Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.” Allah berfirman, “(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” Prof. Quraish Shihab:Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhan Pemeliharanya dengan beberapa kalimat, maka dia (Nabi Ibrahim as.) menunaikan nya. Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikanmu imam (pemimpin dan teladan) bagi (seluruh) manusia.” Dia (Nabi Ibrahim as.) berkata: “Dan (saya mohon juga) dari keturunanku.” Dia berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak berlaku (bagi) orang-orang zalim” Prof. HAMKA:Dan (ingatlah) tatkala telah diuji Ibrahim oleh Tuhan-Nya dengan beberapa kalimat, maka telah dipenuhinya semuanya. Dia pun berfirman, "Sesungguhnya, Aku hendak menjadikan engkau imam bagi manusia. Dia berkata, "Dan juga dari antara anak-cucuku." Berfirman Dia, "Tidaklah akan mencapai perjanjian-Ku itu kepada orang-orang yang zalim.
Ayat ini diawali dengan wawul-‘athaf (وَ) yang fungsinya menjadi penyambung antara ayat sebelum dengan ayat sesudahnya. Sehingga menurut sebagian ulama, meski ayat ini secara konten sudah berubah menceritakan kisah Nabi Ibrahim, namun tetap masih ada kaitannya dengan Bani Israil yang seperti sedang diajak bicara sejak ayat-ayat sebelumnya.
Lafazh idz (إذ) dipahami oleh para ulama secara berbeda. Abu Ubaidah mengatakan lafazh itu adalah shilah zaidah (صلة زائدة), yaitu penyambung yang sifatnya hanya tambahan saja dan sama sekali tidak mempengaruhi makna. Dalam pandangannya secara makna tetap sama antara ada atau tidak ada lafazh itu. Maknanya tetap menjadi :"Dan ketika tuhanmu berfirman".
Namun pendapat lain mengatakan lafadz idz (إِذْ) disitu bukanlah shilah zaidah melainkan kalimah maqshurah (كلمة مقصورة) atau kata yang dikurangi. Dalam hal ini mereka katakan maknanya adalah : ingatlah ketika, sehingga makna secara utuhnya menjadi : "Dan ingatlah ketika tuhanmu berfirman".
Pendapat kedua inilah nampaknya yang dipilih oleh Team Penerjemah Kemenag RI, Prof Quraish Shihab dan juga HAMKA. Dalam terjemahan masing-masing ada kata '(ingatlah)' yang disisipkan meskipun diapit dengan tanda kurung yang mengandung makna meski tidak secara eksplisit.
ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ
Lafazh ibtalaa (ابْتَلَىٰ) bermakna : “menguji”. Sebagian ulama ada yang mengatakan ujian itu misalnya seperti dibakar oleh Raja Namrudz, atau diperintah untuk membawa anak istri ke gurun, atau juga perintah untuk menyembelih anak dan lainnya.
Namun kebanyakan ulama mengatakan itu semacam pengetesan untuk dapat diketahui kedudukan dan statusnya. Menguji yang dimaksud disini seperti melakukan pengetesan untuk mengetahui keadaan seorang anak yatim, apakah sudah mulai mendapatkan kedewasaannya atau belum, dan apakah sudah layak untuk mengelola sendiri harta warisan orang tuanya. Hal itu seperti diungkapkan dalam ayat berikut :
Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. (QS. An-Nisa : 6)
Sedangkan lafazh ibrahim (إِبْرَاهِيمَ) bukan asli bahasa Arab, tetapi merupakan unsur serapan dari bahasa lain. Al-Mawardi mengatakan dalam Bahasa Suryani, lafazh Ibrahim itu terbentuk dari dua kata yaitu abu (أَبُ) dan rahim (رَحِيْم).
