Kemenag RI 2019:Dialah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira yang mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan) sehingga apabila (angin itu) telah memikul awan yang berat, Kami halau ia ke suatu negeri yang mati (tandus), lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang mati agar kamu selalu ingat. Prof. Quraish Shihab:Dan Dia-lah yang mengirimkan aneka angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya (berupa hujan); sehingga apabila (aneka angin itu) telah memikul awan yang berat, Kami halau ia ke suatu negeri yang mati (tandus), lalu Kami turunkan hujan di sana, maka Kami keluarkan dengannya berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, supaya kamu selalu ingat (mengambil pelajaran darinya). Prof. HAMKA:Dan Dialah yang mengirim berbagai angin sebagai pembawa berita gembira di hadapan rahmat-Nya sehingga apabila dia telah membawa mega yang berat, Kami tariklah dia ke negeri yang mati dan Kami turunkanlah dengan dia air. Maka, Kami keluarkanlah dengan (air) itu tiap-tiap tumbuh-tumbuhan. Demikian pulalah akan Kami hidupkan orang yang telah mati supaya kamu mau ingat.
Allah SWT menjelaskan bahwa Dialah yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum datangnya rahmat-Nya, yaitu hujan. Angin tersebut tidak hadir secara sia-sia, melainkan menjalankan fungsi yang sangat teratur, yaitu menggerakkan dan memikul awan yang berat, lalu menghalaukannya ke wilayah yang sebelumnya mati dan tandus.
Setelah itu Allah menurunkan hujan di negeri tersebut, sehingga bumi yang kering kembali hidup dan menghasilkan berbagai macam buah-buahan.
Melalui gambaran proses alam yang sangat konkret ini, Allah SWT mengarahkan perhatian manusia pada satu kesimpulan besar, yaitu bahwa menghidupkan kembali bumi yang mati bukanlah perkara sulit bagi-Nya. Karena itu, kebangkitan manusia setelah mati pun sejatinya bukan sesuatu yang mustahil.
Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa perumpamaan tersebut dimaksudkan agar manusia mau mengingat, merenung, dan mengambil pelajaran tentang kekuasaan Allah SWT dan kepastian hari kebangkitan.
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ
Kata wa huwa (وَهُوَ) artinya : dan Dia, maksudnya Allah SWT. Kata allazi (الَّذِي) artinya : yang. Kata yursilu (يُرْسِلُ) artinya : mengirim. Kata ar-riyah (الرِّيَاحَ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu riih yang maknanya angin.
Memang teks ayatnya menyebutkan bahwa angin itu Allah SWT yang kirim. Namun secara teknis kita bisa mempelajari alur sebab akibatnya. Rupanya angin itu muncul karena perbedaan pemanasan matahari di permukaan bumi. Ada wilayah yang lebih cepat panas, seperti daratan di siang hari atau daerah khatulistiwa.
Udara panas menjadi lebih ringan lalu naik ke atas, sehingga tekanan udara di permukaan menjadi rendah. Sebaliknya, wilayah yang lebih dingin memiliki udara yang lebih berat dan tekanannya lebih tinggi. Udara dari daerah bertekanan tinggi kemudian bergerak menuju daerah bertekanan rendah, dan pergerakan udara inilah yang disebut angin.
Arah dan pola angin menjadi beragam karena bumi berputar dan karena perbedaan kondisi darat-laut, siang–malam, serta letak lintang. Dengan cara inilah angin terbentuk dan bergerak secara teratur menurut hukum alam yang Allah tetapkan.
بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ
Kata busyran (بُشْرًا) artinya : sebagai kabar gembira. Kata baina yadai (بَيْنَ يَدَيْ) secara harfiyah kata per kata artinya di antara dua tangan. Ini sebuah idiom yang biasa digunakan bangsa Arab untuk menyebutkan kata : di depan. Namun ketika disambungkan dengan kata rahmat-Nya, kata di depan itu berubah makna menjadi : sebelum. Kata rahmatihi (رَحْمَتِهِ) artinya : rahmat-Nya.
