Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Kami beriman kepada Allah dan pada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub beserta anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, serta para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” Prof. Quraish Shihab:
Katakanlah: ''Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan atas kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail dan Ishaq serta Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri. "
Prof. HAMKA:
Katakanlah, "Kami percaya kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim dan Ismail, dan lshaq dan Ya'kub dan anak-cucu, dan apa yang dibertkan kepada Musa dan Isa dan nabi-nabi dari Tuhan mereka. Tidaklah kami memperbedabedakan di antara seorang pun dart mereka itu, dan kami, kepada-Nyalah kami menyerah.
Ayat 84 surat Ali Imran ini menjadi salah satu amunisi dan bekalan yang Allah SWT persiapkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk berdakwah kepada umat terdahulu yang sudah beriman kepada Allah, para nabi dan kitab suci. Dalam hal ini mereka yang dimaksud adalah penduduk Madinah yang memeluk agama Yahudi.
Ada begitu banyak titik kesamaan antara dakwah Nabi Muhammad SAW dengan agama Yahudi, khususnya dalam hal ini terkait dengan para nabi yang sangat dimuliakan oleh Yahudi. Sebab para nabi itu adalah para leluhur mereka dan mereka selalu membanggakan diri bahwa diri mereka adalah titisan dari para nabi dan rasul.
Maka Nabi SAW diajarkan ketika berdakwah di kalangan mereka, jangan lupa untuk menyebut nama-nama leluhur mereka juga. Biar mereka bangga dan merasa ditinggikan derajatnya. Dan buat kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW, para nabi dengan masing-masing kitab suci mereka adalah orang-orang mulia, shalih serta kita bacakan alahimussalam setiap nama para nabi disebut.
Kalaupun ada perbedaan antara agama yang dibawa oleh para nabi sebelumnya dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sifatnya berupa penyempurnaa-penyempurnaan saja, yang cenderung justru bersifat memberikan rukhshah atau keringanan.
قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ
Lafazh qul (قُلْ) artinya katakanlah. Dalam hal ini yang memberi perintah adalah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, agar Nabi SAW memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Israil untuk mengucapkan : “Kami beriman kepada Allah”.
Lafazh amanna (آمَنَّا) artinya kami telah percaya, atau lebih tepatnya : “Kami telah beriman”. Ungkapan iman ini dinyatakan dalam bentuk fi’il madhi yang selain menegaskan masa yang lampau, juga memberi posisi kepastian atas sebuah sikap dan tindakan.
Lafazh billahi (بِاللَّهِ) artinya : kepada Allah SWT. Dalam hal ini nama Allah SWT adalah lafzhul jalalah yang digunakan oleh tiga agama berbeda baik Yahudi, Nasrani atau pun Islam.
Tuhan dalam agama Yahudi adalah Yang Maha Esa dan disebut dengan nama YHWH, yang dalam aksara Ibrani biasanya ditulis יהוה. Allah adalah istilah Arab yang berarti Tuhan, dan dalam beberapa konteks, Yahudi dan Muslim mungkin menggunakan istilah "Allah" untuk merujuk kepada Tuhan yang sama, meskipun dalam praktiknya ada perbedaan signifikan dalam kepercayaan, ritual, dan konsep teologis antara agama Yahudi dan Islam.
Dalam tradisi Yahudi, YHWH adalah nama khusus Tuhan yang diberikan kepada Musa dalam Kitab Keluaran dalam Alkitab Ibrani. Ini sering diterjemahkan sebagai "I AM" atau "Yahweh" dalam bahasa Inggris. Dalam tradisi Yahudi, nama ini dianggap sangat kudus, dan dalam beberapa lingkungan keagamaan Yahudi, nama itu bahkan dihindari untuk diucapkan dan diganti dengan istilah seperti "Adonai" yang berarti "Tuhan" dalam bahasa Ibrani.
YHWH dan Allah adalah istilah yang merujuk kepada Tuhan yang sama, yaitu Tuhan yang diakui dalam agama Yahudi dan Islam.
