengkian; (di surga sana, di mana mereka berada di tempat yang tinggi yang) di bawah mereka mengalir sungai-sungai, dan mereka berkata: “Segala puji hanya bagi Allah yang telah menunjuki kami (memberi kami bimbingan dan kemampuan untuk beramal sehingga mengantar kami) ke sini (surga ini), sedangkan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk jika seandainya Allah tidak memberi kami petunjuk. Demi (Allah)! Sungguh, telah datang para rasul Tuhan Pemelihara kami dengan haq (benar dan membawa kebenaran).” Dan diserukan kepada mereka: “Itulah surga yang diwariskan kepada kamu, disebabkan apa (amal-amal saleh) yang dahulu kamu kerjakan.” Prof. HAMKA:Dan Kami cabut apa yang ada di dalam dada mereka dari rasa dengki. Mengalir dari bawahnya sungai-sungai, dan mereka berkata, “Sekalian puji untuk Allah yang telah menunjuki kita untuk ini dan tidaklah kita mendapat petunjuk, kalau tidakkah Allah yang menunjuki kita. Sesungguhnya, telah datang utusan-utusan Tuhan kita dengan kebenaran. Dan, mereka diseru, ‘Bahwa itulah dia surga yang telah diwariskan dia untuk kamu, tersebab dari apa yang telah kamu amalkan.’”
Pertama, Allah SWT akan mencabut rasa permusuhan, kebencian dan dendam dari dalam dada masing-masing mereka. Kalau dahulu sewaktu masih di dunia mungkin pernah bermusuhan, namun begitu jadi penghuni surga, semua perasaan yang rendah dan hina itu akan Allah SWT cabut dan hilangkan dari dada mereka. Intinya, di surga tidak ada konflik, keributan apalagi perang. Bahasa orang surga adalah peace alias perdamaian.
Kedua, di ayat ini Allah SWT menggambarkan suasana lingkungan surga, yaitu ada sungai-sungai yang mengalir dari bawah mereka. Ini lingkungan yang cocok untuk menetap seterusnya. Alam yang ramah dan indah. Sungai itu sumber kehidupan, semua kota besar dunia yang makmur dan berlimpah rejeki, selalu dialiri sungai-sungai.
Ketiga, sekali lagi penggambaran suasasana kebatinan para penghuni surga yang tidak pernah lelah bersyukur atas hidayah yang Allah SWT. Ketika mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke surga ini” Itu semua adalah rasa kemujuran atas nasib mereka. Tidak ada orang yang jadi penghuni surga kemudian merasa menyesal.
Keempat, surga adalah ’rumah jatah warisan’ dari Allah SWT. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari dapat rumah besar tanpa harus bersusah payah, melebihi dari dapat rumah warisan.
Namun warisan ini bukan dari orang tua mereka, tetapi langsung dari Allah SWT. Penyerahan itu lewat para rasul utusan Allah SWT telah datang membawa kebenaran. Maka diserukan kepada mereka, “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu karena apa yang selalu kamu kerjakan.”
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ
Kata wa naza’na (وَنَزَعْنَا) artinya : dan Kami cabut. Kata maa fii shudurihim (مَا فِي صُدُورِهِمْ) artinya : apa yang ada dalam dada-dada mereka. Kata min ghillin (مِنْ غِلٍّ) artinya : dari kedengkian.
Ibnu Jauzi dalam tafsir Zadul Masir fi Ilmi At-Tafsir[1] menyebutkan bahwa penggalan ayat ini bisa dipahami melalui beberapa kemungkinan makna yang saling melengkapi, bukan saling menafikan.
1. Ahlu Badar
Penafsiran pertama mengaitkan ayat ini secara khusus dengan para sahabat yang ikut dalam Perang Badar. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Ahlul Badar.
Dalam riwayat lain, Ali juga menyatakan harapannya agar dirinya bersama Utsman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam termasuk orang-orang yang dimaksud dalam ayat itu.
Tafsiran ini menegaskan kemuliaan generasi awal Islam yang disucikan Allah dari sisa-sisa kedengkian duniawi.
2. Akhlaq Para Shahabat
Penafsiran kedua melihat ayat ini sebagai gambaran tentang orang-orang yang sebelumnya hidup dalam suasana penuh dendam dan permusuhan pada masa jahiliah, lalu Allah mencabut semua itu ketika mereka masuk Islam.
Diriwayatkan dari Abu Ja‘far bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab. Kedengkian yang dimaksud bukanlah perkara baru, melainkan sisa-sisa permusuhan jahiliyah yang dahulu terjadi antara Bani Hasyim, Bani Taim, dan Bani ‘Adi.
Ketika mereka memeluk Islam, hubungan itu berubah menjadi kasih sayang. Bahkan diceritakan dengan sangat manusiawi bahwa ketika Abu Bakar sakit pada bagian pinggangnya, Ali dengan penuh perhatian menghangatkan tangannya lalu mengompres pinggang Abu Bakar. Dalam suasana persaudaraan yang tulus inilah ayat tersebut dipahami turun, sebagai isyarat bahwa Allah telah mencabut seluruh dendam lama dari hati mereka.
3. Sepuluh Shahabat Utama
Penafsiran ketiga memaknai ayat itu secara lebih spesifik lagi, yakni berkenaan dengan sepuluh sahabat utama yang dikenal sebagai para sahabat yang dijamin surga.
Menurut Abu Shalih, merekalah yang dimaksud dalam ayat tersebut, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Talhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid, dan Abdullah bin Mas’ud.
Dalam pandangan ini, ayat tersebut menjadi sanjungan khusus atas kebersihan hati mereka yang telah Allah jaga sejak di dunia.
4. Para Penghuni Surga
Penafsiran keempat, ini yang paling luas cakupannya, memahami ayat tersebut sebagai gambaran umum tentang keadaan seluruh penghuni surga ketika mereka memasukinya.
Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri bahwa Nabi SAW menjelaskan, orang-orang beriman yang selamat dari neraka akan ditahan sejenak di sebuah jembatan antara surga dan neraka. Di sanalah mereka dibersihkan dan disucikan dari segala ganjalan hati. Setelah proses penyucian itu selesai, barulah mereka diizinkan masuk surga. Bahkan Nabi menegaskan bahwa seseorang kelak akan lebih mengenali rumahnya di surga daripada rumahnya sendiri di dunia.
Penjelasan ini diperkuat oleh keterangan Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ketika para penghuni surga pertama kali memasukinya, mereka akan diperhadapkan pada dua mata air. Dari mata air pertama mereka minum, lalu Allah menghilangkan seluruh kedengkian dan sisa-sisa beban hati yang pernah mereka miliki di dunia. Setelah itu mereka mandi dari mata air kedua, sehingga wajah-wajah mereka menjadi bersih, bercahaya, dan dipenuhi kesegaran kenikmatan.
Dengan rangkaian penafsiran ini, Ibnu Jauzi menunjukkan bahwa ayat tentang dicabutnya kedengkian tidak hanya berbicara tentang satu peristiwa atau satu kelompok saja, tetapi mencakup pembersihan hati para sahabat di dunia dan kesempurnaan penyucian seluruh orang beriman ketika mereka memasuki surga.
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ
Kata tajri (تَجْرِي) secara bahasa artinya : berlari, namun karena terkait tentang sungai yang ada di dalam surga, terjemahannya disesuaikan menjadi : mengalir. Kata ini biasa digunakan untuk sesuatu yang bergerak dengan cepat dan terus-menerus, seperti seseorang yang berlari, kuda yang berlari, atau air yang bergerak tanpa henti.
Pilihan kata ini sangat indah, karena memberikan kesan bahwa air di surga bukan air yang diam atau tergenang, melainkan air yang hidup, bergerak, segar, dan terus memperbarui dirinya. Air yang mengalir selalu identik dengan kejernihan, kebersihan, dan kehidupan, berbeda dengan air yang diam yang bisa menjadi keruh atau rusak.
Kata min tahtihim (مِنْ تَحْتِهِمُ) artinya : dari bawah mereka. Ungkapan ini memberikan gambaran posisi para penghuni surga yang berada di tempat yang tinggi, mulia, dan nyaman, sementara sungai-sungai itu mengalir di bawah mereka. Ini memberi kesan bahwa mereka tidak perlu mencari air atau mendatanginya, tetapi justru air itu tersedia di bawah tempat tinggal mereka, mengalir mengikuti tata ruang surga yang telah Allah siapkan.
Kata al-anhar (الْأَنْهَارُ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu sungai. Maka al-anhar itu artinya : sungai-sungai. Para ulama tafsir sering menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa sempurnanya kenikmatan surga, karena sungai-sungai itu menjadi bagian dari lingkungan tempat tinggal mereka, seperti taman-taman indah yang dialiri sungai jernih di bawah istana dan pepohonan.
Dalam ayat-ayat lain, Al-Qur’an menjelaskan bahwa sungai-sungai itu tidak hanya berisi air biasa, tetapi juga ada sungai dari air yang tidak berubah rasanya, sungai dari susu yang tidak basi, sungai dari khamar yang lezat, dan sungai dari madu yang murni. Ini menunjukkan bahwa kata al-anhar bukan sekadar menunjuk pada jumlah, tetapi juga pada keberagaman jenis kenikmatan yang mengalir di surga.
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ
Ungkapan wa qalu (وَقَالُوا) artinya : dan mereka berkata. Lafaz alhamdulillah (الْحَمْدُ لِلَّهِ) artinya : segala puji bagi Allah SWT.
Kata ini menunjukkan bahwa ucapan tersebut diungkapkan secara langsung oleh para penghuni surga. Ini bukan sekadar keadaan batin, tetapi benar-benar diucapkan dengan lisan mereka. Hal ini memberi kesan bahwa rasa syukur itu begitu kuat, sehingga tidak cukup hanya dirasakan dalam hati, tetapi harus diungkapkan dalam bentuk pujian yang nyata.
Ucapan ini juga menunjukkan kerendahan hati para penghuni surga. Mereka tidak mengatakan bahwa mereka layak masuk surga karena amal mereka, tetapi mereka memuji Allah yang telah memberikan petunjuk, mengampuni dosa-dosa mereka, dan akhirnya memasukkan mereka ke dalam surga.
الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا
Kata alladzi (الَّذِي) artinya : Yang. Kata hadana (هَدَانَا) artinya : memberi kami petunjuk. Kata li-hadza (لِهَٰذَا) artinya : kesini, atau untuk ini, atau ke tempat ini, yaitu ke surga.
Kalimat ini merupakan pengakuan penuh kesadaran dari para penghuni surga tentang sebab utama yang mengantarkan mereka ke tempat mulia tersebut.
وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ
Ungkapan wa maa (وَمَا) artinya : dan tidak. Kata kunna (كُنَّا) artinya : kami pernah atau kami dahulu. Namun ketika digabungkan dengan kata li-nahtadiya (لِنَهْتَدِيَ), maknanya menjadi lebih dalam, yaitu kami tidak mungkin mendapat petunjuk atau tidaklah kami akan mendapat petunjuk. Kata nahtadiya (نَهْتَدِيَ) sendiri berasal dari akar kata (هـ د ي) yang berarti memperoleh petunjuk, atau menemukan jalan yang benar, atau sampai kepada kebenaran dengan bimbingan yang benar.
Dengan demikian, seluruh ungkapan ini menunjukkan pengakuan bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan sendiri untuk menemukan jalan menuju iman dan keselamatan.
لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ
Lafazh laula (لَوْلَا) berarti sekiranya tidak atau andai bukan karena. Ungkapan ini digunakan untuk menunjukkan bahwa sesuatu tidak akan terjadi jika bukan karena sebab tertentu.
Sedangkan an hadanallah (أَنْ هَدَانَا اللَّهُ) berarti bahwa Allah telah memberi kami petunjuk. Kata hadana (هَدَانَا) berarti : Dia atau Allah SWT telah memberi kami petunjuk kepada kami.
Jika digabungkan, seluruh ungkapan ini berarti bahwa mereka tidak mungkin memperoleh petunjuk sama sekali, sekiranya Allah tidak lebih dahulu memberi mereka petunjuk.
Ini adalah bentuk pengakuan yang sangat mendalam bahwa seluruh perjalanan iman mereka, sejak awal hingga akhir, sepenuhnya berada di bawah bimbingan Allah. Mereka tidak mengklaim bahwa mereka berhasil karena kekuatan mereka sendiri, tetapi mereka menyadari bahwa Allah-lah yang membuka hati mereka, menuntun mereka di jalan yang benar, dan akhirnya mengantarkan mereka ke surga.
لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ
Kata laqad (لَقَدْ) adalah partikel penegas dalam bahasa Arab yang digunakan untuk memberikan penekanan yang sangat kuat terhadap suatu peristiwa, artinya sungguh, benar-benar, atau sesungguhnya.
