Kemenag RI 2019:Tidakkah mereka bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya, padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang? Prof. Quraish Shihab:Maka, tidakkah mereka bertaubat
kepada Allah dan memohon ampunan-
Nya. Dan Allah Maha Pengampun,
lagi Maha Pengasih. Prof. HAMKA:Maka, mengapa mereka tidak juga bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat ke-74 ini menampakkan rasa heran dan takjub secara negatif, seakan tidak percaya melihat penyimpangan dasar-dasar teologi yang dialami para pemuka agama nasrani. Seolah Allah SWT bertanya apakah mereka tidak mau bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya?
Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kekeliruan dan penyimpangan yang mereka alami, sebenarnya amat sangat mudah bagi Allah SWT untuk memberikan ampunan kepada mereka. Tetapi amat disayangkan, mereka tidak segera minta ampun.
أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ
Kata a-fa-laa (أَفَلَا) artinya secara per bagian adalah : apakah – maka – tidak. Tetapi biar lebih enak dipahami, kita terjemahkan menjadi : maka mengapa tidak.
Kata yatubuna (يَتُوبُونَ) artinya : mereka bertaubat. Kata illallahi (إِلَى اللَّهِ) artinya : kepada Allah. Pengertian taubat sendiri dalam bahasa Arab adalah ar-ruju’ (الرجوع) yaitu kembali, maksudnya kembali dari dosa-dosa.
Dan secara istilah di dalam kitab Kifayah At-Thalib Ar-Rabbani dan juga kitab Lisanul Arab, taubah itu didefinisikan sebagai :[1]
Kembali dari berbagai perbuatan yang tercela kepada perbuatan yang terpuji secara syariah.
Perintah bertaubat ini Allah SWT wajibkan kepada mereka yang telah terlanjur melakukan kesalahan besar, yaitu menyembah patung anak sapi yang terbuat dari emas.
Di dalam hadits nabi, apa yang mereka lakukan itu termasuk jenis dosa besar nomor satu, yaitu menyekutukan Allah SWT.
Jauhilah tujuh macam dosa yang bertingkat–tingkat (besar), diantaranya ialah : mempersekutukan Allah, sihir, membunuh diri yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, makan harta riba, makan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita yang berimana yang tidah tahu menahu dengan perbuatan buruk dengan apa yang difitnakan kepadanya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kewajiban Segera Bertaubat
Allah SWT telah memerintahkan kita untuk bersegera menuju kepada ampunan-Nya. Sebab yang namanya bertaubat itu adalah pekerjaan yang tidak boleh ditunda-tunda. Kita diperintahkan untuk bersegera menuju kepada ampunan dari Allah SWT, sebagaimana perintah-Nya di dalam Al-Quran :
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS. Ali Imran : 133)
Namun demikian, bila seseorang terlambat untuk bertaubat sejak masih muda, lalu ketika sudah renta, lemah dan sakit-sakitan, baru tergerak untuk bertaubat, tentu tetap masih ada kesempatan. Sebab pintu taubat belum lagi ditutup, selama ajal masih dikandung badan dan selama matahari belum terbit dari barat (kiamat). Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :
Lafazh wa yaastaghfiruna-hu (وَيَسْتَغْفِرُونَهُ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’. Asalnya dari (غَفَرَ - يَغْفِرُ) bermakna mengampuni, lalu ketambahan dua huruf di awal yaitu alif (أ) dan sin (س), sehingga menjadi (اِسْتَغْفَرَ - يَسْتَغْفِرُ) lalu artinya berubah dari memberi ampun menjadi memohon ampun.
Perintah untuk minta ampun kepada Allah SWT itu adalah kesempatan yang merupakan celah jalan keluar ketika seseorang terlanjur melakukan kesalahan fatal. Tidak ada dosa dan kesalahan yang tidak bisa diampuni. Maka Allah SWT perintahkan meminta ampunan, bahkan diperintahkan untuk bersegera melakukannya, jangan ditunda-tunda, sebagaimana perintah-Nya di dalam Al-Quran :
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu. (QS. Ali Imran : 133)
Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa : 110)
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Kata wallahu (وَاللَّهُ) artinya : dan Allah. Kata ghafurun (غَفُورٌ) artinya Tuhan Yang Mengampuni, dalam arti yang amat luas tanpa batas, bahkan termasuk dosa menyekutukan Allah SWT sekalipun, tetap saja akan diampuni.
Lafazh rahim (رَحِيمٌ) artinya : Maha Penyayang. Beda antara sifat Allah yang satunya yaitu rahman adalah itu sifat Allah memberi kepada siapa saja dari makhluk-Nya, baik yang beriman atau pun yang kafir. Sedangkan sifat rahim-Nya adalah lebih eksklusif, yaitu hanya diberikan kepada hamba-hamba yang beriman saja.
Allah SWT berkali-kali menyebut diri-Nya sebagai Maha Penerima taubat atas dosa-dosa hamba-Nya. Penyebutan itu ada yang dalam bentuk nama-Nya, atau sifat-Nya, atau pun perilaku-Nya.
Dalam ayat ini ada dua macam sifat Allah SWT yang disebutkan sekaligus, yaitu Maha Penerima tobat, dan Maha Pengasih. Hal ini merupakan isyarat tentang jaminan Allah kepada setiap orang yang bertobat menurut cara-cara yang tersebut di atas, bahwa Allah swt akan melimpahkan kepadanya kebajikan dan ampunan-Nya.
Agar taubat bisa diterima Allah, maka harus memenuhi syarat-syaratnya, antara lain :
1.Menyesali dan meninggalkan segala kesalahan yang telah dilakukan.
2.Menjauhi dan tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan dan perbuatan-perbuatan semacam itu.
3.Mengiringi perbuatan dosa itu dengan perbuatan-perbuatan yang baik.
Dalam hal ini Rasulullah saw telah bersabda:
Iringilah perbuatan jahat itu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan dosanya. (Riwayat at-Tirmizi dari Abt Zarr)