Kemenag RI 2019:Seandainya engkau (Nabi Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah engkau melihat peristiwa yang luar biasa). Dia berfirman, “Bukankah (kebangkitan) ini benar?” Mereka menjawab, “Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Dia berfirman, “Rasakanlah azab ini karena kamu selalu kufur (kepadanya).” Prof. Quraish Shihab:Dan jika seandainya engkau (Nabi Muhammad saw.) melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhan Pemelihara mereka, (tentu engkau akan menyaksikan peristiwa yang tidak tergambarkan dengan kata-kata; dan ketika itu Allah swt.) berfirman: "Bukankah (kebangkitan) ini benar?" Mereka menjawab: "Sungguh benar, demi Tuhan Pemelihara Kami." (Dia) berfirman: "Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu terus menerus mengingkari(-Nya)!" Prof. HAMKA:Dan jikalau engkau lihat tatkala mereka didirikan atas api lalu mereka berkata, "Alangkah baiknya jika kami dikembalikan dan tidaklah kami mendustakan ayat-ayat Tuhan kami dan kami akan jadi dari golongan orang-orang yang beriman.”
Ayat ke-30 dari surat Al-An’am ini menggambarkan sebuah adegan di hari kiamat yang penuh dengan kepastian dan kedahsyatan. Allah memanggil manusia yang dahulu mengingkari kebangkitan, lalu menghadapkan mereka kepada-Nya. Gaya bahasa “seandainya engkau melihat” ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi maknanya untuk semua manusia agar membayangkan betapa dahsyat peristiwa itu.
Pesan utamanya adalah bahwa kebangkitan bukanlah khayalan, tetapi kenyataan yang pasti terjadi. Di hadapan Allah, orang-orang kafir yang dahulu membantah akhirnya tidak bisa lagi mengelak. Mereka sendiri mengakui dengan penuh kepastian, “Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Pengakuan ini menunjukkan bahwa semua keraguan, ejekan, dan bantahan mereka di dunia runtuh saat mereka benar-benar menyaksikan kebenaran akhirat. Namun, pengakuan itu datang terlambat, sebab mereka hanya tunduk karena terpaksa setelah melihat azab yang nyata.
Sebagai balasan, Allah memerintahkan mereka untuk “merasakan azab” akibat kekufuran mereka. Perintah ini tidak sekadar pemberitahuan, tetapi juga bentuk penghinaan, agar mereka benar-benar merasakan kepedihan sebagai konsekuensi pilihan hidup mereka sendiri. Dengan demikian, ayat ini menjadi peringatan keras bagi manusia di dunia agar tidak tertipu oleh kenikmatan sesaat, karena kebenaran kebangkitan dan hari pembalasan akan datang dengan kepastian mutlak.
وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ
Kata wa (وَ) artinya : dan merupalan harfu ‘athf yaitu kata sambung. Kata lau (لَوْ) artinya : seandainya yang merupakan harfu syarth alias kata pengandaian yang menunjukkan sesuatu yang mustahil terjadi.
Kata taraa (تَرَىٰ) artinya : engkau melihat. Ini adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ dengan dhamir mukhathab : kamu. Dan yang dimaksud dengan kamu tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Walaupun para ahli tafsir mengatakan bahwa Allah tidak benar-benar memaksudkan bahwa Nabi akan menyaksikan langsung kejadian itu di dunia, tetapi sebagai bentuk ta’zhim alias pengagungan dan juga tasywiq yaitu penggambaran yang menakjubkan tentang betapa dahsyatnya kondisi orang-orang kafir ketika dihadapkan kepada Allah kelak. Meski yang diajak bicara itu Nabi SAW tapi maksudnya juga untuk semua manusia agar membayangkan kedahsyatan peristiwa itu.
Kata idz (إِذْ) artinya : ketika, merupakan zharfu zaman yaitu kata keterangan waktu. Kata wuqifuu (وُقِفُوا) artinya : mereka dihentikan, ditahan, atau dihadapkan. Ini adalah fi’il madhi majhul atau kata kerja lampau pasif dengan dhamir waaw di akhir sebagai fa’il atau subjek pasif : mereka.
