Ayat ini diawali dengan wawul-‘athaf (وَ) yang menunjukkan ada keterkaitan antara ayat ini dan ayat sebelumnya. Sedangkan qaala (قَالَ) adalalh fi’il madhi dan bentuk mudhari’nya (قَالَ - يَقُوْل) dimana maknanya : “dan telah berkata”.
Lafazh alladzinat-taba’u (الَّذِينَ اتَّبَعُوا) maknanya : “orang-orang yang mengikuti”. Mereka inilah yang di dalam ayat ke-165 disebut-sebut sebagai orang zhalim yang telah menjadikan makhluk-makhluk selain Allah SWT sebagai tandingan.
Allah SWT menceritakan dengan gaya sastra yang teramat tinggi, bahwa di kemudian hari mereka pasti akan amat sangat menyesali sikap dan tindakan mereka sendiri terdahulu. Hal itu disebabkan mangkirnya pemimpin mereka yang telah menjerumuskan mereka di dunia. Ternyata di akhirat atau dalam neraka mereka sama sekali berlepas tangan, tidak mau bertanggung-jawab atas ulah yang ditimbulkan.
Lafazh lau anna lana (لَوْ أَنَّ لَنَا) bermakna : “Seandainya kami mendapatkan”. Ini semacam impian yang tidak mungkin terwujud alias halusinasi, yang menunjukkan betapa menyesalnya mereka ketika pemimpinnya berlepas tangan dan tidak mau bertanggung-jawab atas ajakan dan ajaran yang telah didoktrinkan kepada mereka.
Lafazh karratan (كَرَّةً) menurut Al-Qurtubi artinya adalah (الرَّجْعَةُ وَالْعَوْدَةُ إِلَى حَالٍ قَدْ كَانَتْ) yaitu kembali dan kepulangan kepada keadaan yang sebelumnya. Maksudnya mereka berhayal seandainya mereka bisa dikembalikan lagi ke dalam kehidupan di dunia.[1]
Kisah penyesalan para penghuni neraka dan sangat ingin kembali lagi ke dunia untuk memperbaiki diri, cukup banyak diulang-ulang dalam Al-Quran, antara lain :
وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. (QS. Al-Anam : 28)
فَهَلْ لَنَا مِنْ شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا أَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ
Maka adakah bagi kami pemberi syafa´at yang akan memberi syafa´at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan? (QS. Al-Araf : 53)
رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ
"Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (QS. Ibrahim : 44)
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), (QS. Al-Mukminun : 99)
فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman". (QS. Asy-Syuara : 102)
وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ
Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin". (QS. As-sajdah : 12)
أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ´Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik´. (QS. Az-Zumar : 58)
وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ وَلِيٍّ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ
Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: "Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?" (QS. Asy-Syura : 44)
[1] Al-Qurthubi (w. 681 H), Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M), jilid 2 hal. 206
Lafazh natabarra’ minhum (فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ) maknanya : “kami akan berlepas diri dari mereka”. Lafazh kama tabarra’uu minna (كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا) artinya : “sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”.
Kalau mendengar sekilas apa yang menjadi tekad orang-orang kafir para penghuni neraka itu, yaitu ingin menjad orang yang shalih dan tidak akan ikut kepada pemimpin yang mengajak kepada kekafiran, mungkin akan terbawa perasaan kasihan. Dan boleh jadi kalau Allah SWT mengabulkan hal itu, bisa saja mereka kembali hidup di dunia menjadi orang shalih.
Masalahnya, keinginan macam itu hanya ada dalam ilusi saja, dalam kenyataannya Allah SWT tegas menyatakan bahwa hal semacam itu tidak akan terjadi. Kalau sudah mati dalam keadaan kafir, sudah tidak bisa diubah lagi. Ibarat nasi sudah jadi bubur, sudah tidak ada lagi harapan sedikit pun.
Oleh karena itu pesan yang sangat tegas dari membaca ayat ini adalah jangan coba-coba jadi orang kafir, pasti nanti di neraka akan menyesal tanpa guna.
Dan tidak lah mereka keluar dari api neraka. Ini adalah kesempurnaan bentuk siksaan di akhirat, yaitu siksaan tanpa akhir. Dan dikhususkan hanya untuk orang-orang kafir saja.
Sebagaimana sudah pernah diulas sebelumnya dalam kajian tafsir ini, ada dua macam penghuni neraka, yaitu :
Penghuni pertama : adalah mereka yang tinggal sementara saja, yaitu mereka yang mati dalam keadaan muslim, namun terbanyak dosanya. Sehingga terpaksa harus dibayarkan dulu dosanya di dalam neraka. Namun kalau nanti sudah selesai disiksa, maka pada akhirnya akan dikeluarkan lagi.
Penghuni kedua : adalah mereka yang tinggal untuk selamanya di dalam neraka, yaitu orang-orang yang mati dalam keadaan kafir. Mereka itu adalah orang-orang yang dimaksud di ayat ini, yaitu mereka yang tidak pernah keluar dari neraka.