Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Patokan shaf makmum ada pada orang yang berdiri persis di belakang imam. Karena dari sanalah shaf itu mulai dibangun.
Kalau ada tiga orang makmum, maka ada satu orang yang berdiri tepat di belakang imam, satu temannya membuat barisan dengan berdiri di sebelah kanannya. Satu lagi membuat barisan dengan berdiri di sebelah kirinya.
Dan begitulah seterusnya, setiap kali ada satu makmum datang, dia berdiri di sebelah kanan barisan itu, bila kanan telah terisi satu orang, agar shaf itu seimbang, maka dia berdiri di sebelah kiri barisan itu. Sehingga panjang shaf itu seimbang dengan titik berat ada di tengah.
Makmumyang berdiri di tengah itu sebagai sandaran dari barisan. Bahkan seandainya imam batal shalatnya, dia pula yang berhak menggantikan imam. Termasuk kalau imam salah gerakan atau salah bacaan, dia juga yang membetulkan.
Jadi posisi orang yang berada di belakang imam itu memang sangat penting, bagai pesawat, maka dia adalah co-pilot.
2. Menurut mazhab Asy-Syafi'i, seorang makmum tetap diwajibkan membaca surat Al-Fatihah, meski sudah ada bacaan imam. Namun saat imam membaca surat Al-Fatihah itu, makmum diharuskan untuk mendengarkan.
Makmum baru membaca surat itu manakala imam sudah selesai membacanya. Jadi tempatnya adalah pada saat imam sedang atau akan membaca surat pendek.
3. Benar sekali, saat kita membaca ayat Al-Quran sebagai makmum, kita diharuskan melirihkan bacaan, agar tidak menggangu jamaah lain di sebelah kita.
4. Tempat dzikir bukan pada saat berdiri, jadi kalaukita sudah selesai membaca ayat pendek tapi imam belum juga selesai, kita boleh diam saja atau membaca ayat yang lainnya.
5. Pertanyaan yang antri di kami sekarang nyaris mendekati angka 11.000 buah. Kami sangat menyesal kalau belum mampu menjawab semua kebutuhan itu. Semoga suatu saat nanti ada jalan keluarnya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
KH. Dr. Ahmad Sarwat, Lc.,MA