Assalamu'alaikum Ustadz,
Afwan sebelumnya, entah ini surat ana yang keberapa kali. Dan ana juga agak pesimis mendapat jawaban karena beberapa pertanyaan ana terdahulu tidak pernah mendapat jawaban.
Jujur di malam tahun baru kemarin ana merasa miris melihat cara umat Islam di jakarta ini merayakan malam tahun baru. Apalagi jika kita mau membandingkan di malam 1 Muharam ini sangat jauh perbedaannya dari malam tahun baru masehi kemarin.
Budaya dzikir, qiyamul lail dan pengajian apapun dimalam tahun baru masehi yang telah berlangsung beberapa tahun ini membuat kekhawatiran ana akan menjadi suatu budaya yang mendekati kewajiban bagi umat Islam saat ini.
Bukankah hal itu bisa saja terjadi menjadi seperti acara 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari dan seterusnya jika ada muslim yang wafat seperti di nusantara ini? Memang pada awalnya niat para wali songo ataupun para ulama saat ini adalah baik, daripada memberi sesajen di acara 3 hari dan seterusnya lebih baik di isi dengan tahlil, tahmid dan dzikir bersama. Jika ulama sekarang, dari pada kita hura-hura di acara tahun baru masehi lebih baik kita isi acara dengan yang baik-baik seperti dzikir, qiyamul lail dan pengajian bersama-sama....bukankah ini menjadi bahaya untuk masa depan umat?
Kenapa jika memang ingin mengadakan dzikir dan pengajian di malam tahun baru bukan diadakan di tahun baru Islam? Bandingkan saja kemeriahannya pada tahun ini... Bagaimana para penerus generasi Islam hafal akan nama bulan hijriah jika para ulama sendiri lebih membesarkan acara tahun baru masehi? Mari kita bercermin...
Memang ini adalah tantangan buat generasi kita dan akan datang... Dan ana berharap ada perubahan di tahun depan, agar gaung Tahun Baru Hijriah dapat lebih bergema di negara yang notabene adalah 90% muslim. Jangan seperti tahun ini.... Pergantian tahun baru Hijriah sunyi senyap seolah libur hari biasa... Tidak ada acara khusus di televisi dan sebagainya....bahkan di masijd-masjid pun sunyi senyap tiada acara yang menghebohkan seperti dimalam tahun baru masehi.
Dzikir dan pengajian bersama tidak lah salah.... namun penempatan waktu dan ruangnya saja yang sepertinya harus kita koreksi demi generasi umat Islam dimasa mendatang....
Wassalamualaikum,
Abu Thoriq