Kemenag RI 2019:(Begitu juga kepada) Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan Lut. Tiap-tiap mereka Kami lebihkan daripada (umat) seluruh alam (pada masanya). Prof. Quraish Shihab:Dan (juga) Ismail, Ilyasa‘, Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas seluruh alam (umat pada masanya). Prof. HAMKA:Dan Ismail dan Ilyasa' dan Yunus dan Luth. Dan semuanya telah Kami lebihkan daripada manusia-manusia (yang lain).
Allah SWT menyebutkan bahwa mereka itu dilebihkan dari seluruh alam atau dari umat yang lain pada masa mereka masing-masing.
وَإِسْمَاعِيلَ
Nabi Ismail ‘alaihissalam adalah putra Nabi Ibrahim dari Siti Hajar. Nama beliau disebut sebanyak dua belas kali dalam Al-Qur’an, baik langsung maupun dalam bentuk turunan seperti ‘bin Ismail’. Nabi Ismail hidup bersama dengan ayahandanya, yaitu Nabi Ibrahim, diperkirakan pada abad ke-20 hingga ke-19 sebelum masehi.
Beliau lahir di Palestina atau Mesir dan kemudian diajak hijrah oleh ayah dan ibunya ke Jazirah Arabia, tepatnya ke Mekah.
Kelahiran Nabi Ismail alaihissalam diceritakan dalam Al-Quran ketika ayahnya berdoa kepada Allah SWT agar dianugerahi anak yang nantinya bisa meneruskan warisan orang tuanya.
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".(QS. Ash-Shaaffaat : 100-103)
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash-Shaaffaat : 104-107)
Setelah dewasa, Nabi Ismail memiliki peranan penting dalam pembangunan Ka’bah bersama ayahnya di Mekah, menjadikan tempat itu sebagai pusat ibadah monoteis bagi umat manusia. Selain itu, Nabi Ismail dikenal sebagai bapak bangsa Arab, dan garis keturunannya menurunkan Nabi Muhammad SAW.
Jika kita bandingkan dengan nabi-nabi yang sudah kita bicarakan sebelumnya, seperti Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa dan Nabi Ilyas, dimana mereka berhadapan langsung dengan penguasa zalim hingga akhirnya dibunuh, nampaknya kehidupan Nabi Ismail ’aman-aman saja’, dalam arti tidak ada kisah beliau dikejar-kejar atau dimusuhi oleh penguasa.
Nabi Ismail menghadapi ujian yang berbeda bentuknya berupa perintah Allah agar dirinya disembelih oleh ayahnya sendiri. Itu pastinya membutuhkan kesabaran dan kepasrahan luar biasa. Setelah itu, kehidupannya di Mekah lebih banyak berfokus pada membangun peradaban awal bersama ayahnya, menegakkan syiar tauhid, serta membina masyarakat di sekitar Ka’bah.
وَالْيَسَعَ
Nabi Ilyasa’ ‘alaihissalam adalah salah seorang nabi dari keturunan Bani Israil yang diutus setelah masa Nabi Ilyas. Bedakan antara keduanya, ada Ilyasa’ dan ada Ilyas. Mirip tapi beda, tapi keduanya adalah guru dan murid.
Nama Nabi Ilyasa’ disebutkan dalam Al-Qur’an hanya dua kali yaitu dalam Surah Al-An’am ayat 86 dan Surah Shad ayat 48. Namanya hanya disebut saja tanpa ada penjelasan siapa Beliau, kapan dan dimana hidupnya, nyaris tidak ada detail kisah yang termuat sebagaimana para nabi besar lainnya.
Untungnya di dalam tafsir ada penjelasan lebih lanjut. Ternyata Nabi Ilyasa’ itu murid sekaligus penerus dakwah Nabi Ilyas. Berarti sebagaimana Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa’ hidup sekitar abad ke-9 sebelum masehi di wilayah utara Palestina, yaitu kerajaan Israel kuno. Sama-sama hidup di tengah-tengah kaum yang menyembah berhala bernama Baal.
Dikisahkan ketika Nabi Ilyas sang guru mulai masuk usia senja, maka diwariskanlah misi kenabian kepada Ilyasa’ untuk melanjutkan perjuangan menegakkan tauhid di tengah-tengah Bani Israil. Namun, berbeda dengan kisah Nabi Ilyas yang harus menghadapi penguasa kafir secara langsung, kisah Nabi Ilyasa’ tidak banyak diceritakan detail pertentangannya dengan penguasa. Yang jelas, beliau tetap konsisten dalam melanjutkan dakwah, menyeru Bani Israil kepada tauhid dan menjauhi penyembahan berhala.
Dari sisi keturunan, sebagian ulama menyebut beliau masih termasuk dalam jalur keturunan Nabi Ibrahim, sehingga secara silsilah masih terhubung dengan para nabi sebelumnya.
Dalam tradisi Islam, Nabi Ilyasa’ dikenang sebagai seorang nabi yang sabar, teguh, dan meneruskan perjuangan gurunya. Sementara dalam tradisi Yahudi dan Kristen, sosok ini dikenal dengan nama Elisha, murid Nabi Ilyas (Elijah) yang menjadi penerusnya. Dengan begitu, kisah Nabi Ilyasa’ menegaskan kesinambungan dakwah para nabi di kalangan Bani Israil, yang satu sama lain saling melanjutkan dan meneguhkan risalah tauhid.
