Kemenag RI 2019:Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar). (Sungguh benar ketetapan-Nya) pada hari (ketika) Dia berkata, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti. Prof. Quraish Shihab:Dia-lah Yang menciptakan langit dan bumi dengan (cara dan tujuan yang) hak (benar). Dan (sungguh benar ketetapan-Nya) pada hari ketika Dia berfirman, “Jadilah!” Maka, jadilah ia. Firman-Nya adalah hak (mantap, tidak mengalami perubahan dan tidak diragukan). Dan milik-Nya segala kekuasaan pada hari (ketika) sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dan Dia-lah Yang Mahabijaksana, lagi Mahateliti. Prof. HAMKA:Dan Dialah yang telah menjadikan semesta langit dan bumi dengan benar dan hari yang akan berkata Dia, “Jadilah!” Maka dia pun terjadilah. Kata-kata-Nya adalah benar, bagi-Nya-lah kerajaan pada hari akan ditiup sangkakala. Dan mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. Dan Dia adalah Mahabijaksana lagi amat Mengetahui.
Ayat ini juga menekankan bahwa milik Allah-lah segala kekuasaan, terutama pada saat tiupan sangkakala, yaitu hari kiamat, ketika seluruh ciptaan akan dikumpulkan dan diperhitungkan.
Selain itu, ayat ini menegaskan bahwa Allah mengetahui yang gaib maupun yang nyata, menekankan sifat-Nya sebagai Maha Bijaksana dan Maha Teliti, yang mengatur seluruh ciptaan dengan sempurna dan penuh hikmah.
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ
Huruf wa (وَ) artinya : dan, merupakan harfu ‘athf alias huruf yang berfungsi menyambungkan antara ayat ini dan ayat sebelumnya yang sifatnya sebagai penghubung tematik. Hubungannya, jika pada ayat sebelumnya disebutkan hanya Allah-lah yang pantas disembah dan tempat kembali manusia, maka di ayat ini keberadaan huruf wawu (وَ) di awal berfungsi menegaskan alasannya, yaitu : karena Dialah satu-satunya Pencipta langit dan bumi dan Pemilik segala kekuasaan.”
Kata huwa (هُوَ) artinya : Dia-lah. Maksudnya adalah Allah SWT, Tuhan yang Maha Pencipta. Kata alladzi (الَّذِي) artinya : yang. Kata khalaqa (خَلَقَ) artinya : menciptakan.
Umumnya para mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘menciptakan’ disini bahwa Allah SWT mengadakan suatu benda dari yang asalnya tidak ada menjadi ada (ابتداع شيء لم يسبق إليه), sebagaimana yang diungkap oleh ayat berikut :
Dia Pencipta langit dan bumi yang tidak ada bandingannya. Apabila Dia menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117)
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
Kata as-samawat (السَّمَاوَاتِ) adalah bentuk jamak dari as-sama’ (السماء) yang artinya : langit. Karena berbentuk jamak, maka maksudnya bukan hanya satu langit tapi banyak langit.
Lafazh as-sama’ (السماء) berasal dari kata as-sumuw (السمو) yang maknanya : ‘tinggi’. Sehingga apapun yang dirasa tinggi, pantas untuk disebut dengan langit, tanpa dibedakan derajat ketinggiannya, apakah tinggi sekali hingga jaraknya tidak terhingga, ataukan ketinggian yang masih belum terlalu jauh. Semuanya bisa masuk dalam kategori tinggi.
Oleh karena itu yang dimaksud dengan langit dalam ayat ini tentu saja bukan ruang angkasa di luar planet bumi yang hampa udara dan tidak ada grafitasi. Langit yang dimaksud di ayat ini hanya sebatas atmosfer bumi yang sebenarnya masih menjadi bagian dari bumi. Setidaknya masih dalam pengaruh gravitasi bumi, sehingga tidak berpencaran di luar angkasa.
Sebenarnya langit yang disebut dalam Al-Quran ada banyak macamnya, mulai dari langit yang paling jauh seperti sidratil muntaha tempat Nabi SAW menjalankan mi’raj, hingga langit yang dihias dengan bintang-bintang yaitu ruang angkasa yang jarak bentangnnya bisa sampai bertahun-tahun cahaya. Sekedar informasi saja, bahwa bintang yang paling dekat dengan bumi kita berjarak 4 tahun cahaya.
