Dalil-dalil yang dipakai oleh Syeikh al-Albani (w. 1421 H), secara umum dapat dipetakan menjadi dua:
Pertama, Menshahihkan Hadits 11 Rakaat
Ada dua hadits yang dipakai oleh Albani (w. 1421 H) dalam menetapkan pendapatnya:
Pertama, hadits Aisyah yang menyatakan bahwa Nabi tak pernah menambah rakaat, baik dalam Ramadhan atau di luar Ramadhan dari 11 rakaat.
قالت عائشة رضي الله عنها: ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشرة ركعة، يصلي أربعًا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي أربعًا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن، ثم يصلي ثلاثا . ، متفق عليه .
Aisyah berkata: Nabi dahulu tak pernah menambah shalat baik di Ramadhan maupun diluar Ramadhan 11 rakaat. (Muttafaq Alaih)
Kedua, hadits Jabir bin Abdullah:
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال : صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في شهر رمضان ثمان ركعات وأوتر، فلما كانت القابلة اجتمعنا في المسجد ورجونا أن يخرج، فلم نزل فيه حتى أصبحنا، ثم دخلنا، فقلنا يا رسول الله ، اجتمعنا البارحة في المسجد، ورجونا أن تصلي بنا، فقال : إني خشيت أن يكتب عليكم " رواه ابن نصر والطبراني وسنده حسن بما قبله
Dari Jabir bin Abdullah bahwa dahulu Rasulullah shalat di bulan Ramadhan 8 rakaat dan witir. Hadits dari Ibnu Nashr dan at-Thabarani, sanadnya hasan karena hadits sebelumnya
Kedua, Mendhaifkan Hadits 20 Rakaat
Selain menshahihkan hadits shalat malam Nabi saat Ramadhan 11 rakaat, kebalikannya beliau mendhaifkan semua hadits yang menjelaskan shalat 20 rakaat. Jika diteliti lebih lanjut, dalam hal ini beliau banyak mengambil dari tulisan al-Mubarakfuri (w. 1535 H) dalam kitabnya Tuhfat al-Ahwadzi.
Catatan:
Pertama, ulama sepakat tentang shahihnya hadits Aisyah tentang shalat malamnya Nabi, baik di Ramadhan maupun diluar Ramadhan.
Apakah ulama dahulu tak tahu akan adanya hadits itu? Para ulama tentu sudah tahu akan adanya hadits riwayat Aisyah itu.
Hanya masalahnya bukan pada shahih tidaknya suatu hadits. Mereka tak memaknai hadits itu sebagai pembatas jumlah rakaat shalat tarawih harus 11 rakaat.
Kedua, Hadits kedua riwayat Jabir tersebut oleh para ulama belum disepakati keshahihannya. Syeikh Syuaib al-Arnauth dalam Tahqiq Shahih Ibnu Hibban menyatakan bahwa hadits tersebut dhaif karena ada Isa bin Jariah. (Syuaib al-Arnauth, Tahqiq Shahih Ibnu Hibban, h. 6/ 169).
Terlepas dari perbedaan status haditsnya, para ulama tak memakai hadits ini sebagai batasan jumlah shalat tarawih harus 11 rakaat.
Ketiga, memang ada bebarapa hadits yang dhaif terkait shalat tarawih lebih dari 11 rakaat. Hanya saja ada juga yang shahih.
Al-Mubarakfuri (w. 1353 H) sebagai pendahulu al-Albani (w. 1421 H) dalam menyatakan bilangan shalat tarawih 11, beliau menuliskan:
فإن قلتَ: روى البيهقي هذا الأثر بسند آخر بلفظ قال كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة وصحح إسناده النووي وغيره، قلتُ: في إسناده أبو عبد الله بن فنجويه الدينوري ولم أقف على ترجمته فمن يدعي صحة هذا الأثر فعليه أن يثبت كونه ثقة قابلا للاحتجاج
Jika dikatakan, Imam al-Baihaqi (w. 458 H) telah meriwayatkan dengan sanad lain, bahwa pada masa Umar bin Khattab shalat pada malam Ramadhan shalat 20 rakaat, dan sanad ini telah dishahihkan oleh Imam Nawawi (w. 676 H), maka saya (al-Mubarakfuri) katakan:
Dalam sanadnya ada Abu Abdillah bin Fanjawaih ad-Dinawari (w. 414 H), dan ‘saya belum menemukan biografinya’. Bagi yang menyatakan keshahihannya, maka harus mendatangkan bukti bahwa dia tsiqah, agar bisa menjadi hujjah. (Muhammad bin Abdurrahman al-Mubarakfuri w. 1353 H, Tuhfat al-Ahwadzi, h. 3/ 447)
Disini memang al-Mubarakfuri (w. 1535 H) mengakui belum mendapatkan biografi salah satu rawi yang dipakai oleh Imam al-Baihaqi (w. 458 H) dan katanya dishahihkan oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H) juga.
