Lafazh a-wa-laa (أَوَلاَ) artinya : tidak kah, sedangkan ya’lamuna (يَعْلَمُون) artinya mengetahui. Meskipun kalimat ini merupakan pertanyaan, tetapi tidak membutuhkan jawaban. Memang bukan pertanyaan yang harus dijawab karena merupakan bentuk keheranan. “Apakah mereka tidak tahu?” Maksudnya bahwa seharusnya mereka sudah tahu tetapi kenapa mereka masih saja melakukannya.
Sayang sekali meski mereka pastinya sudah tahu, namun ternyata sikap dan tindakan mereka malah seperti orang yang tidak tahu atau seolah-olah mereka tidak tahu.
Ibnu Muhaishin membacanya bukan ya’lamuna (يَعْلَمُون) yang berarti mereka mengetahui, tetapi dia membacanya ta’lamuna (تَعْلَمُون), sehingga yang jadi mukhatab atau pihak yang diajak bicara adalah kamu, yaitu para shahabat atau kaum muslimin. Dengan demikian maknanya berubah jadi : “Tidak kah kamu mengetahui.”
Dengan dibaca seperti ini, maka yang diajak bicara justru Nabi Muhammad SAW atau setidaknya para shahabat. Tujuannya bukan untuk ta’jub melainkan untuk menguatkan iman mereka. Bukankah kalian sudah tahu bahwa Allah SWT tahu apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan. Jadi kalian tenang saja, Allah SWT pastinya akan terus membantu kalian.
Lafazh anna (أَنَّ) artinya bahwa, sedangkan lafazh ya’lamu (يَعْلَمٌ) artinya mengetahui dan merupakan bentuk fi’il mudhari’ yang bersifat terus menerus, maksudnya bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu secara terus menerus.
Sehingga makna lafazh ini bahwa Allah SWT itu mengetahui, bahkan Allah SWT Maha Mengetahui. Sebagai Pencipta semua makhluknya, maka sudah pasti Allah SWT mengetahui seluruh detail seluk-beluk makhluk ciptaan-Nya sendiri.
Lafazh ma yusirrun (مَا يُسِرُّن) artinya apa-apa yang mereka rahasiakan. Sedangkan lafazh ma yu’linun (مَا يُعْلِنُوز) artinya apa-apa yang mereka umumkan dan tidak mereka rahasiakan. Namun apa yang termasuk mereka rahasiakan ataupun yang mereka tidak rahasiakan, para ulama punya pendapat yang berbeda-beda, rinciannya sebagai berikut :
Pertama, ada yang mengatakan bahwa yang mereka rahasiakan itu kekafiran mereka dan yang mereka nampakkan adalah keimanan. Maksudnya bahwa pada dasarnya mereka itu kafir, namun pada penampilannya mereka menampakkan diri seperti layaknya orang beriman.
Sehingga dengan demikian Allah SWT sudah tahu bahwa mereka itu bukan orang beriman, meskipun mereka menampakkan diri sebagai orang yang beriman. Ketidak-imanan mereka bukan hal yang bisa dirahasiakan di mata Allah SWT. Dan seharusnya mereka tahu dan paham hal-hal semacam itu.
Ada juga yang mengatakan bahwa yang mereka rahasiakan adalah permusuhan, sedangkan yang mereka tampakkan adalah persahabatan. Penafsiran ini ada benarnya, sebab mereka itu seperti musuh dalam selimut.
Secara lahiriyahnya menampakkan pertemanan dan persahabatan dengan kaum muslimin yaitu para shahabat ridhwanullahi alaihim, namun di balik semua itu mereka lah yang memanas-manasi pihak musyrikin Mekkah untuk memerangi kaum muslimin di Madinah.
Dan untuk yang satu ini memang Nabi SAW sempat dibuat repot oleh ulah orang-orang yang mengaku sebagai teman, ternyata malah jadi pengkhianat yang menghujamkan belati dari belakang kita.
Yang lain lagi mengatakan bahwa yang mereka rahasiakan adalah perkataan mereka kepada setan mereka bahwa kami bersama kalian, sedangkan yang mereka tampakkan adalah perkataan mereka kepada orang beriman bahwa kami ini termasuk orang beriman.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, semua pendapat di atas sebenarnya tidak saling bertentangan, justru malah saling menguatkan. Karena semua hal tersebut bisa terjadi secara bersamaan.
Intinya Allah SWT hendak menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW punya musuh yang unik dan lain dari musuh sebelumnya di Mekkah, yaitu musuh dalam selimut, yang kerjaannya setiap hari menggerogoti kedaulatan kaum muslimin, mereka banyak sekali bikin ulah serta rajin bikin gara-gara yang menyebabkan Nabi SAW dan kaum muslimin agak kewalahan menghadapinya.