Kemenag RI 2019:Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah menganugerahkan kerajaan (kekuasaan) yang sangat besar kepada mereka. Prof. Quraish Shihab:Ataukah mereka iri hati kepada manusia karena anugerah yang telah Allah berikan kepada mereka (seperti Nabi Muhammad SAW dan umatnya)? Sungguh, Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, serta menganugerahkan kepada mereka kerajaan yang sangat besar. Prof. HAMKA:Ataukah mereka iri hati kepada manusia atas apa yang telah diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada keluarga Ibrahim Kitab dan Hikmah, serta kerajaan yang besar.
Kata am (أَمْ) artinya : ataukah. Sebuah kata yang mengungkapkan pilihan yang lain dari pilihan yang sudah ada sebelumnya. Bisa juga diterjemahkan menjadi : bahkan atau akan tetapi.
Kata yahsuduna (يَحْسُدُونَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari, asalnya dari (حسد – يحسد - حسد) dan artinya : mereka hasad alias mendengki.
Hasad adalah perasaan iri atau dengki ketika seseorang menginginkan nikmat yang dimiliki oleh orang lain hilang, baik nikmat itu berpindah kepadanya ataupun tidak. Dalam sifat hasad, seseorang merasa tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan atau nikmat dari Allah, dan berharap agar nikmat tersebut dicabut dari orang tersebut. Sifat ini termasuk akhlak tercela yang dilarang dalam agama.
"Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud).
Kata an-nasa (النَّاسَ) artinya : manusia. Sebagaimana sudah diulas sebelumnya, para mufassir memaknai kata ‘manusia’ di ayat ini adalah sosok Nabi Muhammad SAW. Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas dan banyak kalangan mufassir.
Memang ada sedikit kritik bila dikatakan bahwa yang dimaksud dengan manusia itu sosok Nabi Muhammad SAW. Sebab an-nas (الناس) itu bentuk jamak, sedangkan Nabi Muhammad SAW itu individu, satu orang. Namun kritik ini dijawab dengan mudah, yaitu Al-Quran surat An-Nahl ayat 120 menyebut Nabi Ibrahim yang hanya satu orang itu dengan sebutan umat (إنَّ إبْراهِيمَ كانَ أُمَّةً قانِتًا).
Atau bila memang keberatan dengan Nabi Muhammad SAW yang hanya satu orang itu disebut dengan an-nas, maka bisa saja kita geser sedikit menjadi : Nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya.
عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
Kata ‘alaa maa (عَلَىٰ مَا) artinya : atas apa. Kata aataa-hum (آتَاهُمُ) artinya memberikan kepada mereka. Lafazh Allah (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata min fadhlihi (مِنْ فَضْلِهِ) artinya : dari karunianya.
Penggalan ini menyebutkan secara umum kenapa orang-orang Yahudi merasa dengki kepada Nabi SAW, yaitu karena karunia, kelebihan atau al-fadhl yang Allah SWT berikan kepada Beliau SAW, yaitu berupa anugerah kenabian.
Sebagaimana kita tahu bahwa kedengkian atau hasad tidak akan terjadi kecuali ketika ada kesenjangan. Semakin besar kesenjangan itu maka akan semakin besar pula rasa dengki dan iri hati orang lain. Dan kenabian itu tentu saja anugerah yang tertinggi dalam agama.
Malahan lebih dari itu, Nabi SAW ternyata adalah sosok nabi terbesar yang kabar kedatangannya sudah mereka ketahui dan memang sudah diperkenalkan oleh semua nabi terdahulu. Tidak ada kitab suci samawi yang turun dari langit, kecuali sudah menyebut-nyebut sosok Nabi SAW.
Dan kesenjangan itu semakin menambah parah luka dengki di hati mereka yang iri, karena Allah SWT juga memberikan bonus selain anugerah kenabian, ternyata juga memberikan kekuasaan yang semakin hari semakin bertambah luas dan bertambah besar. Setiap hari lebih kuat dalam pemerintahan, lebih besar kekuasaan, lebih banyak penolong dan pendukungnya. Dan semua itu menyebabkan rasa iri dan dengki serta hasad yang semakin menganga di hati kecil kaum Yahudi.
