Kemenag RI 2019:Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kepadamu), Kami pun mengutus kepadamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui. Prof. Quraish Shihab:Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepada kamu) Kami telah mengutus kepada kamu Rasul (Nabi Muhammad saw.) dari (kalangan) kamu. Dia membacakan (menyampaikan) ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan (jiwa) kamu dan dia mengajarkan kepada kamu al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Prof. HAMKA:Sebagaimana telah Kami utus kepada kamu seorang rasul dari kalangan kamu sendiri, yang mengajarkan kepada kamu ayat-ayat Kami dan membersihkan kamu dan akan mengajarkan kepada kamu Kitab dan Hikmah, dan akan mengajarkan kepada kamu yang kepada kamu perkaraperkara yang tidak kamu ketahui.
Ayat ke-151 ini disinyalir oleh sebagai ulama sebagai bentuk pengabulan doa Nabi Ibrahim alaihissalam, yaitu ketika Beliau bersama putranya Nabi Ismail membangun Ka'bah. Teks doanya tertuang dalam ayat ke-129 yang sudah kita lalui.
Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. (QS. Al-Baqarah : 129).
Lafazh doa ini intinya minta dibangkitkan nabi dari kalangan mereka dengan spesifikasi sebagai berikut :
2. Mengajarkan Al-Kitab dan Hikmah (وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ)
3. Mensucikan mereka (وَيُزَكِّيهِمْ)
Namun kalau kita telisik lebih dalam, ada sedikit perbedaan antara yang dimintakan dengan pengabulannya sebagaimana termuat di ayat ke-151 ini, yaitu :
1. Membacakan ayat-ayat Allah (يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا)
2. Mensucikan mereka (وَيُزَكِّيكُمْ)
3. Mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah (وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ)
4. Mengajarkan apa-apa yang belum diketahui (وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ)
Bila dilihat secara urut-urutannya memang ada sedikit perbedaan. Dalam teks doa itu terkait urusan mensucikan itu berada pada urutan nomor tiga, sedangkan dalam pengabulannya, urusan mensucikan itu nomor dua. Dan ada satu hal yang sebenarnya tidak termasuk yang dimohonkan yaitu mengajarkan apa yang mereka belum ketahui. Namun dalam kenyataannya justru Allah SWT berikan.
كَمَا
Ayat ke-151 ini dibuka dengan lafazh kamaa (كَمَا), yang artinya : sebagaimana. Bisa saja menjadi kalimat pembuka namun bisa juga ada kalimat sebelumnya yang dihubungkan.
Sebagian ulama mengatakan bahwa lafazh kamaa ini terkait dengan kalimat yang sebelumnya. Salah satunya apa yang disampaikan oleh Al-Qurthubi dengan mengutip Al-Farra’. Beliau mengatakan ada kalimat yang mahdzuf dengan taqdir : [1]
وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ إِتْمَامًا مثل ما أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ
“Agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu, seperti kami utus di tengah kalian seorang rasul”.
“Agar kamu mendapatkan petunjuk, seperti kami utus di tengah kalian seorang rasul”.
Namun ada juga sebagian kalangan ulama yang mengatakan bahwa lafazh kamaa itu tidak terkait dengan kalimat pada ayat sebelumnya, justru terkait dengan kalimat pada ayat sesudahnya, yaitu ayat ke152. Sehingga kalau dirangkai menjadi demikian :
Lafazh arsalna (أَرْسَلْنَا) adalah fi’il madhi dari (أَرْسَلَ - يُرْسِلُ) yang artinya : “mengutus”. Tambahan huruf nun dan alif di belakang menunjukkan dhamirnya adalah nahu atau kami. Yang dimaksud dengan Kami adalah Allah SWT.
Lafazh fii-kum (فِيكُمْ) artinya : “di dalam kalian”, atau maksudnya di tengah-tengah kalian. Dan yang dimaksud dengan kalian adalah bangsa Arab, khususnya keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ismail ‘alaihissalam.
Lafazh rasulan (رَسُولًا) artinya seorang utusan, dalam hal ini seorang yang diangkat menjadi rasul atau nabi yang mendapatkan wahyu dan risalah kenabian samawi.
Lafazh minkum (مِنْكُمْ) artinya : “dari kalian”. Maksudnya nabi utusan Allah SWT itu adalah orang-orang yang lahir dari keturunan kalian.
يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا
Lafazh yatlu (يَتْلُو) adalah dari fi’il mudhari’ berasal dari (تَلَا - يَتْلُو - تِلاَوَة) secara bahasa bermakna membacakan kepada mereka. Dalam hal ini karena ada kata ‘alaihim yang artinya membacakan kepada mereka, yaitu keturunan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Lafazh ayaatika (آيَاتِكَ) maknanya adalah ayat-ayatnya, yaitu teks ayat-ayat Al-Quran Al-Karim. Sebenarnya kata ayat bisa punya banyak makna, di antaranya bermakna tanda-tanda, sebagaimana termuat di dalam ayat berikut :
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. (QS. Ar-Rum : 21)
وَيُزَكِّيكُمْ
Lafazh yuzakki (يُزَكِّي) bermakna : membersihkan atau mensucikan. Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud dengan bersih atau suci adalah hilangnya noda-noda syirik menyekutukan Allah SWT.
