Kemenag RI 2019:Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan kamu (Adam), kemudian Kami membentuk (tubuh)-mu. Lalu, Kami katakan kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam.” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Ia (Iblis) tidak termasuk kelompok yang bersujud. Prof. Quraish Shihab:Dan demi (keagungan dan kekuasaan Kami)! Sungguh, Kami telah menciptakan (leluhur) kamu (Nabi Adam as.), kemudian Kami bentuk (leluhur) kamu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kepada Adam!” maka mereka segera bersujud, tetapi Iblis (enggan dan angkuh), ia tidak termasuk (kelompok) orang-orang yang sujud. Prof. HAMKA:Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kamu dan telah Kami beri kamu rupa. Kemudian itu telah Kami katakan kepada Malaikat, “Sujudlah kepada Adam!” Maka sujudlah mereka, kecuali iblis. Tiadalah ada dia dari mereka yang sujud.
Kata wa-laqad (وَلَقَدْ) artinya : dan sungguh telah benar-benar. Kata khalaqna-kum (خَلَقْنَاكُمْ) berasal dari kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, akarnya dari tiga huruf yaitu (خ ل ق).
Makna dasarnya adalah : Kami telah menciptakan kamu. Yang dimaksud dengan Kami adalah Allah SWT, sedangkan yang dimaksud dengan kamu menurut terjemah Kemenag adalah Nabi Adam alaihissalam.
Rujukan terjemah Kemenag memang berasal dari pendapat para mufassir dalam beberapa kitab tafsir, seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari, dan Al-Qurthubi. Mereka cendnerung menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kamu” dalam ayat ini pada hakikatnya kembali kepada Nabi Adam. Uniknya penyebutannya menggunakan bentuk jamak, padahal Nabi Adam itu hanya satu orang saja.
Namun mereka bilang bahwa Adam adalah asal-usul seluruh manusia, sehingga taqdirnya adalah : Sungguh Kami telah menciptakan ‘leluhur’ kalian, yaitu Nabi Adam. Memang dalam bahasa Arab dan gaya Al-Qur’an, sering kali keturunan disapa melalui nenek moyangnya, karena di dalam dirinya terkandung seluruh generasi yang akan lahir setelahnya.
Ath-Thabari secara tegas menyatakan bahwa makna ayat ini adalah: “Kami menciptakan bapak kalian, Adam, lalu Kami membentuknya.” Dengan kata lain, penciptaan Adam adalah penciptaan seluruh manusia secara prinsip, sebab seluruh manusia berada dalam sulbinya. Dari sudut pandang ini, terjemahan Kemenag yang memaknai “kamu” sebagai Nabi Adam berada dalam koridor tafsir mayoritas dan memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Namun, sebagian mufassir juga memberikan penjelasan tambahan yang memperluas makna ayat. Mereka memahami “Kami telah menciptakan kamu” sebagai mencakup seluruh manusia, bukan hanya Adam semata. Maksudnya, Allah mengingatkan manusia akan proses penciptaan mereka secara umum, baik penciptaan asal Adam maupun penciptaan keturunannya melalui proses biologis yang telah ditetapkan.
Dalam pendekatan ini, ayat tersebut berbicara kepada manusia sebagai satu kesatuan spesies, bukan kepada individu tertentu saja.
ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ
Kata tsumma (ثُمَّ) adalah harfu ‘athf yang menunjukkan urutan dengan jeda. Berbeda dengan fa yang menunjukkan urutan cepat dan langsung, tsumma memberi isyarat adanya tahapan dan proses. Ini menunjukkan bahwa apa yang disebutkan setelahnya merupakan fase lanjutan, bukan peristiwa yang terjadi secara bersamaan.
Kata shaawwarna-kum (صَوَّرْنَاكُمْ) berasal dari tiga huruf yang jadi akar katanya yaitu (ص و ر). Makna dasarnya adalah memberi bentuk, menyusun rupa, dan menjadikan sesuatu memiliki ciri dan tampilan tertentu. Kata ini menunjukkan bahwa setelah manusia diciptakan, mereka kemudian diberi bentuk yang teratur, proporsional, dan khas.