Tapi apakah karena belum mengetahui salah satu rawinya, lantas hadits menjadi dhaif?
Ternyata biografi Abu Abdillah bin Fanjawaih ad-Dinawari (w. 414 H) bukan tidak ada. Kita bisa temukan di beberapa kitab berikut:
Taqiyuddin Abu Ishaq as-Sharifiniy al-Hanbali (w. 641 H) menyebutkan dalam kitabnya al-Muntakhab min Kitab as-Siyaq:
الحسين بن محمد بن الحسين بن عبد الله بن صالح بن شعيب بن فنجويه أبو عبد الله الثقفي الدينوري، شيخ فاضل كثير الحديث، كثير الشيوخ، كثير التصانيف الحسنة والمعرفة بالحديث، روى الحديث نحوا من أربعين سنة، وكتب عنه المشايخ مثل أبي عبد الرحمن، وأبي سعيد بن عليك الحافظ، وغالب بن علي، وكان من ثقات الرجال، روى (سنن أحمد بن شعيب النسائي) ، عن السني
Husain bin Muhammad bin Abdulla bin Shalih bin Syuaib bin Fanjawaih Abu Abdillah as-Tsaqafi ad-Dinawari (w. 414 H) seorang syeikh yang utama. Beliau punya banyak guru, banyak karangan yang bagus, dan pengetahuan terhadap hadits. Banyak masyayikh hadits meriwayatkan dari beliau. Beliau seorang yang tsiqah. (Taqiyuddin Abu Ishaq as-Sharifiniy al-Hanbali (w. 641 H), al-Muntakhab min Kitab as-Siyaq, h. 205)
Bahkan Imam Syamsuddin ad-Dzahabi (w. 748 H) menyebutkan dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala’:
ابن فنجويه: الشيخ الإمام، المحدث المفيد، بقية المشايخ، أبو عبد الله
Ibnu Fanjawaih itu as-Syeikh al-imam, muhaddits yang banyak memberikan faedah. (Syamsuddin ad-Dzahabi (w. 748 H), Siyar A’lam an-Nubala’, h. 13/ 116)
Beliau juga menukil perkataan dari Imam Syirawih al-Hamadzani (w. 509 H):
قال شيرويه في "تاريخه": كان ثقة صدوقا، كثير الرواية للمناكير، حسن الخط، كثير التصانيف
Syirawaih berkata dalam kitab Tarikhnya, Ibnu Fanjawaih itu seorang yang tsiqah dan shaduq. Banyak meriwayatkan hadits munkar, tulisannya bagus, karangannya juga banyak. (Syamsuddin ad-Dzahabi (w. 748 H), Siyar A’lam an-Nubala’, h. 13/ 117)
Biografi Ibnu Fanjawaih juga bisa ditemukan dalam kitab at-Taqyid li Ma’rifat Ruwat as-Sunan wa al-Masanid karya Muhammad bin Abdul Ghani bin Nuqthah al-Hanbali (w. 629), h. 248
Bahkan, al-Albani (w. 1421 H) sendiri menyatakan bahwa Ibnu Fanjawaih (w. 414 H) itu tsiqah. Al-Albani (w. 1421 H) menuliskan:
وأبو عبد الله بن الحسين بن فنجويه الثقفي ثقة مترجم في " سير أعلام النبلاء " (17 / 383) و" شذرات الذهب " (3 / 200)
Abu Abdillah bin Husain bin Fanjawaih as-Tsaqafi itu seorang yang tsiqah. Biografinya bisa ditemukan didalam kitab Siyar A’alm an-Nubala’ dan Syadzarat ad-Dzahab. (Muhammad Nashiruddin al-Albani w. 1421 H, Silsilat al-Ahadits ad-Dhaifah, h. 1/ 185)
Artinya, permintaan dari al-Mubarakfuri (w. 1353 H) agar mendatangkan bukti akan biografi Ibnu Fanjawaih ad-Dinawari (w. 414 H) bahwa beliau tsiqah sudah dijawab sendiri oleh Syeikh Nashiruddin al-Albani (w. 1421 H), Ibnu Fanjawaih itu rawi yang tsiqah.
