| ◀ | Jilid : 18 Juz : 9 | Al-Anfal : 7 | ▶ |
وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ
Kemenag RI 2019: (Ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan ) (yang kamu hadapi) adalah milikmu, sedangkan kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah milikmu. Akan tetapi, Allah hendak menetapkan yang benar (Islam) dengan ketentuan-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya| TAFSIR AL-MAHFUZH |
Ayat ke-7 dari surat Al-Anfal ini bicara tentang Allah yang menjanjikan kepada salah satu dari dua golongan menjadi milik kaum muslimin.
Walaupun dalam hati kecil mereka, kalau boleh memilih, awalnya lebih memilih bisa mendapatkan kafilah dagang, bukan langsung berhadapan dengan pasukan musyrikin yang mempunyai kekuatan senjatalah milikmu.
Namun Allah SWT sendiri sudah punya skenario serta kehendak yang tidak bisa diganggu-gugat. Allah SWT menghendaki kebenaran jadi tegak. Selain ini Allah SWT ini memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya.
وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ
Makna wa idz (وَإِذْ) secara harfiyah adalah : “dan ketika”. Namun ada kata yang mahdzuf di tengahnya yaitu : ingatlah. Maka jadinya : dan ingatlah ketika. Ayat ini mengajak kita untuk kembali mengenang momen krusial sesaat sebelum Perang Badr berkecamuk, di mana Allah SWT memberikan sebuah garansi atau janji yang sangat besar kepada kaum Muslimin.
Makna ya'idukumullah (يَعِدُكُمُ اللَّهُ) adalah: Allah menjanjikan kepadamu. Maksudnya kepada Nabi SAW dan juga para peserta perang Badar.
Jika Allah sudah menjanjikan kemenangan, maka itu berarti sebuah kepastian yang turun dari langit bahwa apa pun jalur yang terjadi nanti, kaum Muslimin pasti akan keluar sebagai pemenang yang mendapatkan keuntungan besar.
Secara mental janji semacam ini sangat membesarkan hati Nabi SAW dan seluruh pasukan muslimin, setelah sebelumnya mental mereka menciut, lantaran mendengar pasukan lawan berjumlah tiga kali lipat berbekal yang amat lengkap.
إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ
Makna ihdal thaa-ifataini (إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ) adalah: salah satu dari dua golongan. Dua golongan atau kelompok yang dimaksud dalam janji ini memiliki karakter yang sangat bertolak belakang. Dalam sejarah Islam disebut sebagai kelompok kafilah dagang disebut al-'iir (العير) dan kelompok pasukan perang disebut an-nafiir (النفير).
Golongan pertama adalah kafilah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Kafilah ini membawa harta benda yang sangat melimpah dari Syam namun hanya dikawal oleh sedikit penjaga, sehingga secara matematis sangat mudah untuk ditundukkan tanpa risiko nyawa yang besar.
Sementara golongan kedua adalah pasukan militer Makkah yang dipimpin oleh Abu Jahal, yang datang dengan kekuatan seribu prajurit bersenjata lengkap demi menantang kaum Muslimin dalam perang terbuka.
Di tengah situasi yang berubah drastis dan membingungkan itu, Allah menurunkan janji-Nya sebagai penenang hati.
أَنَّهَا لَكُمْ
Makna annahaa (أَنَّهَا) adalah: bahwa ia. Makna lakum (لَكُمْ) adalah: untukmu atau menjadi milikmu.
Allah memastikan bahwa kaum Muslimin tidak akan pulang dengan tangan hampa. Jika mereka mengejar kafilah dagang, mereka akan mendapatkan pasan harta yang melimpah secara damai. Namun, jika skenarionya bergeser harus menghadapi pasukan perang, Allah menggaransi bahwa mereka bukan hanya mendapatkan harta rampasan perang, tetapi sekaligus juga akan meraih kemenangan militer yang gemilang dan berhasil menundukkan musuh.
Janji inilah yang menjadi modal keyakinan terbesar bagi Rasulullah SAW dan para sahabat untuk terus melangkah maju, karena lewat kepastian dari Allah ini, hasil akhir dari perjuangan mereka sebenarnya sudah dimenangkan bahkan sebelum pedang pertama sempat diayunkan.
وَتَوَدُّونَ
Makna wa tawadduuna (وَتَوَدُّونَ) berasal dari akar kata (وَدَّ - يَوَدُّ) yang berarti kecintaan, kesukaan atau kecenderungan yang kuat sangat. Dari kata ini kita mengenal istilah mawaddah yang sering kita terjemahkan menjadi : kasih sayang.
Secara perasaan yang paling dalam para sahabat tidak berharap sampai harus berbunuhan hanya gara-gara masalah rebutan harta. Toh yang mereka rebut itu sebenarnya harta milik mereka sendiri, yang tidak sempat mereka bawa ketika pergi hijrah.
