Demikianlah Kami membacakannya kepadamu sebagian dari bukti-bukti dan adz-dzikir yang penuh hikmah. "
Demikianlah, telah Kami bacakan dia kepada engkau, sebagian dari ayat-ayat dan peringatan yang amat bijaksana.
Lafazh dzalika (ذَٰلِكَ) adalah ismul-isyarah atau kata tunjuk yang bermakna ’itu’, untuk menunjuk tempat yang jauh. Sedangkan untuk menunjukkan tempat yang dekat menggunakan ‘ini’ atau hadza (هذا).
Keduanya berasal dari dza (ذا) menunjukkan sesuatu yang dekat, bila ditambah dengan huruf lam (اللام), maka menunjukkan pada yang agak jauh, namun bila ketambahan huruf kaf (كاف), maknanya menjadi lebih jauh lagi.[1]
Namun sebagian mufassir seperti As-Suddi, Ikrimah, Mujahid bahkan Ibnu Abbas memaknainya dengan ‘ini’ yang berarti dekat. Karena orang Arab seringkali menggunakannya meski untuk sesuatu yang dekat.[2]
Di dalam ayat ini, kata tunjuk ini digunakan untuk menunjuk kisah terkait dengan Nabi Zakariya dan Nabi Isa alaihimassalam dan berbagai kejadian yang dialaminya, termasuk berbagai mukjizat yang Allah SWT anugerahkan kepadanya.
Lafazh natlu-hu ‘alaika (نَتْلُوهُ عَلَيْكَ) artinya : kami bacakan kepada kamu. Kami disini yang dimaksud adalah Allah SWT sedangkan kamu adalah Nabi Muhammad SAW.
Intinya bahwa kisah-kisah Nabi Zakaria dan Nabi Isa itu Allah SWT ceritakan kepada Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi SAW bukan keturunan dari Bani Israil, juga tidak pernah tinggal di negeri di Palestina yang menjadi negeri para nabi dan rasul.
Sehingga wajar bila Nabi SAW dan juga para shahabat khususnya yang orang Arab asli tidak mengetahui semua kisah di atas, kecuali setelah Allah SWT ceritakan. Apalagi cerita yang Allah SWT berikan merupakan versi yang paling benar, mengingat di masa itu justru di kalangan pemeluk Nasrani sendiri telah beredar berbagai macam versi kisah yang saling bertentangan satu dengan yang lain.
Perbedaan versi kisah itu sudah ada sejak masih di zaman kedua nabi itu hidup. Sebab keduanya hidup di bawah ancaman pembunuhan, sehingga mereka harus kucing-kucingan dan bersembunyi dan melancarkan berbagai macam kamuflase tingkat tinggi.
Sampai peristiwa pembunuhannya pun dibikin samar, sehingga banyak para pengikut Nabi Isa sendiri yang tidak tahu, apakah guru mereka itu benar-benar wafat, dibunuh atau dinaikkan ke langit.
Berbagai tafsiran dan pemberitaan simpang siur sepanjang 600 tahu lamanya, sampai akhirnya Allah SWT menurunkan Al-Quran Al-Karim dan menceritakan urutan kejadiannya. Mulai dari bagaimana Nabi Isa dilahirkan hingga akhirnya dinaikkan ke langit.
Kisah dari Al-Quran inilah yang kemudian jadi versi resmi kaum muslimin sepanjang zaman. Sayangnya, orang-orang nasrani masih tetap dengan berbagai spekulasi mereka terkait versi kisah nabi mereka sendiri. Sebagiannya masih yakin bahwa Nabi Isa adalah anak Allah, sebagiannya lagi mengatakan justru Nabi Isa itu sendiri adalah Allah. Dan semua itu kemudian dibantah mentah-mentah di dalam Al-Quran.
[1] Abu Hayyan al-andalusi, Al-Bahrul Muhith fi At-Tafsir (Beirut, Darul Fikr, 1420 H) vol.1 h. 56
[2] Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran (Muassasah Ar-Risalah, 2000 M), Vol 1 h. 225
Lafazh adz-dzikr (وَالذِّكْرِ) secara bahasa artinya adalah pengingat, sedangkan lafazh al-hakim (الْحَكِيمِ) secara bahasa artinya yang bijaksana atau yang memiliki hikmah.
Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : “peringatan yang penuh hikmah (Al-Qur’an)”. Sedangkan Prof Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “adz-dzikir yang penuh hikmah”.
Lain lagi dengan Buya HAMKA, beliau menerjemajkannya menjadi : “peringatan yang amat bijaksana”.
Fakhruddin Ar-Razi di dalam Mafatih Al-Ghaib menuliskan ada dua pendapat tentang apa yang dimaksud dengan istilah adz-dzakril hakim (وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ).
Pendapat pertama mengatakan maksudnya tidak lain adalah kitab suci Al-Quran. Karena Al-Quran memang kitab yang mengandung banyak hukum-hukum syariat, namun di balik semua hukumnya, ada terkandung banyak hikmah yang mendalam.
Pendapat kedua mengatakan bahwa maksudnya bukan Al-Quran melainkan Lauhil Mahfuzh. Posisinya bahwa semua kitab suci samawi turun ke dunia dari satu sumber yaitu Lauhil Mahfuzh ini. Kaitannya dengan ayat ini bahwa kisah tentang Nabi Isa alaihissalam yang terdapat di dalam Al-Quran bersumber dari apa yang sesungguhnya sudah tertulis di dalam Lauhil Mahfuzh.