Sujudnya para malaikat itu tentu saja tidak harus dibayangkan seperti sujudnya kita. Sebab secara anatomi, bentuk malaikat itu tidak seperti anatomi tubuh manusia. Yang pasti semua makhluk Allah SWT bersujud kepada-Nya secara keseluruhan. Namun mereka punya cara sujud masing-masing yang boleh jadi saling berbeda.
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. (QS. An-Nahl : 49)
Namun bagaimana bentuk sujud para malaikat kepada Nabi Adam, tentu hanya Allah SWT saja yang tahu. Dan bisa saja sujudnya seperti sujud manusia, bukankah sujudnya Nabi Muhammad SAW didasarkan dari melihat tata cara shalat malaikat Jibril.
صَلُّوا كَمَا رَأَيتُمُنِي أُصَلِي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Malaikat memang bisa berubah wujud dan penampakan, seperti yang terjadi pada malaikat Jibril alaihissalam. Dalam kisah hamilnya Maryam digambarkan Jibril menampakkan diri sebagai seorang laki-laki.
فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. (QS. Maryam : 17)
Di masa kenabian Muhammad SAW, Jibirl juga pernah menampakkan diri dengan wujud seorang laki-laki yang asing, dengan rambut yang teramat hitam serta pakaian yang teramat putih, namun tidak ada tanda-tanda bahwa dia adalah seorang pengelana yang menempuh perjalanan jauh.
Sujud Penghormatan
Lepas dari bagaimana bentuk sujud malaikat kepada Nabi Adam, yang jelas sujudnya bukan sujud penyembahan melainkan sujud penghormatan. Dan sujud penghormatan ini hanya dibolehkan berlaku pada umat terdahulu. Adapun buat kita umat Muhammad SAW, sujud kepada selain Allah, apapun niat dan tujuannya, tetap tidak diperkenankan.
Lalu bagaimana dengan membungkuk seperti ruku' yang banyak dilakukan umat manusia kepada orang tua atau bahkan raja? Malahan dalam budaya Jawa adalah sungkem yang juga mirip dengan membungkuk kepada orang tua. Apakah posisi sungkem ini termasuk hal yang dilarang juga dalam agama Islam?
Jawabannya para ulama beda pendapat, sebagian ada yang berpandangan posisi ruku' itu dianggap sama saja dengan posisi sujud, sehingga hukum keharamannya diqiyaskan. Artinya buat mereka, ruku atau membungkuk seperti orang Jepang saling membungkuk itu difatwakan keharamannya.
Namun nampaknya tidak semua sepakat model qiyas semacam itu. Sebab yang dilarang hanya posisi sujud saja, sedangkan di luar sujud, tiap bangsa punya gestur masing-masing dalam rangka menghormati orang yang mereka hormati, baik dengan menganggukkan kepala, atau membungkuk, atau bahkan sungkem.