Sebuah catatan unik bahwa di ayat ke-124 surat Al-Baqarah inilah untuk pertama kalinya termuat nama ibrahim dari penyebutan yang jumlahnya mencapai 69 kali di dalam Al-Quran. Surat Al-Baqarah sendiri menyebut lafazh (إبرهم) sampai 15 kali, sedangkan sisanya yang 54 kali tersebar di banyak surat lain.
Yang juga unik adalah adalah pembahasan dalam kuliah rasm utsmani terkait penulisan nama Ibrahim yang dalam Al-Quran ternyata ada dua cara yang berbeda. Pertama ditulis (إبرهم) tanpa huruf ya’. Kedua ditulis (إبرهيم) dengan huruf ya’. Meskpun demikian cara membunyikannya tetap sama saja, yang berbeda hanya rasm-nya saja.
Penulisan nama ibrahim (إبرهم) tanpa huruf ya’ adanya hanya di dalam surat Al-Baqarah saja, yaitu sebanyak 15 kali. Secara berturut-turut tertulis pada ayat-ayat berikut : 124-125-126-127-130-132-133-135-136-140, lalu disambung dua kali lagi pada ayat 258 dan ayat 260.
Sedangkan penulisan Ibrahim (إبرهيم) dengan huruf ya’ terdapat di semua tempat di dalam Al-Quran selain surat Al-Baqarah, sebagaimana table berikut ini :
Nabi Ibrahim alaihissalam, yang menjadi asal muasal tiga agama besar. Nabi Ibrahim adalah tokoh sentral dalam agama-agama besar dunia dan peranannya memberikan landasan penting bagi kepercayaan dan praktik dalam agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dia merupakan sosok yang dihormati dan dijadikan teladan oleh jutaan umat beragama di seluruh dunia.
Thahir Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir menuliskan deskripsi dengan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai berikut :
Dia dilahirkan di Ur, Babilonia pada tahun 1996 SM, kemudian ayahnya pindah ke tanah Kanaan, tanah orang Fenisia, dan mereka tinggal di Haran. Kemudian ia keluar dari sana karena kelaparan yang melanda Haran, dan ia pergi ke Mesir bersama istrinya, Sara. Di sana, raja Mesir, yang bernama Firaun, mencoba mengambil Sara, tetapi Allah menampakkan tanda yang menghalangi niat Firaun, lalu Firaun menghormati Sara dan memberikannya seorang budak Mesir bernama Hajar. Hajar menjadi ibu dari anak Ismael, dan setelah itu Allah menamai Ibrahim. Anaknya, Ismael, dan ibunya, Hajar, tinggal di lembah Mekah, dan ketika Ismael dewasa, Ibrahim membangun Ka'bah di sana. Kemudian, Ibrahim meninggal pada tahun 1773 SM.
بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ
Lafazh kalimaat (كَلِمَات) itu bentuk jama’ dan terjemahan harfiyahnya adalah : “beberapa kata”. Kata sendiri adalah unit terkecil dalam bahasa yang memiliki arti dan dapat digunakan secara individual atau sebagai bagian dari kalimat. Rangkaian kata-kata yang disusun kemudian akan membentuk kalimat. Jadi kata itu adalah bagian dari kalimat.
Memang terjemahan “kata” dan “kalimat” dalam bahasa Arab agak sedikit rancu. Bahasa Arabnya “kata” adalah kalimah (كَلِمَة), sedangkan bahasa Arabnya “kalimat” adalah jumlah (جُمْلَة). Kalau kurang terbiasa akan tertukar-tukar.
Namun dalam konteks ayat ini, yang dimaksud dengan istilah kalimaat bukan berupa kata-kata, melainkan maksudnya adalah perintah-perintah untuk mengerjakan beberapa ritual ibadah. Allah SWT menguji Nabi Ibrahim dengan cara memerintahkannya untuk mengerjakan beberapa jenis ritual ibadah tertentu.
