Kemenag RI 2019:Mengapa kami tidak beriman kepada Allah dan kebenaran yang telah datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami bersama kaum yang saleh?” Prof. Quraish Shihab:Mengapa kami tidak beriman
kepada Allah dan kepada kebenaran
yang telah datang kepada kami,
padahal kami sangat ingin supaya
Tuhan Pemelihara kami memasukkan
kami bersama kaum yang saleh.”
Prof. HAMKA:Mengapalah kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada yang datang kepada kami daripada kebenaran dan rindulah kami akan dimasukkan kami oleh Tuhan kami beserta kaum yang saleh.
Ayat ke-84 ini sebenarnya adalah lanjutan pernyataan orang-orang Nasrani di masa kenabian yang telah menyatakan keimanan mereka kepada Allah SWT, Nabi SAW dan juga kepada Al-Quran.
Menurut pengakuan mereka, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak beriman kepada Allah dan kebenaran yang telah datang kepada mereka.
Selain itu mereka menyatakan sangat ingin dimasukkan bersama kaum yang saleh.
وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ
Kata wa maa lana (وَمَا لَنَا) artinya : dan mengapa kami. Kata laa nu’minu (لَا نُؤْمِنُ) artinya : kami tidak beriman. Kata billahi (بِاللَّهِ) artinya : kepada Allah.
Penggalan ini mengandung keindahan gaya bahasa yang sangat khas dan kuat dalam menyentuh logika dan perasaan. Kalimat ini merupakan bentuk pertanyaan retoris, yaitu pertanyaan yang tidak dimaksudkan untuk dijawab, melainkan untuk menegaskan suatu kebenaran.
Dengan menanyakan "mengapa kami tidak beriman?", sebenarnya ayat ini sedang menegaskan bahwa tidak ada alasan sedikit pun bagi mereka untuk tidak beriman. Bentuk pertanyaan seperti ini digunakan dalam bahasa Arab untuk memperkuat makna dan menyampaikan perasaan takjub sekaligus teguran halus. Artinya, beriman kepada Allah adalah hal yang sangat logis, fitrah, dan sewajarnya dilakukan, sehingga bila seseorang tidak beriman, justru itu yang tidak masuk akal.
Keindahan lain terletak pada susunan kata wa ma lana (وَمَا لَنَا) yang secara harfiah berarti “apa bagi kami” atau “apa alasannya bagi kami”.
Kalimat ini menunjukkan perasaan heran yang dalam dan mengandung nada emosional. Seolah-olah orang yang mengucapkannya sedang mengatakan, “Apa mungkin ada alasan bagi kami untuk tidak percaya kepada Allah?”
Ini menunjukkan betapa kuatnya iman mereka dan betapa wajar serta alaminya keimanan itu dalam hati mereka. Dengan menyisipkan ungkapan ini, Al-Qur’an memperlihatkan betapa tidak masuk akalnya sikap kufur dan betapa mulianya jalan iman.
Selain itu, keindahan bahasa dalam ayat ini juga tercermin dari penggunaan dua bentuk penyangkalan secara bersamaan, yaitumaa (ما) dan laa (لا). Dalam kaidah balaghah, pengulangan unsur penyangkalan seperti ini berfungsi untuk menegaskan makna dan menambah bobot pernyataan serta memberikan tekanan bahwa ketidakberimanan bukan hanya tidak terjadi, tapi juga sangat tidak layak untuk terjadi.
وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ
Kata wa maa jaana (وَمَا جَاءَنَا) artinya : dan apa yang mendatangi kami. Kata minal-haq (مِنَ الْحَقِّ) artinya : dari kebenaran.
Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kata al-haq atau kebenaran pada penggalan ayat ini.
Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan al-ḥaqq dalam ayat ini sebagai risalah dari Allah yang dibawa oleh para rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks ayat ini, yang dimaksud adalah ajaran yang benar dan petunjuk dari Allah yang datang melalui Nabi Isa dan Nabi Muhammad, yaitu ajaran tauhid dan iman kepada Allah.
Begitu juga Al-Qurṭubi menjelaskan bahwa al-ḥaqq adalah Al-Qur’an dan kenabian Muhammad SAW, yang merupakan puncak dari kebenaran dan petunjuk ilahi. Orang-orang yang beriman dalam ayat ini menyatakan bahwa mereka tidak bisa tidak beriman, karena kebenaran (wahyu) itu telah datang kepada mereka secara nyata dan terbukti.
