Rumah Fiqih Indonesia

TAFSIR AL-MAHFUZH

Mon, 29 June 2026
Al-A`raf 196-199 (hal. 176)

Surat 7 Ayat 199

...

Ayat ke-199 dari surat Al-A'raf ini masih terkait dengan ayat sebelumnya. Posisinya kurang lebih sebagai solusi. Jika ayat sebelumnya memperlihatkan betapa bebal dan butanya hati kaum musyrik hingga bertingkah irasional menyembah benda mati, maka ayat 199 ini mengajarkan Nabi Muhammad SAW bagaimana cara terbaik untuk menghadapi mereka.

Allah SWT perintahkan Nabi SAW untuk memaafkan segala perilaku orang-orang jahil itu dan berpaling dari mereka.

???? ?????????

Makna khudzi (????) adalah: ambillah, ini kata kerja yang asalnya dari kata (??? ????). Makna al-'afwa (?????????) adalah: maaf atau permaafan.

Al-Mawardi dalam tafsirnya An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] menguraikan tiga ragam penafsiran ulama. Pandangan yang paling masyhur dipegang oleh Abdullah bin Az-Zubair, Al-Hasan Al-Bashri, dan Mujahid. Mereka memaknai kata tersebut sebagai perintah untuk menerima apa yang mudah dan wajar dari watak serta perbuatan manusia. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad SAW diarahkan untuk tidak menuntut kesempurnaan sikap, melainkan mengambil sisi baik yang mampu diberikan masyarakat secara sukarela. Pemaknaan ini berlaku abadi sebagai kaidah universal dalam merawat hubungan sosial sehari-hari.

Sudut pandang yang sama sekali berbeda diajukan oleh Ad-Dahhak, As-Suddi, dan salah satu riwayat dari Ibnu Abbas yang menarik makna kata tersebut ke ranah finansial. Mereka menafsirkan al-'afwa (?????) sebagai instruksi untuk mengambil harta kelebihan milik kaum muslimin untuk disedekahkan, sebelum adanya syariat zakat.

Sedangkan Ibnu Zaid mengatakan ini perintah bagi Nabi untuk menahan diri, memaafkan, dan membiarkan perlakuan buruk mereka tanpa membalasnya dengan peperangan. Serupa dengan urusan harta sebelumnya, Ibnu Zaid memandang instruksi ini sebagai kebijakan sementara di awal dakwah, yang masa berlakunya kemudian selesai setelah turunnya syariat jihad atau izin perlawanan bersenjata.

???????? ???????????

Makna wa'mur (????????) adalah: dan suruhlah atau perintahkanlah. Makna bil-'urfi (???????????) adalah: mengerjakan yang makruf atau dengan kebaikan.

Al-Mawardi dalam tafsirnya An-Nukat wa Al-‘Uyun[2] mencatat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa makna kata tersebut adalah al-ma'ruf (???????) atau kebaikan secara umum, sebagaimana yang dikemukakan oleh Urwah dan Qatadah.

Sementara itu, pendapat kedua didasarkan pada riwayat dari Nabi SAW ketika ayat ini turun. Saat itu Nabi bertanya, "Wahai Jibril, apa maksudnya ini?" Jibril menjawab bahwa dirinya tidak tahu sampai ia bertanya kepada Yang Maha Mengetahui. Kemudian Jibril kembali dan menyampaikan :

?? ????????? ???? ??????? ?????????? ??? ?????? ??? ???????? ????????? ??? ????????? ????????? ??????? ????????

"Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu memerintahkanmu untuk menyambung tali silaturahmi dengan orang yang memutusnya darimu, memberi kepada orang yang menghalangimu dari pemberian, serta memaafkan orang yang menzalimimu."

Pendapat kedua ini dikemukakan oleh Ibnu Zaid.

?????????? ???? ?????????????

Makna wa-a'ridh (??????????) adalah: dan berpalinglah. Makna 'ani (????) adalah: dari. Makna al-jaahiliina (?????????????) adalah: orang-orang yang bodoh.

Ada hal yang sedikit mengusik rasa ingin tahu kita, bagaimana mungkin Allah memerintahkan untuk berpaling dari orang-orang jahil? Bukankah kewajiban Nabi SAW mengajak mereka? Bukankah menentang kemungkaran mereka adalah wajib?

Jawabannya bahwa yang dimaksud dengan berpaling di sini sebagai lawan dari membalas tindakan kasar yang mereka lakukan. Sebuah instruksi tegas untuk tidak meladeni provokasi, cemoohan, maupun perilaku kasar yang sengaja dilontarkan oleh kelompok masyarakat yang menolak menggunakan akal sehatnya. Ketika orang-orang jahil tersebut memancing emosi dengan cacian atau debat kusir yang tidak berujung, merespons dan membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama justru akan merendahkan martabat risalah yang dibawa oleh Nabi.

Fase ini adalah fase dimana Allah SWT belum lagi menurunkan syariat perang dan angkat senjata. Ketimbang berkonfrontasi secara fisik dengan kaum sendiri, yang nantinya hanya akan melahirkan luka fisik dan luka di hati, Allah SWT berikan jalan keluar, yaitu menghindar saja.

Sebab jika perilaku kasar dan kekerasan mereka mau dijawab dengan kekerasan juga, lantas apa perbedaan yang paling mudah dilihat dari agama Islam dengan agama nenek moyang mereka? Toh, sama-sama mengajarkan kekerasan juga pada akhirnya, bukan?

Maka perintah untuk berpaling itu bukan meninggalkan tugas dakwah sebagaimana Nabi Yunus alaihissalam, namun perintah ini dimaksudkan untuk menahan diri dari membalas kekerasan mereka.

 



[1] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1)



[2] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1)


< Kajian Sebelumnya Kajian Selanjutnya >
2022 : Nop | Des
2023 : Jan | Peb | Mar | Apr | Mei | Jun | Jul | Agt | Sept | Okt | Nop | Des
2024 : Jan | Peb | Mar | Apr | Mei | Jun | Jul | Agt | Sept | Okt | Nop | Des
2025 : Jan | Peb | Mar | Apr | Mei | Jun | Jul | Agt | Sept | Okt | Nop | Des