Kemenag RI 2019:Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Prof. Quraish Shihab:Apabila para hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad saw.) tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku (sangat) dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maki hendaklah mereka memenuhi (segula perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu berada dalam kebenaran. Prof. HAMKA:Dan apabila hamba-hamba-Ku itu bertanya kepada engkau dari hal Aku maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku perkenankan permohonan orang yang memohon apabila dia memohon kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka sambut seruan-ku dan hendaklah mereka percaya kepada-Ku supaya mereka beroleh kecerdikan.
Ayat ke-186 ini sekilas nampak agak spin-out atau keluar dari tema puasa Ramadhan, karena membicarakan doa. Namun ini hanya pandangan sekilas saja, Fakhruddin Ar-Razi menuliskan ada tiga hubungan yang sangat erat antara ayat ke-186 ini dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
Pertama, ayat ini memerintahkan berdoa yang sebenarnya masih sangat erat kaitannya dengan bertakbir (وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ) dan bersyukur (وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ) sebagaimana terdapat dua perintah itu pada ayat sebelumnya.
Kedua, di antara adab berdoa dan meminta kepada Allah SWT adalah mengawalinya memuji Allah SWT. Dan takbir serta syukur itu bagian dari pujian kepada Allah SWT. Hal itu didasarkan pada adab berdoa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam dalam rangkaian berikut :
(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat". (Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. (QS. Asy-Syu’ara’ : 78-83)
Ketiga, perintah berdoa di ayat ini ada penyebab yang langsung terkait dengan puasa, yaitu taubatnya Umar bin Al-Khattab yang sempat melanggar larangan berjima’ di malam hari bulan Ramadhan. Hal itu terjadi karena pada awalnya puasa itu bukan dimulai sejak shubuh tetapi sejak selesai berbuka di waktu Maghrib.
Di luar dari apa yang dijelaskan oleh Fakhruddin Ar-Razi di atas, dapat juga kita tambahkan bahwa perintah untuk berdoa ini kalau dikaitkan dengan malam-malam bulan Ramadhan memang waktunya berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, baik dengan shalat tarawih, tahajjud, witir, i’tikaf dan lainnya.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي
Fakhruddin Ar-Razi mencantum delapan riwayat yang berbeda terkait asbabun-nuzul ayat ini :
1. Pertama, diriwayatkan bahwa Nabi Musa alaihissalam bertanya kepada Allah SWT tentang apakah Allah SWT itu jauh atau dekat.
يا رَبِّ أقَرِيبٌ أنْتَ فَأُناجِيكَ، أمْ بَعِيدٌ فَأُنادِيكَ؟ فَقالَ: يا مُوسى أنا جَلِيسُ مَن ذَكَرَنِي
Wahai Tuhanku, apakah Engkau dekat sehingga Aku cukup berbisik ataukah jauh sehingga Aku harus berseru memanggil-Mu? Allah SWT menjawab,”Wahai Musa, Aku bersama orang yang berdzikir kepada-Ku.
2. Kedua, ada seorang Arab dusun datang kepada Nabi SAW dan bertanya,” Tuhan kita itu dekat sehingga cukup disapa atau jauh sehingga kita harus mengeraskan suara?. Maka turunlah ayat ini.
3. Ketiga, dalam suatu peperangan ada sebagian shahabat yang berdoa dengan mengeraskan suara dalam takbir, tahlil dan doa. Lalu Nabi SAW menegur mereka dengan mengatakan bahwa kalian itu bukan sedang berdoa kepada tuhan yang tuli dan ghaib, tetapi Dia itu Maha Mendengar dan dekat.
4. Keempat, Qatadah meriwayatkan bahwa ada sebagian shahabat bertanya kepada Nabi SAW tentang bagaimana cara berdoa kepada Allah SWT. Maka turunlah ayat ini.
5. Kelima, Atha’ dan lainnya meriwayatkan bahwa para shahabat bertanya kapan waktunya memanggil Allah SWT dengan suara keras, lalu turunlah ayat ini.
6. Keenam, Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa orang Yahudi di Madinah bertanya,”Wahai Muhammad, bagaimana Tuhanmu mendengar doamu?”. Maka turunlah ayat ini.
7. Ketujuh, Al-Hasan berkata bahwa ada sebagian shahabat bertanya tentang dimanakan Tuhan kita, maka turunlah ayat ini.
8. Kedelapan, bahwa ketika awal mula diwajibkan puasa sebagaimana umat terdahulu berpuasa, rupanya setelah berbuka sudah harus langsung puasa lagi, dan sebagian shahabat ada yang makan dan minum. Mereka pun menyesal dan bertaubat sambil bertanya-tanya,”Apakah Allah SWT menerima taubat mereka”. Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban.