Jadi, meskipun istilah dan konsepnya berbeda dalam konteks agama mereka, secara konseptual, YHWH dalam agama Yahudi dan Allah dalam agama Islam merujuk kepada keesaan Tuhan yang sama, yang diakui sebagai pencipta alam semesta dan otoritas tertinggi.
Dan sebenarnya orang-orang musyrikin Arab di saat yang sama pun beriman kepada Allah juga. Bahkan mereka menamakan Ka’bah dengan Baitullah yang artinya rumah Allah. Dalam berbagai teks perjanjian, mereka biasa menuliskan kata bismikallahumma yang artinya : dengan nama-Mu ya Allah.
Dan kalau ditanyakan kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan, pastilah mereka menjawab : Allah.
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". (QS. Al-Ankabut : 61)
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". Katakanlah: "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Luqman : 25)
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?, (QS. Az-Zukhruf : 87)
Bahkan kalaupun ditanyakan kepada mereka, siapakah yang menurunkan air hujan dari langit dan menjadikan bumi ini hidup setelah kematiannya, pastilah mereka menjawab : Allah.
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah". (QS. Al-Ankabut : 63)
Maka dalam hal mengakui adanya Tuhan, kedua bangsa itu yaitu Bani Israil dan bangsa Arab sama-sama mengakui bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang telah menciptakan mereka, menciptakan alam semesta dan menciptakan kehidupan di dunia ini.
Perbedaannya bahwa Bani Israil mengakui adanya konsep turunnya kitab suci dan keberadaan para nabi utusan Allah. Sedangkan bangsa Arab sejak awal tidak punya konsep kenabian dan kitab suci. Kalau pun mereka punya leluhur yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, namun dalam adat dan tradisi mereka, keduanya tidak diyakini sebagai nabi utusan Allah. Keduanya hanya jadi sosok yang dimuliakan serta menjadi leluhur yang mereka yakini bahwa diri mereka adalah merupakan anak keturunannya.
Maka dalam hal ini, dibandingkan dengan konsep agama bangsa Arab kala itu, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW justru lebih banyak kesamaannya dengan yang diyakini oleh Bani Israil, yaitu sama-sama mengakui turunnya kitab suci samawi serta keberadaan para nabi dan rasul utusan Allah.
Maka wajar ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW agar Beliau memerintahkan kepada Bani Israil untuk berikrar lagi terkait kesamaan dasar aqidah mereka yaitu mengakui adanya kitab suci dan para nabi.
وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا
Lafazh wa-ma (وَمَا) terdiri dari dua partikel, yaitu huruf waw (و) yang artinya : dan. Fungsinya menyambungkan iman kepada Allah dan iman kepada kitab suci.
Huruf maa (ما) artinya : apa atau sesuatu, sedangkan lafazh unzila ‘alaina (أُنْزِلَ عَلَيْنَا) artinya diturunkan kepada kami. Dalam hal ini yang dimaksud adalah beriman kepada Al-Quran, yaitu kitab suci samawi yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Kata ganti atau dhamir‘alaina (علينا) dimaknai sebagai kami dan bukan kita. Kami yang dimaksud adalah kaum muslimin yaitu Nabi SAW dan para shahabat.
Mengapa dhamir alaina (علينا) itu tidak dimaknai sebagai ‘kita’ dalam arti kedua belah pihak yaitu Bani Israil dan kaum muslimin?
Jawabannya nanti jadinya malah kurang tepat, karena baik Al-Quran atau pun Taurat memang tidak turun bersamaan kepada kedua bangsa itu. Allah SWT menurunkan Taurat hanya kepada Bani Israil saja dan tidak kepada bangsa Arab. Buktinya, Taurat itu menggunakan bahasa Ibrani, yang pastinya orang-orang Arab tidak paham.
Kepada bangsa Arab, Allah SWT turunkan Al-Quran yang memang menggunakan bahasa Arab. Uniknya, Bani Israil malah bisa bahasa Arab, setidaknya Yahudi di Madinah yang hidup bersama dengan Nabi Muhammad SAW. Karena nenek moyang mereka sudah bermigrasi ke Madinah dan hidup mendiaminya sejak lama. Sebelum bernama Madinah, tempat itu dikenal sebagai Yatsrib yang konon justru nama seorang Yahudi yang pertama kali menempatinya.
Maka tidak tepat kalau yang dimaksud itu adalah kami. Yang lebih tepat bahwa yang turun kepada kami adalah kitab suci Al-Quran.
وَمَا أُنْزِلَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ
Lafazh wa maa unzila ilaa (وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ) makna : “dan apa yang diturunkan kepada”. Sedangkan lafazh ilaa ibrahim (إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ) artinya kepada Nabi Ibrahim alaihissalam.
Allah SWT tidak menyebutkan apa nama kitab yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim. Dan memang tidak ada informasi tentang nama sebuah kitab. Yang ada hanyalah informasi dari Al-Quran sendiri di dua ayat tentang adanya shuhuf Ibrahim, yaitu :
Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (QS. An-Najm : 37)
Kebanyakan kitab tafsir tidak menceritakan apa nama kitab yang turun kepada Nabi Ibrahim, namun Thahir Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir menuliskan bahwa kitab yang turun kepada Nabi Ibrahim hanya sedikit sekali terwariskannya.
Jumlahnya hanya sepuluh shuhuf yang seukuran sepuluh lembar kertas dengan teks kuno. Satu lembar itu cukup untuk sekira empat ayat Al-Quran. Sehingga bisa kita jumlahkan seluruh shuhuf Ibrahim itu semuanya hanya sekira 40-an ayat Al-Quran saja.[1]
Ibnu Asyur juga menduga bahwa semua isi shuhuf Ibrahim itu sudah termuat di dalam Al-Quran juga. Ringkasan isinya terdapat pada ayat yang sudah kita lewatkan sebelumnya yaitu :
Lafazh wa ismaila wa ishaqa (وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ) maksudnya adalah Nabi Ismail dan Nabi Ishak, yang mana keduanya anak kandung Nabi Ibrahim alaihissalam, meskipun masing-masing lahir dari dua ibu yang berbeda. Keduanya adalah nabi dan masing-masing mendapat kitab suci dari Allah SWT.
Sebenarnya anak Nabi Ibrahim itu bukan hanya mereka berdua saja, sebenarnya masih ada lagi enam orang anak Nabi Ibrahim, sehingga jumlah anak Nabi Ibrahim semuanya jadi delapan orang. Masing-masing lahir dari tiga istri yang berbeda. Nabi Ismail itu anak pertama Nabi Ibrahim justru lahir dari istri keduanya yang bernama Hajar. Namun Ismail lahir lebih dulu dari Ishak yang merupakan anak dari istri pertama, Sarah.
Setelah Sarah wafat, Nabi Ibrahim kemudian menikah lagi dengan istri ketiga yang bernama Ketura. Dari Ketura inilah lahir anak-anak berikutnya yang bernama Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah.[1]
Namun yang mendapat wahyu dan kitab suci serta menjadi nabi utusan Allah SWT hanya Ismail dan Ishak saja, adik-adik mereka tidak termasuk.
Meskipun keduanya disebut menerima kitab suci, namun apa namanya dan seperti apa gambarannya, tidak ada satupun keterangan yang termuat di dalam Al-Quran atau pun hadits nabawi.
Lafazh wa ya’quba (وَيَعْقُوبَ) maksudnya adalah Nabi Ya’qub alaihissalam. Beliau adalah anak Nabi Ishak dan cucu Nabi Ibrahim. Sebagaimana yang sudah dijelaskan dalam tafsir ayat-ayat sebelumnya, Nabi Ya’qub inilah yang nantinya menjadi ayah dari Bani Israil, karena nama lain Beliau adalah Israil.
Sebagai seorang nabi, Beliau pun juga menerima wahyu samawi dan menerima kitab suci. Sayangnya lagi, kita tidak mendapat penjelasan tentang apa nama kitabnya dan seperti apa gambarannya.