Kata ‘ala (عَلَىٰ) artinya : di atas atau di hadapan, yang merupakan harfu jar. Kata rabbihim (رَبِّهِمْ) artinya : Tuhan mereka. Ini adalah mudhaf-mudhaf ilaih, terdiri dari rabbyang artinya Tuhan Pemelihara, menjadi isim majrur karena didahului huruf jar, dan -him (mereka) sebagai dhamir yang berfungsi sebagai mudhaf ilaih.
Penggalan ini bermakna: “Dan (seandainya) engkau melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhan mereka …”
Ayat ini menggunakan gaya bahasa pengandaian “seandainya engkau melihat”, yang menunjukkan betapa dahsyat dan mengerikannya keadaan orang-orang kafir ketika nanti dihadapkan di hadapan Allah untuk dihisab. Meskipun Nabi tidak menyaksikan kejadian itu di dunia, Allah menggambarkannya sebagai sesuatu yang pasti terjadi dan sangat jelas akibatnya.
قَالَ أَلَيْسَ هَٰذَا بِالْحَقِّ
Kata qaala (قَالَ) artinya : ia berkata, merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi. Sedangkan fa’il atau pelakunya adalah : Allah SWT.
Kata alaisa (أَلَيْسَ) terdiri dari dua unsur. Pertama huruf a (أَ) yang berarti : apakah, disebut dengan hamzah istifham yang intinya merupakan kata tanya dan berfungsi untuk menanyakan. Namun disini disini bermakna penegasan. Kedua, kata laysa (لَيْسَ) artinya : tidak. Ini adalah fi’il nafi yang meniadakan keberadaan sesuatu. Maka makna a-laisa (أَلَيْسَ) secara harfiyah berarti : apakah tidak, namun lazimnya kita dalam bahasa Indonesia menggunakan ungkapan : “bukankah?”
Kata haadzaa (هَٰذَا) artinya : ini, merupakan ism isyarah alias kata tunjuk untuk sesuatu yang dekat. Yang dimaksud dengan ‘ini’ adalah hari kiamat, kebangkitan, hisab dan hari pembalasan.
Kata bil-haqqi (بِالْحَقِّ) artinya : benar atau kebenaran. Huruf bi- adalah huruf jar, sedangkan al-haqq adalah isim majrur, yang maknanya “dengan kebenaran” atau “sungguh benar”.
Makna keseluruhannya: “Dia (Allah) berfirman: Bukankah ini adalah kebenaran?”
Allah bertanya kepada orang-orang kafir ketika mereka dihadapkan kepada-Nya, setelah sebelumnya mereka mendustakan hari kebangkitan. Pertanyaan ini bukan untuk mencari jawaban, melainkan sebagai bentuk teguran sekaligus penegasan bahwa apa yang dahulu mereka ingkari, baik itu sebagai hari kiamat, atau adanya hisab, atau adanya hari pembalasan, yang sekarang telah nyata di hadapan mereka.
قَالُوا بَلَىٰ وَرَبِّنَا
Kata qaaluu (قَالُوا) artinya : mereka berkata. Kata balaa (بَلَىٰ) artinya : benar. Ini adalah huruf jawab yang digunakan untuk membenarkan sesuatu setelah ada penafian, yaitu kata laisa sebelum ini. Jadi kata balaa (بَلَىٰ)menegaskan bahwa kebangkitan itu benar adanya.
Kata wa (وَ) artinya : demi, yang berfungsi sebagai harfu qasam yaitu kata sumpah. Kata rabbinaa (رَبِّنَا) artinya : Tuhan kami.
Makna keseluruhannya: “Mereka berkata: Benar, demi Tuhan kami.” Inilah pengakuan orang-orang kafir setelah dihadapkan kepada Allah. Mereka yang sebelumnya mendustakan hari kebangkitan akhirnya dipaksa mengakui kebenaran itu, bahkan bersumpah atas nama Allah, Tuhan mereka sendiri. Namun, pengakuan ini terjadi pada saat di akhirat, ketika pengakuan itu sudah tidak bermanfaat lagi untuk menyelamatkan mereka dari azab.
