Rumah Fiqih Indonesia
Jilid : 13 Juz : 7 | Al-Maidah : 86
Al-Maidah 5 : 86
Mushaf Kemenag RI hal. 122
Kemenag RI 2019: Adapun orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni (neraka) Jahim.

Prof. Quraish Shihab: Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (baik yang terbaca maupun yang terhampar di alam semesta), mereka itu adalah para penghuni (neraka) Jahim.

Prof. HAMKA: Dan orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Kami, adalah mereka itu ahli neraka.

TAFSIR AL-MAHFUZH
***

Ayat ke-86 ini merupakan antitesis dari ayat-ayat sebelumnya yang menceritakan orang-orang nasrani yang telah menyatakan keimanan mereka, lalu Allah SWT beri mereka balasan dengan surga.

Maka di ayat ini, Allah SWT bicara tentang mereka yang kufur dan mendustakan ayat-ayat-Nya. Ditetapkan bahwa mereka itulah penghuni neraka Jahim.

***
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا

Kata walladzina kafaru (وَالَّذِينَ كَفَرُوا) artinya : dan orang-orang yang kafir. Maksudnya merkea yang tidak mau menyatakan keimanan, baik kepada Allah SWT maupun kepada Nabi Muhammad SAW.

Kata wa kadzdzabu (وَكَذَّبُوا) artinya : dan mendustakan. Maksud dari mendustakan adalah menolak atau tidak mengakuinya sebagai kitab suci samawi yang turun dari Allah SWT. Kata bi-ayaatina (بِآيَاتِنَا) artinya : kepada ayat-ayat Kami, yaitu  wahyu Allah SWT telah diturunkan, baik berupa kitab suci Al-Quran atau pun dan risalah agama yang terbaru.

Kalau melihat keumuman lafazh, maka siapapun bisa dimasukkan ke dalamnya, baik mereka orang-orang musyrikin Mekkah atau kaum Arab yang menyembah berhala, maupun juga para ahli kitab, baik dari kalangan Yahudi ataupun Nasrani.

Namun kalau kita lihat secara konteks ayat ini, sebenarnya rangkaian ayat-ayat ini sudah diawali sejak kita baca ayat ke-81 dari surat Al-Maidah, dimana kandungan membicarakan kerasnya permusuhan orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin kepada Nabi SAW dan kaum muslimin. Maka tidak keliru kalau ditafsirkan bahwa mereka yang kafir disini adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrikin Arab.

Akan tetapi kalau melihat keumuman redaksi ayatnya, tentu tidak sebatas Yahudi dan musyrikin Arab saja, tetapi juga bahkan dari kalangan nasrani yang tidak mau mengakui kenabian Muhammad SAW pun ada banyak juga.

***
أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Kata ulaika (أُولَٰئِكَ) adalah kata tunjuk yang disebut isim isyarah, yaitu untuk menunjuk objek yang jumlahnya banyak dan jaraknya lumayan jauh. Kata ini biasanya digunakan untuk memberi penekanan, penghakiman, dan penunjukan tegas.

Kata ulaika (أُولَٰئِكَ) ini asalnya terbentuk dari tiga bagian utama yang secara bersama-sama membentuk kata tunjuk. Bagian pertama adalah huruf أُ, yang berfungsi sebagai huruf pembuka dan dalam ilmu balaghah disebut sebagai harf tanbih, yaitu kata perhatian yang memberi nuansa peringatan atau penekanan seperti “ingatlah” atau “perhatikanlah”.

Bagian kedua adalah kata walaa’ (ولاء) yang merupakan akar dari bentuk isyarah. Kata ini berakar dari aula (أُولَٰى) yang secara leksikal berarti “yang dekat”. Dalam struktur kata tunjuk, bagian ini menjadi inti yang menunjukkan objek yang sedang ditunjuk.

Bagian ketiga adalah huruf ka (كَ) yaitu dhamir atau kata ganti orang kedua tunggal dalam bahasa Arab yang biasanya berarti “kamu”. Namun dalam konteks ini, huruf (كَ) ini tidak lagi membawa makna “kamu”, melainkan berfungsi sebagai unsur tambahan yang bersifat fonetik dan gramatikal untuk menyempurnakan pembentukan bentuk isyarah jamak tersebut.

Kata ashab (أَصْحَابُ) adalah bentuk jama’ dari shahib (صاحب), yang secara harfiyah artinya bisa bermacam-macam :

§  Teman : Kata ini bisa bermakna teman, yang menunjukkan hubungan sosial yang dekat dan bersahabat. Contohnya terdapat dalam surat Yusuf ayat 39 : (يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ) : “wahai dua shahabat dalam penjara”.

§  Pengikut : kata ini juga bisa berarti pengikut, sebagaimana (أَصْحَابُ مُوسَىٰ) yang merupakan sebutan untuk pengikut Nabi Musa.

§  Penduduk : kadang bisa juga bermakna penduduk atau masyarakat yang tinggal di suatu wilayah tertentu. Penduduk negeri Aikah disebut ashabul-aikah (أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ).

§  Kebersamaan : kadang juga bermakna kebersamaan, contohnya Allah SWT menyebut tentara Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah dengan sebutan ashabul-fil (أَصْحَابُ الْفِيلِ). Hal itu karena keberadaan tentara itu bersama-sama dengan gajah.

Namun dalam konteks ayat ini, ashabul-jahim (أَصْحَابُ الْجَحِيمِ) itu lebih tepat dimaknai sebagai penghuni tetap, yaitu orang-orang yang berada dalam suatu tempat secara tetap untuk seterusnya dan selamanya.

Kata jahim (الجحيم) secara harfiah adalah api yang sangat besar, menyala-nyala, panas luar biasa, dan tak pernah padam. Dalam istilah Qur’ani, itu adalah nama neraka yang mengandung siksaan yang paling membakar, paling dahsyat, dan paling mengerikan, digunakan Allah untuk menggambarkan nasib orang-orang yang menolak iman dan mendustakan ayat-Nya.

Di dalam Al-Quran kita temukan ada banyak istilah yang berbeda-beda, namun semua mengacu kepada satu objek yaitu neraka. Sebagian ulama menyebutkan bahwa neraka yang dimaksud hanya satu, hanya saja penamaannya banyak karena ada sisi-sisi tertentu yang ingin lebih ditonjolkan.

Nama

Makna Harfiyah

Kesan Emosional

Gaya Bahasa

النار

Api

Umum, ancaman dasar

Netral, fleksibel

الجحيم

Api besar menyala

Panas membakar terus

Tegas & permanen

السعير

Api bergolak

Mengerikan, bergejolak

Mengguncang jiwa

لظى

Api menyambar

Ganas & tak terkontrol

Tajam dan cepat

سقر

Membakar habis

Tanpa ampun

Menghentak & tragis

الهاوية

Jurang dalam

Jatuh tanpa akhir

Gelap & putus asa

جهنم

Neraka umum

Sistemik & formal

Nama utama tempat siksa

 

*) Tafsir Al-Mahfuzh ini merujuk kepada kitab tafsir utama (tersedia 32 tafsir).
🔐