Asalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
1. Sayang sekali nyaris saya belum pernah menemukan adanya masjid yang punya program brilyan seperti itu, yaitu mengkader para calon ulama dengan menyekolahkan dari jamaah masjid itu para pemuda/mahasiswa yang potensial ke pusat keilmuwan Islam di dunia.
Kebanyakan masjid di negeri kita hanya berpikir jangka pendek, misalnya bagaimana menyelenggarakan perayaan maulid nabi, isra' mi'raj, nuzulul quran, nisfu sya'ban atau khutbah jumat tiap pekan. Tidak pernah berpikir bagaimana melahirkan para ulama.
Dan untuk semua keperluan itu, para takmir masjid biasanya mendatangkan para penceramah dari mana-mana. Sayangnya, seringkali tanpa kualifikasi yang tegas tentang kafa'ah ilmiyah mereka. Asalkan seorang penceramah sudah sering tampil di TV atau setidak cukup ngetop, biasanya selalu jadi incaran para takmir masjid. Urusan materi ceramah dan kurikulum materi, biasanya terserah para penceramah.
Sayangnya lagi, bahkan masjid-masjid yang dari sisi keuangannya sangat sehat dan makmur, ternyata programnya tidak berbeda. Lagi-lagi hanya sekedar merangkai parade ceramah.
Belum terpikir untuk jangka panjang, yaitu membiayai para calon ulama berkuliah di Al-Azhar, Madinah atau lainnya. Keuntungannya akan didapat dalam 4 tahun kemudian, yaitu saat mereka lulus S-1 dengan kualifikasi international, mereka akan jadi para imam masjid yang handal dan mumpuni. Paling tidak untuk ukuran Indonesia.
Kemampuan minimal mereka adalah bisa bahasa Arab baik lisan maupun tulisan dengan baik, mampu menelaah kitab-kitab syariah, punya bacaan quran yang baik, mengerti detail syariah yang bersifat umum.
Tentunya tidak semua masjid melakukan pengkaderan seperti di atas. Namun beberapa masjid di perkotaan yang managemen keuangannya sudah baik, tidak ada salahnya mencoba menerapkannya.
2. Pertanyaan ini terkait dengan managmen masjid dan pengelolaan sumber-sumber dananya. Beberapa masjid di perkotaan sebenarnya sangat mampu untuk menghidupi seorang imam masjid dengan standar gaji yang layak.
Dan ini bisa kita hitung-hitung secara kasar, misalnya dari pendapatan kotak amal tiap jumat yang biasanya dibacakan menjelang khutbah, kita bisa memperhitungkan kemampuan finansial suatumasjid. Beberapa masjid di Jakarta bisa mendapatkan belasan juta rupiah tiap minggu, terutama yang berada di wilayah perkantoran dan sejenisnya.
Dengan pemasukan belasan juta rupiah seminggu, menggaji imam masjid yang qualified tidak jadi masalah tentunya.
3. Pertimbangan menyekolahkan calon ulama di luar negeri bukan sekedar gengsi-gengsian. Tetapi secara realistis memang sangat dibutuhkan untuk mendapat standar yang baik.
Pertimbangannya, mereka yang bisa disekolahkan ke luar negeri (baca: timur tengah) tidak sembarangan. Hanya mereka yang lolos ujian saringan super ketat saja yang bisa berangkat. Ini akan membantu menyeleksi calon ulama untukmendapatkan bibit yang terbaik.
Pertimbangan lainnya adalah bahwa kualitas pengajar di berbagai Universitas Islam di Timur Tengah itu secara umum memang baik. Mereka adalah pakar di bidangnya yang berbicara tentang ilmu-ilmu yang mendasar.
Para mahasiswa itu akan bertemu langsung dengan pakar ahli tafsir sungguhan, pakar ahli hadits sungguhan, pakar ahli fiqih sungguhan dan semua yang ulama dunia yang ekspert di bidangnya. Masih ditambah dengan perpustakaan yang lengkap, suasana belajar yang kondusif dan beasiswa yang baik.
Berbeda dengan kampus atau ma'had di tanah air, di mana umumnya pengajarnya kurang qualified, bahkan banyak di antara mereka yang hanya lulusan S-1 saja. Plus kemampuan bahasa yang seadanya. Tanpa perpustakaan, tanpa daya saing dan juga tanpa beasiswa.
Apa yang sedang diusahakan oleh pembimbing haji anda itu hanya anak tangga pertama menuju anak tangga berikutnya. Lulusan-lulusan dari programnya adalah calon-calon mahasiswa yang harus diseleksi lagi lagi untuk bisa masuk ke berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah. Tetap harus dibantu dan dikembangkan oleh semua pihak. Tetapi belum menjadi standar minimal kebutuhan.
Wallahu a'lam bishshawab, wasalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
KH. Dr. Ahmad Sarwat, Lc.,MA