Kata qaala (قَالَ) artinya : Dia berkata, merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, yang jadi subjeknya adalah Allah SWT. Maka akan lebih tepat jika diterjemahkan menjadi : Maka Dia berfirman.
Kata fa (فَ) artinya : maka atau lalu, merupakan harfu ‘athaf yang jadi penghubung dan menunjukkan akibat dari jawaban mereka sebelumnya. Kata dzuuquu (ذُوقُوا) artinya : rasakanlah. Ini adalah fi’il amr atau kata kerja perintah dengan mukhathab ditujukan kepada kalian semua. Maksudnya orang-orang kafir yang mengingkari keimanan atas adanya hari akhir.
Kata al-‘adzaaba (الْعَذَابَ) artinya : azab atau siksa. Kata bimaa (بِمَا) artinya : disebabkan oleh apa. Kata kuntum (كُنْتُمْ) artinya : kalian adalah atau kalian dahulu. Ini merupakan fi’il naqis atau kata kerja penghubung dari kaana dengan dhamir jamak “-tum” yang berarti kalian. Kata takfurun (تَكْفُرُونَ) artinya : kalian kafiri atau kalian ingkari.
Makna keseluruhannya: “Dia (Allah) berfirman: Maka rasakanlah azab itu disebabkan oleh kekafiran kalian dahulu.”
Ini adalah kalimat penutup percakapan antara Allah dengan orang-orang kafir di hari kiamat. Setelah mereka dipaksa mengakui kebenaran kebangkitan, Allah langsung menjatuhkan keputusan akhir: azab yang setimpal dengan kekafiran mereka.
Dalam tafsir Al-Qur’an, para ulama menjelaskan bahwa perintah Allah kepada orang kafir untuk “merasakan” (ذُوقُوا) azab memiliki beberapa tujuan yang sangat dalam:
1. Bukan Sekadar Kabar, Tapi Realisasi Langsung
Kata “rasakanlah” menandakan bahwa azab itu bukan hanya ancaman, melainkan benar-benar dialami. Ini menegaskan kepastian siksa, bukan lagi sekadar peringatan.
2. Penambahan Kepedihan Secara Psikologis
Dengan diperintah: “rasakanlah!”, mereka dipaksa menyadari bahwa penderitaan itu harus dirasakan dan tidak bisa dihindari. Jadi, ada unsur menambah pedih secara batin karena mereka dihinakan langsung oleh kalimat itu.
3. Sebagai Bentuk Penghinaan (Tahqir, Tasydid)
Al-Qurthubi menjelaskan, perintah seperti ini berfungsi sebagai penghinaan dan celaan, bukan sekadar informasi. Seakan-akan Allah berkata: Inilah akibat kalian mendustakan, sekarang tanggung sendiri, tidak ada jalan keluar.”
4. Keadilan Atas Amal Mereka
Ayat-ayat itu sering ditutup dengan frasa:
بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
atau
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
karena kekafiran/perbuatan kalian.”
Maka “rasakanlah” bukan siksa yang zalim, tapi balasan adil yang sesuai dengan amal mereka.
5. Penegasan Bahwa Azab Itu Menyeluruh Jasad & Ruh
Kata dzauq (ذوق) dalam bahasa Arab biasanya dipakai untuk merasakan makanan dan minuman dengan lidah. Penggunaannya untuk siksa menegaskan bahwa azab neraka benar-benar dialami oleh tubuh dan dirasakan oleh jiwa. Di dalam Al-Quran kita menemukan beberapa kali Allah SWT perintahkan kepada orang-orang kafir untuk : merasakan adzab, di antaranya :
فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا
Maka rasakanlah, dan Kami tidak akan menambah kepada kalian kecuali azab.(QS. An-Naba’ : 30)
Kemudian dituangkan di atas kepalanya azab dari air yang sangat panas. (Dikatakan kepadanya): ‘Rasakanlah! Sesungguhnya engkau (dulu merasa) yang paling mulia lagi terhormat. (QS. Ad-Dukhan : 48-49)