Kata wal-ardha (وَالْأَرْضَ) artinya : dan bumi atau tanah. Kata al-ardhu (الأَرْضُ) artinya bisa tanah atau bisa juga bumi, tergantung konteksnya. Kadang dalam satu ayat, lebih pas diterjemahkan menjadi tanah, seperti pada ayat berikut :
Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah. (QS. Al-Baqarah :71)
Menerjemahkan ayat di atas pastinya tidak pas kalau sapi digunakan untuk membajak bumi, yang lebih tepat membajak tanah atau sawah. Namun kadang lebih tepat kalau diterjemahkan menjadi bumi dalam arti sebuah benda raksasa yang berputar pada porosnya di ruang angkasa, sembari juga bergerak mengelilingi matahari. Namun penerjemahan sebagai planet bumi adalah penerjemahan yang hanya cocok di masa kini saja. Ada pun sepanjang sejarah, lebih tepat diterjemahkan menjadi : tanah, atau negeri.
بِالْحَقِّ
Kata bil-haqqi (بِالْحَقِّ) artinya : dengan kebenaran. Allah menciptakan langit dan bumi bil-haqq (بِالْحَقِّ) artinya : dengan benar. Apa maksudnya?
Yang dimaksud dengan benar adalah bahwa penciptaan langit dan bumi bukanlah sesuatu yang sia-sia, main-main, atau tanpa tujuan. Semua ciptaan Allah memiliki maksud yang agung, yaitu menjadi tanda kekuasaan-Nya, tempat manusia hidup, serta ladang ujian bagi mereka.
Para mufasir menjelaskan bahwa kata bil-haqq (بِالْحَقِّ) juga berarti Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran, keseimbangan, dan aturan yang tepat. Langit dan bumi berdiri dengan sistem yang teratur, hukum alam yang pasti, serta keteraturan yang menunjukkan adanya maksud Ilahi.
Ada beberapa ayat lain dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi dengan sia-sia, melainkan dengan tujuan yang benar, di antaranya:
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan sia-sia. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir. (QS. Shad : 27)
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan kebenaran, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Ad-Dukhan : 38–39)
Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali ‘Imran : 191)
وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ
Huruf wa (وَ) artinya : dan. Kata yawma (يَوْمَ) artinya : pada hari. Kata yaquulu (يَقُولُ) artinya : Dia berkata. Kata kun (كُنْ) artinya : jadilah. Kata fayakuunu (فَيَكُونُ) artinya : maka jadilah ia.
Dari penggalan ayat ini, dan juga sebagaimana yang termuat dalam beberapa ayat lain, banyak kalangan yang menafsirkan bahwa penciptaan langit dan bumi itu tanpa proses. Begitu Allah SWT mengatakan : ‘kun’ yang artinya : jadilah, atau terciptalah, maka saat itu juga apapun yang diperintah untuk terjadi, maka dia langsung jadi. Maka istilah kun fayakun itu amat populer di tengah lisan kita, ketika membicarakan bagaimana proses penciptaan alam semesta.
Namun di ayat lain, justru kita mendapat kesan yang tidak seperti itu. Banyak ayat yang menyebutkan bahwa langit dan bumi ini diciptakan melewati apa yang disebut dengan : ’enam hari’ alias sittata-ayyam (سِتَّةَ أَيَّام), setelah itu Allah SWT bersemayam di atas ’Arsy.
Ibnu Katsir meriwayatkan dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[1] pendapat beberapa ulama yang menafsirkan bahwa enam hari yang dimaksud adalah : Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Dasarnya adalah hadits riwayat Imam Ahmad berikut :
Allah SWT menciptakan tanah pada hari Sabtu. Menciptakan gunung pada hari Ahad. Menciptakan pepohonan pada hari Senin. Dan menciptakan almakruh di hari Selasa. Menciptakan cahaya di hari Rabu. Dan menebar di bumi makhuk melata di hari Kamis. Menciptakan makhluk terakhir yaitu Nabi Adam alaihissalam bakda Ashar di hari Jumat. Pada saat-saat terakhir pada hari Jumat yaitu antara Ashar dan malam. (HR. Ahmad)
Tentu tafsir dan hadits di atas sedikit agak mengusik pemahaman kita, sebab ada banyak hal yang janggal.
