Kemenag RI 2019:Perumpamaan (penyeru) orang-orang yang kufur adalah seperti (penggembala) yang meneriaki (gembalaannya) yang tidak mendengar (memahami) selain panggilan dan teriakan (saja). (Mereka) tuli, bisu, dan buta sehingga mereka tidak mengerti. Prof. Quraish Shihab:Perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang yang kafir (kepada kebenaran) adalah seperti (penggembala) yang berteriak memanggil (binatang) yang tidak mendengar (tidak memahami atau tidak dapat memanfaatkan suara panggilan itu) selain panggilan dan seruan (saja). Mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak berpikir. Prof. HAMKA:Dan perumpamaan orang-orang yang tidak mau percaya itu ialah seumpama orang yang mengimbau kepada barang yang tidak mendengar kecuali panggllan dan seruan; tuli, bisu, buta. Oleh sebab itu, tidaklah mereka berakal.
Ayat ke-171 ini tentu saja merupakan sambungan dan bertalian erat dengan ayat sebelumnya, yaitu ayat ke-170 yang membicarakan perilaku orang-orang kafir, dimana mereka enggan mengikuti Al-Quran dan hanya mau mengikuti ajaran warisan dari nenek moyang mereka.
Dan di ayat ini kemudian Allah SWT menegaskan letak titik kesesatan mereka dan menunjukkan kesalahan mereka yang fatal dan menganga. Caranya dengan memberikan sebuah perumpamaan yang punya efek mendalam.
Memang begitu lah Al-Quran sebagai kitab yang penuh sastra yang sedemikian tinggi, penuh dengan metafora dan perumpamaan-perumpamaan yang sebegitu mendalam, sehingga teras sekali menusuk sukma orang-orang yang masih kurang bisa memahami.
وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا
Lafazh wa matsalu (وَمَثَلُ) artinya : “dan perumpamaan”, sedangkan lafazh alladzina kafaru (الَّذِينَ كَفَرُوا) artinya : “orang-orang kafir”.
Orang-orang di dalam Al-Quran seringkali diberi berbagai perumpamaan oleh Allah SWT. Salah satunya disebut bahwa amal-amal orang kafir itu tidak ada gunanya, diibaratkan seperti abu yang ditiup angin kencang dan beterbangan.
Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. (QS. Ibrahim : 18)
Dalam ayat lain disebutkan bahwa amal-amal mereka diibaratkan seperti fatamorgana di atas tanah, dikira air padahal bukan.
Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. (QS. An-Nur : 39)
Di kali lain bahwa tindakan orang kafir yang suka mengambil pelindung selain Allah seperti laba-laba membangun rumah, yang sangat lemah dalam pandangan manusia.
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. (QS. Al-Ankabut : 41)
Dan ada juga Al-Quran menyebut orang-orang kafir yang telah diberi Taurat tapi tidak dijalankan isinya, mereka diumpamakan seperti keladai yang memikul kitab suci.
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. (QS. Al-Jumuah : 5)
كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ
Khusus di ayat ini Allah mengumpamakan mereka seperti hewan ternak yang tidak memahami bahasa manusia. Sebagai ternak, yang bisa mereka dipahami hanya teriakan penggembala yang mengusir atau menghalau mereka dengan teriakan dan jeritan. Sedangkan bila diajak diskusi dan tukar pikiran serta membahas masalah yang butuh pemikiran, jelas-jelas ternak itu tidak akan mampu melakukannya. Mereka hanya bisa memahami teriakan yang menghalau saja.
Lafazh yan’iqu (يَنْعِقُ) dimaknai dengan : “teriakan”. Makna aslinya adalah istilah khusus untuk menyebut suara yang diteriakkan oleh anak gembala kepada hewan-hewan yang digembalakannya. Memang untuk menghalau hewan ternak harus dengan teriakan yang keras agar mereka bisa mendengar dan memahami apa yang diperintahkan.
Sekedar catatan bahwa beberapa jenis hewan tertentu ada yang bisa diperintah oleh manusia lewat suara vokal dan lisan manusia. Kucing atau anjing peliharaan misalnya, bisa diperintah oleh tuannya untuk duduk, berbaring, pergi, datang dan lainnya. Namun itu hanya terjadi pada ruang lingkup yang amat terbatas serta lewat latihan yang intensif.
