Kemenag RI 2019:(Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Prof. Quraish Shihab:Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah’’ bersama Ismail, (seraya berdoa); “Tuhan Pemelihara kami, terimalah dari kami (amal kami), sesungguhnya Engkau, (dan hanya) Engkau Yang Mafia Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Prof. HAMKA:Dan (ingatlah)tatkala mengangkat Ibrahim sendi-sendi dan rumah ltu dan lsmail, "Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami, sesungguhnya Engkau adalah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
Keterkaitan antara ayat ke-127 ini dengan ayat sebelumnya yaitu ayat ke-126 sangat erat, yaitu sama-sama berkisah tentang Nabi Ibrahim alaihissalam.
Bedanya kalau pada ayat sebelumnya yaitu ayat ke-126 Allah mengingatkan tentang Nabi Ibrahim yang berdoa memohon kepada Allah SWT agar Mekkah dijadikan negeri yang aman serta penduduknya diberi rizki, maka di ayat ini Allah SWT mengingatkan kisah bagaimana Nabi Ibrahim bersama puteranya Nabi Ismail alaihimassalam membangun kembali Ka’bah.
وَإِذْ
Seperti pada ayat-ayat sebelumnya, ayat ke-127 ini lagi-lagi diawali dengan wawul-‘athaf (وَ). Kita sudah tahu bahwa huruf waw ini berfungsi sebagai penyambung antara ayat sebelum dengan ayat sesudahnya. Lafazh idz (إذ) sebenarnya berarti ketika, namun para ulama mengatakan ada lafazh yang dihilangkan yaitu (اُذْكُرُا). Asalnya (وَاذْكُرُوا إِذْ) maknanya : “ingatlah ketika”.
Oleh karena itu jangan heran kalau di dalam berbagai terjemahan dituliskan kata “ingatlah” yang diapit dua tanda kurung. Itu maksudnya menunjukkan bahwa kata itu tidak tertuang dalam teks Arabnya, namun maknanya tetap ada yaitu perintah untuk mengingat.
يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ
Lafazh yarfa’u (يَرْفَعُ) adalah fi’il mudhari, fi’il madhi-nya (رَفَعَ), di dalam Al-Quran muncul beberapa kali dan punya beberapa makna yang berbeda tergantung konteksnya. Beberapa di antaranya sebagai berikut :
§ Meninggikan derajat, seperti yang terdapat pada ayat 235 surat Al-Baqarah : (وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ)
§ Mengangkat dari bawah ke atas, seperti pada ayat 63 surat Al-Baqarah : (وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ)
§ Menegakkan bangunan, seperti yang terdapat pada ayat ke-2 surat Ar-Ra’d : (اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا).
§ Meninggikan suara, seperti yang terdapat pada ayat ke-36 surat An-Nur : (فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ) dan juga ayat ke-2 dari surat Al-Hujurat : (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ)
§ Memuliakan dengan cara menaikkan status sosial, seperti yang terdapat pada ayat ke-4 dari surat Al-Insyirah : (وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ)
Dalam konteks ayat ini yang dimaksud dengan yarfa’u bukan sekedar mendirikan bangunan Ka’bah, tetapi juga meninggikan bangunannya sehingga bisa nampak dari kejauhan. Demikian seperti yang diungkap oleh Prof. Quraish Shihab dalam Al-Mishbahnya.
Sedangkan lafazh ibrahim (إِبْرَاهِيمُ) sudah dijelaskan pada ayat sebelumnya, yaitu Nabi Ibrahim alaihissalam, yaitu ketika Beliau kembali lagi untuk kedua kalinya ke Mekkah setelah sebelumnya pernah datang untuk mengantar anak dan istrinya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ
Lafazh al-qawaid (الْقَوَاعِدَ) itu bentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya qa’idah (قَاعِدَة) dan maknanya pondasi. Sedangkan al-baiti (الْبَيْتِ) secara makna harfiyah berarti rumah, namun maksudnya tidak lain adalah rumah Allah alias Ka’bah.
Dalam hal ini para ulama mengatakan bahwa yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Ismail adalah bangunan yang baru, namun lokasi dan posisi bangunan itu mengikuti di atas pondasi dari bangunan Ka’bah yang sudah pernah ada sebelumnya, namun wujudnya saat itu sudah tidak ada.
Memang bila kita maknai secara harfiyah, yang ditinggikan oleh Nabi Ibrahim adalah pondasi-pondasi, seolah-olah mereka berdua yang membangun Ka’bah sejak awal.
Namun kebanyakan ulama mengatakan bahwa pondasi Ka’bah itu sudah ada, bahkan jauh sebelumnya itu memang bangunan Ka’bah. Namun bangunannya hilang di masa banjir Nabi Nuh dan karena itu Ibrahim diminta untuk membangun kembali di atas pondasi yang masih ada.