Hanya saja Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun menceritakan bahwa para ulama tafsir klasik saling berbeda pandangan tentang apa saja yang diujikan itu menjadi delapan macam pendapat yang berbeda, rinciannya sebagai berikut :
1. Pendapat Pertama : Tiga Puluh Perintah Syariat Islam
Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ujian yang dimaksud adalah 30 saham dalam syariat Islam, yaitu 10 saham di surat At-Taubah :
Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku´, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (QS. At-Taubah : 112)
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu´, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Ahzab : 35)
Ditambah lagi 10 saham lagi terdapat di surat Al-Mu’minun :
قَدْ أفْلَحَ المُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هم في صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ والَّذِينَ هم عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ والَّذِينَ هم لِلزَّكاةِ فاعِلُونَ والَّذِينَ هم لِفُرُوجِهِمْ حافِظُونَ إلا عَلى أزْواجِهِمْ أوْ ما مَلَكَتْ أيْمانُهم فَإنَّهم غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغى وراءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ العادُونَ والَّذِينَ هم لأماناتِهِمْ وعَهْدِهِمْ راعُونَ والَّذِينَ هم عَلى صَلَواتِهِمْ يُحافِظُونَ أُولَئِكَ هُمُ الوارِثُونَ الَّذِينَ يَرِثُونَ الفِرْدَوْسَ هم فِيها خالِدُونَ
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mu’minun : 1-11)
2. Pendapat Kedua : Amalan Sunnah Fitrah
Pendapat kedua adalah pendapat dari Qatadah, dimana Beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan amalan itu adalah 10 amalan fitrah dalam Islam, yang terdiri dari 5 hal di kepala dan 5 hal di tubuh.
Adapun yang 5 di kepala itu adalah : mencukur kumis, berkumur, istinsyaq yaitu menyedot air ke dalam hidung, bersiwak dan memisahkan rambut di tengah kepala. Yang kelima ini mungkin agak aneh buat kita, kenapa membelah rambut di tengah dianggap sebagai bagian dari ritual agama. Namun harus kita akui ini adalah syariat yang turun kepada Nabi Ibrahim bukan kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak semua yang Allah syariatkan kepada mereka harus menjadi bagian dari syariat kita.
Sedangkan yang 5 lagi yang terdapat pada tubuh adalah : memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, khitan, mencabut bulu ketiak, mencuci bekas kencing dan buang air besar (istinja’).
3. Pendapat Ketiga
Pendapat ketiga dari Al-Hasan yang mengatakan bahwa ujian itu berupa 10 macam, yang terdiri dari 6 hal terkait tubuh manusia dan 4 hal terkait ibadah ritual.
Yang 6 hal terkait tubuh manusia adalah mencukur bulu kemaluan, berkhitan, mencabut buku ketiak, memotong kuku, memotong kumis, dan mandi di hari Jumat. Sedangkan yang terkait dengan syiar pada ibadah ritual adalah thawaf, sa’i antara Shafa dan Marwah, dan ifadhah.
4. Pendapat Keempat : Terkait Kepemimpinan Mekkah
Pendapat keempat adalah pendapat dari Mujahid, bahwa ujian kepada Nabi Ibrahim itu berupa dialognya dengan Allah SWT :
Allah SWT berkata kepada Ibrahim,”Aku mengujimu wahai Ibrahim”. Ibrahim bertanya,”Apakah Engkau menjadikan Aku sebagai imam bagi manusia?”. Allah SWT menjawab,”Ya”.
Ibrahim bertanya,”(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.” Allah SWT menjawab,“(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
Ibrahim bertanya,”Apakah Engkau menjadikan rumah itu (Ka‘bah) tempat berkumpul bagi manusia. ?”. Allah SWT menjawab,”Ya”.
Ibrahim bertanya,”Dan menjadi tempat yang aman bagi manusia. ?”. Allah SWT menjawab,”Ya”.
Ibrahim bertanya,”Apakah Engkau menjadikan kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau?” Allah SWT menjawab,”Ya”.