Apalagi yang mereka hadapi dalam Perang Badar itu sesungguhnya musuh, tetapi teman-teman mereka sendiri, bahkan banyak yang masih punya hubungan ayah dan anak, kakak dan adik, suami dan istri, paman dan keponanakan.
Abu Bakar tegak berdiri di barisan kaum Muslimin, sementara putranya, Abdul Rahman, saat itu belum memeluk Islam dan berada di barisan pasukan musyrikin Quraisy. Kelak setelah masuk Islam, Abdul Rahman pernah berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, dahulu di Perang Badr engkau berkali-kali berada di hadapanku, namun aku selalu menghindar karena tidak ingin membunuhmu." Abu Bakar kemudian menjawab dengan tegas, "Sekiranya engkau berada di hadapanku saat itu, aku tidak akan menghindar darimu demi membela Allah dan Rasul-Nya."
Utbah bin Rabi'ah adalah salah satu panglima dan pemuka utama Quraisy yang sangat memusuhi Islam. Tragisnya, putranya sendiri, Abu Hudzaifah bin Utbah, telah lama masuk Islam dan ikut berhijrah. Di awal pertempuran, ketika diadakan duel satu lawan satu (mubarazah), Abu Hudzaifah sempat mengajukan diri untuk maju melawan ayahnya sendiri, namun Rasulullah SAW kemudian menunjuk sahabat lain untuk maju demi menjaga perasaan dan psikologis Abu Hudzaifah.
Umar bin Khattab dikenal sebagai sosok yang sangat tegas memisahkan antara kebenaran dan kebatilan tanpa pandang bulu. Di medan Badr, Umar bertemu langsung dan membunuh pamannya sendiri dari pihak ibu, yaitu Al-Ash bin Hisyam bin Al-Mughirah (saudara kandung Abu Jahal).
Mush'ab bin Umair, sang duta Islam yang sangat santun, memegang bendera komando kaum Muhajirin di Badr. Sementara itu, adik kandungnya yang bernama Abu Aziz bin Umair bertempur di kubu kafir Quraisy. Setelah perang usai dan Abu Aziz tertangkap sebagai tawanan, Mush'ab melewati saudaranya itu dan justru berkata kepada sahabat yang mengikatnya, "Ikat dia dengan kuat, ibunya adalah wanita kaya raya, semoga dia mau menebusnya dengan tebusan yang mahal."
Abu Aziz memprotes, "Wahai saudaraku, inikah wasiatmu untuk saudaramu sendiri?" Mush'ab menjawab, "Dia (sahabat yang mengikatmu) adalah saudaraku yang sesungguhnya, bukan kamu."
Ali bin Abi Thalib harus menghadapi kenyataan bahwa kakak kandungnya, Aqil bin Abi Thalib, dan pamannya, Abbas bin Abdul Mutthalib, dipaksa ikut keluar oleh kaum Quraisy untuk berada di barisan musuh, sampai keduanya kemudian ditawan dan kelak memeluk Islam.
Kedekatan nasab ini menjelaskan mengapa Allah SWT menggunakan kata tawadduuna. Di balik keinginan menghindari perang, ada beban psikologis yang sangat berat di dalam hati para sahabat. Jadi atas dasar rasa kasihan dan rasa cinta dengan sangat berharap agar skenario yang terjadi adalah menyergap kafilah dagang yang tidak bersenjata daripada harus berdarah-darah melawan pasukan inti Quraisy.
أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ
Makna anna (أَنَّ) adalah: bahwa. Makna ghaira (غَيْرَ) adalah: bukan atau selain. Makna dzaatisy syaukati (ذَاتِ الشَّوْكَةِ) secara harfiah berarti yang memiliki duri.
Namun dalam konteks ini digunakan sebagai kiasan untuk senjata, kekuatan militer, dan bahaya perang yang bisa melukai atau merenggut nyawa. Ketika Allah menyebut ghaira dzaatisy syaukati maksudnya adalah kafilah dagang yang tidak berisiko mendatangkan luka dan kematian.
Makna takuunu (تَكُونُ) adalah: ia menjadi. Makna lakum (لَكُمْ) adalah: untukmu atau menjadi milikmu.
Para sahabat menginginkan kelompok dagang ini karena selain menjanjikan keuntungan harta yang melimpah secara mudah, mereka juga terhindar dari pertumpahan darah yang mengerikan.
وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ
Makna wa yuriidu (وَيُرِيدُ) adalah: dan Allah menghendaki. Makna Allahu (اللَّهُ) adalah: Allah. Apa yang terjadi kemudian pastinya urusan Allah dan menjadi haq prerogratif-Nya sendiri.
Makna an yuhiqqal (أَنْ يُحِقَّ) berasal dari kata (حَقَّ) yang artinya tetap, nyata, atau terbukti. Sedangkan makna al-haqq (الْحَقَّ) secara harfiyah berarrti : kebenaran.