Fakhruddin Ar-Razi menambahkan sebuah pendapat yang menurutnya kurang relate, yaitu kedengkian kalangan Yahudi kepada Nabi SAW karena banyaknya istri Beliau. Pendapat ini menurutnya kurang masuk akal, namun kalau seandainya sekedar penambahan, rasanya bisa-bisa saja.
Pasalnya, banyak dari kalangan tokoh agamawan Yahudi yang terlanjur menjalani pola hidup bagai pastor yang tidak mau kawin. Entah mendapatkan ide dan inspirasi dari mana, rupanya ‘tidak kawin’ itu belakangan jadi rasa nge-trend di kalangan para tokoh agama, tidak terkecuali tokoh dan petinggi kalangan Yahudi.
Ternyata begitu mereka bertemu langsung dengan sosok Nabi Muhammad SAW di Madinah, justru mereka terheran-heran sendiri. Ternyata nabi yang paling mulia dan namanya selalu disebut-sebut oleh semua nabi dan rasul di era sebelumnya, malah tidak mengamalkan pola hidup tidak kawin. Beliau SAW malah menikah, bahkan istrinya sampai 9 orang.
Ada istilah khusus yang merujuk pada praktik tidak menikah atau ‘hidup selibat’ dalam tradisi mereka yang dalam bahasa Arab disebut dengan uzubiyah (عزوبية). Praktik ini sering diadopsi oleh beberapa kalangan rohaniawan Kristen, seperti biarawan dan biarawati, yang memilih untuk tidak menikah sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan. Dalam tradisi Kristen, Yesus Kristus mereka yakini juga menjalankan selibat, yaitu tidak menikah karena dianggap sebagai pilihan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan fokus pada pelayanan tanpa distraksi dari kehidupan keluarga.
Namun, dalam Islam, justru ‘selibat’ tidak dianjurkan bahkan dianggap bertentangan dengan syariah. Nabi SAW justru menekankan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ibadah. Nabi SAW bersabda bahwa pernikahan adalah bagian dari sunnah beliau:
وأتزوَّجُ النساءَ فمَن رغِبَ عن سنَّتي فليسَ منِّي
Dan aku menikahi wanita-wanita. Maka, siapa saja yang membenci sunnahku, dia bukanlah bagian dari golonganku. (HR. Bukhari)
Al-Quran yang merupakan wahyu samawi dan firman Allah SWT menegaskan bahwa para nabi itu menikah dan mereka tidak selibat.
Dari Abi Ayyub ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Empat hal yang merupakan sunnah para rasul: [1] Hinna', [2] berparfum, [3] siwak, dan [4] menikah." (HR. At-Tirmizi)
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa hidup sendirian tanpa nikah adalah perbuatan yang tidak dizinkan :
Sa’ad meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menolak Usman bin Maz’unin membujang, dan seandainya (Nabi) mengijinkan padanya niscaya memperbolehkan.(HR. Ibnu Majah)
Kata fa-qad (فَقَدْ) artinya : maka sungguh. Kata aatai-na (آتَيْنَا) artinya : Kami telah menganugerahkan. Kata aala (آلَ) artinya : keluarga.
Kata ibrahima (إِبْرَاهِيمَ) maksudnya Nabi Ibrahim alaihissalam. Yang dimaksud dengan keluarga Ibrahim anak-anaknya serta keturunan ke bawahnya.
Kata al-kitaba (الْكِتَابَ) artinya adalah kitab suci. Tentu maksudnya bukan Al-Quran Al-Karim, tetapi kitab-kitab suci samawi yang turun kepada para nabi dan rasul di masa lalu.