Dengan demikian, frasa ini bermakna : ’sebagai kabar gembira sebelum datangnya rahmat-Nya’.
Di wilayah kering seperti Jazirah Arab, hujan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa isyarat. Hujan hampir selalu didahului oleh angin. Ketika angin mulai berhembus dengan arah tertentu, membawa udara lembap, awan tipis, dan perubahan suhu, orang-orang langsung memahami: hujan sedang dalam perjalanan.
Bagi masyarakat masa lalu, ini bukan teori, tetapi pengalaman berulang. Petani, penggembala, dan musafir terbiasa membaca angin. Angin yang sejuk setelah panas panjang, angin yang membawa bau tanah basah, atau angin yang menggiring awan dari kejauhan, semuanya dipahami sebagai isyarat rahmat. Maka ketika angin datang, ia belum membawa hujan, tetapi sudah membawa harapan. Di situlah angin yang berhembus menjadi busyra alias kabar gembira.
Menariknya, Al-Qur’an juga sangat halus dalam pemilihan kata. Ketika angin disebut sebagai busyra, biasanya disebut dalam bentuk jamak yaitu riyah (الرِّيَاح), yang menunjukkan angin yang membawa kebaikan, keteraturan, dan kehidupan. Sebaliknya, ketika angin menjadi sarana azab, Al-Qur’an sering menyebutnya dalam bentuk tunggal (الرِّيح). Ini menunjukkan bahwa sejak awal, angin memang dikenal manusia sebagai tanda yang bisa dibaca, apakah ia pertanda rahmat atau sebaliknya.
حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا
Kata hatta (حَتَّىٰ) artinya : hingga. Kata idza (إِذَا) artinya : apabila atau ketika. Kata aqallat (أَقَلَّتْ) artinya : telah membawa atau mengangkat. Kata sahaban (سَحَابًا) artinya : awan. Kata tsiqalan (ثِقَالًا) artinya : yang berat.
Banyak orang yang mengira awan itu ringan seringan kapas, buktinya bisa melayang terbang di udara. Padahal sebenarnya awan itu berat, khususnya ketika sudah mengalami kondensasi.
Secara fisika, awan justru sangat berat, terlebih ketika sudah mengalami kondensasi dan siap menurunkan hujan. Penjelasannya begini : awan terbentuk ketika uap air di udara mendingin lalu berubah menjadi butiran air yang sangat kecil atau kristal es. Masing-masing butiran itu memang sangat ringan, tetapi jumlahnya luar biasa banyak. Dalam satu awan hujan bisa terkandung jutaan bahkan miliaran ton air. Jika seluruh air dalam sebuah awan besar dikumpulkan, beratnya bisa setara dengan jutaan truk penuh air.
Namun awan tetap menggantung bukan karena ringan, melainkan karena udara di sekitarnya menopang butiran air tersebut. Arus udara naik (updraft) dari pemanasan matahari mendorong butiran-butiran kecil itu ke atas dan menahannya agar tidak langsung jatuh. Selama butiran air masih kecil dan arus udara ke atas masih kuat, awan akan tetap melayang.
Ketika kondensasi berlanjut, butiran air saling bertabrakan dan bergabung, ukurannya jadi semakin membesar, dan otomatis beratnya pun ikut bertambah. Pada titik tertentu, gaya gravitasi mengalahkan dorongan udara ke atas. Saat itulah awan menjadi benar-benar “berat” dan mulai menjatuhkan isinya ke bumi dalam bentuk hujan.
Inilah yang secara sangat tepat digambarkan Al-Qur’an dengan ungkapan sahaban tsiqalan (سَحَابًا ثِقَالًا) yaitu awan-awan yang berat.
