Kemenag RI 2019:Dia (Allah) berfirman, “Keluarlah kamu darinya (surga) dalam keadaan terhina dan terusir! Sungguh, siapa pun di antara mereka yang mengikutimu pasti akan Aku isi (neraka) Jahanam dengan kamu semua.” Prof. Quraish Shihab:Dia berfirman: “Keluarlah engkau darinya (surga, dalam keadaan) terhina, lagi terusir. Barang siapa di antara mereka benar-benar mengikutimu, Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahannam dengan kamu semua. Prof. HAMKA:Dia berfirman, “Keluarlah engkau daripadanya dalam keadaan terhina dan terusir. Sesungguhnya barangsiapa yang mengikuti engkau di antara mereka, sesungguhnya akan Aku penuhkah Jahannam dengan kamu sekalian.”
Maka Allah SWT usir Iblis dalam keadaan terhina dan terusir, sambil memastikan bahwa siapa pun ada yang mengikuti langkah-langkah Iblis, pasti neraka Jahanam akan dipenuhi dengan mereka semua.
قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا
Kata qala (قَالَ) artinya “Dia berfirman”. Yang dimaksud dengan “Dia” di sini tentu adalah Allah SWT. Penggunaan kata qala menandai putusan ilahi yang final, bukan dialog tawar-menawar, bukan nasihat, tetapi vonis.
Kata ukhruj (اخْرُجْ) adalah perintah: “keluarlah”. Ini bukan sekadar perintah berpindah tempat, melainkan perintah pemutusan kedudukan. Iblis tidak hanya dikeluarkan secara fisik dari tempat kemuliaannya, tetapi dikeluarkan dari status kedekatan dan kehormatan.
Kata minha (مِنْهَا) artinya “dari sana”. Para ulama menjelaskan bahwa dhamir ini kembali kepada lingkungan kemuliaan tempat Iblis sebelumnya berada, baik dipahami sebagai surga, langit, atau maqam ketaatan bersama para malaikat.
مَذْءُومًا مَدْحُورًا
Kemudian Allah menambahkan dua sifat yang sangat keras: madz’uman (مَذْءُومًا) dan madhuran (مَدْحُورًا). Kata madz’uman berasal dari kata (ذ أ م) yang maknanya berkisar pada celaan, aib, dan keburukan yang melekat. Artinya, Iblis keluar bukan sekadar sebagai makhluk yang terusir, tetapi sebagai makhluk yang membawa kehinaan moral. Ia tercela bukan karena makhluk lain mencelanya, tetapi karena hakikat dirinya telah rusak akibat pembangkangan itu. Ini kehinaan yang bersifat batin dan melekat.
Adapun kata madhuran berasal dari kata (د ح ر) yang bermakna diusir dengan keras, dijauhkan, ditolak tanpa kehormatan. Jika madz’uman berbicara tentang status dan penilaian, maka madhuran berbicara tentang perlakuan dan posisi. Iblis bukan hanya hina, tetapi juga dijauhkan sejauh-jauhnya dari rahmat dan kedekatan dengan Allah.
Urutan kedua kata ini juga bermakna. Ia tercela terlebih dahulu, lalu terusir kemudian. Seakan-akan Allah menegaskan bahwa pengusiran itu bukan sebab kehinaan, tetapi akibat dari kehinaan yang sudah ia pilih sendiri.
Dengan demikian, penggalan ayat ini menggambarkan satu hal yang sangat tegas bahwa Iblis tidak jatuh karena kelemahan, tetapi karena sikap batin yang rusak. Maka hukumannya pun tidak hanya berupa pengusiran tempat, tetapi pengguguran martabat.
لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ
Kata la-man (لَمَنْ) tersusun dari lam taukid dan man : siapa saja. Lam di awal kalimat memberi penegasan yang kuat, sehingga maknanya bukan sekadar “bagi siapa yang mengikuti”, tetapi “sungguh pasti bagi siapa saja yang mengikuti”. Ini adalah penegasan ilahi bahwa konsekuensi yang akan disebutkan bersifat pasti dan tidak ada pengecualian.
Kata tabi‘aka (تَبِعَكَ) berasal dari kata (تبع - يتبع) yang berarti mengikuti dengan sadar dan sukarela, bukan dipaksa. Para ulama menekankan bahwa kata ini menunjukkan pilihan aktif. Artinya, manusia yang tersesat bukan korban pasif Iblis, tetapi pelaku yang memilih jalan itu. Iblis hanya mengajak, sedangkan keputusan tetap berada di tangan manusia.
Adapun kata minhum (مِنْهُمْ) berarti “dari kalangan mereka”, yakni dari anak cucu Adam. Ungkapan ini mengandung makna bahwa tidak semua manusia akan mengikuti Iblis, tetapi siapa pun dari mereka yang memilih mengikuti langkahnya, maka ia masuk dalam hukum yang sama.
لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ
Kata la-amla’an-na (لَأَمْلَأَنَّ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari yaitu (مَلَأَ – يَمْلَأُ) yang berarti memenuhi. Kata أَمْلَأُ artinya : Aku akan memenuhi. Allah tidak mengatakan : ”Aku akan masukkan mereka ke neraka jahannam”, tapi Allah SWT lebih menekankan dengan bahasa ungkapan bahwa : ”Aku akan penuhi jahannam dengan mereka”.
Kata kerja ini kemudian dibungkus dengan dua huruf sumpah yang sangat kuat, lam taukid di awal dan nun taukid tsaqilah di akhir. Maka ini bukan sekadar ancaman, tetapi ketetapan yang pasti terjadi. Allah tidak mengatakan “Aku akan memasukkan”, tetapi “Aku sungguh pasti akan memenuhi”. Ungkapan ini menandakan kepenuhan yang sempurna, tanpa sisa.
Kata jahannama (جَهَنَّمَ) disebut secara langsung, tanpa kiasan. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud bukan sekadar azab, tetapi tempat pembalasan yang nyata, dengan identitas yang jelas. Penyebutan nama neraka secara eksplisit memberi kesan ketegasan dan keseriusan ancaman.
Kata minkum (مِنْكُمْ) berarti “dari kalian”, yakni dari Iblis dan dari manusia. Kata ajma‘in (أَجْمَعِينَ) berfungsi sebagai penegas tambahan. Ia menutup semua kemungkinan pengecualian. Bukan sebagian, bukan kebanyakan, tetapi seluruh yang termasuk dalam kategori “mengikuti”. Tidak ada yang lolos dengan alasan kedekatan, kecerdikan, atau dalih apa pun.
Para mufassir menaruh perhatian besar pada susunan ayat ini. Allah tidak mengatakan “Aku akan memenuhi neraka dengan kalian”, lalu berhenti. Tetapi ditambahkan ajma‘in untuk menegaskan bahwa keadilan Allah berjalan sempurna: siapa pun yang memilih jalan Iblis akan berakhir di tempat yang sama dengannya.