Dalam biologi perkembangan setelah terjadinya pembuahan, embrio manusia mengalami fase-fase pembentukan bentuk yang disebut morphogenesis. Pada fase ini, sel-sel yang awalnya seragam mulai berbeda fungsi, posisi, dan perannya. Ada sel yang jadi tulang, otot, saraf, kulit, mata, dan organ-organ vital lainnya. Inilah tahap nyata dari apa yang dalam Al-Qur’an disebut tashwir alias pemberian bentuk.
Proses ini tidak berjalan acak, tapi dikendalikan oleh kode genetik (DNA) yang mengatur kapan suatu organ mulai terbentuk, di mana posisinya, seberapa besar ukurannya, dan bagaimana ia terhubung dengan organ lain.
Misalnya, mata selalu terbentuk di bagian atas wajah, jantung selalu berada di rongga dada dengan orientasi tertentu, dan tangan memiliki susunan tulang yang konsisten pada semua manusia. Ini menunjukkan adanya pola bentuk yang tetap dan teratur, bukan hasil kebetulan.
Lebih jauh lagi, sains menemukan bahwa tubuh manusia dibentuk dengan proporsi yang sangat presisi. Rasio panjang anggota tubuh, keseimbangan antara rangka dan otot, serta hubungan antara sistem saraf, peredaran darah, dan pernapasan semuanya saling menyesuaikan.
Jika satu saja proporsi ini melenceng sedikit, fungsi tubuh bisa terganggu. Fakta ini sejalan dengan makna ṣawwara yang bukan sekadar “membentuk”, tetapi membentuk dengan ukuran dan susunan yang tepat.
Menariknya, meskipun semua manusia memiliki pola dasar yang sama, tidak ada dua manusia yang benar-benar identik. Wajah, sidik jari, suara, hingga detail iris mata setiap orang berbeda. Ini menunjukkan bahwa taṣwīr bukan hanya pemberian bentuk umum, tetapi juga pemberian ciri khas individual. Sains menyebutnya sebagai variasi genetik, sementara Al-Qur’an sejak awal sudah mengisyaratkannya dengan satu kata yang padat makna.
ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ
Kata tsumma (ثُمَّ) kembali digunakan untuk menunjukkan urutan yang disertai jeda dan tahapan. Ini penting, karena peristiwa yang disebutkan setelahnya bukan terjadi bersamaan dengan penciptaan dan pembentukan manusia, tetapi datang setelah kedua tahap itu sempurna. Artinya, perintah sujud kepada Adam diberikan setelah manusia benar-benar siap secara penciptaan dan pembentukan.
Kata qulna (قُلْنَا) artinya : Kami berkata, maksudnya Allah SWT memberi perintah dengan kata-kata. Kata lil-mala’ikah (لِلْمَلَائِكَةِ) artinya : kepada jajaran para malaikat, yaitu para makhluk Allah yang dikenal selalu taat dan tidak membangkang perintah-Nya.
Kata usjudu (اسْجُدُوا) artinya : bersujudlah. Kata li-Adama (لِآدَمَ) menunjukkan objek sujud tersebut, yaitu Nabi Adam alaihissalam. Para mufassir menegaskan bahwa perintah sujud ini tidak termasuk ritual ibadah, melainkan sujud penghormatan dan ketaatan, sebagai bentuk pelaksanaan perintah Allah dan pengakuan atas kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam.
فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ
Kata fa-sajadu (فَ) berarti : maka mereka segera bersujud. Ungkapan ini menegaskan karakter malaikat sebagai makhluk yang langsung taat tanpa ragu.
Kata illa (إِلَّا) merupakan adatul-istitsna’, yaitu kata pengecualian. Kata iblis (إِبْلِيسَ) adalah nama khusus makhluk yang dikecualikan dari ketaatan tersebut.
Iblis :Bahasa Arab Atau Serapan?
Lafazh iblis ini sejak dahulu sudah jadi bahan perdebatan para ulama, apakah merupakan bahasa Arab yang punya kata dasar dan bisa dibentuk menjadi kata lain ataukah kata serapan dari bahasa lain sehingga tidak ada pembentukan katanya.