Jadi, awan bukan ringan lalu tiba-tiba menjadi berat. Sejak awal ia membawa beban, tetapi beban itu baru terasa ketika proses kondensasi mencapai puncaknya. Dan ketika itu terjadi, hujan turun sebagai rahmat, sekaligus bukti bahwa apa yang tampak melayang di langit sesungguhnya menyimpan bobot yang sangat besar.
سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ
Kata suqnahu (سُقْنَاهُ) artinya : Kami menggiringnya atau menghalaukannya. Huruf li (لِ) artinya : ke. Kata baladin (بَلَدٍ) artinya : negeri atau wilayah. Kata mayyitin (مَيِّتٍ) artinya : yang mati atau tandus.
Apa yang diungkapan penggalan ini benar-benar menggambarkan proses yang sangat mendalam di bidang ilmu klimatologi dikenal sebagai pengangkutan awan dan massa udara oleh sistem angin. Awan hujan tidak terbentuk dan jatuh di tempat yang sama secara acak. Setelah terbentuk di satu wilayah, sering kali di atas laut atau daerah lembap, awan itu dipindahkan secara horizontal oleh angin menuju wilayah lain. Proses pemindahan inilah yang dalam bahasa ayat disebut “Kami menggiringnya”.
Dalam ilmu klimatologi, pergerakan ini terjadi karena adanya pola tekanan udara dan sirkulasi angin regional maupun global. Angin berfungsi seperti “jalur transportasi” yang mendorong awan dari satu zona ke zona lain. Karena itu, hujan yang turun di suatu daerah bisa berasal dari awan yang terbentuk ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya. Awan seolah “digiring” menuju tujuan tertentu, mengikuti arah arus udara yang berlaku.
Kata li baladin menegaskan bahwa pergerakan ini bertujuan, bukan tanpa arah. Dalam kenyataan iklim, hujan sering kali diarahkan oleh sistem atmosfer ke wilayah yang sedang kering, seperti daratan tandus, daerah pedalaman, atau wilayah yang lama tidak menerima curah hujan. Ketika angin membawa awan lembap ke daerah tersebut, terjadilah perubahan cuaca yang drastis: suhu turun, kelembapan naik, dan hujan pun turun.
Adapun ungkapan baladin mayyitin, negeri yang mati atau tandus, sangat tepat secara klimatologi. Wilayah kering sering disebut “mati” karena siklus hidrologinya terhenti: tanah keras, vegetasi minim, dan kehidupan seakan membeku. Ketika awan hujan digiring ke wilayah seperti ini, siklus itu kembali hidup. Air meresap ke tanah, biji-bijian tumbuh, dan ekosistem yang semula pasif kembali aktif.
Dengan demikian, ayat ini menggambarkan satu proses klimatologis yang utuh: awan terbentuk, lalu dipindahkan oleh angin menuju wilayah kering, dan dari situlah kehidupan dimulai kembali. Bahasa Al-Qur’an menyebutnya secara singkat dengan kata سُقْنَاهُ, tetapi di baliknya terdapat sistem iklim yang sangat kompleks dan teratur, yang semuanya berjalan sesuai hukum alam yang Allah tetapkan.
فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ
Huruf fa (فَ) artinya : lalu. Kata anzalna (أَنْزَلْنَا) artinya : Kami menurunkan. Sedangkan bihi (بِهِ) artinya : dengannya, yaitu dengan awan. Kata al-ma’a (الْمَاءَ) artinya : air.
Apa uyng diungkapan oleh penggalan ini juga menggambarkan dengan indah bagaimana tahap berikutnya dalam siklus hujan yang dalam ilmu klimatologi dikenal sebagai presipitasi, yaitu turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi. Setelah awan-awan berat itu digiring ke wilayah yang tandus, terjadilah proses internal di dalam awan yang membuat air akhirnya turun.
Kata anzalna menunjukkan peristiwa turunnya air karena gravitasi. Di dalam awan, uap air yang telah mengalami kondensasi berubah menjadi butiran-butiran air atau kristal es yang semakin lama semakin besar dan berat. Selama butiran itu masih kecil, arus udara ke atas masih mampu menahannya. Namun ketika ukurannya membesar akibat penggabungan antarbutir, gaya tarik bumi tidak lagi dapat dilawan. Saat itulah air mulai turun dari awan ke bumi dalam bentuk hujan.
Kata bihi yang artinya : dengannya, sangat tepat secara ilmiah, karena hujan tidak turun begitu saja dari langit kosong, tetapi melalui perantara awan. Awan berfungsi sebagai wadah, tempat penyimpanan, sekaligus ruang pemrosesan uap air sebelum berubah menjadi hujan. Dengan kata lain, air memang diturunkan, tetapi melalui mekanisme awan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Adapun kata al-ma’u yaitu air, dalam konteks ini mencakup seluruh bentuk air hujan, baik yang turun sebagai hujan biasa, gerimis, hujan lebat, maupun bentuk presipitasi lain yang berasal dari awan. Air inilah yang kemudian memasuki tanah, mengalir di permukaan, dan menghidupkan kembali siklus hidrologi yang sebelumnya terhenti di wilayah tandus.
Dengan satu frasa singkat ini, ayat tersebut merangkum proses ilmiah yang lengkap: awan yang telah digiring menjadi jenuh, butiran air membesar, lalu air diturunkan ke bumi melalui awan itu. Bahasa ayatnya ringkas, tetapi realitas yang ditunjuknya sangat luas dan presisi secara ilmiah.
فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ
Huruf fa (فَ) artinya : lalu. Kata akhrajna (أَخْرَجْنَا) artinya : Kami mengeluarkan atau menumbuhkan. Huruf bihi (بِهِ) artinya : dengannya. Huruf min (مِنْ) artinya : dari. Sedangkan kulli (كُلِّ) artinya : setiap atau segala. Kata ats-tsamarat (الثَّمَرَاتِ) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Quraish Shihab menjadi : buah-buahan. Namun Buya HAMKA menerjemakannya menjadi tumbuh-tumbuhan.
Sebenarnya yang lebih tepat memang bukan buah-buahan, sebab kata ini dalam bahasa Indonesia mengacu kepada buah segar dari pohon yang dimakan, seperti mangga, apel, atau pisang. Padahal dalam bahasa Arab, jenis buah yang dikonsumsi secara langsung justru memiliki istilah khusus, yaitu fakihah (فَاكِهَة) dan bentuk jamaknya fawakih (فَوَاكِه).
Adapun kata tsamarat (الثَّمَرَات) berasal dari akar kata (ث م ر) yang maknanya adalah hasil, produktivitas, dan sesuatu yang muncul sebagai dampak dari suatu proses. Karena itu, dalam penggunaan bahasa Arab yang luas, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam literatur Arab klasik, tsamarat (الثَّمَرَات) tidak terbatas pada buah segar, tetapi mencakup segala hasil bumi, baik berupa buah, biji-bijian, tanaman pangan, maupun hasil pertanian lainnya.
Dalam konteks ayat ini, pembicaraan tidak sedang dibatasi pada kenikmatan konsumsi semata, tetapi pada hidupnya kembali tanah yang mati. Air hujan diturunkan, lalu dari tanah itu muncul berbagai bentuk kehidupan dan hasil. Maka yang dimaksud dengan ats-tsamarāt adalah seluruh hasil tumbuh-tumbuhan yang menjadi tanda hidupnya bumi: tanaman, pepohonan, biji-bijian, dan segala sesuatu yang tumbuh dari tanah.
كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ
Kata kadzalika (كَذَٰلِكَ) artinya : demikianlah, yakni sebagaimana proses yang baru saja kalian saksikan di alam. Dalam sains, bumi yang tandus sebenarnya tidak benar-benar mati, tetapi berada dalam kondisi dorman. Di dalam tanah kering tersimpan biji-bijian, mikroorganisme, dan potensi kehidupan yang seolah hilang. Ketika air turun, potensi itu diaktifkan kembali. Tanah yang tadinya keras, retak, dan tidak produktif tiba-tiba hidup, menghijau, dan menghasilkan.