Sedangkan kambing, sapi atau unta biasanya tidak secerdas itu. Ternak semacam itu tidak bisa diperintah pakai suara manusia, kecuali untuk menghalau saja lewat teriakan tertentu. Suara teriakan anak gembala ketika menghalau ternaknya itulah yang disebut dengan yan’iqu (يَنْعِقُ)
بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً
Lafazh yasma’u (يَسْمَعُ) secara harfiyah berarti : “mendengar”. Namun yang dimaksud sebenarnya bukan sekedar mendengar tetapi lebih jauh dari maksudnya adalah : memahami perkataan manusia.
Sesuai dengan sunnatullah, hewan-hewan ternak seperti kambing, sapi atau unta itu meski bisa mendengar suara manusia, namun pada dasarnya tidak bisa memahami apa yang diucapkan oleh manusia. Otak ternak tidak didesain untuk bisa memahami bahasa verbal manusia yang terlalu kompleks bagi hewan, karena terdiri dari kombinasi suara vokal, konsonan, kata, frasa, dan lainnya.
Lafazh illa (إِلَّا) maknanya : “kecuali”, maksudnya hewan tidak bisa mendengar alias tidak bisa memahami bahasa manusia, kecuali hanya bisa menangkap perintah yang sederhana, yaitu dinamakan dengan du’a (دُعَاءً) dan nida’ (نِدَاءً).
Lafazh du’a (دُعَاءً) dan nida’ (نِدَاءً) oleh para ulama dipahami secara berbeda-beda. Dalam tiga versi terjemahan, baik Kemenag RI, Quraish Shihab atau pun Buya HAMKA. keduanya diartikan secara sederhana menjadi ‘panggilan’ dan ‘seruan’ atau ‘teriakan’.
Sebagian ahli tafsir ada yang mengatakan bahwa antara keduanya tidak ada bedanya secara makna, hanya sekedar sinonim yang fungsinya hanya menguatkan saja, tanpa ada sedikit pun perbedaan makna. Baik du’a (دُعَاءً) ataupun nida’ (نِدَاءً) dianggap sama-sama panggilan khusus untuk hewan.
Namun sebagian ulama ahli tafsir yang lain punya pandangan bahwa keduanya tidak mungkin dianggap sama. Dasarnya karena antara keduanya dipisahkan dengan huruf wawul-‘athaf (وَ).
Hanya saja mereka tidak sependapat ketika menjelaskan makna masing-masing. Ada yang bilang du’a (دُعَاءً) itu panggilan yang terdengar suaranya, sedangkan nida’ (نِدَاءً) adalah panggilan yang bisa terdengar dan bisa tidak. Ada lagi yang mengatakan bahwa du’a (دُعَاءً) itu panggilan untuk sesuatu yang dekat, sedangkan nida’ (نِدَاءً) adalah panggilan untuk sesuatu yang jauh.
Ibnu Asyur mengatakan bahwa du’a (دُعَاءً) adalah suara-suara yang digunakan untuk berkomunikasi dengan domba yang menandakan perintah.[1]
Lafazh shummum (صُمٌّ) bermakna tuli alias tidak bisa mendengar. Sebenarnya ternak itu tidak tuli karena dia bisa mendengar suara. Namun karena tidak paham apa yang didengarnya, maka di ayat ini disamakan saja dengan tuli.
Lafazh bukmun (بُكْمٌ) maknanya adalah bisu, tidak bisa berkata berkata-kata dan berucap. Ternak itu sebenarnya tidak bisu, karena bisa mengeluarkan suara khas masing-masing. Namun suara ternak itu tidak bisa dipahami oleh manusia selain hanya berisik tidak enak di telinga, juga tidak mengandung informasi verbal. Seperti suara keledai yang digambarkan Al-Quran :
إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman : 19)
Lafazh ‘umyun (عُمْيٌ) dimaknai sebagai buta atau tidak bisa melihat. Sebenarnya ternak-ternak itu bisa melihat, namun karena tidak paham dan tidak bisa menganalisa apa yang dilihatnya, maka disejajarkan kedudukannya sama dengan buta.
Lafazh fahum la ya’qilun (فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ) artinya bahwa ternak-ternak itu tidak punya akal. Dan keadaan ternak inilah yang diumpamakan kepada orang-orang kafir itu.