Pertama, bagaimana mungkin Al-Quran menyebutkan bahwa bumi dan langit diciptakan dalam enam hari. Padahal kita mengenal kata ‘hari’ itu berdasarkan terbit dan terbenamnya matahari, lalu ada siang dan malam. Kalau bumi dan matahari serta perputaran siang dan malam itu belum ada, bagaimana kita mendefinisikan enam hari? Tentu tidak masuk akal, bukan?
Setidaknya pernyataan ini menimbulkan anggapan bahwa sudah ada siang dan malam, sementara bumi dan langit belum diciptakan. Maka kesimpulan ini tentu lebih membingungkan lagi, apalagi buat kalangan ilmuwan, khususnya di bidang astronomi.
Lalu ada sebagian ahli tafsir seperti Mujahid dan riwayat Adh-Dhahhak yang konon bersumber dari Ibnu Abbas, mengusulkan bahwa 6 hari yang dimaksud itu dikaitkan dengan enam hari di sisi Allah, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut :
Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (QS. Al-Hajj : 47)
Upaya ini bisa diacungi jempol dan sebenarnya boleh juga. Tetapi tetap saja masih bermasalah.
Kedua, kita di masa modern ini sudah tahu dan yakin sekali bahwa proses penciptaan langit dan bumi berlangsung jutaan tahun lamanya. Setidaknya teori terbentuknya alam semesta menurut sains modern jauh lebih lama. Usia alam semesta ini diperkirakan sudah ada sejak 13,7 miliar tahun.
Pengukurannya berdasarkan radiasi kosmik memberi waktu pendinginan alam semesta setelah kejadian ledakan dahsyat, dan pengukuran pergeseran merah alam semesta dapat digunakan untuk menghitung mundur umur alam semesta.
Intinya dalam pandangan sains modern, langit dan bumi itu tidak tiba-tiba muncul begitu saja dari ketidaan. Sebelum langit dan bumi dalam arti kosmik terbentuk, yang ada adalah energi, partikel subatom, lalu gas hidrogen dan helium. Dari gas itu terbentuk bintang dan galaksi, lalu dari bintang dan supernova muncul unsur-unsur berat, yang kemudian menjadi bahan baku planet seperti bumi.
Pembentukan bumi dan tata surya diperkirakan terjadi sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu. Pada mulanya, tata surya berasal dari awan gas dan debu kosmik yang sangat besar. Awan ini kemudian runtuh karena tarikan gravitasi, sehingga mulai membentuk pusat massa yang kelak menjadi matahari.
Sisa gas dan debu yang berputar di sekitarnya berkumpul membentuk gumpalan-gumpalan padat. Dari gumpalan inilah terbentuk planet-planet, termasuk bumi. Pada tahap awal keberadaannya, bumi masih berupa bola api cair yang sangat panas. Seiring berjalannya waktu, permukaan bumi mendingin, lalu terbentuklah kerak bumi yang keras. Dari proses ini pula mulai muncul lautan dan atmosfer yang menyelimuti bumi, menjadi dasar bagi kehidupan yang kemudian berkembang di atasnya.
Maka ketika Allah SWT dalam ayat ini menyatakan Dia telah menciptakan langit dan bumi, cukup bagi-Nya mengucapkan kun (jadilah), maka jadilah sesuatu itu.
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (QS. Yasin : 82)
Meskipun demikian, bagi Allah SWT sah-sah saja ketika menciptakan sesuatu secara tidak langsung tapi melewati berbagai macam proses. Alam semesta, langit dan bumi dan seisinya adalah ciptaan Allah. Namun Allah SWT berkehendak dalam penciptaannya ada proses panjang dari satu waktu ke waktu yang lain. Bukan berarti Allah SWT lemah, namun Allah memang berkehendak demikian.
Maka ketika menciptakan manusia, proses yang dilakukan cukup panjang. Salah satunya seperti diceritakan dalam ayat berikut :
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al-Mukminun : 12-14)
قَوْلُهُ الْحَقُّ
Kata qawluhu (قَوْلُهُ) artinya secara harfiyah adalah : perkataan-Nya. Kata al-haqqu (الْحَقُّ) artinya : adalah benar.