Fenomena ini sangat dekat dengan konsep kebangkitan. Dalam perspektif biologis, kehidupan bisa menghilang bukan karena unsur-unsurnya lenyap, tetapi karena kondisi yang tidak memungkinkan kehidupan berjalan. Ketika kondisi yang tepat kembali hadir seperti air, suhu, dan lingkungan yang sesuai, kehidupan muncul kembali. Ayat ini menggunakan kebangkitan bumi sebagai model nyata yang bisa diamati oleh manusia.
Setelah Allah menjelaskan proses menghidupkan bumi yang mati melalui hujan, ayat ini mengajak manusia menarik kesimpulan logis: dengan cara yang sama, Allah membangkitkan orang-orang yang mati.
Kata nukhriju (نُخْرِجُ) artinya : Kami mengeluarkan atau membangkitkan. Dalam kebangkitan tumbuhan, kehidupan itu seakan-akan dikeluarkan dari dalam tanah, padahal unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya. Demikian pula dalam kebangkitan manusia, unsur jasad tidak hilang dari sistem alam, melainkan akan dikeluarkan kembali dan disusun ulang dengan kehendak Allah.
Kata al-mawta (الْمَوْتَىٰ) artinya : orang-orang yang mati. Bukan saja orang yang baru meninggal, tetapi mereka yang sudah ratusan bahkan ribuan tahun, dimana jasad mereka pun sudah berubah dan menyatu jadi tanah. Bahkan ada yang dimakan hewan buas, sehingga secara teknis, tubuhnya bukan dalam bentuk tanah, tapi jadi protein hewan lain pada jaringan tubuhnya. Walaupun hewan buas itu akhirnya mati juga jadi tanah.
Boleh jadi bukan jadi tanah tapi jadi asap, karena ada juga budaya masyarakat tertentu yang membakar jenazah mereka. Walaupun sisa hasil pembakarannya tetap jadi tanah atau abu.
Intinya bukan hanya mati tapi sudah melebur jadi benda yang lain, entah itu tanah, abu ataupun jadi fosil sekalipun.
Secara logika nalar baik dalam pemikiran orang zaman dulu, bahkan juga nalar logika zaman modern yang dilengkapi kekuatan sains, jasad-jasad itu bisa dikembalikan lagi, bahkan bisa hidup normal seperti sebelumnya, jelas-jelas sulit bisa dipahami dan diterima logika akal sehat.
Pantas dan wajar jika kaum musyrikin Arab yang kita sebut bangsa jahiliyah tidak bisa menerima konsep orang mati nanti dihidupkan kembali. Apalagi jika lengkap dengan semua bagian tubuhnya ketika masih hidup. Ditambah lagi seluruh manusia dari semua zaman, sejak zaman Nabi Adam hingga detik-detik terakhir kiamat kubro, semua dihidupkan kembali secara serentak.
Digiring bareng-bareng di Padang Mashyar untuk dihisab dan dimintai pertanggung-jawaban masing-masing. Itu semua dalam pandangan kaum musyrikin Mekkah saat itu dianggap sangat tidak masuk akal, di luar nalar, terlalu imaginatif, lebih dekat ke halusinasi para tukang mimpi. Maka mereka dustakan semua itu, khususnya bagaimana manusia sudah jadi tanah sejak ribuan tahun, lalu dibangkitkan.
Maka ayat ini menjelaskan bahwa hal itu bukan mustahil, tidak tabrakan dengan logika sedrehana, juga bukan hal yang aneh. Jika menyaksikan fenomena hujan yang bikin tanah mati menjadi hidup kembali melalui mekanisme alam yang teratur, maka kebangkitan manusia setelah kematian bukanlah sesuatu yang mustahil.
