Kemenag RI 2019:Mereka berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya kami sampai kapan pun tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Oleh karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami tetap berada di sini saja.” Prof. Quraish Shihab:Mereka berkata: “Wahai Musa! Se
sungguhnya kami sekali-sekali tidak
akan memasukinya selama-lamanya,
selagi mereka ada di dalamnya, karena
itu pergilah engkau bersama Tuhan
Pemeliharamu, dan berperanglah kamu
berdua, sesungguhnya kami di sini akan
duduk (menanti).” Prof. HAMKA:Mereka berkata, "Wahai Musa! Kami tidak akan masuk ke sana selama mereka masih ada di sana. Maka pergilah kamu bersama Tuhanmu, berperanglah kalian, sementara kami tetap di sini."
Ayat ke-24 ini masih meneruskan kisah Bani Israil yang enggan masuk ke negeri tujuan, padahal Nabi Musa alaihissalam telah memerintahkan mereka. Ternyata mereka menjawab bahwa sampai kapan pun mereka tidak akan memasuki negeri itu, selama kaum Jabbarin yaitu bangsa Amaliqah masih ada di dalamnya.
Bani Israil malah memerintahkan balik kepada Nabi Musa sendiri agar melawan bangsa itu bersama Tuhannya. Adapun mereka ingin duduk-duduk saja sambil menunggu datangnya kemenangan. Semua itu Allah SWT ceritakan untuk menggambarkan bahwa para leluhur mereka di masa itu sangat tidak siap untuk berperang dalam arti melakukan pertempuan secara fisik.
Boleh jadi mereka hanya mengandalkan mukjizat, sebagaimana yang telah mereka saksikan sendiri mukjizat sebelumnya, yaitu bagaimana lautan dibelah atas izin Allah SWT. Namun kali ini Allah SWT tidak akan memberikan kemudahan dan pertolongan secara gratisan. Nampaknya mereka diminta untuk menunjukkan pengorbanan terlebih dahulu sebelum menikmati hasilnya.
Kata qaaulu (قَالُوا) artinya : mereka berkata. Mereka yang dimaksud adalah kaumnya Nabi Musa yang merupakan bagian dari Bani Israil. Kejadiannya setelah mereka Allah SWT selamatkan dari kejaran pasukan Firaun dan sudah tinggal melangkah masuk ke negeri tujuan mereka.
Kata ya musaa (يَا مُوسَىٰ) artinya : wahai Musa. Maksudnya mereka berkata kepada Nabi Musa, yang sudah sejak awal menjadi pemimpin mereka dan menyelamatkan mereka dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya.
Kata inna (إِنَّا) artinya : sesungguhnya kami. Kata lan nadkhula-ha (لَنْ نَدْخُلَهَا) artinya : tidak akan pernah memasukinya. Kata ini diawali dengan huruf lan (َنْ) yang punya makna berkesinambungan. Maka bisa diterjemahkan menjadi : tidak akan pernah memasukinya.
Huruf ha (ها) yang menempel di belakang fi’il (ندخل) menjadi maf’ul bihi, yang maknanya itu atau dia, namun maksudnya adalah negeri tujuan mereka, yaitu Baitul Maqdis.
Kata abadan (أَبَدًا) secara harfiyah artinya abadi, kekal, untuk seterusnya, sampai kapan pun. Kata ini menambah kekuatan makna bahwa Bani Israil umatnya Nabi Musa itu sangat serius menolak untuk masuk ke negeri yang sejak awal mereka tuju.
Memang begitulah yang terjadi pada mentalitas Bani Israil. Saking takutnya mereka berhadapan dengan lawan, lebih baik ambil langkah seribu dan menghindari pertempuran. Maka mereka bilang bahwa sampai kapanpun kami tidak akan masuk ke negeri itu. Bahkan kalau perlu, pulang balik lagi ke Mesir menjadi budak orang Mesir pun kami rela.
فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ
Kata fadzhab anta (فَاذْهَبْ أَنْتَ) terdiri dari dua kata, yaitu fadzhab (فَاذْهَبْ) yang artinya : pergilah. Sedangkan kata anta (أَنْتَ) artinya : kamu. Maksudnya Nabi Musa.
Bani Israil tidak mau berperang, tetapi tetap memimpikan untuk bisa masuk ke negeri leluhur mereka. Maka yang mereka lakukan adalah agar Nabi Musa saja yang pergi berperang. Toh, Nabi Musa punya fisik yang mumpuni dan pastinya punya keberanian untuk bertarung dengan lawan di medan laga.
Lagi pula mereka yakin bahwa Nabi Musa adalah seorang nabi yang pastinya dikaruniai mukjizat. Dan belum lama ini, mukjizat yang amat nyata telah mereka saksikan sendiri, yaitu bagaimana laut yang luas dan dalam itu bisa terbelah sehingga dasar lautan itu bisa ditapaki oleh kaki-kaki dari Bani Israil. Mereka berhasil melewati dasar lautan tanpa ada masalah sedikit pun.