وَالْأَسْبَاطِ
Adapun lafazh al-asbath (الْأَسْبَاطِ) adalah bentuk jamak dari as-sibtu (السِبْطٌ) yang secara harfiyah artinya tatabu’ (التَّتَابُعُ) alias silih berganti. Ada juga yang mengatakan asalnya dari kata as-sabatu (السَّبَطُ) yang artinya pohon.
Ada sebagian kalangan ulama seperti Abu Al-Aliyah, Qatadah dan Ar-Rabi’, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan asbath adalah dua belas orang anak-anak Nabi Ya’qub alahissalam. Masing-masing melahirkan lagi cucu generasi berikutnya. Kalau menggunakan pendapat ini, maka mereka itu pada dasarnya adalah Bani Israil.
Dengan menggunakan pendapat ini, maka yang dimaksud dengan asbath adalah nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Dan jumlah mereka cukup banyak, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas berikut :
Semua nabi itu termasuk keturunan Bani Israil, kecuali hanya sepuluh yang bukan, yaitu Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Luth, Ishak, Ya’qub, Ismail dan Muhammad SAW. (HR. Al-Bukhari)
Tentang kedua belas kelompok mereka, juga disebutkan dalam kisah Al-Quran terkait rombongan Nabi Musa ketika menyeberang Laut Merah
Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. (QS. Al-Araf : 160)
وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ
Lafazh wa maa utiya (وَمَا أُوتِيَ) artinya : dan apa yang diberikan kepada, adapun lafazh musa (مُوسَىٰ) maksudnya adalah Nabi Musa alaihissalam. Dalam hal ini tentu saja maksudnya adalah kitab suci Taurat. Walaupun sebenarnya yang turun kepada Beliau masih ada lagi, yaitu yang disebut dengan shuhuf, sebagaiman firman Allah SWT :
Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (QS. An-Najm : 37)
Namun begitu yang paling dominan turun kepada Musa memang kitab Taurat. Taurat turun dalam bentuk tulisan atau teks di atas batu, yang berbeda dengan cara penurunan Al-Quran. Al-Quran turun dalam bentuk suara yang dibacakan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.
Taurat juga mengandung hukum-hukum yang mengikat, termasuk hukum rajam untuk pezina, hukum potong tangan bagi pencuri, larangan memakan babi dan bangkai, serta larangan minum khamar. Al-Quran memerintahkan orang-orang Yahudi untuk menjalankan isi kitab Taurat karena merupakan firman Allah SWT.
Taurat tidak hanya berlaku bagi Nabi Musa AS, tetapi juga bagi nabi-nabi yang datang sesudahnya. Kitab ini diturunkan dalam bahasa Ibrani, sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh Nabi Musa alaihissalam yaitu Bahasa Ibrani.
Di masa kenabian Isa alaihisalam, ternyata Taurat masih diberlakukan. Bahkan Nabi Isa sendiri kemudian juga diajarkan kitab Taurat oleh Allah SWT lewat ayat ini. Bahkan Beliau sampai menghafalnya luar kepala.
Hukum-hukum yang Allah SWT tetapkan di dalam Taurat masih tetap berlaku di masa-masa kemudian, meskipun Nabi Musa telah tiada. Para nabi dan rasul setelah era Musa tetap diwajibkan untuk menjalankan isi Taurat dan menjadikannya sebagai sumber hukum dalam perkara-perkara yang timbul di tengah mereka.
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. (QS. Al-Maidah : 44)
Tidak seperti Al-Quran, sayangnya Taurat tidak mendapatkan jaminan penjagaan seperti Al-Quran, sehingga banyak dari ayat-ayat Taurat yang hilang dan tercecer, bahkan mudah sekali dipalsukan, atau setidaknya ketambahan hasil tulisan manusia.
وَعِيسَىٰ
Lafazh wa isa (وَعِيسَىٰ) artinya : dan Isa. Maksudnya beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Isa alaihisalam, yaitu kitab Injil.
Injil adalah nama untuk kitab suci yang Allah SWT turunkan untuk Nabi Isa alaihissalam lewat perantaraan malaikat Jibril ‘alaihissalam. Umumnya para ulama mengatakan kata Injil ini bukan berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa aslinya makna kata injil adalah kabar yang menggembirakan (البشارة السارة والخبر المُفرح).