Maksudnya perkataan Allah SWT, baik berupa ayat-ayat Al-Quran, maupun juga apa yang Allah SWT tetapkan sebagai janji atau ancaman, semuanya itu tidak ada yang salah, meleset atau keliru. Semua perkataan Allah SWT dipastikan benar.
Namun menarik jika kita teliti lebih jauh gaya terjemahan Kemenag RI 2019 dan Prof. Quraish Shihab. Kata qauluhu () ini diterjemahkan menjadi : firman-Nya, tentu maksudnya adalah perkataan Allah SWT. Tentu terjemahan ini tidak keliru.
Rupanya istilah firman ini juga digunakan oleh umat Kristiani namun dengan makna yang jauh berbeda. Dalam tradisi Kristen, istilah firman ini terjemahan dari ’the Word’, yang dalam bahasa Yunani disebut dengan ’Logos’. Kalau diterjemahkan dengan firman, ternyata memiliki makna yang berbeda dengan pemakaian dalam Islam.
Di dalam Injil Yohanes pasal 1 ayat 1 tertulis: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Di ayat 14 disebutkan: “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.” Ternyata yang dimaksud dengan ’firman’ di sini oleh kaum Kristiani diyakini adalah Yesus Kristus itu sendiri. Jadi bagi mereka, “Firman” bukan sekadar ucapan atau perkataan Allah, melainkan pribadi ilahi yang diyakini menjelma menjadi manusia.
وَلَهُ الْمُلْكُ
Kata wa lahu (وَلَهُ) artinya : dan bagi-Nya, maksudnya milik Allah. Kata al-mulku (الْمُلْكُ) artinya : kerajaan.
Ungkapan bahwa Allah SWT adalah pemilik kerajaan ini cukup menarik untuk dicermati, mengingat bahwa Allah SWT yang jadi pemilik kerajaan itu sesungguhnya. Allah SWT sendiri bukan raja, tapi para raja itu diangkat oleh Allah SWT dan juga dijungkirkan dari kerajaanya oleh Allah.
Sedangkan para raja itu datang silih berganti. Kadang ada orang biasa yang Allah SWT muliakan dan diangkat jadi raja. Maka jadilah dia raja yang berkuasa. Namun berapa banyak raja yang Allah SWT cabut kerajaan dari tangannya, maka jadilah dia manusia biasa, bahkan lebih hina dari manusia.
Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. (QS. Ali Imran : 26)
يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ
Kata yauma (يَوْمَ) artinya : pada hari. Kata yunfakhu (يُنْفَخُ) artinya : ditiupkan. Kata fii (فِي) artinya : pada. Kata ash-shuuri (الصُّورِ) artinya : sangkakala.
Sebenarnya di hari yang lain pun Allah SWT adalah yang memiliki kerajaan, bukan hanya pada hari ditiupkan sangkakala saja. Hanya saja ungkapan ini sengaja ditekankan bahwa pada saat itu tidak ada lagi yang memiliki kerajaan selain Allah SWT saja.
Yang menarik untuk dicermati adalah bagaimana Al-Quran menggunakan redaksi yang unik, alih-alih menyebut hari kiamat secara begitu saja, diksi yang dipilih adalah : hari dimana sangkakala ditiupkan. Padahal maksudnya hari kiamat, yaitu hari dimana manusia yang sudah mati pasca kiamat kemudian dihidupkan kembali.
Istilah sangkakala pasti bukan kata atau istilah yang biasa sehari-hari kita gunakan sebagai orang Indonesia, namun tiga sumber terjemahan kita nampaknya kompak menggunakannya. Lalu sebenarnya benda apakah sangkakala itu? Apakah maksudnya terompet?
Kalau mengacu kepada sumber-sumber dari agama Yahudi dan Nasrani, memang maksudnya terompet. Beberapa mufassir, termasuk mereka yang meneliti israiliyat, menyebut bahwa istilah ini kemungkinan dipengaruhi oleh tradisi Yahudi atau Israeli.
Dalam tradisi mereka, kata “shofar” adalah terompet dari tanduk domba yang digunakan untuk menandai peristiwa penting atau pada acara keagamaan tertentu. Pada awal tahun baru Yahudi yang disebut dengan Rosh Hashanah mereka tiupkan. Mereka juga punya hari penebusan dosa yang disebut dengan Yom Kippur dengan meniupnya juga. Kadang digunakan untuk peringatan perang atau pengumuman penting.