Lafazh al-hikmah (الْحِكْمَةَ) kalau terkait dengan Nabi Muhammad SAW biasanya yang dimaksud adalah hadis. Namun karena al-hikmah ini jelas-jelas turun kepada nabi-nabi di masa lalu, maka penafsiarannya menjadi lain lagi.
Ibnu Asyur dalam tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir[1] mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-kitab (الكتاب) adalah shuhuf Ibrahim, termasuk juga shuhuf Musa. Dan termasuk juga kitab Taurat yang turun kepada Nabi Musa, serta kitab Zabur yang turun kepada Nabi Daud alaihimussalam. Dan tentu saja kitab Injil yang turun kepada Nabi Isa alaihissalam.
Sedangkan yang dimaksud dengan al-hikmah (الحكمة) di ayat ini tidak lain adalah nubuwwah alias kenabian. Maksudnya anak-anak dan keturunan Nabi Ibrahim banyak telah Allah SWT muliakan menjadi nabi utusan Allah. Dua anak Nabi Ibrahim itu adalah Nabi Ismail dan Nabi Ishaq alaihimassalam. Lalu dari jalur Nabi Ishaq lahirlah Nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub kemudian punya anak yaitu Nabi Yusuf. Semua itu termasuk keluarga atau dzurriyah dari Nabi Ibrahim.
Fakhruddin Ar-Razi mengatakan bahwa istilah al-kitab (الكتاب) merujuk pada syariat yang bersifat lahiriyah, sedangkan istilah al-hikmah (الحكمة) merujuk pada sisi makna hakikatnya atau sebagaimana kata hikmah dalam bahasa Indonesia.
[1] Ibnu Asyur (w. 1393 H), At-Tahrir wa At-Tanwir (Tunis, Darut-Tunisiyah li An-Nasyr, Cet-1, 1984)
وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا
Kata wa aataina-hum (وَآتَيْنَاهُمْ) artinya : Kamu anugerahkan kepada mereka. Kata mulkan (مُلْكًا) artinya : kerajaan atau kekuasaan. Kata azhima (عَظِيمًا) artinya : yang sangat besar.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang kerajaan yang sangat besar ini, menjadi beberapa perbedaan pendapat.
Pertama, Mujahid mengatakan bahwa kerjaaan yang dimaksud bukan kerajaan seperti umumnya, melainkan maksudnya adalah kenabian.
Kedua, Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksudnya adalah kerajaan Nabi Sulaiman alaihissalam.
Ketiga, As-Suddi mengatakan bahwa yang dimaksud adalah kerajaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman alaihissalam. Dimana Allah SWT mengizinkan Nabi Daud menikahi 99 wanita dan mengizinkan Nabi Sulaiman menikahi 100 wanita.
Kerajaan Sulaiman
Kerajaan Nabi Sulaiman adalah salah satu kerajaan yang paling terkenal dalam sejarah, tercatat dalam Al-Qur'an dan kitab-kitab sejarah. Periode pemerintahan Nabi Sulaiman AS diperkirakan berlangsung sekitar 970-931 SM, dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Kerajaan ini terletak di wilayah yang kini dikenal sebagai Israel dan Palestina, serta mencakup wilayah yang luas di Timur Tengah, termasuk bagian dari Mesopotamia dan utara Afrika.
Nabi Sulaiman memimpin kerajaan yang sangat kaya, berhasil mengumpulkan kekayaan yang melimpah dari perdagangan, pajak, dan sumber daya alam. Kerajaannya dikenal karena pembangunan berbagai proyek infrastruktur, termasuk Kuil Sulaiman yang megah di Yerusalem, yang menjadi pusat ibadah bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi.
Dalam hal kekuasaan politik dan militer, Nabi Sulaiman memiliki pasukan yang kuat dan mampu mengendalikan berbagai suku dan bangsa. Dia dikenal karena kepiawaiannya dalam strategi militer dan diplomasi.
