Kata walladzina kafaru (وَالَّذِينَ كَفَرُوا) artinya : dan orang-orang yang kafir. Maksudnya merkea yang tidak mau menyatakan keimanan, baik kepada Allah SWT maupun kepada Nabi Muhammad SAW.
Kata wa kadzdzabu (وَكَذَّبُوا) artinya : dan mendustakan. Maksud dari mendustakan adalah menolak atau tidak mengakuinya sebagai kitab suci samawi yang turun dari Allah SWT. Kata bi-ayaatina (بِآيَاتِنَا) artinya : kepada ayat-ayat Kami, yaitu wahyu Allah SWT telah diturunkan, baik berupa kitab suci Al-Quran atau pun dan risalah agama yang terbaru.
Kalau melihat keumuman lafazh, maka siapapun bisa dimasukkan ke dalamnya, baik mereka orang-orang musyrikin Mekkah atau kaum Arab yang menyembah berhala, maupun juga para ahli kitab, baik dari kalangan Yahudi ataupun Nasrani.
Namun kalau kita lihat secara konteks ayat ini, sebenarnya rangkaian ayat-ayat ini sudah diawali sejak kita baca ayat ke-81 dari surat Al-Maidah, dimana kandungan membicarakan kerasnya permusuhan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin kepada Nabi SAW dan kaum muslimin. Maka tidak keliru kalau ditafsirkan bahwa mereka yang kafir disini adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin Arab.
Akan tetapi kalau melihat keumuman redaksi ayatnya, tentu tidak sebatas Yahudi dan musyrikin Arab saja, tetapi juga bahkan dari kalangan nasrani yang tidak mau mengakui kenabian Muhammad SAW pun ada banyak juga.
Kata ulaika (أُولَٰئِكَ) adalah kata tunjuk yang disebut isim isyarah, yaitu untuk menunjuk objek yang jumlahnya banyak dan jaraknya lumayan jauh. Kata ini biasanya digunakan untuk memberi penekanan, penghakiman, dan penunjukan tegas.
Kata ulaika (أُولَٰئِكَ) ini asalnya terbentuk dari tiga bagian utama yang secara bersama-sama membentuk kata tunjuk. Bagian pertama adalah huruf أُ, yang berfungsi sebagai huruf pembuka dan dalam ilmu balaghah disebut sebagai harf tanbih, yaitu kata perhatian yang memberi nuansa peringatan atau penekanan seperti “ingatlah” atau “perhatikanlah”.
Bagian kedua adalah kata walaa’ (ولاء) yang merupakan akar dari bentuk isyarah. Kata ini berakar dari aula (أُولَٰى) yang secara leksikal berarti “yang dekat”. Dalam struktur kata tunjuk, bagian ini menjadi inti yang menunjukkan objek yang sedang ditunjuk.
Bagian ketiga adalah huruf ka (كَ) yaitu dhamir atau kata ganti orang kedua tunggal dalam bahasa Arab yang biasanya berarti “kamu”. Namun dalam konteks ini, huruf (كَ) ini tidak lagi membawa makna “kamu”, melainkan berfungsi sebagai unsur tambahan yang bersifat fonetik dan gramatikal untuk menyempurnakan pembentukan bentuk isyarah jamak tersebut.
Kata ashab (أَصْحَابُ) adalah bentuk jama’ dari shahib (صاحب), yang secara harfiyah artinya bisa bermacam-macam :
§ Teman : Kata ini bisa bermakna teman, yang menunjukkan hubungan sosial yang dekat dan bersahabat. Contohnya terdapat dalam surat Yusuf ayat 39 : (يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ) : “wahai dua shahabat dalam penjara”.
§ Pengikut : kata ini juga bisa berarti pengikut, sebagaimana (أَصْحَابُ مُوسَىٰ) yang merupakan sebutan untuk pengikut Nabi Musa.
§ Penduduk : kadang bisa juga bermakna penduduk atau masyarakat yang tinggal di suatu wilayah tertentu. Penduduk negeri Aikah disebut ashabul-aikah (أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ).
§ Kebersamaan : kadang juga bermakna kebersamaan, contohnya Allah SWT menyebut tentara Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah dengan sebutan ashabul-fil (أَصْحَابُ الْفِيلِ). Hal itu karena keberadaan tentara itu bersama-sama dengan gajah.
Namun dalam konteks ayat ini, ashabul-jahim (أَصْحَابُ الْجَحِيمِ) itu lebih tepat dimaknai sebagai penghuni tetap, yaitu orang-orang yang berada dalam suatu tempat secara tetap untuk seterusnya dan selamanya.
Kata jahim (الجحيم) secara harfiah adalah api yang sangat besar, menyala-nyala, panas luar biasa, dan tak pernah padam. Dalam istilah Qur’ani, itu adalah nama neraka yang mengandung siksaan yang paling membakar, paling dahsyat, dan paling mengerikan, digunakan Allah untuk menggambarkan nasib orang-orang yang menolak iman dan mendustakan ayat-Nya.
Di dalam Al-Quran kita temukan ada banyak istilah yang berbeda-beda, namun semua mengacu kepada satu objek yaitu neraka. Sebagian ulama menyebutkan bahwa neraka yang dimaksud hanya satu, hanya saja penamaannya banyak karena ada sisi-sisi tertentu yang ingin lebih ditonjolkan.
|
Nama
|
Makna Harfiyah
|
Kesan Emosional
|
Gaya Bahasa
|
|
النار
|
Api
|
Umum, ancaman dasar
|
Netral, fleksibel
|
|
الجحيم
|
Api besar menyala
|
Panas membakar terus
|
Tegas & permanen
|
|
السعير
|
Api bergolak
|
Mengerikan, bergejolak
|
Mengguncang jiwa
|
|
لظى
|
Api menyambar
|
Ganas & tak terkontrol
|
Tajam dan cepat
|
|
سقر
|
Membakar habis
|
Tanpa ampun
|
Menghentak & tragis
|
|
الهاوية
|
Jurang dalam
|
Jatuh tanpa akhir
|
Gelap & putus asa
|
|
جهنم
|
Neraka umum
|
Sistemik & formal
|
Nama utama tempat siksa
|