Dalam tradisi Yahudi terdapat keyakinan eskatologis bahwa di akhir zaman, shofar akan ditiup untuk menandai kebangkitan orang mati dan penghakiman Allah. Hal ini berdasarkan beberapa teks dalam Kitab Nabi dan literatur rabinik, misalnya di Book of Ezekiel dan Book of Daniel, di mana bunyi sangkakala atau tiupan tanduk dikaitkan dengan pengumpulan orang benar dan penghakiman.
Maka fungsi shofar di sini mirip simbolik: mengingatkan manusia akan hari pengadilan Allah, memberi peringatan spiritual, dan menandai permulaan peristiwa besar.
Dalam keyakinan Kristen, ada Alkitab Perjanjian Baru disebutkan bahwa pada hari itu, Tuhan akan turun dari surga, dan suara sangkakala atau terompet akan terdengar, dan orang mati akan dibangkitkan.”
“For the Lord himself will come down from heaven, with a loud command, with the voice of the archangel and with the trumpet call of God, and the dead in Christ will rise first.” (Tesalonika 4:16 (NIV/NASB)
Umat Kristiani percaya bahwa trumpet of God menandai kedatangan Kristus kedua kali (Second Coming), penghakiman terakhir, dan kebangkitan orang mati.
Maka itu beberapa kalangan mufassir ada yang menduga bahwa kata ash-shur (الصُّورِ) kemungkinan merupakan Arabisasi atau adaptasi dari istilah Ibrani atau Aram yaitu “shofar”, kemudian diberi makna teologis yang unik dalam Al-Qur’an.
Lantas bagaimana dalam keyakinan kaum muslimin terkait ditiupkannya sangkakala?
Dalam keyakinan kaum Muslimin terkait ditiupkannya sangkakala (الصُّورِ) pada hari kiamat berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Malaikat Israfil meniupnya atas perintah Allah. Tugasnya memang meniup sangkakala pada momen-momen penting di hari kiamat. Tidak ada manusia yang dapat meniupnya; ini sepenuhnya wewenang Allah dan malaikat-Nya.
Menurut hadits shahih dan tafsir, ada dua tiupan. Pada tiupan pertama, semua makhluk yang hidup akan mati seketika. Alam semesta mengalami kehancuran total, langit, bumi, dan makhluk hidup terguncang. Disebut dalam hadits riwayat Muslim: “Tiupan pertama membuat semua makhluk binasa, kecuali apa yang Allah kehendaki untuk tetap ada.”
Tiupan kedua dilakukan setelah melewati masa kehancuran, Malaikat Israfil meniup sangkakala lagi. Kali ini semua manusia dibangkitkan dari kubur untuk dikumpulkan di padang mahsyar. Semua amal perbuatan manusia diperhitungkan, baik atau buruk, di hadapan Allah.
Beberapa riwayat menyebut ada tiupan ketiga yang terkait dengan penghancuran terakhir, tapi yang utama dalam Al-Qur’an dan hadits adalah dua tiupan tersebut.
عَالِمُ الْغَيْبِ
Kata ‘alimu (عَالِمُ) artinya : Yang Maha Mengetahui. Maksudnya Allah SWT adalah Tuhan yang punya salah satu keunggulan yaitu sebagai Yang Maha Mengetahui.
Kata al-ghaibi (الْغَيْبِ) artinya : yang ghaib. Allah SWT adalah Tuhan yang mengetahui segala yang ghaib. Yang ghaib itu bisa saja makhluk halus seperti jin, setan, roh, malaikat dan lainnya. Tetapi bisa saja hal yang ghaib itu adalah masa depan, dimana tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui apa yang terjadi di masa depan.
Termasuk dalam kategori makhluk ghaib bagi kita sekarang ini adalah alam akhirat, mulai dari kebangkitan pasca kiamat, padang mahsyar, hisab, mizan, surga dan neraka serta segala isinya. Bagi kita, semua itu ghaib meskipun kita imani.
Sedangkan bagi orang kafir, semua itu ghaib namun mereka tidak bisa menerimanya untuk diimani. Dan disitulah kita jadi berbeda dengan orang kafir. Sebab orang beriman itu pastinya mengakui keberadaan yang ghaib.