وَيُونُسَ
Menurut para sejarawan, diperkirakan Nabi Yunus alaihissalam hidup pada masa setelah Nabi Ilyas dan Nabi Ilyasa’, sekitar abad ke-8 sebelum masehi. Namun lokasi dakwahnya bukan lagi negeri Syam, melainkan kota Ninawa, sebuah kota kuno yang sangat besar di wilayah Mesopotamia bagian utara, dekat dengan Sungai Tigris. Kini, wilayah tersebut termasuk ke dalam kawasan kota Mosul di Irak modern.
Ninawa pada masa itu adalah pusat kerajaan Asyur alias Assyria, sebuah kekuatan besar yang berpengaruh di kawasan Timur Dekat. Kaum ini dikenal keras kepala, penyembah berhala, dan hidup dalam kemaksiatan.
Di sanalah Nabi Yunus menyeru manusia agar kembali kepada Allah. Jadi, bisa dikatakan bahwa beliau adalah nabi yang diutus di luar tanah Kanaan Palestina, karena daerah Irak merupakan pusat peradaban kuno yang berbeda dari wilayah para nabi Bani Israil sebelumnya.
Beliau juga dikenal dengan sebutan Dzun-Nun atau pemilik ikan besar, karena peristiwa penting dalam hidupnya adalah ditelan oleh seekor ikan besar, sering dipahami sebagai paus. Nama beliau disebut dalam beberapa surat, antara lain dalam Surah As-Saffat, Surah Yunus, Surah Al-Anbiya.
Kepergiannya inilah yang menjadi ujian besar baginya. Beliau menaiki sebuah kapal, dan ketika kapal tersebut menghadapi badai besar, penumpang kapal sepakat mengundi siapa yang harus dilemparkan ke laut agar kapal menjadi lebih ringan. Nama Yunus keluar beberapa kali dalam undian itu, sehingga beliau pun rela melemparkan dirinya ke laut. Saat itulah Allah menakdirkan seekor ikan besar menelannya tanpa melukainya.
Di dalam perut ikan itulah Nabi Yunus menyadari kesalahannya. Ia berdoa dengan doa yang sangat terkenal: “Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minaz-zhaalimiin” : Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.
Lalu Allah menerima taubatnya dan menyelamatkannya, lalu ikan itu memuntahkannya ke daratan. Setelah itu, Allah menumbuhkan sebatang pohon labu untuk memberi naungan dan makanan kepadanya hingga pulih kembali.
Setelah sehat, Allah mengutusnya kembali kepada kaumnya. Kali ini, kaum Ninawa justru beriman dan bertaubat sebelum azab menimpa mereka. Hal ini menjadikan kaum Nabi Yunus sebagai satu-satunya contoh dalam Al-Qur’an tentang sebuah bangsa yang seluruhnya bertaubat sehingga terhindar dari azab Allah.
Kisah Nabi Yunus mengajarkan banyak pelajaran, antara lain tentang kesabaran dalam berdakwah, larangan terburu-buru dalam mengambil keputusan, serta pentingnya kembali kepada Allah dengan doa dan istighfar dalam keadaan sesulit apa pun.
وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ
Kata wakullan (وَكُلًّا) artinya : dan semuanya, yaitu semua nabi yang telah disebutkan sebelumnya dalam rangkaian ayat ini, yaitu Nabi Ismail, Nabi Ilyasa’, Nabi Yunus dan Nabi Luth.
Kata fadhdhalna (فَضَّلْنَا) artinya : Kami telah melebihkan, maksudnya Allah SWT menjadikan mereka punya kelebihan. Akar kata fadhdhalna (فَضَّلْنَا) yang merupakan kata kerja fi’il madhi adalah (فضل) yang bermakna keutamaan, anugerah, atau kelebihan.
Kata ‘alal-‘alamin (عَلَى الْعَالَمِينَ) artinya : di atas seluruh alam, atau di atas semua bangsa, khususnya pada masa mereka masing-masing. Dalam Al-Qur’an, kata al-‘alamin sering dipakai untuk menunjuk kumpulan manusia atau makhluk secara luas.
Ditergaskan bahwa mereka adalah para nabi Allah SWT beri kedudukan istimewa dan keutamaan dibandingkan dengan seluruh manusia lain pada zaman mereka masing-masing. Mereka dipilih Allah untuk membawa risalah, diberi wahyu, dan dijaga dari kesalahan besar.
Tafsir al-Tabari menekankan bahwa keutamaan ini berupa kenabian yang tidak mungkin diberikan kepada sembarang orang. Sementara al-Qurthubi menambahkan bahwa kelebihan itu mencakup ilmu, amal, kesabaran dalam ujian, dan kemuliaan nama mereka hingga sepanjang zaman.
Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa tidak berarti semua nabi memiliki derajat yang sama persis, karena Allah sendiri menyebut dalam ayat lain: