Kata qala (قَالَ) artinya: berkata. Kata al-mala’u (الْمَلَأُ) artinya: para pemuka atau pembesar kaum, yaitu kelompok orang yang memiliki kedudukan tinggi dalam masyarakat, seperti para pemimpin, tokoh terpandang, atau elite yang berpengaruh dalam mengambil keputusan suatu kaum.
Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya: orang-orang yang. Kata istakbaru (اسْتَكْبَرُوا) artinya: mereka menyombongkan diri. Kata ini berasal dari akar kata (كبر) yang bermakna besar. Kata min (مِنْ) artinya: dari. Kata qawmihi (قَوْمِهِ) artinya: kaumnya.
Sampai disini Penulis merasa perlu menjelaskan hal yang amat penting dan bikin pemahaman kita jadi sedikit rancu. Sebab kalau istakbaru (اسْتَكْبَرُوا) langsung diterjemahkan “mereka sombong”, sering kali maknanya jadi kabur. Orang modern biasanya membayangkan “sombong” itu sekadar sikap merasa diri hebat, padahal dalam bahasa Arab Al-Qur’an makna istakbaru (اسْتَكْبَرُوا) sebenarnya jauh lebih spesifik, tidak sesederhana pemahaman kita tentang sikap sombong.
Akar katanya dari (كبر) berarti besar. Tetapi bentuk istakbara (استكبر) dalam bahasa Arab berarti menganggap diri terlalu besar untuk tunduk. Jadi inti maknanya bukan sekadar kesombongan psikologis, melainkan menolak tunduk karena merasa statusnya lebih tinggi.
Para ahli bahasa menjelaskan bahwa:
الاستكبار هو الامتناع عن قبول الحق تعاظمًا
istakbara itu adalah menolak menerima kebenaran karena merasa diri terlalu tinggi untuk menerimanya.
Sebagaimana Allah SWT menyebut Iblis telah berlaku yang sama, yaitu istakbara (استكبر)
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Bersujudlah kalian kepada Adam,’ maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah: 34)
Dalam ayat ini kata istakbara (استكبر) menunjukkan bahwa Iblis menolak perintah Allah karena merasa dirinya lebih tinggi daripada Adam. Hal itu kemudian dijelaskan dalam ayat lain ketika Iblis berkata:
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Ia berkata: ‘Aku lebih baik darinya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’ (QS. Al-A’raf: 12)
Di sini terlihat bahwa istikbar (استكبار) bukan sekadar kesombongan biasa, tetapi sikap menolak tunduk kepada kebenaran karena merasa diri lebih tinggi. Sikap yang sama inilah yang oleh Al-Qur’an juga dilekatkan kepada para pemuka kaum Tsamud ketika mereka menolak dakwah Nabi Shalih.
Dalam konteks kaum Tsamud, yang dimaksud bukan mereka berjalan dengan dada membusung atau memamerkan kekayaan. Yang terjadi adalah para elite masyarakat merasa posisi sosial mereka terlalu tinggi untuk mengikuti Nabi Shalih. Nabi Shalih bukan raja, bukan penguasa, bahkan berasal dari kaumnya sendiri. Bagi para pemuka itu, menerima ajaran Nabi Shalih berarti harus tunduk kepada seseorang yang mereka anggap setara atau bahkan lebih rendah dari mereka.
Kata lilladzina (الَّذِينَ) artinya: kepada orang-orang yang. Kata istudh‘ifu (اسْتُضْعِفُوا) artinya: mereka yang dilemahkan atau dianggap lemah.
Namun bukan berarti mereka secara fisik lemah, tetapi secara sosial diposisikan sebagai kelompok bawah. Mereka tidak memiliki kekuasaan, tidak punya pengaruh politik, dan sering berada di bawah tekanan elite masyarakat.
Dalam banyak kisah para nabi, kelompok yang lebih dulu menerima dakwah biasanya berasal dari kalangan ini, karena mereka tidak terlalu terikat oleh kepentingan kekuasaan.
Kata li man (لِمَنْ) artinya: kepada siapa saja yang. Kata amana (آمَنَ) artinya: beriman. Kata minhum (مِنْهُمْ) artinya: dari mereka. Maksudnya adalah orang-orang dari kalangan mereka sendiri yang beriman kepada Nabi Shalih.
Kata a-ta‘lamuna (أَتَعْلَمُونَ) artinya: apakah kalian mengetahui. Kata anna (أَنَّ) artinya: bahwa. Kata shalihan (صَالِحًا) artinya: Shalih, yang dimaksud adalah Nabi Shalih, yaitu utusan Allah yang diutus kepada kaum Tsamud. Kata min rabbihi (رَبِّهِ) artinya: dari Tuhannya.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa itu adalah pertanyaan retoris, yaitu pertanyaan yang digunakan untuk menguji sikap dan keyakinan orang yang ditanya. Yang bertanya adalah para pemuka kaum Tsamud yaitu al-mala’ (الملأ). Yang ditanya adalah kelompok masyarakat yang beriman kepada Nabi Shalih dari kalangan yang dianggap lemah. Para pemuka itu ingin mengetahui sejauh mana keyakinan mereka kepada Nabi Shalih.
Imam Ath-Thabari dalam Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1] menjelaskan bahwa maksud pertanyaan itu adalah untuk menguji dan menantang orang-orang yang beriman kepada Nabi Shalih. Para pemuka itu seolah berkata: “Apakah kalian benar-benar yakin bahwa Shalih adalah utusan dari Tuhannya?”
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[2] juga menjelaskan bahwa pertanyaan itu muncul sebagai bentuk ejekan dan pengingkaran dari para pemuka kaum Tsamud. Mereka sebenarnya tidak percaya kepada Nabi Shalih, tetapi mereka ingin melihat apakah kelompok yang beriman tetap bersikeras dengan keyakinan mereka. Karena itu jawaban orang-orang yang beriman sangat tegas dalam ayat berikutnya: