Kemenag RI 2019:Pasti akan Kami tanyai umat yang kepada mereka telah diutus para rasul. Pasti akan Kami tanyai (pula) para rasul. Prof. Quraish Shihab:Maka, sungguh Kami pasti akan menanyai (umat-umat) yang telah diutus para rasul kepada mereka dan sungguh Kami pasti akan menanyai (pula) para rasul. Prof. HAMKA:Maka sesungguhnya akan Kami periksa orang-orang yang dikirim (rasul-rasul) kepada mereka itu dan sesungguhnya akan Kami periksa rasul-rasul itu sendiri.
Pertanyaan pertama kepada masing-masing umat manuia yang kepada mereka telah diutus para nabi dan rasul. Mereka akan ditanya apakah mereka telah tahu kedatangan para nabi dan rasul? Kalau tahu, lantas apakah mereka beriman?
Pertanyaan kedua kepada para nabi dan rasul itu sendiri yang akan bercerita seperti apa mereka diperlakukan oleh masing-masing umatnya.
Dengan mempertemukan kedua belah pihak ini, tidak ada yang bisa berdusta atau mengarang-ngarang, sebab kedua belah pihak langsung dikonfrontir di satu waktu dan tempat yang sama.
فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ
Huruf fa (فَ) artinya: maka, menunjukkan kelanjutan langsung dari ayat sebelumnya. Setelah pengakuan itu, tidak berhenti di situ, ada tahapan berikutnya. Sedangkan huruf la (لَ) di awal kata kerja ini berfungsi sebagai penegas sumpah. Maknanya bukan sekadar “akan”, tapi pasti akan, tanpa ragu.
Kata nas-alanna (نَسْأَلَنَّ) artinya: Kami sungguh-sungguh akan bertanya. Kami disini maksudnya tidak lain adalah Allah SWT. Pertanyaannya bukan pertanyaan biasa, tapi sebenarnya lebih pada konteks mengadili dengan pertanyaan. Berbagai pertanyaan yang menuntut jawaban dan tanggung jawab.
Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya: orang-orang yang. Kata ursila (أُرْسِلَ) artinya: telah diutus. Bentuknya pasif, artinya: ada rasul yang dikirim kepada mereka, meskipun nama rasulnya tidak disebut di sini.
Kata ilaihim (إِلَيْهِمْ) artinya: kepada mereka. Ini menegaskan bahwa risalah itu benar-benar sampai, bukan jauh, bukan samar, dan bukan tanpa alamat.
Jika dirangkai semua kata di penggalan ini, maka ayat ini menyampaikan pesan yang sangat tegas bahwa setelah mereka mengakui kezaliman, Allah tidak membiarkan perkara selesai begitu saja. Akan ada tahap pertanyaan, tahap pertanggungjawaban.
Dan yang menarik, yang disebut pertama kali akan ditanya adalah umat atau orang-orang yang sudah didatangi risalah. Sebab pada dasarnya mereka sudah pernah diperingatkan, bahkan mereka sudah punya akses kepada kebenaran.
Pesannya sangat kuat bahwa tidak ada hukuman tanpa klarifikasi, tidak ada azab tanpa pertanyaan, dan tidak ada satu kaum pun yang bisa berkata: kami tidak tahu.
وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ
Huruf wa (وَ) artinya: dan, fungsinya menyambung dengan ayat sebelumnya. Ini menandakan bukan hanya satu pihak yang ditanya, tapi ada kelanjutan yang setara dan penting.
Huruf la (لَ) yang menempel pada kata nas’alanna, merupakan huruf penegas yang memberi makna pasti atau sungguh-sungguh, bukan sekadar akan, tapi kepastian yang tidak mungkin tidak terjadi.
Kata nas-al (نَسْأَلُ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari yang artinya: Kami bertanya, maksudnya Allah SWT akan bertanya atau lebih tepatnya meminta pertanggungjawaban, pertanyaan yang mengungkap apa yang sudah dan belum dilakukan.
Huruf nun tasydid (نَّ) di akhir kata kerja menjadi juga huruf penegas yang efeknya seperti penekanan berlapis, seakan maknanya: benar-benar pasti akan. Ketika digabung dengan huruf-huruf penegas di sekitarnya, maknanya naik menjadi Kami pasti sungguh-sungguh akan bertanya.
Kata al-mursalina (الْمُرْسَلِينَ) artinya: para rasul, yaitu orang-orang yang diutus membawa risalah, menyampaikan perintah dan larangan Allah kepada umatnya.
Makna utuhnya bahwa ayat ini menegaskan bahwa pertanyaan pada hari itu tidak sepihak. Umat ditanya dan para rasul pun ditanya. Bukan karena para rasul bersalah, tetapi agar amanah risalah tercatat secara terang. Seolah maknanya berkata: Apakah pesan itu sudah disampaikan? Apakah umat itu sudah mendengar?