Rumah Fiqih Indonesia
Ukuran Teks:
Jilid : 18 Juz : 9 | Al-Anfal : 6
Al-Anfal 8 : 6
Mushaf Kemenag RI hal. 177

يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ بَعْدَمَا تَبَيَّنَ كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ وَهُمْ يَنْظُرُونَ

Kemenag RI 2019: Mereka membantahmu (Nabi Muhammad) tentang kebenaran (Perang Badar) setelah nyata (bahwa mereka pasti menang) seakan-akan mereka dihalau pada kematian dan melihat (sebab kematian itu).
Prof. Quraish Shihab: Mereka membantahmu (Nabi Muhammad saw.) tentang kebenaran (yakni keharusan keluar kota menghadapi musuh) sesudah ia (menjadi jelas) seakan-akan mereka dihalau menuju kematian sedang mereka melihat (bahwa kematian benar-benar dekat).
Prof. HAMKA: Mereka membantah engkau tentang kebe-naran itu sesudah dia nyata, seakan-akan mereka diseret kepada maut; sedang mereka melihat.

TAFSIR AL-MAHFUZH

Ayat ke-6 dari surat Al-Anfal ini masih meneruskan tema yang dibahas di ayat sebelumnya, yaitu kisah bagaimana Nabi SAW dan para shahabat menggelar syura untuk ambil sikap.

Disebutkan bahwa sebagian dari mereka sempat punya pandangan yang berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Nabi SAW dan sebagian pasukan lainnya.

Namun Allah SWT kasih jaminan bahwa mereka pasti menang, walaupun awalnya seakan-akan mereka seperti sedang dihalau pada kematian dan melihat langsung proses kematian mereka sendiri.

***

يُجَادِلُونَكَ فِي الْحَقِّ

Makna yujaadiluunaka (يُجَادِلُونَكَ) adalah: mereka membantahmu. Makna fii (فِي) adalah: dalam atau tentang. Makna al-haqqi (الْحَقِّ) adalah: kebenaran. Sebagian mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-haq disini maknanya bukan secara harfiyah yaitu kebenaran, melainkan perang Badar itu sendiri.

Awalnya Nabi SAW mengajak para sahabat keluar dari Madinah hanya untuk sebuah misi yang mendesak namun berisiko rendah. Sekedar mencegat kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Kafilah ini tidak dikawal oleh pasukan militer yang besar, melainkan hanya sekitar 30-40 orang penjaga walapun membawa aset harta yang melimpah.

Karena misinya hanya pencegatan ekonomi, para sahabat keluar dengan logistik seadanya dan tanpa persiapan baju besi atau senjata perang yang lengkap.

Namun di tengah jalan, situasi berubah total. Kafilah Abu Sufyan berhasil meloskan diri lewat jalur pantai, sementara dari arah Makkah justru datang pasukan militer penuh (an-nafiir) berkekuatan 1.000 personel bersenjata lengkap yang dipimpin oleh Abu Jahal, siap melumat kaum Muslimin.

Melihat perubahan situasi ini, Rasulullah SAW tidak langsung memaksa sahabat untuk maju, melainkan menggelar musyawarah (syura) untuk meminta masukan. Di sinilah ruang dialog terbuka. Rasulullah SAW bersabda, "Berikan masukanmu kepadaku, wahai manusia!"

Ketika opsi yang disodorkan adalah menghadapi pasukan perang Makkah yang kekuatannya tiga kali lipat dengan kondisi fisik sahabat yang tanpa persiapan tempur, sebagian sahabat, terutama dari kalangan Anshar dan sebagian Muhajirin yang melihat realitas di lapangan, mulai menyampaikan argumentasi dan keberatan mereka.

Bantahan alias jidal yang mereka sampaikan lahir dari kalkulasi logis dan sifat manusiawi yang syar'i, bukan karena keraguan iman.  Mereka merasa jika dipaksakan maju bertempur dengan kondisi ’tangan kosong’ seperti itu, tindakan tersebut sama saja dengan mengantarkan nyawa secara konyol, sebagaimana digambarkan di ayat berikutnya: seolah-olah mereka digiring kepada kematian.

Perdebatan ini terjadi karena adanya benturan antara kalkulasi militer manusiawi mereka yang mengkhawatirkan keselamatan umat dengan skenario besar Allah yang belum mereka ketahui ujungnya.