Pendapat Madzhab Empat
Okelah jikapun dianggap dhaif, buktinya hampir semua madzhab empat dari ulama salaf muktabarah tak ada yang menyatakan bahwa lebih dari 11 rakaat itu bid’ah.
Bahkan kebalikannya, mayoritas ulama menyatakan bahwa shalat tarawih itu jumlahnya 20 rakaat, termasuk dalam Madzhab Hanbali yang dianut oleh kebanyakan ulama Arab Saudi saat ini. Kecuali dalam Madzhab Malikiyyah yang mengambil pendapat 36 rakaat shalat tarawih.
Berikut pernyataan ulama madzhab empat:
Hanafiyyah
Pendapat dari Hanafiyyah di dalam kitab mereka adalah 20 rakaat. Abu al-Barakat an-Nasafi al-Hanafi (w. 710 H) menyebutkan:
وسنّ في رمضان عشرون ركعةً بعشر تسليماتٍ بعد العشاء قبل الوتر وبعده بجماعةٍ
Dalam Ramadhan, disunnahkan shalat malam sebanyak 20 rakaat dengan 10 salam, setelah shalat Isya’, sebelum atau setelah shalat witir dengan berjamaah (Abu al-Barakat an-Nasafi al-Hanafi w. 710 H, Kanz ad-Daqaiq, h. 178)
Al-Kasani (w. 587 H) yang juga merupakan salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan di dalam kitabnya, Badai’Ash-Shana’i’ fi Tartib Asy-Syarai' sebagai berikut :
وَأَمَّا قَدْرُهَا فَعِشْرُونَ رَكْعَةً فِي عَشْرِ تَسْلِيمَاتٍ فِي خَمْسِ تَرْوِيحَاتٍ كُلُّ تَسْلِيمَتَيْنِ تَرْوِيحَةٌ وَهَذَا قَوْلُ عَامَّةِ الْعُلَمَاءِ
Adapun jumlahnya 20 rakaat dengan 10 salam dan 5 kali istirahat. Tiap dua kali salam ada istirahat. Demikian pendapat kebanyakan ulama (Al-Kasani, Badai’us-shana’i’ fi Tartib Asy-Syarai', 1/ 288)
Malikiyyah
Sedangkan dalam Madzhab Malikiyyah, malahan 36 rakaat. Imam Malik (w. 179 H) pernah melarang shalat tarawih kurang dari 36 rakaat di Madinah. Dalam kitab al-Mudawwanah disebutkan:
قال مالك: بعث إلي الأمير وأراد أن ينقص من قيام رمضان الذي كان يقومه الناس بالمدينة، قال ابن القاسم: وهو تسعة وثلاثون ركعة بالوتر ست وثلاثون ركعة والوتر ثلاث، قال مالك: فنهيته أن ينقص من ذلك شيئا، وقلت له: هذا ما أدركت الناس عليه وهذا الأمر القديم الذي لم تزل الناس عليه
Imam Malik bin Anas berkata: Penguasa saat itu mengutus utusan kepadaku, dia ingin mengurangi bilangan rakaat yang telah dijalankan oleh orang-orang Madinah saat itu. Ibnu al-Qasim menyatakan bahwa saat itu sekitar 39 rakaat plus witir. Maka Imam Malik berkata: Saya larang untuk dikurangi, hal itulah yang saya temui dan dijalankan oleh orang-orang saat itu. (Malik bin Anas w. 179 H, al-Mudawwanah, h. 1/ 287)
Imam al-Qarafi al-Maliki (w. 684 H) menyebutkan:
الذي استمر العمل عليه من العدد في قيام رمضان ست وثلاثون ركعة ثلاث وتر
Yang berlaku dalam shalat tarawih (dalam Madzhab Malikiyyah) adalah 36 rakaat dan 3 witir. (Syihabuddin al-Qarafi al-Maliki w. 684 H, ad-Dzakhirah, h. 2/ 407).
