Kemenag RI 2019:Bagaimana mungkin aku takut kepada yang kamu sekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut menyekutukan sesuatu dengan Allah yang Dia (sendiri) tidak pernah menurunkan kepadamu alasan apa pun. Maka, golongan yang manakah dari keduanya yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka) jika kamu mengetahui?” ) Prof. Quraish Shihab:Bagaimana aku takut kepada apa yang kamu sekutukan, padahal kamu tidak takut menyekutukan Allah dengan sesuatu yang Dia tidak menurunkan alasan (pembenaran) kepadamu tentangnya? Maka, manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari siksa dan malapetaka), jika kamu mengetahui? Prof. HAMKA:Dan betapa aku akan takut kepada apa yang kamu persekutukan itu padahal kamu tidak takut bahwa kamu telah mempersekutukan dengan Allah barang yang tidak diturunkannya kepada kamu suatu keterangan pun tentang itu? Maka yang manakah di antara kedua golongan itu yang lebih patut mendapat keamanan? Jika adalah kamu mengetahui?
Ayat ke 81 dari surat al-an'am ini masih melupakan lanjutan dari ayat sebelumnya. Inti pesan ayat ini menegaskan bahwa tidak layak bagi orang-orang kafir yang menyekutukan Allah atau yang menyembah berhala untuk merasa aman dari kutukan Allah.
Namun gaya bahasa ayat ini menarik sekali dengan cara mempertanyakan siapakah diantara kedua kelompok itu yang lebih berhak untuk merasa aman.
Telepon orang-orang kafir itu merasa aman dari kutukan Allah itu disebabkan karena mereka tidak mengetahui.
وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ
Kata wakaifa (وَكَيْفَ) artinya : dan bagaimana. Meskipun kaifa bagian dari alat untuk bertanya, namun pada dasarnya ini bukan sebuah pertanyaan. Ungkapan ini justru merupakan sebuah pengingkaran.
Biasanya pertanyaan yang pada hakikatnya merupakan pengingkaran disebut dengan istifham ingkari.
Dalam bahasa kita boleh kita terjemahkan menjadi : "Dan bagaimana mungkin".
Atau kalau secara apa adanya bisa diungkapkan dengan kalimat yang lain seperti : "Dan tidak mungkin".
Kata akafu (أخاف) artinya : aku takut. Kata ini merupakan kata kerja dalam bentuk fi'il mudhari. Asalnya dari (خاف يخاف)، sedangkan bentuk mashdarnya adalah khauf (خوف).
Aku yang dimaksud adalah Nabi Ibrahim alaihissalam. Karena ini merupakan petikan dialog antara Nabi Ibrahim dengan kaumnya, terkait perdebatan mereka tentang konsep ketuhanan.
Sedangkan takut yang dimaksud adalah takut atas kutukan dari dewa-dewa yang diancamkan oleh kaumnya sendiri kepadanya ketika tidak mau menyembah dewa-dewa itu.
Kata maa asyraktum (ما أشركتم) artinya : apa yang kamu persekutukan. Maksudnya adalah berhala-berhala atau patung-patung. Boleh juga disebut dengan dewa-dewa.
Kaumnya Nabi Ibrahim meyakini bahwa jika berhenti dari menyembah para dewa itu, nanti para dewa akan murka. Lalu mereka akan dilanda kekeringan atau kebanjiran, yang akan membuat panen mereka gagal.
Atau akan diterpa wabah penyakit yang akan mematikan banyak orang.
Atau apapun bentuk kutukan para dewa yang marah jika tidak disembah.
وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ
Kata wa laa takhafuna (ولا تخافون) artinya : padahal kamu tidak takut.
Kata annakum (أنكم) artinya : bahwa kamu semua. Kata asyraktum billah (أشركتم بالله) artinya : kamu menyekutukan Allah.
Kalimat yang menjadi jawaban Nabi Ibrahim ini sangat retoris. Beliau ditanya kenapa merasa berani menantang kutukan para dewa. Jawabannya hanya dibalik saja, lantas bagaimana dengan kalian, kok tidak takut pada kutukan Allah?
Yang cukup menarik diperbincangkan disini bahwa Nabi Ibrahim masih menyebut bahwa mereka menyekutukan Allah. Sementara kita berasumsi bahwa kaumnya Nabi Ibrahim tidak mengenal Allah dalam hal ketuhanan. Mereka hanya mengenal para dewa, patung dan berhala.
Maka secara tehnik, mereka 'tidak menyekutukan' Allah. Sebab yang namanya menyekutukan itu menyembah Allah sambil juga menyembah dewa, patung dan berhala.
Lantas bagaimana kita mendudukkan hal ini?
Ada beberapa kemungkinan dalam hal ini :
Pertama, diasumsikan mereka mau menerima untuk bertuhan kepada Allah, namun masih belum mau meninggalkan penyembahan kepada para dewa.
Kedua, diasumsikan mereka memang tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan. Namun Nabi Ibrahim tetap menggunakan ungkapan asyraktum sekedar untuk menegaskan bahwa yang mereka sembah itu bukan tuhan yang sebenarnya.
مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا
Kata maa lam (مالم) artinya : apa yang tidak. Kata yunazzil bihi (ينزل به) artinya : menurunkan dengannya. Kata 'alaikum (عليكم) artinya : kepada kamu. Kata sulthana (سلطانا) artinya : kekuatan.
Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : yang Dia (sendiri) tidak pernah menurunkan kepadamu alasan apa pun.
Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : "yang Dia tidak menurunkan alasan (pembenaran) kepadamu tentangnya?"
Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : "barang yang tidak diturunkannya kepada kamu suatu keterangan pun tentang itu?"
فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ
Kata fa-ayyu (فأي) artinya : maka yang manakah. Kata al-fariqaini (الفريقين) artinya : dua golongan.
Dua golongan yang dimaksud adalah golongan Nabi Ibrahim yang mengajarkan monoteisme, tauhid dan keesaan Allah. Golongan yang kedua adalah golongan dari kaumnya Nabi Ibrahim, yaitu mereka yang berpaham politeisme. Menuhankan benda-benda langit juga menuhankan patung-patung berhala.
Kata ahaqqu (أحق) artinya lebih berhak. Kata bil amni (بالأمن) artinya dengan keamanan.
Maksudnya, siapakah yang lebih berhak untuk merasa aman, atau merasa lebih aman.
Aman yang dimaksud adalah aman dari kutukan. Apakah Nabi Ibrahim lebih berhak merasa aman dari kutukan berhala-berhala, atau kaumnya Nabi Ibrahim merasa lebih aman dari kutukan Allah.
إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Kata in kuntum (إن كنتم) artinya : apabila kamu، atau jika kamu. Kata ta'lamun (تعلمون) artinya : kamu mengetahui.
Maksudnya, jika kamu mengetahui maka kamu akan bisa menentukan siapa yang lebih berhak untuk merasa aman dari kutukan.
Ini merupakan bentuk jawaban bahwa yang lebih berhak untuk merasa aman dari kutukan itu adalah Nabi Ibrahim. Karena kutukan dari dewa-dewa dan berhala itu tidak ada kekuatannya sedikitpun.
Sedangkan orang-orang kafir kaumnya Nabi Ibrahim, karena ketidaktahuan mereka, mereka merasa lebih aman dari kutukan Allah.