Lantas siapa yang membangun Ka’bah sebelumnya? Ada dua riwayat yaitu :
1. Dibangun Oleh Malaikat
Pendapat yang paling populer bahwa pondasi itu sudah ada sejak sebelum turunnya Nabi Adam alaihissalam, yaitu dibangun oleh para malaikat. Al-Qurthubi menuliskan sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad bahwa ketika Allah SWT berkehendak menjadikan Nabi Adam sebagai khalifah di bumi, saat itu ada sebagian malaikat yang mempertanyakan kehendak Allah itu. Mereka pun mendapat murka dari Allah SWT sehingga diperintahkan untuk menebus kesalahan dengan cara membangun Ka’bah di bumi serta diperintahkan untuk bertawaf di sekelilingnya hingga Allah SWT berikan ampunan.
Ada beberapa riwayat lain yang mirip, meski tidak menjelaskan latar belakangnya. Namun intinya sama, yaitu Allah SWT telah memerintahkan para malaikat untuk membangun Ka’bah di bumi sebagai kiblat manusia, sebagaimana Baitul Ma’mur di langit sebagai kiblat penghuni langit.
Baitul Mak’mur sendiri disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir terletak di langit keempat, sebagaimana sabda Nabi SAW :
Aku dibawa ke langit keempat, maka diperlihatkan bangunan Baitul Ma’mur yang serupa Ka’bah, setiap hari dimasuki oleh 70 ribu malaikat, bila telah keluar mereka tidak kembali lagi.
Riwayat yang lain menyebutkan posisinya ada di langit ketujuh, seperti riwayat berikut ini :
Aku dibawa ke langit ketujuh . . . Aku mendapati Nabi Ibrahim alaihissalam sedang bersandar di Baitil Ma’mur.
2. Dibangun Oleh Nabi Adam
Pendapat yang kedua menyebutkan bahwa yang membangun Ka’bah pertama kali adalah Nabi Adam alaihissalam. At-Thabari menuliskan riwayatnya sebagai berikut :
Nabi Adam berkata,”Ya Tuhan, Aku tidak bisa mendengar suara para malaikat”. Allah SWT menjawab,”Itu kesalahanmu. Maka turunlah kamu ke bumi dan bangunkan untuk-ku sebuah rumah, lalu berputarlah mengelilinya sebagaimana kamu lihat para malaikat melakukannya di rumah-Ku di langit.”.
3. Dibangun Oleh Nabi Ibrahim
Pendapat ketiga mengatakan bahwa Ka’bah dan pondasinya dibangun sendiri oleh Nabi Ibrahim dengan dibantu oleh puternya Nabi Ismail alaihimassalam. Namun pendapat yang ketiga ini kurang banyak didukung oleh para ulama karena ada banyak dalil yang menyebutkan bahwa ketika Nabi Ibrahim tiba membawa istri dan anaknya di lembah gersang tandus tidak tumbuh tanaman, Beliau sudah menyebut kata Baitullah.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. (QS. Ibrahim : 37)
Selain itu juga ada firman Allah SWT yang menyebutkan bahwa Ka’bah itu merupakan rumah pertama yang dibangun di atas bumi.
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imran : 96)
Pada saat Nabi Ibrahim membangun Ka’bah tentu saja peradaban manusia sudah berkembang di berbagai penjuru dunia. Sudah ada peradaban Babilonia yang ahli di bidang bangunan, juga sudah ada negeri Mesir, Palestina, Yaman dan lainnya dengan peradaban yang maju dan punya banyak bangunan menjulang.
Maka akan jadi janggal kalau dikatakan bahwa Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim itu adalah bangunan pertama di bumi. Beliau hanya merekonstruksi ulang bangunan yang dahulu pernah ada sebelumnya.
وَإِسْمَاعِيلُ
Nama ismail (إِسْمَاعِيلُ) disepakati para ulama ahli bahasa sebagai nama bukan Arab. Konon itu adalah nama khas Ibrani yang berasal dari isma’ (اسمع) dan Allah (الله).
Beliau adalah putera pertama Nabi Ibrahim dari menikahi budak wanita Mesir bernama Hajar. Ibrahim meski sudah punya istri bernama Sarah, namun belum lagi dikaruniai anak. Justru punya anak dari Hajar yang sebenarnya budak milik Sarah. Sayangnya dalam akidah Yahudi dan Nasrani, Nabi Ismail tidak pernah dipandang sebagai nabi utusan Allah.
Dalam At-Tahriw wa At-Tanwir Ibnu Asyur menuliskan bahwa Nabi Ismail lahir di Palestina pada tahun 1910 sebelum masehi, lalu dibawa bersama ibunya ke tanah Arab atau Hijaz ketika masih menyusu, lalu kemudian tumbuh berkembang disana. Beliau diriwayatkan wafat pada tahun 1773 sebelum masehi dan dimakamkan di sekitaran Ka’bah.
Nabi Ismail disebut juga namanya sebagai orang yang juga ikut membangun kembali Ka’bah bersama sang Ayah. Meski ada yang sedikit janggal dalam penyebutan urutan namanya karena tidak disebutla sejajar dengan nama Ibrahim. Nama keduanya dipisah dengan dua kata yaitu : al-qawa’ida minal baiti, padahal keduanya membangunnya bersama-sama.
Menurut Ibnu Asyur, kemungkinan hikmahnya bahwa Allah SWT ingin menegaskan bahwa saat itu Nabi Ismail masih remaja, sehingga peranannya sekedar membantu ayahanda saja. Namun menurut hemat Penulis, justru menarik ketika Nabi Ismail yang masih remaja, tetapi namanya malah dicantumkan meski terpisah. Ada semacam pengakuan dari Allah SWT dan itu terekam abadi dalam Al-Quran bahwa Ismail meski masih remaja, tetapi namanya tercantum. Ini menunjukkan bahwa keberadaan, jati diri serta peranan Ismail sudah diakui juga, tidak dianggap nobody. Dan ini penting dalam proses regenerasi amal kebaikan, bahwa meski masih belia, namun eksistensinya diakui juga.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا
Lafazh taqabbal (تَقَبَّلْ) merupakan fi’il amr, yang bermakna : “terimalah”. Sedangkan lafazh minna (مِنَّا) bermakna : ”dari kami”. Rangkaian doa ini diucapkan baik oleh Nabi Ibrahim atau pun Nabi Ismail, yaitu : “Ya Tuhan Kami, terimalah amalan kami”. Yang dimaksud dengan amalan disini tidak lain adalah karya dalam mendirikan bangunan Ka’bah.
Menarik untuk jadi pertanyaan, yaitu kenapa keduanya meminta agar diterima amal mereka?
Secara teknis membangun Ka’bah ini bukan pekerjaan yang mudah, karena tidak ada alat-alat yang cukup. Selain itu juga tidak ada anggarannya, sehingga kita bisa membayangkan proyek bangunan yang tidak punya anggaran biasanya bisa ditebak hasilnya yaitu mangkrak.
Namun usaha keduanya dalam membangun Ka’bah tetap terus berjalan. Oleh karena itu Allah SWT menggunakan fi’il mudhari (يَرْفَعُ) yang menunjukkan perbuatan yang sifatnya terus menerus tidak berhenti. Pekerjaan menyusun batu demi batu hingga menjadi bangunan yang tinggi dan nampak dari kejauhan, tapi dikerjakan hanya berdua, merupakan jerih payah yang tidak sederhana.
Dan bukan hanya sampai disitu, begitu bangunan sudah berdiri, masih ada satu lagi tugas yang Allah SWT bebankan kepada Ibrahim, yaitu bagaimana caranya memanggil umat manusia dari berbagai penjuru dunia untuk datang meramaikan tempat itu dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Dan itu bukan pekerjaan yang sederhana.
Ada banyak kasus dimana bangunan yang sudah berdiri hanya jadi mubazzir karena ternyata tidak mengundang minat banyak orang. Akan tetapi Ka’bah karya cipta Nabi Ibrahim ini tidak pernah sepi dari pengunjung bahkan sejak pertama kali diresmikan.
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al-Hajj : 27)
إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Lafazh innaka anta (إِنَّكَ أَنْتَ) bermakna : “sesungguhnya Engkau dan hanya Engkau”. Ada pengkhususan dengan lafazh innaka (إِنَّكَ), kemudian dikuatkan lagi dengan mengulangi lewat lafazh anta (أَنْتَ). Dengan demikian lafazh ini menjadikan Allah SWT itu sangat istimewa karena tiada duanya.
Lafazh as-sami’ (السَّمِيعُ) artinya bukan hanya mendengar tetapi sangat bisa mendengar hal-hal yang tidak bisa didengar oleh makhluk biasa. Sebagaimana juga al-alim (الْعَلِيمُ) artinya sangat mengetahui melebihi semua yang tahu. Maka dalam terjemahannya menjadi : “Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
Doa yang dipanjatkan di tengah gurun pasir tak bertepi itu mungkin tidak ada orang yang mendengarnya. Namun demikian, Allah SWT sebagai Tuhan yang dimintai permohonan pastilah Maha Mendengar, sekaligus juga Maha Tahu. Oleh karena itulah Nabi Ibrahim menegaskan bahwa meski doa itu tidak ada yang dengar, tetapi pasti didengar oleh Allah SWT, karena Allah SWT Maha Mendengar meski doa itu hanya dilakukan dengan berbisik. Sedangkan yang terkait bahwa Allah SWT Maha Tahu, maksudnya tentu Allah SWT tahu apa tujuan dari pembangunan Ka’bah itu, serta tahu juga betapa susahnya proses yang harus dijalani.