Meskipun sempat terjadi perdebatan dan adu argumen yang alot dalam majelis musyawarah tersebut, setelah tokoh-tokoh besar seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Miqdad bin 'Amr, dan Sa'ad bin Mu'adz menegaskan kesetiaan total mereka untuk maju ke mana pun Nabi melangkah, mencairlah seluruh keraguan.

Jidal tersebut berakhir dengan kepatuhan mutlak yaitu sami'na wa atha'na, dan seluruh sahabat akhirnya berangkat ke Lembah Badr menjemput kemenangan yang telah Allah gariskan.

***

بَعْدَمَا تَبَيَّنَ

Makna ba'damaa (بَعْدَمَا) adalah: setelah atau sesudah. Makna tabayyana (تَبَيَّنَ) adalah: jelas atau nyata.

Asy-Syaukani dalam tafsir Fathul-Qadir[1] menuliskan setelah jelas bagi mereka bahwa perintah Nabi SAW pastinya juga dengan izin Allah SWT. Maka pertolongan dari Allah SWT adalah hal sudah jelas bagi mereka.

Ada jaminan mereka pasti akan menang melawan pasukan perang. Dan kata ba'da (setelah) merupakan zharaf (keterangan waktu) bagi kata yujaadiluunaka (mereka membantahmu), sedangkan kata maa adalah mashdariyyah, yang berarti: mereka membantahmu setelah kebenaran itu jelas bagi mereka.

***

كَأَنَّمَا يُسَاقُونَ إِلَى الْمَوْتِ

Makna ka-annamaa (كَأَنَّمَا) adalah: seolah-olah atau seakan-akan. Makna yusaaquuna (يُسَاقُونَ) adalah: mereka digiring. Kata ini berasal dari akar kata saqa-yasuqu yang berarti menghalau atau digiring, seperti halnya hewan ternak yang digiring oleh pemiliknya. Makna ilal mauti (إِلَى الْمَوْتِ) adalah: kepada kematian.

Penggalan ini merupakan gambaran puncak kecemasan dan kondisi psikologis sebagian sahabat saat itu, seolah-olah mereka maju ke medan laga hanya sekedar menyerahkan nyawa.

Pasukan Muslim keluar dari Madinah hanya berjumlah sekitar 313 orang, tanpa persiapan baju besi yang memadai, dan hanya memiliki 2 ekor kuda serta 70 ekor unta yang harus dikendarai bergantian.

Sementar musuh datang dari Makkah berjumlah 1.000 orang. Ini secara kuantits berarti sudah tiga kali lipat lebih banyak. Masih ditambah lagi dengan 200 pasukan berkuda, berbaju besi lengkap, dan membawa perbekalan yang melimpah.

Benturan dua kekuatan yang sangat tidak seimbang ini membuat sebagian sahabat merasa bahwa maju ke medan laga sama saja dengan berjalan menuju kebinasaan.

***

وَهُمْ يَنْظُرُونَ

Makna wa hum (وَهُمْ) adalah: sedang mereka atau padahal mereka. Makna yanzhuruuna (يَنْظُرُونَ) adalah: mereka melihat.

Penggalan ini menegaskan bahwa bayangan kekalahan dan kematian itu bukan sekadar kekhawatiran yang samar atau dugaan di dalam hati, melainkan sesuatu yang terasa sangat nyata, konkret, dan seolah-olah terpampang jelas di depan mata mereka.

Dalam balaghah, ungkapan ‘digiring menuju kematian padahal mereka melihat’ biasa digunakan untuk menggambarkan situasi seseorang yang sudah terkunci pergerakannya, tidak bisa mengelak lagi, dan terpaksa menyaksikan sendiri detik-detik kehancuran yang akan menimpanya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Allah SWT menggunakan tamsil yang sangat visual ini agar pembaca dapat merasakan betapa beratnya beban mental, ketegangan, dan ujian keguncangan jiwa yang dialami oleh para sahabat sesaat sebelum Perang Badr berkecamuk.

***


[1] Asy-Syaukani (w. 1250 H), Fathul Qadir, (Beirut, Darul Kalim ath-Thayyib, Cet. 1, 1414 H)

***

REFERENSI KITAB TAFSIR
🔐