Ibrahim bertanya,”Apakah Engkau akan menunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji?” Allah SWT menjawab,”Ya”.
Ibrahim bertanya,”Apakah Engkau akan menjadikan negeri ini aman?”. Allah SWT menjawab,”Ya”.
Ibrahim bertanya,”Apakah Engkau akan memberikan rizki kepada penduduk dari hasil pertanian yaitu mereka yang beriman?”. Allah SWT menjawab,”Ya”.
5. Pendapat Kelima
Pendapat kelima datang dari Qatadah, dimana Beliau mengatakan ujian itu terkait dengan ritual manasik haji.
6. Pendapat Keenam
Pendapat keenam datang dari Al-Hasan. Beliau mengatakan ujian itu seputar 6 perkara yaitu : planet-planet, bulan, matahari, api, hijrah, dan khitan. Planet, bulan dan matahari adalah proses ketika Nabi Ibrahim sedang mencari tuhan. Sedangkan api itu maksudnya Nabi Ibrahim sempat mau dibakar oleh Namrudz. Ada pun hijrah, terkait perjalanan Nabi Ibrahim menuju gurun pasir tandus sehingga akhirnya menjadi Kota Mekkah.
Sedangkan yang terakhir yaitu urusan khitan adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar berkhitan, sebagaimana hadits berikut :
Nabi Ibrahim berkhitan ketika berusia 80 tahun dan berkhitan dengan menggunakan kapak (HR. Al-Baihaqi)[1]
7. Pendapat Ketujuh
Pendapat ketujuh adalah apa yang diriwayatkan oleh Sahl bin Muadz bin Anas terkait firman Allah SWT bahwa Nabi Ibrahim itu adalah seorang yang selalu menyempurnakan janjinya.
وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ
Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji (QS. An-Najm : 37)
Maukah kamu aku beritahu kenapa Allah SWT menamakan Ibrahim sebagai khaliluhu yang menempurnakan janjinya? Karena beliau membaca setiap hari setiap pagi dan sore,”Maha suci Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nya-lah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur. (HR. Ahmad)[2]
8. Pendapat Kedelapan
Pendapat kedelapan sangat mirip dengan pendapat ketujuh yaitu terkait dengan sifat Nabi Ibrahim yang disebut menyempurnakan janjinya. Hanya saja penjelasannya berbeda karena haditsnya berbeda perawi. Kali ini lewat jalur Al-Qasim bin Muhammad dari Abu Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda :
أتَدْرُونَ ما وفّى؟ قالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أعْلَمُ، قالَ: وفّى عَمَلَ يَوْمٍ بِأرْبَعِ رَكَعاتٍ في النَّهارِ
Tahukah kamu apakah yang dimaksud dengan menyempurnakan janjinya? Para shahabat menjawab,”Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui”. Nabi SAW bersabda,”Setiap hari mengerjakan shalat empat rakaat pada siang hari”.
[2] Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jilid 24 hal. 388
فَأَتَمَّهُنَّ
Lafazh fa-atamma-hunna terdiri dari huruf fa (ف) yang berarti “maka”, dan memberi kesan kuat bahwa semua direspon yang cepat serta sigap, tidak santai dan bermalasan serta buang waktu.
Lalu lafazh atamma (أَتَمَّ) adalah fi’il madhi yang tasrifnya (أَتَمَّ - يُتِمُّ) dimana secara bahasa berarti : ”menyempurnakan”. Lalu yang menjadi objeknya adalah dhamir hunna (هُنَّ). Menarik untuk dipertanyakan, bukankah biasanya kata ganti (هُنَّ) ini untuk menunjukkan manusia yang hidup. Lantas kenapa digunakan untuk menunjukkan yang bukan orang? Tentu jawaban pastinya hanya Allah SWT yang tahu, namun boleh jadi tujuannya untuk menujukkan penghargaan dan kemuliaan atas apa yang diujikan dan disyariatkan kepada Ibrahim.
