Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika kamu berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum melihat Allah dengan jelas.” Maka, halilintar menyambarmu dan kamu menyaksikan(-nya). Prof. Quraish Shihab:Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Wahai Musa! Kami tidak akan percaya kepada (ucapan-ucapan)-mu hingga kami melihat Allah dengan nyata,” karena itu kamu disambar petir, sedangkan kamu menyaksikan-(nya). Prof. HAMKA:Dan, (ingatlah) tatkala kamu berkata kepada Musa, "Hai, Musa! Tidaklah kami mau percaya kepada engkau, sehingga kami lihat Allah itu dengan terang! Maka ditimpalah kamu oleh gempa, dan kamu pun melihat sendiri.
Ayat ini masih merupakan sambungan dari ayat-ayat sebelumnya, yaitu masih membicarakan perintah Allah SWT kepada Bani Israil untuk mengingat-ingat sekian banyak nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada mereka.
Hanya saja di ayat ini justru kenikmatan yang dimaksud malah belum diceritakan, tapi di ayat selanjutnya. Yang dikisahkan di ayat ini justru kesalahan dan dosa yang dilakukan oleh Bani Israil. Kala itu mereka menuntut kepada Nabi Musa agar diberi kemampuan untuk melihat Allah SWT dengan mata kepala mereka sendiri.
Dan seperti pada ayat-ayat sebelumnya, ayat ini diawali dengan lafazh wa idz (وإذ) yang oleh para penerjemah dimakna menjadi : Dan ingatlah ketika.
Ketika apa?
Ketika kamu wahai Bani Israil berkata kepada Nabi Musa alaihissalam. Tentu yang dimaksud dengan Bani Israil disini adalah nenek moyang mereka yang hidup di masa Nabi Musa, dan bukan Bani Israil yang hidup di masa kenabian Muhammad SAW.
لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ
Lafazh lan nu'mina laka (لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ) diartikan menjadi : "Kami tidak akan beriman kepadamu". Ada perbedaan pandangan di kalangan para mufassir tentang siapakah yang mengatakan ungkapan ini.
1. Para Pengikut Musa Yang 70 Orang
Al-Qurtubi menuliskan bahwa ungkapan bahwa kami tidak akan beriman ini diucapkan oleh 70 orang Yahudi yang waktu itu ikut naik ke atas Bukit Tursina dalam rangka munajat kepada Allah SWT selama 40 malam, sebelum Taurat diturunkan kepada mereka.
Kalau menggunakan pendapat ini, maka kejadiannya tidak ada kaitannya dengan peristiwa penyembahan patung anak sapi seperti yang sudah dikisahkan di ayat-ayat sebelumnya. Sebab mereka yang menyembah itu bukanlah mereka yang ikut naik ke atas Bukit Tursina bersama Musa.
Bahkan penyembahan kepada patung itu sendiri tidak dihadiri Musa, karena Musa dengan 70 orang itu sedang tidak ada di tempat.
2. Keseluruhan Bani Israil
Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang berkata tidak akan beriman kepada Allah sebelum bisa melihat langsung adalah keseluruhan Bani Israil.
Kalau menggunakan pendapat ini, maka ungkapan ini terjadinya setelah mereka menyembah patung anak sapi dan setelah mereka bertaubat. Lalu mereka bikin dosa lagi dengan cara tidak mau beriman kepada Allah kecuali setelah bisa melihat-Nya secara kasat mata.
حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً
Tidak Mungkin Melihat Allah
Tuntuntan Bani Israil kepada Musa agar mereka bisa beriman kepada Allah adalah penampakan Allah SWT dengan mata kepala mereka sendiri. Padahal tuntutan semacam itu mustahil bisa terjadi, karena jangan wujud fisik Allah, bahkan sekedar melihat ciptaan Allah SWT pun mata kita sulit untuk bisa bertahan.
Sebutlah contoh yang paling dekat dengan kita yaitu dapatkah mata kita menatap matahari secara langsung? Jelas tidak bisa. Cahaya matahari memiliki energi yang sangat tinggi dan dapat merusak lapisan retina mata. Ini disebut kerusakan retina mata atau kondisi medis yang dikenal sebagai fotokeratitis.
Gejala fotokeratitis meliputi rasa sakit yang sangat kuat, sensasi terbakar, dan perubahan warna pada mata. Dalam beberapa kasus, fotokeratitis dapat menyebabkan kerusakan permanen pada retina dan menimbulkan masalah penglihatan jangka panjang.
Oleh karena itu, sangat penting untuk melindungi mata dari cahaya matahari yang langsung dengan menggunakan kacamata hitam atau pelindung mata yang dilapisi untuk memfilter cahaya UV.
Apakah Tuntutan Ini Bagian Dari Keimanan Atau Kekafiran?
Menarik untuk dikaji apa yang melatar-belakangi mereka ingin melihat Allah SWT, apakah karena kekafiran mereka atau justru karena keimanan mereka. Dan ternyata para mufassir terlibat perbedaan sudut pandangan.