Makna ungkapan ini yang lebih tepat dan mudah dicerna bukanlah membenarkan yang benar, tetapi menegakkan, memenangkan, atau menampakkan kebenaran secara nyata.
Makna bikalimaatihii (بِكَلِمَاتِهِ) adalah: dengan ayat-ayat-Nya atau dengan ketetapan-Nya.
Sebelum Perang Badr, agama Islam yang dibawa oleh Nabi SAW itu sudah pasti merupakan agama yang benar alias al-haqq. Namun secara realitas politik dan militer di tanah Arab saat itu, kebenaran Islam belum mewujud menjadi kekuatan yang nyata dan disegani. Islam masih dianggap lemah dan terus ditekan oleh kaum Quraisy.
Maka melalui peristiwa Badr, Allah menghendaki supaya kebenaran Islam yang tadinya baru berupa konsep dan keyakinan di dalam hati, berubah menjadi kenyataan politik yang kokoh, menang, dan diakui oleh seluruh bangsa Arab.
وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ
Makna wa yaqtha'a (وَيَقْطَعَ) secara harfiyah adalah: dan memotong. Ungkapan daabiral kaafiriina (دَابِرَ الْكَافِرِينَ) ini menarik. Kata dabir (دَابِرَ) sendiri artinya bagian belakang atau dubur. Bisa juga ekor atau orang yang berjalan paling belakang dari sebuah rombongan.
Jika sebuah pohon dipotong batangnya, ia masih bisa tumbuh dari akarnya. Namun, jika yang dipotong adalah bagian paling belakang atau ekor dari suatu rombongan yang sedang berjalan, itu adalah kiasan bahwa seluruh rombongan yang ada di depannya sudah habis disapu bersih lebih dulu.
Allah SWT menggunakan ungkapan ini untuk menegaskan bahwa kehancuran kekuatan syirik di Badr bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan pemusnahan total terhadap komando militer mereka dari barisan depan sampai barisan paling belakang, tanpa menyisakan kejayaan sedikit pun bagi para pembesarnya.
Dalam catatan sejarah Islam, kelompok penggerak yang menjadi akar kesombongan dan penindasan tersebut diidentifikasi sebagai berikut:
1. Elit Politik dan Jenderal Perang Quraisy
Mereka adalah para pembesar Makkah yang selama tiga belas tahun memimpin penyiksaan terhadap kaum Muslimin, memboikot Nabi, dan menyulut api peperangan. Di medan Badr, Allah sengaja mengumpulkan mereka dalam satu tempat untuk ditumpas. Nama-nama besar yang tewas di antaranya:
§ Abu Jahal (Amr bin Hisyam): Sang "Firaun" umat ini, yang menjadi otak dan motor utama seluruh gerakan anti-Islam di Makkah.
§ Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah: Dua tokoh senior Quraisy yang menjadi lambang kehormatan dan kekuatan strategi mereka.
§ Umayyah bin Khalaf: Tokoh kaya raya yang dahulu menyiksa Bilal bin Rabah di bawah terik matahari.
§ Al-Walid bin Utbah: Ksatria muda Quraisy yang menjadi tumpuan kekuatan militer mereka.
2. Para Para Bohir
Sebelum Perang Badr berkecamuk, ada sekelompok miliarder Makkah yang menjamin logistik pasukan musyrikin dengan menyembelih puluhan ekor unta setiap harinya demi menjaga mental bertempur 1.000 prajurit Quraisy. Mereka inilah para bohir alias penyokong dana utama gerakan kekafiran. Mayoritas dari tokoh dana ini tewas di Badr, yang membuat urat nadi finansial militer Makkah lumpuh seketika.
Melalui kematian 70 tokoh inti ini, Allah benar-benar memotong akar-akar komando Quraisy. Akibatnya pasca-Perang Badr, Makkah mengalami krisis kepemimpinan yang sangat hebat karena generasi tua dan para jenderal senior mereka habis tanpa sisa, menyisakan Abu Sufyan yang mau tidak mau harus mengambil alih kepemimpinan.
Inilah maksud sejati dari menumpas sampai ke akar-akarnya: meruntuhkan pilar-pilar utama yang menyangga eksistensi kebatilan saat itu.
Skenario ini tidak akan pernah tercapai jika kaum Muslimin hanya menuruti keinginan mereka untuk mencegat kafilah dagang Abu Sufyan. Menyergap kafilah dagang paling-paling hanya akan merugikan finansial kaum Quraisy secara temporer, tanpa melemahkan kekuatan militer mereka. Namun, dengan dihadapkannya mereka langsung pada pasukan perang an-nafiir, Allah sengaja menggiring para tokoh, jenderal, dan pemuka inti kekafiran Makkah seperti Abu Jahal, Utbah bin Rabi'ah, Umayyah bin Khalaf, dan Syaibah, untuk masuk ke dalam perangkap Badr.