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ
orang-orang yang beriman kepada yang gaib. (QS. Al-Baqarah : 3)
وَالشَّهَادَةِ
Kata wash-shahaadati (وَالشَّهَادَةِ) artinya : dan yang nyata.
Kata syahadah (الشَّهَادَةِ) ini asalnya adalah sesuatu yang disaksikan. Dan itu erat kaitannya dengan penglihatan. Maka yang disebut saksi itu haruslah orang yang melihat secara langsung dengan mata kepalanya. Namun istilah syahadat kemudian meluas menjadi sesuatu yang nyata, dimana di masa lalu biasanya dibatasi hanya yang bisa diindera oleh lima indera kita, yaitu dilihat oleh mata, bisa diraba dengan kulit, bisa didengar oleh telinga, bisa diendus dengan hidung, bisa dikecap oleh lidah.
Namun kita di zaman modern ini, ruang lingkup sesuatu yang nyata menjadi jauh lebih luas dan tidak terbatas hanya pada indera manusia secara langsung.
§ Alat Pengindraan modern: Kamera, mikrofon, sensor, radar, dan teleskop memungkinkan manusia “melihat” atau “mendengar” sesuatu yang terlalu jauh atau terlalu kecil untuk diindera secara langsung. Maka bintang-bintang yang jauh terlihat nyata melalui teleskop meski mata manusia tidak mampu melihatnya langsung.
§ Data Dan Informasi Digital: gelombang radio, medan magnet, atau partikel subatomik termasuk hal yang nyata. Meski kita tidak bisa melihatnya langsung, tapi eksistensinya terbukti melalui eksperimen.
§ Konsep Logis Atau Matematis: beberapa hal dianggap nyata dalam konteks logika atau matematika, misalnya hukum gravitasi atau angka π. Meski tidak bisa disentuh atau dilihat langsung, keberadaan dan efeknya bisa diamati melalui eksperimen dan pengamatan.
§ Realitas Virtual Atau Simulasi: teknologi modern memungkinkan kita “merasakan” suatu fenomena yang sebenarnya hanya ada dalam simulasi, misalnya realitas virtual. Meski ini tidak fisik secara langsung, pengalaman yang dihasilkan dianggap nyata oleh indera manusia.
وَهُوَ الْحَكِيمُ
Huruf wa (وَ) artinya : dan. Kata huwa (هُوَ) artinya : Dia-lah. Kata al-hakiimu (الْحَكِيمُ) artinya : Yang Maha Bijaksana. Kata al-khabiiru (الْخَبِيرُ) artinya : Yang Maha Mengetahui.
Kata al-hakim (الْحَكِيمُ) sering diartikan secara kebiasaan menjadi : Yang Maha Bijaksana. Ini adalah terjemahan yang populer dan luas dipakai, sehingga dianggap mapan dalam tradisi penerjemahan teks suci ke dalam bahasa kita.
Namun, jika kita telusuri secara lebih dalam akar katanya, kita menemukan adanya pergeseran makna yang cukup menarik sekaligus problematik.
Kata al-hakim (الْحَكِيمُ) berasal dari akar kata (ح ك م) yang dalam bahasa Arab memiliki makna dasar menghukum, memutuskan perkara, atau menetapkan hukum. Dari akar ini pula lahir kata hukum (حكم), hakim (حاكم), dan mahkamah (محكمة). Semua istilah ini memiliki benang merah yaitu keputusan, ketegasan, dan otoritas dalam menetapkan suatu kebenaran atau keadilan.
Maka secara etimologis, kata al-hakim (الْحَكِيمُ) lebih dekat dengan makna :”Tuhan yang menetapkan hukum dengan tepat”, atau “Tuhan yang memutuskan dengan benar”.
Jika sifat ini diterjemahkan menjadi : bijaksana, justru muncul nuansa lain yang berbeda. Sifat bijaksana secara rasa bahasa lebih sering dipahami sebagai sikap lunak, toleran, penuh pengertian, dan mampu memberi keringanan dalam menghadapi persoalan. Seorang yang bijaksana adalah orang yang mengedepankan kelapangan dada, justru malah cenderung tidak menegakkan hukum.