فَإِنِّي قَرِيبٌ
Allah SWT berfirman fainni qarib (فَإِنِّي قَرِيبٌ), secara harfiyah memang maknanya : “bahwa Aku ini dekat”. Namun yang dimaksud dengan dekat tentu saja bukan diukur dengan jarak. Karena Allah SWT sendiri tidak menempati ruang, karena Dia adalah pencipta ruang. Sungguh keliru besar bila kita berimaginasi bahwa Allah SWT berada di suatu ruang tertentu dan menempati satu posisi tertentu pada satu koordinat di alam semesta ini.
Lantas kalau tidak menempati ruang, kenapa Allah SWT secara tegas menyebut diri-Nya : dekat? Bukankah dekat itu menunjukkan sebuah posisi? Jawabannya ada pada kalimat berikutnya.
أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Lafazh ujibu (أُجِيبُ) artinya : Aku menjawab”, maksudnya bukan menjawab pertanyaan tetapi menjawab permintaan, sehingga bisa diterjemahkan menjadi : “mengabulkan”. Lafazh da’wata (دَعْوَةَ) secara bahasa artinya : “panggilan”,
الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Lafazh ad-dda’i (الدَّاعِ) artinya : “orang yang memanggil”, maksudnya orang yang meminta. Lafazh idza da’ani (إِذَا دَعَانِ) artinya : “apabila dia meminta kepadaku”. Dari penggalan ini setidaknya ada dua perkara penting dalam konteks ini.
Pertama adanya permintaan. Permintaan itu adalah ucapan secara lisan, bukan sekedar keinginan atau kehendak di dalam hati. Maka Iblis ketika meminta dipanjangkan umurnya, dia bercakap-cakap secara langsung dengan Allah SWT dan bukan hanya sekedar memendam keinginan di dalam hati.
Kedua, permintaan itu dilakukan oleh orang yang statusnya resmi sebagai orang yang meminta. Artinya memintanya bukan hanya sekali tetapi berkali-kali sehingga disebut sebagai ad-da’i (الدّاعي). Bedakan antara penyanyi dengan orang yang bernyanyi. Penyanyi adalah orang yang menyanyi sudah jadi pekerjaannya, bukan sekedar sesekali menyanyi.
Kalau penggalan ini dikaitkan dengan Allah yang ‘dekat’, maka maksudnya bukan dekat secara posisi, melainkan sebuah metafora atau ungkapan yang mendalam tentang bagaimana Allah SWT mendengar semua permohonan hamba-Nya dan mengabulkannya.
Terkait dengan ungkapan bahwa Allah SWT mengabulkan semua permintaan siapa pun yang meminta kepada-Nya, memang unik juga. Sebab tidak harus orang itu punya prestasi dalam ibadah sekalipun, tetap bisa saja Allah SWT kabulkan permintaannya.
Bayangkan bagaimana durhakanya Iblis laknatullah ketika menolak diperintah untuk sujud kepada Adam. Seharusnya permintaan Iblis untuk bisa hidup lama hingga hari akhir tidak perlu dikabulkan. Ternyata meski Iblis durhaka kepada Allah, namun dia tetap saja meminta kepada Allah SWT dengan permintaan yang aneh, yaitu minta dipanjangkan umur. Dan permintaan itu dikabulkan Allah SWT.
Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh". (QS. Al-A’raf : 14-15)
Namun sekali lagi bahwa fenomena pengabulan doa ini memang unik. Tidak mentang-mentang ada hamba yang taat dan menjalani semua perintah Allah SWT, lantas semua doa yang dipanjatkan pasti langsung dikabulkan.
Boleh jadi dikabulkan tetapi tidak dalam waktu dekat, bisa saja ditunda selama sekian waktu, seperti yang dialami oleh Nabi Zakaria.
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya´qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai".
Setelah tua renta barulah Allah SWT mengabulkan doanya.
Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.
فَلْيَسْتَجِيبُوالِي
Lafazh fal-yastajibu-li (فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي) maknanya : “maka wajiblah mereka sambut seruan-ku”. Lantas apa yang dimaksud dengan “ menyambut seruan”? Para ulama mengatakan bahwa menyambut seruan Allah SWT itu maksudnya menuruti dan mentaati apa-apa yang Allah SWT perintahkan.
وَلْيُؤْمِنُوا بِي
Lafazh wal-yu’minu-bi (وَلْيُؤْمِنُوا بِي) artinya : “wajiblah mereka beriman kepada-Ku”. Iman adalah syarat diterimanya amal, tanpa iman maka amal itu menjadi sia-sia tidak ada nilainya di sisi Allah SWT. Namun iman bukan syarat diterimanya doa, sebab doa orang kafir pun bisa dikabulkan juga oleh Allah SWT. Doa Iblis laknatullah pun dikabulkan.
Lafazh la’allahum yarsyudun (لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ) artinya : agar mereka selalu berada dalam kebenaran.