| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-Anfal : 4 | ▶ |
| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-4 dari surat Al-A’raf ini tentunya masih bagian dari ayat sebelumnya dan sebelumna lagi. Bahkan bisa dibilang masih satu kalimat panjang yang hanya dipisahkan dengan koma saja.
Sejak awal ayat ke-2 Allah memulai pembicaraan tentang kriteria orang yang beriman dengan kualitas terbaik, yaitu terkait dengan getaran hati jika disebut nama Allah, bertambah iman ketika dibaca ayat Quran, bertawakkal, menegakkan shalat dan berinfaq.
Maka di ayat inilah Allah SWT sempurnakan sebutan mereka dengan kata-kata : orang mukmin sejati. Selain juga disebutkan harga balasannya, yaitu mendapat derajat tinggi, ampunan dan rejeki yang mulia.
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
Lafazh ulaa-ika (أُولَٰئِكَ) merupakan isim isyarah atau kata tunjuk yang bermakna : mereka itulah. Penggunaan kata tunjuk jarak jauh di sini tidak sekadar menunjuk subjek, tetapi memberikan isyarat betapa tingginya kedudukan dan derajat orang-orang yang sifat-sifatnya telah disebutkan secara terperinci pada ayat-ayat sebelumnya.
Lafazh humu (هُمُ) adalah dhamir atau kata ganti orang ketiga jamak yang berarti : mereka. Dalam kaidah ilmu nahwu, keberadaan kata ini di tengah kalimat berfungsi sebagai dhamir fashl yang memberikan taukid alis penegasan. Fungsinya adalah untuk menguatkan sekaligus membatasi bahwa predikat keimanan tersebut benar-benar khusus tertuju pada kelompok ini. Seolah-olah ayat ini ingin menegaskan bahwa tidak ada yang berhak menyandang predikat iman yang sempurna kecuali mereka yang memiliki sifat-sifat tersebut.
Lafazh al-mu'minuuna (الْمُؤْمِنُونَ) adalah bentuk jamak dari kata mu'min, yang berarti "orang-orang yang beriman". Adanya sisipan alif lam ma'rifah di awal kata menunjukkan bahwa keimanan yang dimaksud di sini adalah keimanan yang sudah jelas standarnya, sempurna, dan utuh. Sedangkan lafazh haqqan (حَقًّا) bermakna : yang sebenar-benarnya atau yang sejati. Kedudukannya sebagai maf'ul muthlaq atau sebagai kata sifat.
Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Quran Al-Azhim[1] memberi komentar menarik. Allah SWT mengkhususkan penggalan ayat ini untuk menegaskan perbedaan mereka dengan orang-orang munafik di masa itu yang sudah mulai bermunculan.
لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ
Lafazh lahum (لَهُمْ) terdiri dari huruf lam yang bermakna "bagi" atau "milik", dan dhamir (kata ganti) hum yang bermakna "mereka". Kata ini menegaskan bahwa janji yang akan disebutkan setelah ini adalah hak eksklusif yang diperuntukkan khusus bagi mereka yang telah memenuhi lima kriteria di ayat sebelumnya.
Selanjutnya, lafazh darajaatun (دَرَجَاتٌ) adalah bentuk jamak dari kata darajah yang berarti tingkatan, pangkat, atau kedudukan yang terus naik ke atas.
Lafazh 'inda rabbihim (عِنْدَ رَبِّهِمْ) bermakna : di sisi Tuhan mereka. Memang ungkapan seperti ini seringkali digunakan sebagai penghalusan dari kematian yang mulia. Meeka mendapatkan derajat tinggi di sisi Tuhan mereka, tapi di alam baka, yaitu ketika mereka gugur di medan laga demi menegakkan kalimat Allah SWT.
Namun banyak ulama menyebutkan untuk para peserta perang Badar, derajat mereka sudah Allah SWT tinggikan bukan hanya nanti di akhirat, tetapi sejak masih di dunia saja pun sudah tingginya derajatnya.
Bahkan mereka menjadi pembicaraan dan standar kemuliaan di kalangan penduduk langit yaitu para malaikat. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, suatu hari Malaikat Jibril 'alaihissalam turun menemui Rasulullah SAW khusus untuk menanyakan status keistimewaan para veteran Perang Badar ini.
جَاءَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَا تَعُدُّونَ أَهْلَ بَدْرٍ فِيكُمْ؟ قَالَ: «مِنْ أَفْضَلِ المُسْلِمِينَ» - أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا - قَالَ: «وَكَذَلِكَ مَنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنَ المَلاَئِكَةِ»
Jibril datang kepada Nabi SAW lalu bertanya: "Bagaimana kalian memandang orang-orang yang ikut Perang Badar di antara kalian?" Beliau SAW menjawab: "Mereka termasuk kaum muslimin yang paling utama (terbaik)." (Atau dengan redaksi kalimat yang semakna). Jibril lalu menimpali: "Begitu pula halnya dengan para malaikat yang ikut hadir dalam Perang Badar (mereka adalah malaikat yang paling utama)." (HR. Bukhari)
Derajat para peserta perang Badar ini menjadi tinggi, karena inilah perang yang pesertanya bukan hanya dari kalangan manusia, tetapi ikut juga di dalamnya pasukan tempur dari kalangan para malaikat.
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: 'Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut'. (QS. Al-Anfal : 9)
إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلَاثَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُنْزَلِينَ
(Ingatlah) ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang-orang mukmin, 'Apakah tidak cukup bagi kamu bahwa Tuhanmu membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?'. (QS. Ali Imran : 124)
بَلَىٰ إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ
Ya (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa, lalu mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Tuhanmu menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. (QS. Ali Imran : 125)
Dalam Musnad Ahmad, Ali bin Abi Thalib menceritakan formasi turunnya ketiga malaikat agung tersebut:
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي بَكْرٍ يَوْمَ بَدْرٍ: «مَعَ أَحَدِكُمَا جِبْرِيلُ، وَمَعَ الْآخَرِ مِيكَائِيلُ، وَإِسْرَافِيلُ مَلَكٌ عَظِيمٌ يَشْهَدُ الْقِتَالَ - أَوْ قَالَ: يَشْهَدُ الصَّفَّ -»
Dari Ali bin Abi Thalib berkata: Dikatakan kepada Nabi SAW dan Abu Bakar pada hari Perang Badar: "Bersama salah seorang dari kalian berdua ada Jibril, dan bersama yang lainnya ada Mikail. Sedangkan Israfil adalah malaikat yang agung yang turut menyaksikan peperangan (atau turut hadir dalam barisan)." (HR. Ahmad)
بَعَثَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ جِبْرِيلَ فِي أَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ عَلَى مَيْمَنَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهَا أَبُو بَكْرٍ، وَبَعَثَ مِيكَائِيلَ فِي أَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ عَلَى مَيْسَرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهَا حَمْزَةُ»
Jibril bersama seribu malaikat berada di sayap kanan Nabi SAW, dan di situ ada Abu Bakar. Dan Allah mengutus Mikail bersama seribu malaikat berada di sayap kiri Nabi SAW, dan di situ ada Hamzah." (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabrani).
Para pahlawan Badar itu benar-benar dibayar mahal oleh Allah. Tidak tanggung-tanggung, Allah membuka pintu langit dan menurunkan batalyon malaikat dalam tiga etape eskalasi. Pertama turun 1.000 pasukan tempur kasat mata. Kedua. Lalu diturunkan lagi 3.000 pasukan. Ketiga dan ini puncaknya, tidak kurang dari 5.000 malaikat murni demi mengawal dan bertempur bahu-membahu bersama mereka. Fakta Al-Quran ini menjadikan status kehormatan Ahlu Badar tidak terbantahkan lagi sepanjang sejarah peradaban Islam.
Nah disini anti-klimaksnya, jika derajat mereka sudah sebegitu tingginya, lantas bagaimana mungkin para Ahlu Badar ini masih disibukkan meributkan pedang pampasan dan unta rampasan, sementara di atas langit sana, Jibril sedang membicarakan tingginya darajaat mereka?