Dan (Kami jadikan) sebagian jin pembangun dan penyelam dan jin-jin lain yang terikat dalam belenggu." (QS. Al-Anbya 82-83)
Nabi Sulaiman AS juga dianugerahi kemampuan untuk berbicara dengan hewan dan jin, serta menguasai angin. Allah berfirman:
مَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي
Sungguh, aku telah diberikan (kerajaan) ini berdasarkan ilmu yang ada padaku (QS. Al-Naml : 37)
Kekuasaannya dianggap sebagai anugerah dari Allah SWT, dan ia terkenal karena kebijaksanaannya dalam memutuskan perkara dan menyelesaikan konflik. Salah satu kisah terkenal adalah ketika dia memutuskan sengketa antara dua wanita yang mengklaim sebagai ibu dari seorang bayi.
Warisan Kerajaan Nabi Sulaiman AS sangat mendalam dalam sejarah, baik dari segi kebudayaan, spiritual, maupun politik. Ia dikenang sebagai simbol kebijaksanaan, keadilan, dan kekuasaan. Cerita tentang kerajaan dan kehidupan Nabi Sulaiman AS dapat ditemukan dalam kitab suci Al-Qur'an, serta dalam teks-teks agama lainnya. Dengan segala kebijaksanaan dan kekuasaan yang dianugerahkan oleh Allah, Nabi Sulaiman AS menjadi salah satu tokoh yang paling dihormati dalam tradisi Islam, Kristen, dan Yahudi.
Kerajaan Daud
Nabi Daud AS menjadi raja melalui perjalanan yang penuh tantangan dan keberanian. Ia berasal dari suku Judah dan merupakan anak dari Isai. Sejak muda, Nabi Daud dikenal sebagai pemuda yang pemberani dan berbakat, terutama dalam seni musik dan memelihara domba. Keberaniannya terbukti saat ia menghadapi Jalut (Goliath), pemimpin kaum Filistin yang menantang Bangsa Israel untuk mengirimkan juara untuk bertarung. Jalut adalah seorang raksasa yang sangat kuat dan telah menantang siapapun dari Bangsa Israel selama 40 hari, tetapi tidak ada yang berani menjawab tantangannya.
Nabi Daud AS, yang saat itu masih muda, memutuskan untuk melawan Jalut. Ia meyakinkan Raja Saul untuk mengizinkannya bertarung, dengan mengatakan bahwa Allah telah menolongnya mengalahkan singa dan beruang, dan Dia akan menolongnya mengalahkan Jalut. Dengan hanya bersenjatakan slingshot dan batu, Daud menghadapi Jalut. Dengan izin Allah, Daud berhasil mengalahkan Jalut dengan satu lemparan batu yang tepat mengenai dahi Jalut, menyebabkan Jalut jatuh. Setelah itu, Daud mengambil pedang Jalut dan memenggalnya, membawa kemenangan bagi Bangsa Israel.
Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah : 251)
Setelah kemenangan tersebut, Nabi Daud AS menjadi pahlawan di mata masyarakat Israel. Popularitasnya meningkat pesat, dan orang-orang mulai memujinya atas keberaniannya. Namun, meskipun Raja Saul awalnya mengakui kemampuan Daud, ia merasa terancam oleh popularitas Daud dan berusaha untuk membunuhnya. Daud terpaksa melarikan diri dan menjadi pengembara selama beberapa tahun. Meskipun demikian, ia berhasil mengumpulkan pengikut setia selama masa pelariannya.
Setelah kematian Raja Saul dalam perang melawan Filistin, Daud diakui sebagai raja oleh suku-suku Israel. Ia diangkat sebagai raja di Hebron dan kemudian memindahkan ibu kota ke Yerusalem, di mana ia mendirikan kerajaan yang kuat dan makmur. Perjalanan Nabi Daud AS dari seorang gembala menjadi raja menunjukkan keberanian dan bimbingan ilahi, serta bagaimana Allah memberikan kekuasaan dan hikmah kepada Daud AS, menjadikannya salah satu raja yang paling dihormati dalam sejarah.
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (QS. Saba : 10)