Hanya saja Imam Muhammad bin Abdul Barr al-Maliki (w. 463 H) menyebutkan bahwa boleh shalat tarawih kurang dari itu, sedikitnya itu 12 rakaat, dan pilihan Imam Malik bin Anas (w. 179 H) adalah 36 rakaat. Beliau menyebutkan:
وأقل قيام شهر رمضان أثنتا عشرة ركعة مثنى مثنى ثم الوتر
Sedikitnya shalat malam bulan Ramadhan itu 12 rakaat dengan salam ditiap dua rakaat, lantas shalat witir. (Muhammad bin Abdul Barr al-Maliki w. 463 H, al-Kafi fi Fiqhi Ahli al-Madinah, h. 1/ 256).
Syafi’iyyah
Imam as-Syafi’i sendiri (w. 204 H) menyebutkan:
فأما قيام شهر رمضان فصلاة المنفرد أحب إلي منه ورأيتهم بالمدينة يقومون بتسع وثلاثين، وأحب إلي عشرون؛ لأنه روي عن عمر وكذلك يقومون بمكة ويوترون بثلاث.
Shalat malam bulan Ramadhan itu sendiri lebih saya sukai. Ketika di Madinah, saya melihat mereka shalat 36 rakaat, sedangkan saya suka 20 rakaat. Karena itulah yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab. Mereka di Makkah shalat seperti itu, dan witir 2 rakaat. (Muhammad bin Idris as-Syafi’i w. 204 H, al-Umm, h. 1/ 167)
Abu Ishaq as-Syairazi (w. 476 H) menyebutkan:
ومن السنن الراتبة قيام رمضان وهو عشرون ركعة بعشر تسليمات
Shalat malam di bulan Ramadhan itu 20 rakaat dengan 10 salam. (Abu Ishaq as-Syairazi w. 476 H, al-Muhadzzab, h. 1/ 159)
Ibnu Hajar al-Haitami as-Syafi’i (w. 974 H) menyebutkan:
فأصل مشروعيتها مجمع عليه وهي عندنا لغير أهل المدينة عشرون ركعة كما أطبقوا عليها في زمن عمر - رضي الله عنه -
Shalat malam bulan Ramadhan selain penduduk Madinah adalah 20 rakaat. (Ibnu Hajar al-Haitami as-Syafi’i w. 974 H, Tuhfat al-Muhtaj, h. 2/ 240).
Hanabilah
Kita akan melihat pendapat ulama madzhab Hanbali. Imam Abu al-Qasim Umar bin Husain al-Khiraqi (w. 334 H) menyebutkan:
وقيام شهر رمضان عشرون ركعة
Shalat malam bulan Ramadhan itu 20 rakaat. (Imam Abu al-Qasim Umar bin Husain al-Khiraqi (w. 334 H), Mukhtashar al-Khiraqi, h. 29)
Ibnu Quddamah al-Hanbali (w. 620 H) menyebutkan:
مسألة: قال (وقيام شهر رمضان عشرون ركعة)
Shalat malam bulan Ramadhan itu 20 rakaat. (Ibnu Quddamah al-Hanbali w. 620 H, al-Mughni, h. 2/ 122)
Bahkan Imam Manshur bin Yunus al-Buhuti (w. 1051 H) menyebutkan:
(ولا بأس بالزيادة) على العشرين (نصا)
Tidak mengapa menambahi 20 rakaat. Inilah nashnya (dalam madzhab Hanbali) (Manshur bin Yunus al-Buhuti w. 1051 H, Kasyaf al-Qina’, h. 1/ 426).
Lebih dari itu, Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) malah suka menambah shalat malam. Tak hanya lebih dari 11, tapi sampai tidak terhitung.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (w. 290 H); putra dari Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) menceritakan bahwa bapaknya yaitu Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) saat malam Ramadhan beliau shalat sangat banyak.
وقال عبد الله: رأيت أبي يصلي في رمضان ما لا أحصي
Pada malam hari bulan Ramadhan, saya melihat bapak saya shalat dengan bilangan yang tidak bisa saya hitung/ sangat banyak. (Ibrahim bin Muhammad bin Muflih al-Hanbali w. 884 H, al-Mubdi’ fi Syarh al-Muqni’, h. 2/ 22).
