Kata qaaluu (قَالُوا) artinya : mereka berkata. Kata yaa musa (يَا مُوسَىٰ) artinya : wahai Musa. Kata inna fiha (إِنَّ فِيهَا) artinya : sesungguhnya di dalamnya (negeri itu). Kata qauman (قَوْمًا) artinya : ada kaum atau orang-orang. Kata jabbarin (جَبَّارِينَ) artinya : orang-orang yang sangat kuat lagi kejam.
Kata ini berasal dari tiga huruf yang menjadi akar katanya yaitu huruf jim (ج), huruf ba’ (ب) dan huruf ra’ (ر). Dibentuk menjadi fi’il madhi mudhari yang dasar adalah (جَبَرَ يَجْبِرُ ). Kata jabbar (جَبَّار) ini berwazan (فَعَّال) yang merupakan bentuk sighah mubalaghah alias bentuk hiperbolik dari isim fa'il, yang maka bentuk fi'il madhi mudhari’-nya (جَبَّرَ يُجَبِّرُ)
Maka kata jabbar (جَبَّار) adalah pelaku dari perbuatan (جبر) yang maknanya banyak. Diantaranya bisa yang berarti orang yang sombong, atau orang yang bersikap tiran, juga bisa berarti orang memaksa untuk melakukan sesuatu, atau pun juga orang yang zalim dan memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Al-Farra’ dan Az-Zajjaj.
Kata ini berasal dari ungkapan nakhlatun jabbarah (نخلة جبارة) yaitu pohon kurma yang tinggi menjulang hingga tangan manusia tidak dapat mencapainya. Disebut rajulun jabbar (رجل جبار) jika ia tinggi, besar, dan kuat, menyerupai pohon kurma yang menjulang tinggi.
Kalau kita kaitkan penggalan ayat ini dengan konteks sejarah resmi, maka kita temukan data bahwa ketika Bani Israil melakukan eksodus kembali dari Mesir menuju negeri Kan’an, mereka terhambat tidak bisa memasukinya karena di negeri itu sudah ada bangsa yang kuat dan tidak mau menyerahkan negeri mereka kepada Bani Israil. Mereka disebut bangsa Amaliqah.
Bangsa Amaliqah ditakuti karena mereka dikenal sebagai bangsa yang memiliki kekuatan fisik yang besar dan kemampuan militer yang tangguh. Hal ini membuat bangsa-bangsa lain, termasuk Bani Israil, merasa gentar dan takut untuk berhadapan dengan mereka.
Bangsa Amaliqah digambarkan sebagai kaum yang sangat berani dan tidak takut dalam peperangan. Keberanian mereka dalam menghadapi musuh-musuh mereka menciptakan rasa takut dan hormat di antara bangsa-bangsa lain. Mereka mendiami wilayah Kan'an, yang merupakan tanah yang subur dan strategis. Dominasi mereka atas wilayah ini memberikan mereka kekuatan ekonomi dan militer yang besar, yang semakin meningkatkan rasa takut bangsa-bangsa lain.
Salah satu tokoh yang menakutkan dari bangsa Amaliqah adalah Jalut. Kisah Jalut yang memiliki tubuh besar dan kekuatan luar biasa, semakin meningkatkan ketakutan terhadap bangsa Amaliqah. Nantinya 300-an tahun setelah itu, barulah akhirnya bangsa Amaliqah bisa dikalahkan oleh Bani Israil, dalam kisah Nabi Daud alaihisslam melawan Jalut.
Memang Bani Israil serba salah. Meski mereka mengklaim bahwa Kan’an merupakan negeri asal leluhur mereka, yaitu Nabi Ya’qub dan 12 anak laki-lakinya yang kemudian disebut Bani Israil, namun negeri itu sudah begitu lama mereka tinggalkan. Kalau dihitung-hitung, mereka meninggalkan negeri itu di masa Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf.
Berdasarkan berbagai sumber sejarah dan tafsir, periode mereka tinggal di Mesir diperkirakan berlangsung antara 200 hingga 400 tahun.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Bani Israil tinggal di Mesir sekitar 200 tahun sebelum akhirnya keluar bersama Nabi Musa. Namun beberapa sumber lain, termasuk catatan Yahudi dan Kristen, menyebutkan bahwa mereka tinggal di Mesir selama 430 tahun, merujuk pada Kitab Keluaran 12:40-41.
Namun, banyak ulama Islam yang lebih condong ke angka 200–250 tahun, karena jumlah generasi dari Nabi Yusuf hingga Nabi Musa lebih sesuai dengan rentang waktu ini. Kalau dihitung dengan jumlah generasi, Bani Israil meninggalkan tanah leluhurnya untuk mengungsi ke Mesir berkisar antara 8 hingga 16 generasi sebelum kembali ke Kan'an di zaman Nabi Musa.