Begitu mereka sudah tiba di seberang, segera laut itu menyatu kembali dan bala tentara Firuan mati tenggelam. Mukjizat itu kemudian selalu mereka rayakan setiap tahunnya, yaitu dengan cara berpuasa pada setiap tanggal 10 Muharram.
Kira-kira konsep seperti itulah yang mereka inginkan terkait dengan tantangan berikutnya, yaitu adanya bangsa Amaliqah di negeri tujuan mereka. Mereka ingin biar Nabi Musa saja yang menghandle urusan pengusiran bangsa itu.
Kata wa rabbuka (وَرَبُّكَ) artinya : dan Tuhanmu. Sebenarnya Bani Israil tahu bahwa Nabi Musa alaihissalam itu tidak mungkin melawan bangsa Amaliqah sendirian. Mana mungkin satu orang melawan suatu bangsa dan satu negeri.
Maka mereka tambahkan dengan kata wa rabbuka (وَرَبُّكَ) yang artinya : dan Tuhanmu. Karena yang sebenarnya Maha Kuasa dan Maha Perkasa adalah Allah SWT. Mereka berpikir, tidak perlu mereka yang harus capek-capek berperang, masalah semacam itu sangat mudah bagi Allah. Kalau Allah SWT berkehendak, musuh itu bisa dengan mudah diusir dengan berbagai macam cara.
فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ
Kata fa qaatilaa (فَقَاتِلَا) artinya : maka berperanglah kalian berdua. Perintah ini ditujukan kepada Nabi Musa alaihissalam dan kepada Allah SWT.
Perintah kepada Allah SWT untuk berperang tentunya bukan seperti perang yang dilakukan oleh manusia dengan manusia. Kalau Allah SWT berperang maksudnya adalah Allah SWT turunkan kehancuran kepada suatu kaum dan membinasakan mereka.
Memang begitulah sejak dahulu sunnatullah yang berjalan, kaum yang sombong, membangkang dan juga ingkar kepada para nabi, biasanya akan Allah SWT basmi dan matikan serta Allah turunkan kehancuran kepada mereka. Al-Quran banyak sekali menyebutkan hal-hal semacam ini, diantaranya :
"Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal Kami telah memberikan kepada mereka kedudukan di bumi yang belum pernah Kami berikan kepadamu? Kami curahkan hujan lebat kepada mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka. Kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka, dan Kami ciptakan setelah mereka generasi yang lain." (QS. Al-An’am: 6)
"Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan. Siksaan Kami datang menimpa mereka pada malam hari atau ketika mereka sedang beristirahat di siang hari." (QS. Al-A’raf: 4)
"Dan Kami tidak membinasakan suatu negeri, melainkan sudah ada ketentuan yang ditetapkan baginya. Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak pula dapat menunda." (QS. Al-Hijr: 4-5)
"Dan (penduduk) negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan Kami tetapkan waktu bagi kebinasaan mereka." (QS. Al-Kahfi: 59)
"Maka masing-masing (kaum itu) Kami azab karena dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan badai yang mengandung batu, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sekali-kali tidak hendak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri sendiri." (QS. Al-Ankabut: 40)
إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ
Kata innaa (إِنَّا) artinya : sesungguhnya kami. Kata ha huna (هَاهُنَا) artinya : disini. Kata qa’idun (قَاعِدُونَ) artinya : orang-orang yang duduk.
Ada dua hal yang disebutkan pada penggalan ini untuk menggambarkan betapa mereka memang tidak punya niat untuk berperang terkait dengan lokasi dan posisi.
Pertama, lokasi mereka adalah : disini, itu jelas bukan di medan laga. Seharusnya kalau pun mereka tidak mau ikut perang, setidaknya ikut membantu, entah jadi petugas bagian kesehatan, logistik ataupun peran-peran apapun.Ternyata secara lokasi, justru mengambil jarak yang jauh dari lokasi, sama sekali tidak mau kotor tangannya.
Kedua, secara posisi mereka mengatakan bahwa diri mereka itu berposisi sebagai orang-orang yang duduk saja, alias qaidun (قاعدون). Seharusnya, posisi mereka bersiap-siap menjadi pasukan cadangan, sebagaimana dalam pertandingan sepak bola. Duduknya secara lokasi di tepi lapangan, sudah pakai seragam dan melakukan pemanasan.
Ternyata yang mereka lakukan sama sekali tidak siap masuk lapangan. Mereka hanya jadi penonton rumahan saja, lokasinya tidak dipinggir lapangan, bahkan tidak hadir juga di stadion pertandingan, dan pastinya juga tidak pakai seragam kesebelasan.
Mereka inginnya hanya jadi penonton siaran langsung dari rumah. Kalaupun mereka teriak-teriak gol, tidak akan didengar oleh pemain yang di lapangan. Tidak pernah jadi supporter aktif kalau hanya menonton dari rumah.