Dalam konteks sosial, seorang pemimpin yang bijaksana bisa berarti seseorang yang memaafkan, yang membolehkan sesuatu meski bertentangan demi kebaikan, atau yang tidak tegas dalam bersikap, selama itu demi kemaslahatan umum.
Inilah titik perbedaan yang cukup signifikan. Ketika kita menerjemahkan sifat Alllah yaitu al-hakim (الْحَكِيمُ) sebagai “Maha Bijaksana”, tanpa mengaitkannya dengan akar makna hukum dan ketetapan yang benar, kita berisiko mengaburkan karakter Allah sebagai Zat yang menetapkan hukum secara mutlak dan tak dapat diganggu gugat.
Maka dari itu, meskipun “Maha Bijaksana” adalah istilah yang lebih populer dan familiar, pemaknaan yang lebih tepat dari segi akar kata dan semantik Arab justru lebih dekat pada makna “Maha Menetapkan dengan Tepat” atau “Maha Pengatur Hukum yang Sempurna”.
الْخَبِيرُ
Kata al-khabiru (الْخَبِيرُ) artinya : Maha Mengetahui. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi Maha Mengetahui. Sedangkan Prof. Quraish Shihab dan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : Mahateliti. Di dalam bahasa Arab, seorang yang punya spesialisasi atas suatu bidang disebut dengan khabir. Kita menyebutkan bahwa orang itu adalah ahli atau pakar di bidang itu.
Di dalam Al-Quran, ada tiga istilah yang berbeda ketika dikaitkan dengan bagaimana Allah SWT mengetahui perbuatan hamba-Nya, yaitu : bashir (بَصِير), alim (عَلِيْم) dan khabir (خَبِيْر). Mari kita buatkan perumpamaan agar bisa lebih jelas membandingkan ketiganya sesuai dengan realitas nyata di alam modern hari ini.
Kata bashir (بَصِير) sering diartikan menjadi Maha Melihat. Namun daya kemampuan melihatnya bukan hanya dengan mata telanjang yang membutuhkan sinar pantulan dari objek yang dilihat, tetapi juga dengan mata batin yang jauh lebih tajam, sehingga yang nampak bukan hanya sebatas permukaan, tetapi juga yang ada di bagian dalam.
Kalau kita buat perumpamaan, seperti alat rontgen yang bisa melihat bagian dalam tubuh dengan sinar x. Atau alat untuk memeriksa bayi dalam kandungan, yaitu Ultrasonografi (USG). Dan bisa juga seperti mesin MRI atau Magnetic Resonance Imaging yaitu teknik pencitraan medis yang menggunakan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk menghasilkan gambaran jaringan lunak dalam tubuh seperti otot dan organ.
Kata ’alim (عَلِيْم) sering diartikan menjadi Maha Mengetahui. Kalau kita ibaratkan dengan alat-alat canggih di atas, maka hasil dari rotgent, USG atau mesin MRI di atas lalu dianalisa, dikaji dan disimpulkan.
Kesimpulan itu tidak bisa dilakukan oleh petugas operator dari alat-alat modern di atas, namun hanya sah apabila dianalisa dan dinilai oleh dokter yang memang membidangi masalahnya. Dalam hal ini dokter itulah yang dianggap sebagai alim alias yang mengetahui.
Kalau kita membaca Al-Quran menyebutkan (بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيْم), bisa dibantu dengan membayangkan dimana posisi pengetahuan yang Allah SWT dapati. Pengetahuan yang sudah dari hasil penglihatan yang mendalam.
Sedangkan posisi khabir (خَبِيْر) sudah di level berikutnya lagi, yaitu kesimpulan yang jauh lebih dalam lagi, yang didasarkan dari sekian banyak hasil pemeriksaan medis dari sekian banyak data pada suatu kelompok masyarakat, lalu dibuatkanlah berbagai teori hingga rekomendasi tindakan tertentu.
Pekerjaan seperti ini hanya ditangani oleh para peneliti level lanjut, karena posisinya bukan sekedar operator alat, juga bukan sekedar dokter yang menangani pasien, tetapi lebih dari itu sudah sampai kepada hasil-hasil penelitian yang lebih kompleks dengan dikaitkan dengan berbagai macam data lainnya.
[1] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M), jilid 3 hal. 426