Lafazh bima (بِمَا) artinya disebabkan oleh, sedangkan lafazh qaddamat (قَدَّمَتْ) makna asalnya memberikan atau mempersembahkan, dan lafazh aydiihim (أَيْدِيهِمْ) artinya tangan-tangan mereka. Namun ungkapan qaddamat aydihim sudah menjadi satu kesatuan makna yang artinya melakukan sesuatu, sebagaimana digunakan dalam ungkapan di ayat berikut :
يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ
Pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. (QS. An-Naba : 40)
Lalu apa yang dimaksud dengan yang mereka kerjakan? Ternyata maksudnya tidak lain adalah dosa-dosa besar, kesalahan, pembangkangan dan juga kejahatan yang bertumpuk-tumpuk. Semua itu mereka sadari sebagai kesalahan yang akan mendapatkan balasan siksa di neraka.
Dalam hati mereka tahu bahwa diri mereka itu punya banyak dosa dan kesalahan, sehingga hati kecil mereka pun mengatakan bahwa diri mereka tidak layak untuk bisa masuk surga, apabila mereka mati nanti.
Oleh karena itulah ketika diberikan tantangan agar mencita-citakan kematian, tak ada satupun yang berani menjawab tantangan itu. Sebab mereka tahu bahwa kalau mereka mati tidak yakin bisa masuk surga.
Lafazh ‘aliim (عَلِيمٌ) asalnya dari ilmu. Orang yang berilmu disebut ‘aalim (عَالِم). Namun kalau kita ingin menyebut orang yang sangat-sangat berilmu atau sangat banyak pengetahuannya, maka sebutannya adalah ‘aliim (عَلِيْم). Dan untuk Allah SWT, kita biasa menyebutnya dengan ungkapan : “Maha mengetahui.”
Sedangkan zhalimin (ظَالِمِينَ) maknanya : “Orang-orang yang melakukan kezhaliman” . Kata dasar dari zhalim ini adalah zhulmun (ظُلْمٌ) yang artinya kegelapan sebagaimana firman Allah SWT (اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ). Namun secara hakikinya, zhulm itu menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Allah SWT Maha mengetahui bahwa orang-orang yahudi itu banyak sekali melakukan berbagai jenis kezhaliman. Ayat-ayat Al-Quran yang turun kepada Nabi Muhammad SAW cukup banyak bercerita tentang berbagai bentuk kezaliman mereka. Ibaratnya kartu mati orang-orang Yahudi sudah ada di tangan Nabi Muhammad SAW.
Satu pelajaran penting dari perilaku Yahudi yang mengklaim sebagai satu-satunya penghuni surga dan menafikan siapapun, bahwa sikap-sikap semacam itu ternyata bisa muncul di tengah kelompok-kelompok umat Islam juga. Salah satunya mereka yang terkena paham takfiri, yaitu aliran aqidah menyimpang yang memvonis bahwa 1,9 milyar umat Islam ini kafir semuanya, kecuali hanya kelompok mereka saja.
Ide pemikiran kelompok takfiri sebenarnya nyaris identik dan amat sebangun dengan ide pemikiran kalangan yahudi, yaitu klaim hanya kelompok mereka saja yang masuk Islam. Bedanya hanya tehniknya saja, kalau Yahudi main tembak langsung dengan kata-kata lugas, bahwa hanya kami saja yang masuk surga.
Sedangkan kelompok-kelompok takfiri dalam barisan kaum muslimin sudah banyak belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya. Hari ini mereka sudah sampai level ekspert dalam mengolah kata dan lihai membuat redaksi-redaksi yang terasa logis dan masuk akal. Padahal sebenarnya inti pemikirannya tetap sama juga, yaitu mengkafirkan orang lain meskipun sesama muslim dan bahwa yang benar-benar Islam hanya diri mereka saja.
Bahkan yang lebih piawai lagi, diksi yang digunakan pun masuk ranah yang agak abu-abu, seperti istilah jahiliyah dan hijrah. Sehingga meski intinya tetap ingin mengkafirkan, tetapi intensitasnya terapa sedikit lebih rendah, karena bisa berkamuflase dengan dua muka. Dan nampaknya cara ini lebih efektif dalam menyuntikkan paham takfiri.
Kalau keadaan lagi aman, maka orang-orang yang tidak ikut kelompok mereka mereka tuduh kafir saja langsung. Tetapi kalau keadaan lagi kurang kondusif, istilahnya sedikit lebih dikamuflasekan menjadi jahiliyah. Padahal kalau kita sejajarkan kedua istilah antara kafir dan jahiliyah sama saja, sama-sama bukan muslim, artinya sama-sama kafir.
Istilah jahiliyah kalau di masa kenabian dulu memang digunakan untuk menyebut agama para penyembah berhala. Orang jahiliyah itu seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lainnya. Maka Di masa sekarang, kita-kita yang muslim ini malah sering sekali dikata-katai sebagai jahiliyah.
Dr. Yusuf Al-Qaradawi mengatakan bahwa diantara yang paling bertanggung-jawab dalam mempopulerkan istilah penghalusan dari kafir menjadi jahiliyah adalah duet kakak beradik Sayyid Qutub dan adiknya Muhammad Qutub. Kalau kita baca Fi Zhilalil Quran karya Sayyid Qutub kita akan menemukan di balik goresan penanya yang indah itu bertabur istilah jahiliyah ini. Sedangkan Muhammad Qutub malah menulis sebuah buku khusus berjudul : Jahiliyah Qarnil-‘Isyrin atau Jahiliyah Abad Duapuluh.[1]
Istilah yang juga rada mirip-mirip adalah hijrah. Di masa kenabian dulu, yang disebut dengan muslim itu pastinya wajib berhijrah ke Madinah, sementara mereka yang tidak berhijrah termasuk orang kafir.
Orang yang yang tidak hijrah tidak lagi identik dengan orang kafir memang, tetapi namanya juga kamuflase, ketimbang menyebut kafir maka akan lebih aman kalau disebut sebagai belum hijrah. Itu untuk konsumsi publik biar terasa lebih smooth. Begitu kita masuk lebih inti dari kelompok takfiri ini barulah kita tahu bahwa istilah belum hijrah maksudnya orang yang belum berbai’at dan statusnya kafir. Penghalusannya dengan menggunakan ungkapan : belum hijrah.
[1] https://youtu.be/cYJ1IO-s4QY?t=336