Dan karena Nabi Isa berbahasa Suryani, wajar kalau ada pendapat yang mengatakan bahwa Injil yang asli berbahasa Suryani. Logikanya karena setiap nabi mendapatkan kitab suci sesuai dengan bahasa yang dikuasainya.
Kata Injil muncul 12 kali dalam Al-Quran. Kita sebagai muslim diwajibkan beriman kepada Injil, karena merupakan salah satu rukun iman yang enam, yaitu beriman kepada kitab-kitab suci samawi, salah satunya adalah Injil yang turun kepada Nabi Isa alaihissalam.
Namun begitu, sebagaimana juga Taurat, Injil pun tidak mendapatkan jaminan penjagaan dari Allah SWT. Sehingga rawan pemalsuan, atau pun tercecer sebagian, bahkan hilang secara keseluruhan.
وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ
Lafazh an-nabiyyun (النَّبِيُّونَ) maknanya adalah : “para nabi”. Lalu lafazh min rabbihim (مِنْ رَبِّهِمْ) artinya : “dari tuhanmu”.
Memang ada begitu banyak nabi yang Allah SWT utus, tidak hanya 25 orang saja, yaitu yang namanya disebutkan dalam Al-Quran. Tetapi jumlah sangat banyak, mencapai ribuan bahkan ratusan ribu orang. Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Dzar sebagai berikut :
قلت: يا رسول الله، كم الأنبياء؟ قال: «مائة ألف وأربعة وعشرون ألفا» قلت: يا رسول الله، كم الرسل منهم؟ قال: «ثلثمائة وثلاثة عشر
Aku bertanya,”Ya Rasulullah, berapa jumlah para nabi?”. Beliau SAW menjawab,”Seratus dua puluh empat ribu orang”. Aku bertanya lagi,”Berapa orang yang menjadi rasul?”. Beliau SAW menjawab,”Tiga ratus tiga belas orang”.[1]
Dengan jumlah sebanyak itu tentu saja kita tidak mungkin mengenalnya satu per satu. Namun setidaknya ada dua puluh lima orang nabi dan rasul yang namanya tercantum secara eksplisit di dalam Al-Quran. Dan untuk itu ada perintahnya untuk mengenali mereka itu, sebagaimana atsar berikut :
Ajari anak-anakmu nama para nabi yang disebutkan di dalam Al-Quran, agar mereka bisa juga beriman kepada mereka. Jangan dikira cukup hanya beriman kepada Nabi Muhamamd SAW saja tanpa beriman juga para nabi seluruhnya.
[1] Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, jilid 6 hal. 35
لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ
Lafazh la nufarriq (لَا نُفَرِّقُ) maknanya adalah : “tidak membeda-bedakan”, dan lafazh baina ahadin minhum (بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ) maknanya adalah : “di antara satu dengan yang lain di antara mereka”.
Yang dimaksud dengan tidak membeda-bedakan adalah mengimani kenabian mereka dan menghormatinya sebagai utusan Allah SWT. Dan ini berbeda dengan konsep Yahudi yang membeda-bedakan satu nabi dengan nabi yang lain. Dalam hal ini mereka beriman hanya kepada nabi yang masih satu jalur darah dan keturunan dengan mereka, sedangkan Nabi Muhammad SAW tidak mereka imani. Bahkan kalangan Yahudi juga tidak mau mengimani Nabi Ismail dan juga Nabi Isa ‘alaihissalam.
Setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (QS. Al-Maidah : 70)
Begitu juga nasrani, mereka memang mengimani banyak nabi, namun giliran kepada Nabi Muhammad SAW, mereka pun tidak mau mengimani. padahal baik Yahudi ataupun Nasrani sama-sama tahu bahwa di akhir zaman Allah SWT akan mengutus seorang nabi terakhir yaitu Muhammad SAW.
