Maka di ayat ini Allah SWT kisahkan reaksi dari para pembesar kafir itu yang menyatakan secara tegas bahwa mereka justru sama sekali tidak percaya kepada kenabiannya, serta kepada apa yang diimani oleh sesama mereka.
Kata qala (قَالَ) artinya: berkata. Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya: orang-orang yang. Kata istakbaru (اسْتَكْبَرُوا) artinya: mereka menyombongkan diri. Kata ini berasal dari akar kata (كبر) yang bermakna besar. Dalam bentuk istakbara maknanya menjadi merasa diri besar, menyombongkan diri, atau menolak kebenaran karena kesombongan.
Dalam konteks ayat ini, yang dimaksud adalah para pemuka kaum Tsamud yang bersikap angkuh dan menolak ajaran Nabi Shalih.
Kata inna (إِنَّا) artinya: sesungguhnya kami. Kata inna berfungsi sebagai penegasan, sedangkan na adalah kata ganti yang berarti kami. Dalam konteks ayat ini yang berbicara adalah para pemuka kaum Tsamud yang menyombongkan diri.
Kata bi-alladzi (بِالَّذِي) artinya: terhadap apa yang. Huruf bi menunjukkan sikap atau posisi terhadap sesuatu, sedangkan alladzi adalah kata sambung yang berarti yang atau sesuatu yang. Maksudnya adalah ajaran atau risalah yang dibawa oleh Nabi Shalih.
Kata amantum (آمَنْتُمْ) artinya: kalian telah beriman. Kata ini berasal dari akar kata (أمن) yang bermakna percaya atau membenarkan. Bentuk kata ini menunjukkan bahwa yang beriman adalah kalian, yaitu kelompok orang-orang yang mengikuti Nabi Shalih.
Kata bihi (بِهِ) artinya: kepadanya atau terhadapnya. Kata ganti hi kembali kepada risalah yang dibawa oleh Nabi Shalih.
Kata kafirun (كَافِرُونَ) artinya: orang-orang yang ingkar. Kata ini berasal dari akar kata (كفر) yang bermakna menutup atau mengingkari. Dalam konteks ini maksudnya adalah menolak dan tidak membenarkan ajaran yang dibawa oleh Nabi Shalih.
Maka jika dirangkai kembali tanpa tafsir, makna bahasanya menjadi: “sesungguhnya kami ingkar terhadap apa yang kalian imani itu”.