Dikatakan bahwa Nabi Ibrahim dinyatakan telah menyempurnakan ujian itu maksudnya bahwa beliau berhasil lulus dari ujian itu dengan sebaik-baiknya. Atau menjalankan berbagai perintah yang Allah SWT syariatkan dengan baik dan benar sebagaimana yang diperintahkan.
قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
Lafazh ja-ilu (جاعل) bermakna : “menciptakan”, namun juga bermakna “menjadikan”, sebagaimana Allah SWT menjadikan Nabi Adam alaihissalam sebagai khalifah di muka bumi. Maka dalam hal ini Allah SWT menjadikan Nabi Ibrahim alaihissalam sebagai imam bagi umat manusia.
Lafazh lin-nasi (لِلنَّاسِ) secara terjemahan harfiyah bermakna : “untuk manusia”. Ketika disebut manusia, yang terbersit di kepala adalah keuniversalan yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat, sehingga ruang lingkupnya mencakup semua kelompok manusia yang terdiri dari banyak bangsa, ras, kebudayaan maupun peradaban.
Lafazh imamaa (إِمَامًا) secara harfiyah bermakna imamو pemimpin atau orang yang diikuti (مَتْبُوع), sebagaimana imam dalam shalat yang posisinya untuk diikuti. Nabi SAW bersabda :
إنَّما جُعِلَ الإمامُ إمامًا لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإذا رَكَعَ فارْكَعُوا وإذا سَجَدَ فاسْجُدُوا ولا تَخْتَلِفُوا عَلى إمامِكم
Sesungguhnya imam itu dijadikan sebagai orang yang diiktui. Apabila imam rukuk, maka rukuklah kalian. Apabila imam sujud maka sujudlah kalian. Dan janganlah kalian menyelisihi imam kalian.
Para ulama tidak memahami ayat ini bahwa Nabi Ibrahim alaihissalam hanya sekedar menjadi imam shalat semata, namun banyak dari mereka yang menafsirkan bahwa menjadi imam itu menjadi seorang nabi atau rasul yang mendapatkan wahyu samawi.
Ada yang menarik untuk dicatat terkait keimaman Nabi Ibrahim kepada manusia, yaitu pemahaman bahwa ruang lingkup dakwah Nabi Ibrahim itu tidak dibatasi untuk kaum atau bangsa tertentu, tetapi berlaku bagi banyak umat manusia. Dalam titik inilah kita menemukan sedikit perbedaan antara ruang lingkup kenabian Ibrahim dengan kenabian nabi-nabi yang lain pada umumnya.
Dan kalau kita lihat kisah perjalanan hidup seorang Ibrahim, beliau memang pernah hidup di berbagai belahan dunia.
§ Iraq : Awalnya Beliau disebutkan hidup lahir di Babilonia Mesopotamia. Di masa sekarang wilayah ini disebut Iraq.
§ Palestina : Beliau juga pernah tinggal di Baitul Maqdis di Palestina lalu menikah dengan Sarah.
§ Mesir : Beliau juga pernah tinggal di Mesir.
§ Arab : Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk membawa Hajar dan puteranya Ismail ke jazirah Arabia.
Maka tidak salah kalau ada kalangan yang menyakini bahwa ruang lingkup dakwah Nabi Ibrahim berlaku untuk seluruh umat manusia, tidak hanya kepada kaum tertentu saja.
Kalau memang benar demikian maka yang punya kesamaan ruang lingkup dengan beliau adalah Nabi Muhammad SAW yang sama-sama diutus untuk seluruh umat manusia.
قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
Lafazh qaala (قَالَ) berarti : “dia berkata”, maksudnya Nabi Ibrahim alaihissalam berkata atau lebih tepatnya berdoa dan meminta kepada Allah SWT.
Lafazh wa-min (وَمِنْ) berarti : “dan dari sebagian”. Penggunaan wa min dalam teks doa dan permintaan Ibrahim kepada Allah SWT ini sebenarnya unik, karena Beliau tidak meminta seluruh keturunannya jadi nabi, tetapi hanya meminta agar ada sebagian dari keturunannya bisa juga ada yang menjadi nabi. Karena itu teksnya menggunakan wa-min dzurriyati (وَمِنْ ذُرِّيَّتِي) dan bukan wa dzurriyati (وَذُرِّيَّتِي).
Lafazh dzurriyyah (ذُرِّيَّة) sering diartikan menjadi : keturunan. Kemungkinan berasal dari dzar (ذَرّ) yang maknanya semut yang masih kecil. Namun yang dimaksud adalah keturunan seseorang, baik lewat jalur anak laki-laki atau pun lewat jalur anak perempuan.
Yang menarik perhatian juga adalah kenapa tiba-tiba Nabi Ibrahim berdoa dan meminta agar anak keturunannya juga dijadikan seperti dirinya. Ada beberapa hal yang perlu dicatat. Boleh jadi memang demikian lah naluri seorang ayah. Dia ingin agar nasib anak-anaknya nanti setidaknya bisa sukses seperti dirinya juga. Jangan sampai nasib mereka lebih buruk dari nasibnya.
Dan bisa juga merupakan harapan Ibrahim agar keturunannya jadi orang mulia, yaitu menjadi nabi dan utusan Allah SWT itu sebuah posisi yang amat mulia, maka Dia ingin agar anak keturunannya pun bisa tetap terus mendapatkan kemuliaan.
Memang menjadi manusia yang beriman dan mendapat hidayah itu sebenarnya merupakan pemberian dan anugerah. Hidayah tidak dapat dipaksakan dan tidak bisa direkayasa, namun bisa dimintakan kepada Allah SWT. Maka permohonan Nabi Ibrahim ini sebenarnya permintaan agar anak keturunannya bisa tetap beriman dalam naungan hidayah Allah.
Ketika Allah SWT menunjuk Nabi Ibrahim sebagai imam atau nabi bagi umat manusia, maka beliau pun berdoa dan berharap agar kenabian itu juga bisa diberikan kepada anak keturunannya. Maka banyak mufassir yang mengatakan bahwa kalimat ini mahdzuf-nya, kalau lengkapnya a lengkapnya berbunyi :
Jadikanlah dari keturunanku orang-orang yang menjadi imam dan dijadikan panutan.
قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
Atas doa dan permintaan Nabi Ibrahim itu maka Allah SWT pada dasarnya mengabulkannya, namun dengan tambahan catatan khusus.
Bagian doa yang dikabulkan adalah ternyata banyak di antara keturunan Nabi Ibrahim menjadi nabi dan rasul, seperti Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabi Ya’qub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Yahya, Nabi Zakaria, Nabi Isa dan juga Nabi Muhammad SAW.
Namun ketika Allah SWT mengatakan ada juga yang menjadi orang-orang yang zhalim, maka kita bisa sebutkan yaitu sebagian pengikut Nabi Musa dan Isa banyak yang berlaku zhalim, seperti mendustakan para nabi, membuang kitab suci, bahkan sampai menjual ayat-ayat Allah SWT dengan harga yang sedikit. Semua sudah diceritakan cukup rinci di dalam ayat-ayat surat Al-Baqarah ini.
Dan tidak bisa juga dipungkiri bahwa keturunan Nabi Ibrahim yang masih tetap hidup sampai bertemu masa kenabian Muhammad SAW, rupanya banyak juga dari mereka yang berlaku zhalim, alias tidak mau beriman kepada kenabian yang terakhir.
Dan karena kelakuan mereka inilah maka ratusan ayat Al-Quran diturunkan, demi menjelaskan status mereka dalam mendustakan risalah kenabian Muhammad SAW.