Penggalan ayat ini sangat menohok ulu hati mereka yang hampir bersitegang karena memperebutkan harta rampasan perang yang tidak seberapa.
وَمَغْفِرَةٌ
Lafazh wa maghfiratun (وَمَغْفِرَةٌ) secara harfiah bermakna : dan ampunan. Berasal dari akar kata (غفر) yang berarti menutupi. Menariknya, Allah menjanjikan derajat yang tinggi lebih dulu, baru kemudian menyebutkan ampunan.
Ini adalah sebuah sentuhan realisme Ilahi. Sehebat apa pun kualitas iman seseorang, bahkan sekelas para pahlawan Ahlu Badar sekalipun, mereka tetaplah manusia biasa yang tidak luput dari khilaf. Salah satunya khilaf saat memperebutkan ghanimah. Maka Allah memberikan garansi bahwa dosa-dosa mereka akan ditutupi dan dihapuskan.
Ada kisah mengharukan ketika Nabi SAW membela seorang shahabat peserta Perang Badar (ahlu Badar) yang bernama Hathib bin Abi Balta'ah radhiyallahuanhu. Sebagai manusia biasa, shahabat mulai ini sempat melakukan kesalahan fatal, yaitu membocorkan rahasia pergerakan militer muslim ke Makkah. Ketika Umar bin Khattab marah besar dan meminta izin untuk memenggal leher Hathib, Nabi SAW mencegahnya, bahkan membelanya seraya bersabda:
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ
Dan tahukah engkau (wahai Umar), bisa jadi Allah telah melihat (mengetahui keadaan) para penduduk Badar (Ahlu Badar), lalu Allah berfirman: 'Lakukanlah apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah mengampuni kalian!' (HR. Bukhari Muslim)
Mendengar sabda ini, air mata Umar bin Khattab pun langsung tumpah. Hadits ini adalah bukti valid dan penguat yang sangat sempurna untuk penggalan ayat wa maghfiratun (dan ampunan) yang baru saja kita bahas.
وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Terakhir, lafazh wa rizqun kariim (وَرِزْقٌ كَرِيمٌ) bermakna "dan rezeki yang mulia". Kata kariim berarti mulia, terhormat, bersih dari cacat, dan diberikan dengan penuh penghargaan tanpa merendahkan penerimanya.
Rezeki yang mulia tidak lain adalah status halalnya harta rampasan perang dari kemenangan mereka di medan Badar. Bukan hanya kaitannya rejeki di surga saja.
Faktanya dengan modal ghanimah perang Badar itulah denyut nadi ekonomi Madinah mulai berdenyut, pasar mulai bergairah, para shahabat sudah tidak lagi jadi orang kere tidur ngemper di sebagai Ahlus Suffah. Para sahabat Muhajirin yang dulunya bermigrasi ke Madinah dengan tangan kosong karena seluruh aset kekayaannya disita dan dirampas oleh kafir Quraisy di Makkah, kini mendadak memiliki suntikan modal yang sangat masif.
Roda ekonomi umat Islam yang awalnya pincang dan sangat bertumpu pada kebaikan hati kaum Anshar, kini mulai bisa berputar secara mandiri. Likuiditas pasar-pasar di Madinah yang selama berpuluh tahun didominasi, dikendalikan, dan dimonopoli oleh jaringan ekonomi konglomerat Yahudi, perlahan namun pasti mulai bisa diimbangi dan diambil alih oleh kekuatan saudagar muslim.
Maka, tafsir dari rizqun kariim pada penghujung ayat ini memuat dimensi yang sangat membumi sekaligus revolusioner. Allah tidak sekadar meninabobokan para pahlawan Badar dengan janji-janji rezeki utopis di akhirat kelak, melainkan juga meneteskan solusi ekonomi yang riil dan konkret (cash and carry) di dunia.
Lewat ghanimah yang dihalalkan itulah Allah mengangkat harkat, derajat, dan martabat sosial-ekonomi kaum muslimin dari status pengungsi miskin yang tertindas, menjadi embrio sebuah peradaban umat yang mandiri, berdaulat secara finansial, dan terhormat di mata kabilah-kabilah Arab lainnya.
[1] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)