1. Kekafiran
Tidak sedikit kalangan mufassir yang mengomentari bahwa permintaan Bani Israil untuk bisa melihat Allah SWT secara langsung merupakan bentuk kekufuran dan pembangkangan mereka.
Bahwa tindakan mereka itu merupakan bentuk kekafiran dibuktikan dengan dua hal :
Ancaman Tidak Mau Beriman : Mereka mengeluarkan ancaman untuk tidak beriman kepada Musa, kalau belum bisa melihat Allah SWT secara langsung. Ini menjadi bukti nyata bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan kufur.
Dihukum Dengan Kematian : tindakan mereka menuntut agar bisa melihat Allah SWT juga merupakan tindakan keliru, dibuktikan dengan hukuman spontan dan kontan yang Allah turunkan kepada mereka, bahkan hingga mereka mati.
Mustahil : yang paling penting bahwa melihat langsung fisik Allah SWT adalah hal yang mustahil, bahkan meski pun katanya untuk menambah keyakinan kepada Allah.
2. Keimanan
Sebagian kalangan mufassir ternyata ada juga yang mengatakan permintaan mereka untuk bisa melihat Allah SWT justru karena keimanan dan kecintaan mereka kepada Allah SWT itu sendiri. Alasannya antara lain :
Orang Beriman Pilihan : yang meminta untuk bisa melihat Allah SWT adalah mereka yang telah dipilih oleh Musa untuk ikut bersama dirinya naik ke bukit Tursina demi untuk bisa menerima Taurat. Logikanya tidak mungkin mereka yang sudah pilihan itu malah melakukan tindak kekufuran.
Sudah Beriman : Mereka sudah beriman kepada Allah, karena sebelumnya mereka juga mendengar dialog antara Nabi Musa dengan Allah SWT. Maka permintaan mereka untuk bisa melihat Allah bukan dalam rangka mengingkari, melainkan dalam rangka meningkatkan keimanan.
Bukan Hukuman : Adapun ternyata mereka terkena halilintar, petir atau gempa bumi, sebenarnya bukan karena Allah SWT murka kepada mereka. Melainkan karena secara teknis memang tidak memungkinkan.
Maka alasan yang mereka katakan bahwa : 'tidak akan beriman kepada Musa sebelum bisa melihat Allah' bukan dalam arti negatif, melainkan justru dalam bentuk yang positif, yaitu bahwa mereka tidak bisa beriman secara sempurna, kecuali bila bisa langsung melihat Allah SWT secara fisik dengan mata kepala mereka sendiri.
فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ
Lafazh ash-sha'iqah (الصاعقة) diterjemahkan secara berbeda-beda. Versi Kemenag RI 2009 menerjemahkannya dengan halilintar, sedangkan Prof Quraish menerjemahkannya dengan petir, dan Buya HAMKA menerjemahkannya dengan gempa bumi dahsyat.
Lalu mana yang benar dari masing-masing terjemahan itu?
Jawabannya semua benar, sebab sumber pengambilan penafsirannya memang menunjukkan makna dan pengertian yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Penulis coba petikkan dari Tafsir At-Thabari tentang makna sha'iqah sebagai berikut :
Kematian : Qatadah mengatakan bahwa sha'iqah itu maknanya kematian, sehingga makna akhdzat-kumus-shaiqah bermakna : kematian merenggutmu.
Api : As-Suddi mengatakan bahwa makna sha'iqah itu api.
Gempa : Ibnu Ishak mengatakan bahwa sha'iqah itu gempa.
Suara Keras : Marwan bin Al-Hakam di atas mimbar Mekkah pernah berkata bahwa sha'iqah itu adala suara keras menggelegar dari langit yang membuat orang mati seketika. (Lihat : Ibnu Katsir)
Pandangan Muktazilah Terkait Melihat Allah
Dengan adanya hukuman seperti ini, maka kelompok Muktazilah menyimpulkan bahwa melihat Allah SWT itu merupakan hal yang mustahil sekaligus terlarang juga, baik melihat di dunia atau pun melihat di akhirat (surga).
Landasan logika yang mereka kembangkan ada dua :
Pertama, di ayat ini dijelaskan bahwa permintaan Bani Israil untuk bisa melihat Allah langsung dijawab dengan hukuman yang menyebabkan mereka mati (فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ).
Kedua, di ayat lain yaitu surat An-Nisa' ayat 153, tuntutan untuk bisa melihat Allah SWT disebut sebagai tindakan yang zhalim.
Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya. (QS. An-Nisa : 153)
Ketiga, di ayat lain lagi yaitu surat Al-Furqan ayat 21 juga dikisahkan tentang permintaan Bani Israil untuk bisa melihat langsung kepada Allah. Dan mereka pun disebut sebagai orang yang melampaui batas.
Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman". (QS. Al-Furqan : 21)
وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ
Bagaimana kita memahami ungkapan 'kamu melihat' padahal mereka dimatikan Allah SWT?
Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud 'kamu melihat' adalah saling melihat satu sama lain. Karena kematian yang menimpa mereka terjadinya tidak bersamaan, tetapi dicabut nyawa mereka satu per satu. Sehingga sempatlah yang belum dicabut nyawanya untuk melihat bagaimana temannya meregang ajal.