Dan adapun orang-orang yang putih berseri wajah-wajah mereka, maka mereka berada dalam rahmat Allah; mereka kekal di dalamnya.
Dan adapun orang-orang yang putih muka itu, maka di rahmat Allah-lah mereka itu akan kekal.
Setelah membahas tentang nasib orang-orang yang wajahnya menghitam di ayat sebelumnya, maka di ayat ke107 ini Allah SWT membicarakan mereka yang wajahnya memutih.
Disebutkan mereka nanti di hari kiamat akan berada di dalam rahmat Allah, yaitu di dalam surga. Mereka akan hidup immortal dalam arti abadi dan tidak mati-mati hingga selamanya.
Lafazh wa-ammal-ladzina (فََمَّا الَّذِينَ) artinya : Adapun mereka yang. Kata ibyadhdhat (ابْيَضَّتْ) merupakan fi’il madhi yang artinya menjadi putih atau memutih. Asalnya dari kata putih yang dalam bahasa Arab disebut abyadh (ابيض) untuk mudzakkar atau baidha’ (بيضاء) untuk muannats.
Namun umumnya para ulama mengatakan bahwa wajah memutih itu bukan berarti secara teknis warna kulitnya jadi putih, melainkan maksudnya berwajah putih berseri.
Lafazh hum (هُمْ) artinya mereka, yaitu mereka yang beriman, dimana wajah mereka menjadi putih karena kebahagiaan, Mereka inilah yang nantinya akan berada di dalam rahmat Allah, yaitu di dalam surga.
Kata fiha (فِيهَا) artinya : di dalamnya, yaitu maksudnya kehidupan mereka di dalam rahmat Allah, atau lebih tepatnya lagi di dalam surga Allah.
Sedangkan lafazh khalidun (خالدون) dimaknai sebagai kekal atau abadi. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang hidup di surga itu akan hidup abadi (immortal), yaitu hidup untuk seterusnya dan tidak akan mengalami kematian.
Secara logika memang seharusnya kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang kekal dan kehidupan dunia adalah kehidupan yang tidak kekal. Sebab pada akhirnya kehidupan di dunia ini akan berujung semuanya ke akhirat. Maka memang sudah seharusnya akhirat itu kekal.
Lain halnya apabila Allah SWT berhendak memusnahkan semua ciptaannya sehingga tidak ada akhirat, tidak ada surga dan tidak ada neraka. Tentunya itu hal semacam itu merupakan kemustahilan bagi Allah.
Kekekalan Adalah Puncak Kebahagiaan
Para ulama mengatakan bahwa kekekalan dan keabadian di surga sebernya adalah puncak kebahagiaan yang jadi tujuan semua manusia. Sebab buat apa masuk surga kalau ada masa berakhirnya?
Dengan pandangan seperti ini maka jadi wajar kenapa dahulu Nabi Adam alaihissalam sampai melanggar larangan untuk tidak makan buah di surga, sehingga dikeluarkan dari surga. Boleh jadi tujuannya demi agar bisa mendapatkan kekekalan dan keabadian hidup.
Tentu saja itu tipu daya setan yang berhasil membujuk Nabi Adam untuk melanggar larangan tersebut. Tipu dayanya apabila memakan buah itu maka hidupnya akan abadi, imortal, tidak mati-mati hingga selamanya.Al-Quran menceritakan dengan gamblang :
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَىٰ
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thaha : 120)