Setelah Nabi Ya’qub dan keturunannya pindah ke Mesir, populasi Bani Israil di Kan’an berkurang drastis. Kosongnya kekuatan dominan di wilayah itu membuka peluang bagi bangsa lain untuk masuk dan berkuasa.
Bangsa Amaliqah adalah bangsa nomaden yang kuat. Asal-usul mereka konon berasal dari keturunan Amaliq bin Lawudz bin Sam bin Nuh. Mereka dikenal sebagai bangsa yang tangguh dan suka berpindah-pindah, sering menyerang wilayah-wilayah subur untuk dijadikan pemukiman. mereka akhirnya menetap dan menguasai negeri kan’an.
Negeri Kan’an sendiri sebenarnya merupakan daerah strategis yang subur dan berada di jalur perdagangan. Bangsa-bangsa besar seperti Amaliqah, Filistin, dan suku-suku lain dari kawasan sekitarnya sudah lama mengincar dan ingin berkuasa atas wilayah itu.
Saat kembalinya Bani Israil dari Mesir, negeri Kan’an sudah dikuasai bangsa Amaliqah. Inilah yang menyebabkan ketakutan di kalangan Bani Israil.
Bumbu Israiliyat
Kalau kita banyak baca beberapa kitab tafsir, akan kita temukan banyak riwayat yang dikutipkan oleh para penyusun terkait dengan berbagai mitos dari bangsa Amaliqah ini. Sumbernya dari cerita kalangan Bani Israil sendiri, sehingga sering disebut dengan kisah-kisah israiliyat. Maknanya bukan sekedar terkait dengan Bani Israil, tetapi lebih dari itu ada banyak bumbu-bumbu yang terkadang tidak masuk akal.
Kaum tersebut memiliki kekuatan luar biasa dan tubuh yang sangat besar, sehingga tangan kaum Musa tidak mampu menjangkau mereka. Oleh karena itu, mereka disebut jabbarin dalam pengertian ini.
Al-Qurtubi menuliskan dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran salah satu bumbu israiliyatnya bahwa ada sosok dari bangsa Amaliqah yang bernama ‘Uj atau ‘Uj ibnu ‘Unuq. Disebut-sebut dia adalah raksasa dari kaum Amaliqah. Sebagai raksasa, disebutkan tingginya mencapai 3.333 hasta, atau setara dengan 1,5 kilometer. Tentu saja kita tidak bisa menerima kisah mitologi macam ini. Sebab mana ada manusia yang tingginya sampai satu setengah kilometer.
Lalu digambarkan dia mampu menarik awan dengan tongkatnya, minum dari airnya, serta menangkap ikan dari dasar laut, lalu memanggangnya dengan panas matahari sebelum memakannya.
Dikisahkan pula bahwa ia hadir saat banjir besar pada zaman Nabi Nuh 'alaihis salam, namun air tersebut tidak melebihi lututnya. Umurnya disebut mencapai 3.600 tahun. Ia pernah mencabut sebuah batu sebesar perkemahan pasukan Musa dengan niat menghancurkan mereka, tetapi Allah mengirim seekor burung yang mematuk batu tersebut hingga jatuh ke lehernya, menyebabkan ia tersungkur.
Nabi Musa 'alaihissalam, yang memiliki tinggi sepuluh hasta, dengan tongkatnya yang juga sepanjang sepuluh hasta, melompat setinggi sepuluh hasta ke langit dan hanya mampu memukul mata kakinya saat 'Uj dalam keadaan tersungkur, lalu membunuhnya.
Ada pula riwayat lain yang menyebut bahwa Nabi Musa memukul urat di bawah mata kakinya hingga membuatnya jatuh dan mati. Jasadnya kemudian jatuh di Sungai Nil di Mesir, dan selama setahun jasadnya menjadi jembatan bagi orang-orang yang menyeberanginya.
Nabi Muhammad SAW memberikan pedoman dalam menyikapi kisah-kisah Israiliyat, yaitu kisah-kisah yang berasal dari tradisi Yahudi dan Kristen. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
لَا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا
"Janganlah kalian membenarkan Ahli Kitab, dan jangan pula mendustakan mereka. Tetapi katakanlah: 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami'." (HR. Bukhari)
Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
Kata wa inna (وَإِنَّا) artinya : dan Kami. Kata lan nadkhulaha (لَنْ نَدْخُلَهَا) artinya : tidak akan memasukinya. Kata hatta (حَتَّىٰ) artinya : sampai, atau sehingga. Kata yakhruju (يَخْرُجُوا) artinya : mereka keluar. Kata minha (مِنْهَا) artinya : dari sana.
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menuliskan bahwa Nabi Musa alaihissalam sebelumnya telah mengutus dua belas pemimpin dari orang-orang terpercaya untuk menyelidiki keadaan negeri tersebut. Ketika mereka memasuki negeri itu, mereka melihat tubuh-tubuh yang besar dan menakutkan.