Pendapat yang mengatakan bahwa Iblis itu kata serapan mengatakan bahwa dalam Al-Quran ditemukan banyak istilah yang bukan asli dari bahasa Arab, misalnya nama para nabi seperti Adam, Ibrahim, Musa, Isa dan lainnya. Dan salah satu contoh lagi adalah : iblis.
Sedangkan pendapat yang mengatakan iblis itu bahasa Arab berhujjah bahwa dalam ayat Al-Quran ada ism fa'il yang kata dasarnya dari iblis :
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al-Anam : 44)
Jadi secara bahasa, kata iblis itu maknanya adalah putus asa. Lalu pertanyaan berikutnya yang juga sering diperdebatkan, apakah benar bahwa konon Iblis itu dulunya salah satu malaikat?
1. Pendapat Pertama
Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama yang diwakili oleh mufassir di level shahabat seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud. Selain itu juga merupakan pendapat Said bin Al-Musayyib dan Ibnu Juraij di kalangan tabi'in.
Pendapat ini menegaskan bahwa Iblis itu aslinya juga bagian malaikat, bahkan derajatnya terbilang yang paling tinggi di atas rata-rata para malaikat. Namun karena dia membangkang, maka dimurkailah iblis itu. Jadi menurut pendapat ini iblis itu adalah bagian dari malaikat dan bukan makhluk lain seperti jin dan lainnya.
Lalu yang mendasari pendapat ini bahwa Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam dan tidak secara zhahirnya tidak ada penjelasan bahwa Allah SWT memerintahkan makhluk lain untuk bersujud. Namun begitu iblis tidak sujud, justru dimurkai Allah.
Jelas sekali ini adalah petunjuk paling sederhana yang mendasari kepada pendapat pertama ini meyakini apa yang mereka pegang. Secara logika bahasa, masuk akal kalau dikatakan iblis itu bagian dari malaikat.
Seandainya iblis bukan bagian dari malaikat, logikanya ketika iblis tidak bersujud tidak mengapa. Kan memang tidak diperintahkan untuk bersujud. Kenapa jadi sasaran kesalahan?
2. Pendapat Kedua
Pendapat ini menolak pandangan dari mereka yang bilang bahwa Iblis itu bagian dari malaikat, tetapi iblis adalah makhluk lain yang berbeda dari malaikat. Pendapat kedua ini punya beberapa argumentasi yang mendukung logika mereka.
Pertama : di dalam surat Al-Kahfi ditegaskan bahwa iblis itu termasuk jin.
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. (QS. Al-Kahfi : 50)
Kedua : Al-Quran menjelaskan bahwa malaikat itu tidak mungkin membangkang, sebab mereka adalah hamba-hamba Allah yang mulia dan selalu taat kepada-Nya.
Malaikat-malaikat itu tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6)
Logikanya tidak mungkin Allah SWT menciptakan malaikat tapi membandel dan membangkang, karena sejak awal malaikat memang tidak diberi hawa nafsu dan sifat membangkang.
Ketiga : malaikat itu beda jauh dengan jin, sehingga tidak mungkin Allah SWT menciptakan makhluk yang awalnya malaikat lalu di tengah jalan tiba-tiba Allah ubah jadi jin. Sebab bahan baku keduanya sejak awal sudah berbeda. Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin diciptakan dari api, sebagaimana ayat berikut.
Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin diciptakan dari api.
لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ
Kata lam yakun (لَمْ يَكُنْ) artinya : dia bukan, maksudnya Iblis. Kata minas-sajidin (مِنَ السَّاجِدِينَ) artinya : termasuk dari mereka yang sujud.
Iblis tidak ikut sujud menunjukkan bahwa penolakan Iblis bukan sekadar satu tindakan sesaat, melainkan cerminan dari karakter dan pilihan batinnya. Seandainya yang digunakan adalah bentuk fi‘il saja, misalnya lam yasjud, maka maknanya bisa dipahami sebagai sekadar tidak melakukan satu perbuatan.
Namun ketika Al-Qur’an memilih ungkapan lam yakun mina as-sajidin, maknanya menjadi lebih dalam, yaitu bahwa Iblis tidak memiliki identitas ketaatan itu sejak awal keputusan diambil. Ia menempatkan dirinya di luar barisan orang-orang yang tunduk.