Kata ini sebenarnya merupakan gabungan dari dua unsur, yaitu la (لَ) yang berfungsi sebagai huruf penegas, dan qad (قَدْ) yang menunjukkan bahwa suatu peristiwa benar-benar telah terjadi. Ketika keduanya digabungkan menjadi laqad, maknanya menjadi lebih kuat lagi, yaitu penegasan bahwa sesuatu itu benar-benar telah terjadi tanpa keraguan sedikit pun.
Kata jaa’at (جَاءَتْ) artinya: telah datang. Kata ini menunjukkan bahwa para rasul benar-benar telah datang kepada manusia membawa risalah dari Allah. Bentuknya menggunakan fi‘il madhi (kata kerja lampau), sehingga maknanya menunjuk pada peristiwa yang sudah terjadi.
Kata rusulu (رُسُلُ) artinya: para rasul. Kata ini merupakan bentuk jamak dari kata rasul, yaitu utusan-utusan Allah yang diutus kepada manusia untuk menyampaikan wahyu, petunjuk, dan kebenaran.
Kata rabbina (رَبِّنَا) artinya: Tuhan kami. Kata rabb berarti Tuhan, Pemelihara, dan Pengatur, sedangkan tambahan -na berarti kami. Ungkapan ini menunjukkan hubungan kedekatan dan pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan mereka yang telah membimbing dan memelihara mereka.
Kata bil-haqqi (بِالْحَقِّ) artinya: dengan kebenaran. Kata al-haqq berarti kebenaran yang pasti, nyata, dan tidak mengandung kebatilan. Maksudnya, para rasul datang membawa ajaran yang benar, janji yang benar, dan peringatan yang benar, yang semuanya kini telah terbukti nyata.
وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ
Kata wa nuduu (وَنُودُوا) artinya: dan mereka dipanggil atau dan mereka diseru. Kata ini berasal dari akar kata (ن د و) yang berarti memanggil atau menyeru dengan suara yang jelas.
Para mufassir beda pendapat tentang siapakah yang memanggil atau menyeru mereka. Pilihan pertama adalah Allah SWT, namun ada juga yang menyebut para malaikat.
Kata an (أَنْ) artinya: bahwa. Kata tilkumu (تِلْكُمُ) artinya: itulah bagi kalian. Kata tilka berarti itu, digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang agung dan mulia, sedangkan tambahan -kum berarti kalian. Ungkapan ini menunjukkan bahwa surga yang agung itu kini benar-benar telah menjadi milik mereka. Kata al-jannatu (الْجَنَّةُ) artinya: surga.
Abu Hurairah dan Abu Sa‘id meriwayatkan penggalan ayat ini, dimana Nabi SAW bersabda:
نُودُوا: أن صِحُّوا فلا تَسْقَمُوا، وانعَمُوا فلا تبْأَسوا، وشِبُّوا فلا تهرموا، واخْلُدوا فلا تموتوا»
“Mereka diseru: hendaklah kalian sehat dan tidak akan pernah sakit, hendaklah kalian hidup dalam kenikmatan dan tidak akan pernah sengsara, hendaklah kalian tetap muda dan tidak akan pernah tua, dan hendaklah kalian hidup kekal dan tidak akan pernah mati.”
أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Kata uuritstumuhaa (أُورِثْتُمُوهَا) artinya: kalian telah diwariskan kepadanya atau kalian telah dijadikan sebagai penerima warisnya.
Penggambaran yang unik disini bahwa surga diberikan kepada mereka sebagai warisan, yaitu sesuatu yang menjadi milik tetap mereka, bukan milik sementara. Penggunaan kata warisan memberi kesan bahwa surga itu kini sepenuhnya menjadi hak mereka, untuk dimiliki dan dinikmati selamanya tanpa takut kehilangan.
Kata bimaa (بِمَا) artinya: disebabkan oleh apa yang atau karena apa yang. Kata kuntum (كُنْتُمْ) artinya: kalian dahulu atau kalian pernah. Kata ta‘maluun (تَعْمَلُونَ) artinya: kalian kerjakan atau kalian amalkan. Kata ini berasal dari akar kata (ع م ل) yang berarti berbuat atau beramal.
Maksudnya adalah amal-amal saleh yang dahulu mereka lakukan di dunia, seperti iman, ketaatan, dan berbagai perbuatan baik. Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada seorang pun kecuali ia memiliki tempat tinggal di surga dan tempat tinggal di neraka. Adapun orang kafir, maka orang mukmin mewarisi tempat tinggalnya di surga, dan orang mukmin mewarisi tempat tinggalnya di neraka.”