Sedangkan Prof. Quraish Shihab menuliskan dalam Al-Mishbah bahwa yang dimaksud dengan mensucikan adalah menghilangkan penyakit jiwa yang kotor seperti kemunafikan. Menurutnya ayat di atas merinci urut-urutan proses, mulai dari diutusnya rasul yang mengajarkan kitab suci, mengajarkan pesan-pesan dan maknanya, dan berakhir dengan pengamalan sesuai tuntunan Allah SWT.
Sedangkan Buya HAMKA mengatakan bahwa maksudnya bersih dari kepercayaan yang karut-marut, syirik dan menyembah berhala, dan bersih pula kehidupan sehar-hari daripada rasa benci, dengki, khizit dan khianat. Yuzakkihim, untuk membersihkan mereka pada ruhani dan jasmani, sehingga dapat memperbedakan mana kepercayaan yang kotor dengan yang bersih. Kebersihan itulah yang akan membuka akal dan budi sehingga selamat dalam kehidupan.
وَالْحِكْمَةَ
Lafazh al-hikmah (الْحِكْمَةَ) ditafsirkan menjadi beberapa penafsiran, rinciannya sebagai berikut :
Ibnu Zaid mengatakan bahwa al-hikmah adalah bagian dari masalah agama yang tidak bisa kita ketahui kecuali lewat jalur dari Nabi Muhammad SAW, dimana harus beliau ajarkan langsung :
الدين الذي لا يعرفونه إلا به ﷺ يعلمهم إياها
Abu Ja’far mengatakan bahwa al-hikmah adalah :
العلم بأحكام الله التي لا يدرك علمها إلا ببيان الرسول ﷺ، والمعرفة بها، وما دل عليه ذلك من نظائره
Ilmu terkait hukum-hukum Allah yang tidak bisa didapat ilmu itu kecuali lewat penjelasan dari rasulullah SAW, dengan mengenalinya serta lewat petunjuknya.
Dan banyak juga para ulama di antaranya Al-Hasan, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, Abu Malik, dan lainnya yang mengatakan bahwa al-hikmah itu maksudnya adalah sunnah nabi Muhammad SAW, sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Quran.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa al-hikmah itu adalah al-fahmu fid-din (الفهم في الدين) alias kepahaman yang mendalam dalam urusan agama. Yang lain lagi ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah al-fiqhu fi at-ta’wil (الفقه في التأويل) : memahami ta’wil ayat-ayat Al-Quran.
Apabila ditafsirkan sebagai sunnah, maka yang dimaksud tidak lain adalah sumber hukum syariah yang kedua setelah Al-Quran, terkadang disebut juga dengan hadits. Oleh para ulama, sunnah didefinisikan sebagai berikut :
ما ورد عنِ النّبِيِّ مِن قولٍ أو فِعلٍ أو تقرِيرٍ
Segala hal yang bersumber kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan, tindakan atau taqrir (sikap diam atas suatu masalah).
Sebenarnya sumber sunnah ataua apa yang keluar dari mulut Nabi SAW tidak lain bersumber dari Allah SWT juga, sebagaimana firman-Nya :
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm : 1-5)
Secara teknis, jumlah hadits nabawi jauh lebih banyak dari pada jumlah ayat Al-Quran. Kalau diukur secara ketebalan, mushaf Al-Quran hanya terdiri 604 halaman saja. Itu mengacu pada mushaf modern di masa kini yang paling populer adalah mushaf terbitan Majma’ Malik Fahd di Madinah yang menggunakan kaligrafi buah karya Dr. Utsman Thaha. Sedangkan jumlah hadits itu bukan hanya ratusan ribu tapi angkanya bisa sampai jutaan butir.
وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
Hal apakah yang sekiranya dimaksud dengan mengajarkan apa-apa yang kalian bangsa Arab belum mengetahuinya?
Bangsa Arab selama 26 abad lamanya tidak mengenal kenabian samawi. Mereka hanya mengenal tokoh legendaris Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, namun bahwa keduanya merupakan nabi utusan Allah SWT yang menerima wahyu dari langit, mereka sama sekali tidak paham.
Bahkan hal yang lebih sederhana lagi misalnya terkait dengan Allah SWT. Mereka mengenal tuhan yang menciptakan alam semesta dan diri mereka adalah Allah SWT. Bahkan Ka’bah itupun mereka sebut dengan rumah milik Allah alias Baitullah. Namun mereka tidak mengerti adanya konsep bahwa Allah SWT itu bisa berkata-kata lewat wahyu yang turun melalui manusia yang diangkat menjadi nabi.