Ibn Kathir menyebut bahwa al-ḥaqq merujuk kepada kitab-kitab dan ajaran yang diturunkan oleh Allah, terutama Al-Qur’an yang menegaskan dan menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat dan Injil. Kalimat ini adalah pengakuan dari orang-orang yang diberi hidayah bahwa mereka telah menyaksikan sendiri datangnya kebenaran, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak beriman.
Al-Sa‘di menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al-ḥaqq adalah seluruh ajaran Islam yang mencakup keyakinan yang benar, hukum-hukum yang adil, dan akhlak yang luhur, dan semuanya datang sebagai bentuk rahmat dari Allah untuk manusia.
وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا
Kata wa nathma’u (وَنَطْمَعُ) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab menjadi : dan kami sangat menginginkan. Namun Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : rindulah kami. Kata nathma’u (نَطْمَعُ) itu berasal dari kata thama’a – yathma’u (طَمَعَ - يَطْمَعُ) yang secara harfiyah berarti tamak atau berkeinginan kuat terhadap sesuatu, seringkali dengan konotasi ambisius atau bahkan rakus.
Namun juga dimaknai secara harfiah menjadi tamak, kesan yang didapat cenderung negatif, padahal ini bagian dari lafazh yang positif. Tentu doa ini tidak mungkin diterjemahkan menjadi "Kami tamak kepada-Mu”. Terjemahannya bisa dibuat yang lebih menghayati, misalnya : "Kami sangat berharap kepada-Mu".
Ini menunjukkan bahwa keinginan mereka sangat besar dan tulus, bukan sekadar berharap biasa, melainkan harapan yang membakar jiwa untuk bisa bergabung bersama orang-orang saleh. Penggunaan kata ini menunjukkan kedalaman perasaan dan kekhusyukan, seolah-olah mereka tidak merasa layak, tetapi tetap menghiba dengan harapan tinggi kepada rahmat Allah.
Kata an yudkhilana (أَنْ يُدْخِلَنَا) artinya : agar memasukkan kami. Secara tata bahasa, ungkapan ini penuh kehati-hatian dan kesantunan berbahasa. Mereka tidak mengatakan (نحن سندخل) atau : kami akan masuk, tapi menggunakan fi‘il atau kata kerja dari pihak Tuhan, yaitu : (يُدْخِلَنَا رَبُّنَا) “Tuhan kami memasukkan kami”.
Ini jelas mencerminkan kerendahan hati, bahwa masuk ke dalam kelompok orang saleh bukan karena amal, melainkan karena kehendak dan rahmat Allah semata. Ada unsur ta’dzim atau pengagungan kepada Allah dan sekaligus juga unsur tawadhu‘ alias kerendahan hati dalam cara pengungkapannya.
Kata rabbuna (رَبُّنَا) artinya : Tuhan Kami. Kata ini tidak hanya berarti “Tuhan”, tapi juga Yang Mendidik, Merawat, Mengasuh. Dengan menyebut rabbuna (رَبُّنَا) mereka menampilkan hubungan yang personal dan penuh cinta, seperti anak yang mengandalkan kasih sayang orang tuanya. Dari sisi keindahan, kita temukan ada nuansa kelembutan dan keintiman spiritual dengan Allah yang tidak tampak jika hanya menyebut Allah SWT saja.
مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ
Kata ma’a (مَعَ) artinya : bersama. Kata al-qaum ash-shalihin (الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ) artinya : kaum yang shalihin.
Para ulama berbeda pendapat tentang siapakah yang dimaksud dengan kaum yang shalih di ayat ini. Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1] mengutip pendapat Ibnu Zaid bahwa yang dimaksud tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW dan para shahabat. Sedangkan Al-Qurtubi menyebutkan dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[2] bahwa yang dimaksud adalah umat Nabi Muhammad SAW.
Sebenarnya niat dan tujuannya simpel saja, yaitu minta dimasukkan ke dalam surga. Namun cara mengungkapaknnya sebegitu lembut dan halus, yaitu meminta dikumpulkan atau disejajarkan bersama orang-orang saleh. Dan tempatnya orang-orang shalih itu pastinya di dalam surga.
[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)
[2] Al-Qurtubi (w. 671 H), Al-Jami' li Ahkam Al-Quran, (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)