Masalahnya mereka orang Arab jahiliyah itu kurang logis berpikirnya, tidak bisa mengambil pelajaran dari fenomena alam. Oleh karena itu penutup ayat ini terasa sangat relate dengan hal ini.
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Kata la‘allakum(لَعَلَّكُمْ) artinya : agar kamu. Kata tadzakkarun(تَذَكَّرُونَ) artinya : mengambil pelajaran atau mengingat.
Ya, kuncinya bahwa kekafiran mereka atas adanya hari kebangkitan itu ternyata didasari oleh akal mereka yang cekak, tidak bisa berpikir yang logis dan nalar, tidak punya wawasan, kaku, beku, jumud, kurang encer otaknya.
Padahal fenomena negeri mati dan tandus lalu bisa kembali hijau itu adalah fenomena yang sering kita lihat sehari-hari. Bahkan kota Mekkah sekarang ini saja sudah mulai menghijau. Kita tidak melihatnya sebagai tanda kiamat, karena ini hanya fenomena alam biasa.
Bagi Penulis, ayat ini justru merangsang rasa penasaran kita, seolah tertantang bagaimana menyulap gurun tandus jadi lahan hutan. Salah satu contoh paling nyata adalah Gurun Kubuqi di Tiongkok. Kawasan ini dahulu dikenal sebagai gurun pasir aktif dengan badai pasir yang sering terjadi dan hampir mustahil dihuni.
Namun melalui upaya jangka panjang berupa penanaman vegetasi tahan kering, pengelolaan air yang cermat, serta stabilisasi pasir, wilayah tersebut perlahan berubah. Kini sebagian besar kawasan Kubuqi telah ditutupi sabuk hijau yang luas, dengan ekosistem yang sudah berfungsi seperti hutan buatan. Perubahan ini berlangsung melalui mekanisme alam yang teratur, bukan dengan cara yang melanggar hukum alam.
Contoh lain terdapat di wilayah gurun Negev di Israel. Kawasan yang dulunya gersang dan nyaris tidak produktif ini kini memiliki area hutan yang cukup luas, seperti Hutan Yatir. Dengan teknologi irigasi tetes dan manajemen air yang efisien, tanah gurun dapat menopang pepohonan dan pertanian. Bahkan kawasan ini sering dijadikan lokasi penelitian ilmiah untuk mengamati hubungan antara vegetasi, iklim, dan penyerapan karbon.
Di Afrika, wilayah Sahel yang membentang panjang di selatan Sahara juga mengalami proses serupa. Melalui program lintas negara yang dikenal sebagai Great Green Wall, kawasan semi-gurun secara bertahap direstorasi hingga kembali hijau. Di beberapa bagian, vegetasi yang tumbuh telah menyerupai savana dan hutan ringan. Semua ini terjadi secara bertahap dan konsisten, mengikuti hukum sebab-akibat yang jelas.
Di Jazirah Arab sendiri, termasuk kawasan Arab Saudi, fenomena serupa dapat disaksikan meski belum permanen. Ketika hujan turun dengan intensitas cukup, wilayah gurun yang biasanya gersang tiba-tiba berubah hijau. Rumput dan semak tumbuh dengan cepat, menandakan bahwa tanah tersebut tidak mati, melainkan hanya “tertidur” karena lama tidak mendapat air. Ketika sebabnya datang, akibatnya pun muncul secara alami.
Dari semua contoh ini tampak jelas bahwa gurun bisa berubah menjadi kawasan hijau, bahkan mendekati hutan, apabila syarat-syarat kehidupannya terpenuhi.
Maka logika yang dibangun Al-Qur’an menjadi sangat kuat dan lurus. Jika tanah yang mati dapat hidup kembali melalui mekanisme alam yang teratur, maka kebangkitan manusia setelah kematian sama sekali bukan sesuatu yang mustahil.
Masalahnya bukan pada kurangnya bukti, tetapi pada kesediaan manusia untuk merenung dan mengambil pelajaran, sebagaimana ditegaskan dalam penutup ayat: (لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)