Bagaimana dengan Ibnu Taimiyyah al-Hanbali (w. 728 H)? Beliau menyebutkan bahwa pada zaman Umar bin Khattab, mereka melaksanakan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat. Beliau menuliskan:
فلما كان ذلك يشق على الناس قام بهم أبي بن كعب في زمن عمر بن الخطاب عشرين ركعة، يوتر بعدها
Ketika agak berat, maka Ubay bin Kaab pada zaman Umar bin Khattab shalat tarawih 20 rakaat ditambah witir (Ibnu Taimiyyah al-Hanbali w. 728 H, al-Fatawa al-Kubra, h. 2/ 254)
Bahkan sebagian “salaf” menurut Ibnu Taimiyyah malah shalat tarawih sebanyak 40 rakaat, adapula 36 rakaat. Beliau menyebutkan:
وكان بعض السلف يقوم أربعين ركعة فيكون قيامها أخف، ويوتر بعدها بثلاث. وكان بعضهم يقوم بست وثلاثين ركعة يوتر بعدها، وقيامهم المعروف عنهم بعد العشاء الآخرة.
Sebagian ‘salaf’ shalat 40 rakaat, sebagiannya 36 dilanjutkan witir setelahnya. (Ibnu Taimiyyah al-Hanbali w. 728 H, al-Fatawa al-Kubra, h. 2/ 254)
Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menyebutkan bahwa memang benar shahih, bahwa dahulu Ubay bin Kaab shalat 23 rakaat.
تنازع العلماء في مقدار القيام في رمضان، فإنه قد ثبت أن أبي بن كعب كان يقوم بالناس عشرين ركعة في قيام رمضان، ويوتر بثلاث
Para ulama berbeda pendapat terkait berapa rakaat shalat pada malam Ramadhan. Telah tetap bahwa Ubay bin Kaab itu shalat malam Ramadhan sebanyak 20 rakaat dengan 3 witir. (Ibnu Taimiyyah al-Hanbali w. 728 H, al-Fatawa al-Kubra, h. 2/ 254).
Hal itu karena memang Nabi tidak menetapkan bilangan khusus untuk shalat tarawih. Ini adalah perkataan dari Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) yang berbeda dengan yang dinyatakan oleh al-Albani (w. 1421 H).
والصواب أن ذلك جميعه حسن، كما قد نص على ذلك الإمام أحمد - رضي الله عنه - وأنه لا يتوقت في قيام رمضان عدد، فإن النبي - صلى الله عليه وسلم - لم يوقت فيها عددا
Yang benar adalah semuanya baik, hal ini yang telah dinashkan oleh Imam Ahmad bahwa shalat pada malam Ramadhan itu tak ditentukan jumlah bilangannya (Ibnu Taimiyyah al-Hanbali w. 728 H, al-Fatawa al-Kubra, h. 2/ 250).
Menurut Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), kebingungan muncul karena mengira bahwa ada pertentangan antara dalil hadits shahih dengan perbuatan shahabat dan umat Islam. Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menyebutkan:
واضطرب قوم في هذا الأصل، لما ظنوه من معارضة الحديث الصحيح لما ثبت من سنة الخلفاء الراشدين، وعمل المسلمين
Beberapa orang bingung akan hal ini, karena menyangka bahwa hadits shahih bertentangan dengan apa yang telah dijalankan oleh para khalifah ar-Rasyidun dan umat Islam. (Ibnu Taimiyyah al-Hanbali w. 728 H, al-Fatawa al-Kubra, h. 2/ 250).
Nah, kira-kira dari pemaparan diatas, kita pilih ikut mana? Ikut Syeikh al-Albani (w. 1421 H) dengan menyatakan bahwa lebih dari 11 rakaat itu bid’ah? Atau ikut Ibnu Taimiyyah, Imam Ahmad bin Hanbal dan sekian banyak ulama yang lain?
Atau ikut Nabi saja? Lah, memangnya Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) tidak ikut Nabi? Atau Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) tidak ikut Nabi? Sekian ulama yang lain memangnya juga tidak ikut Nabi? Pilihan akhir kembali kepada para pembaca sekalian saja.
Selanjutnya Kekurang Tepatan Terhadap Pemahaman Pernyataan Ulama Terkait Harus 11 Rakaat