Salah satu dari orang-orang yang perkasa di negeri itu melihat mereka, lalu menangkap mereka dan memasukkan mereka ke dalam lengan bajunya bersama dengan buah-buahan yang dibawanya dari kebunnya. Kemudian ia membawa mereka kepada raja, lalu menumpahkan mereka di hadapannya dan berkata dengan heran kepada sang raja, "Orang-orang inikah yang ingin memerangi kita?"
Sang raja pun berkata, "Kembalilah kepada pemimpin kalian dan beritahukan kepadanya apa yang telah kalian lihat."
Maka para pemimpin itu kembali kepada Musa 'alaihissalam dan menyampaikan kejadian tersebut kepadanya. Musa kemudian memerintahkan mereka untuk merahasiakan apa yang mereka lihat, tetapi mereka tidak mematuhi perintahnya, kecuali dua orang di antara mereka, yaitu Yusya' bin Nun dan Kalib bin Yufna.
Keduanya justru menenangkan kaum mereka. Keduanya berkata, "Negeri itu adalah negeri yang baik, penuh dengan banyak kenikmatan. Meskipun tubuh penduduknya besar, tetapi hati mereka lemah."
Namun, sepuluh orang lainnya justru menanamkan rasa takut di hati masyarakat hingga mereka menunjukkan keengganan untuk menyerang negeri itu. Mereka pun berkata kepada Musa bahwa mereka tidak mau masuk ke negeri itu, sampai musuh mereka keluar dulu.
Sejarah membuktikan bahwa Bani Israil tidak jadi masuk ke negeri leluhur mereka, disebabkan mereka tidak siap untuk turun gelanggang berperang menghadapi bangsa Amaliqah.
Entah karena memang mereka lemah secara fisik, atau pun juga lemah mental, atau perpaduan antara keduanya, yang jelas mereka mengurungkan niat untuk masuk ke negeri leluhur mereka.
Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Matafih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)
Kata fa-in فَإِنْ (فَإِنْ) artinya : maka jika, atau maka apabila. Kata yakhuruju (يَخْرُجُوا) artinya : mereka keluar. Kata minha (مِنْهَا) artinya : dari sana. Maksudnya jika bangsa Amaliqah yang mereka takuti itu sudah pergi meninggalkan negeri mereka, sehingga untuk masuk ke negeri mereka tidak perlu berjuang angkat senjata.
Kata fainna (فَإِنَّا) artinya : maka kami pasti. Kata dakhilun (دَاخِلُونَ) artinya : orang-orang yang masuk.
Ini adalah persyaratan yag diajukan oleh Bani Israil, yaitu kaumnya Nabi Musa alaihissalam untuk mau masuk ke negeri tujuan. Padahal mereka sudah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan untuk meninggalkan Mesir dari tekanan bangsa Mesir. Ternyata begitu negeri tujuan sudah ada di depan mata, mereka malah membatalkan niat.
Sebagiannya ingin kembali lagi ke negeri Mesir. Mereka berpikir akan jauh lebih baik jika mereka kembali ke kubangan perbudakan, ketimbang menerobos masuk ke negeri leluhur sendiri, tetapi harus dengan jalan berperang menyabung nyawa.
Padahal berperang untuk merebut kembali tanah air dan negeri leluhur itu secara logika tidak bisa dihindarkan. Sebab bangsa Amaliqah memang harus dihadapi, cepat atau lambat. Kalau pun misalnya negeri mereka tidak dikuasai bangsa Amaliqah, tetap saja bangsa itu akan terus menjadi ancaman bagi keberadaan mereka.
Jadi mau berjuang sekarang atau nanti-nanti saja, sebenarnya sama saja bagi mereka. Intinya, bangsa Amaliqah harus mereka lawan dan mereka taklukkan.
Sedangkan duduk berpangku tangan, berharap bangsa Amaliqah dengan suka rela pergi meninggalkan negeri itu begitu saja, adalah sebuah kemustahilan, bahkan sekedar apologia dari sikap mental yang lemah.
Begitulah perjuangan panjang Bani Israil untuk bisa kembali lagi ke negeri mereka. Terpaksa harus tertahan bertahun-tahun lamanya, setidaknya hingga 40 tahun kemudian, sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam ayat-ayat berikutnya.
قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
(Allah) berfirman, “(Jika demikian,) sesungguhnya (negeri) itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka, janganlah engkau (Musa) bersedih atas (nasib) kaum yang fasik itu.(QS. Al-Maidah : 26)
Ayat ini menjelaskan bahwa sebagian lagi dari Bani Israil pengikut Musa tidak mau kembali ke Mesir, karena toh mereka sudah tidak punya tempat lagi disana. Apalagi terakhir Fir’aun dan bala tentaranya mati tenggelam di laut, pastilah penduduk Mesir akan mengusir mereka karena dianggap bertanggung-jawab atas kematian raja mereka serta begitu banyak dari tentaranya. Maka jadilah mereka berputar-putar di padang Tih selama 40 tahun lamanya.