Padahal Nabi Isa alaihissalam sendiri pun sudah menjelaskan dengan rinci akan datangnya nabi akhir zaman
Dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad". (QS. Ash-Shaf : 6)
Padahal semua umat yang diberi kitab pasti sudah tahu akan kedatangan nabi terakhir, bahkan digambarkan mereka sangat kenal ciri-ciri Nabi Muhamamd SAW sebagaimana mereka mengenal anak mereka sendiri. Perhatikan bagaimana Al-Quran menggambarkan hal itu :
Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). (QS. Al-Anam : 20)
وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Lafazh wa nahnu (وَنَحْنُ) artinya : dan kami, sedangkan makna lahu (لَهُ) adalah : kepada-Nya, maksudnya kepada Allah SWT. Dan makna muslimun (مُسْلِمُونَ) secara bahasa adalah menyerahkan diri. Namun maksudnya adalah mengikrarkan diri menjadi pemeluk agama Islam.
Dengan ayat inilah Nabi Muhammad SAW mengirim surat kepda para raja yang masih dari kalangan Bani Israil, diantaranya An-Najasyi raja Habasyah, Muqawqis raja Mesir dan Kaisar Heraklius penguasa Romawi. Ajakan dari Nabi SAW itu jelas dan tegas, yaitu meminta mereka memeluk agama Islam, walaupun sifatnya tidak memaksa.
Yang menarik justru respon dari masing-masing raja itu yang amat positif. Memang mereka memilih untuk tidak masuk Islam, toh ajakan Nabi SAW memang bersifat ajakan suka rela, bukan paksaan apalagi ancaman.
Maka pilihan paling logisnya adalah mereka sepakat untuk berdamai dan hidup berdampingan bersama kaum muslimin. Tidak saling memusuhi apalagi berperang. Toh tidak ada alasan yang mengharuskan mereka melakukan peperangan dan saling berbunuhan. Bukankah kedua agama itu menyembah Tuhan yang sama? Bukankah kedua agama itu mengakui semua nabi dan rasul yang sama? Bukankah kedua agama itu mengakui kitab-kitab suci yang sama? Kalau semua itu sama, lantas mengapa harus saling berbunuhan?
Para raja itu sudah tahu banyak tentang karakteristik agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Agama Islam itu bukan agama yang sifatnya dipaksakan, tetapi terbuka bagi siapa saja yang mau ikut bergabung.
Maka jangan heran kalau di masa kenabian Muhammad, kita tidak pernah menemukan kejadian macam perang salib di abad pertengahan, dimana kaum muslimin merasa wajib membunuh orang Nasrani, sebagaimana Nasrani mereka wajib membunuh kaum muslimin.
Di masa kenabian Muhammad SAW, nasrani cenderung lunak dan memaklumi serta mengakui keberadaan Nabi Muhammad SAW.
Maka Muqawqis sanga raja Mesir pun memberi Nabi Muhammad SAW hadiah yang luar biasa tinggi nilainya, yaitu seorang budak wanita yang jadi pemenang ratu kecantikan di Mesir. Namanya Maria Al-Qibthiyah, yang kemudian diterima oleh Nabi SAW sebagai wanita yang menjadi pendamping hidup. Dari rahim Maria inilah kemudian Nabi SAW memiliki anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim.
Tidak hanya itu, hadiah itu diberikan dalam bentuk bundling dengan adik wanitanya bernama Sirin. Untuk itu Sirin dihadiahkan kepada penyair Nabi yang banyak gubahannya, bernama Al-Hasan bin Tsabit.
Kaisar Heraklius juga tidak kalah besarnya penghargaan kepada Nabi Muhammad SAW. Hadiah yang dikirimkan adalah kendaraan yang paling canggih dan paling mahal, yang bahkan di negeri Arab belum ada yang punya. Tunggangan itu disebut dengan bighal, perkawinan antara kuda dan keledai. Secara teknis, hanya Nabi Muhammad SAW saja kala itu yang punya Bihgal, karena waktu itu belum terlalu populer di jazirah Arabia.
Seandainya isi surat Nabi SAW kepada Kaisar Heraklius itu berupa ancaman atau tantangan perang, tidak mungkin dia beri hadiah seekor bighal. Yang dikirim pastinya ribuan tentara yang akan melumat negeri Arab.